Tiga hari Ratna tidak bisa tidur nyenyak.
Kata-kata Nyai Gandes telah meracuni setiap kepercayaan yang baru ia bangun. Ia mengamati Arga lebih lama dari biasanya—mencari kebohongan di balik kejujurannya, mencari celah di balik kesetiaannya. Ia menguji Resi Patala dengan pertanyaan-pertanyaan kecil, mencatat setiap jeda, setiap pilihan kata. Tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Dan ketiadaan itu sendiri membuatnya gelisah—karena dalang yang baik tidak meninggalkan jejak.
Pada hari keempat, kesempatan datang dari arah yang tak terduga.
Ki Demang Anggralocana, sesepuh dewan agung yang mengenal ibunya, mengirim undangan untuk minum teh di kediamannya di luar tembok keraton. Ratna menerimanya—sebagian karena ia butuh sekutu di dewan, sebagian karena ia ingin keluar dari sarang ular ini, walau sebentar.
Kediaman Ki Demang sederhana untuk seorang sesepuh, penuh buku lontar dan tanaman obat. Lelaki tua itu menyambutnya dengan teh hangat dan senyum yang tampak tulus—tetapi Ratna sudah tidak lagi memercayai senyum.
"Ibumu pernah duduk di kursi yang sama itu," kata Ki Demang, menuangkan teh. "Dua puluh tahun lalu. Ia datang meminta nasihat seorang sesepuh tua, persis seperti yang kau lakukan sekarang."
"Dan nasihat apa yang kau berikan padanya?" tanya Ratna.
"Aku menyuruhnya pergi." Ki Demang menghela napas, matanya menerawang. "Aku bilang keraton akan memakannya. Bahwa kecerdasannya tidak akan cukup melindunginya dari kebencian mereka yang takut. Aku benar. Mereka membunuhnya." Ia menatap Ratna. "Sekarang putrinya datang, dan aku khawatir aku akan memberi nasihat yang sama. Pergilah, Gusti. Selagi bisa."
"Aku tidak bisa," kata Ratna. "Kalau aku pergi, Wilwa terbakar. Lagi pula—" ia mencondongkan tubuh, "—seseorang ingin aku mati entah aku pergi atau tinggal. Tangan yang menggerakkan ini semua tidak akan berhenti hanya karena aku menyerah."
Cangkir Ki Demang berhenti di udara, persis seperti cangkir Patih beberapa hari lalu. "Tangan apa yang kau maksud?"
Ratna mengamati reaksinya dengan saksama. "Kau seorang sesepuh, Ki. Kau sudah melihat keraton ini selama puluhan tahun. Kematian Pangeran Jayanagara. Mangkatnya ayahku yang tiba-tiba. Bangsawan yang berebut tanpa ada satu pun yang benar-benar mengendalikan keadaan. Apakah menurutmu semua ini kebetulan? Atau ada seseorang—satu tangan—yang merancang semuanya sejak lama?"
Ki Demang Anggralocana menatapnya lama. Sangat lama. Lalu, perlahan, ia meletakkan cangkirnya, bangkit, dan menutup pintu serta jendela ruangan, hingga hanya cahaya satu lampu yang tersisa.
Ketika ia kembali duduk, wajahnya telah berubah—bukan lagi sesepuh ramah, melainkan seseorang yang membawa beban berat bertahun-tahun.
"Aku sudah tua, Ratna," katanya, untuk pertama kali memanggilnya tanpa gelar. "Aku tidak akan hidup melihat dewan agung berikutnya. Maka aku akan memberitahumu sesuatu yang tidak pernah kuberanikan ucapkan." Ia menatap api lampu. "Ada satu orang yang hadir di keraton sebelum ayahmu bertakhta. Yang menyaksikan tiga raja naik dan turun. Yang namanya tidak pernah ada dalam catatan kekuasaan, tetapi tangannya ada di setiap pergantian. Orang yang membuat dirinya tampak tak berbahaya—begitu tak berbahaya hingga setiap raja mempercayainya, dan setiap raja yang mempercayainya... mati di waktu yang menguntungkan."
Jantung Ratna berdegup keras. "Siapa?"
Ki Demang membuka mulut. Tetapi sebelum sepatah kata keluar, ia terbatuk—sekali, lalu berkali-kali. Tangannya mencengkeram dada. Wajahnya berubah merah, lalu membiru.
"Ki Demang!" Ratna melompat menahan tubuhnya.
Tetapi lelaki tua itu sudah tergagap, busa tipis muncul di sudut bibirnya. Matanya melebar—bukan oleh kematian semata, tetapi oleh kengerian pemahaman. Tangannya yang gemetar meraih lengan Ratna, menariknya mendekat, dan dengan napas terakhirnya, ia membisikkan satu kata. Satu nama.
Sebuah nama yang membuat seluruh darah Ratna membeku. Sebuah nama yang begitu mustahil, begitu dekat, hingga untuk sesaat ia yakin ia salah dengar.
Lalu kepala Ki Demang Anggralocana terkulai, dan ia tidak bernapas lagi.
Ratna duduk membeku, memangku jenazah sesepuh itu, teh di cangkir mereka masih mengepul. Teh yang dituangkan dari teko yang sama. Teh yang ia—untunglah—belum sempat ia minum karena terlalu sibuk bertanya.
Racun. Lagi. Di sini. Sekarang.
Yang berarti tangan tak terlihat itu tahu pertemuan ini. Tahu apa yang akan dikatakan Ki Demang. Dan bertindak lebih cepat.
Yang berarti seseorang yang sangat dekat dengan Ratna telah membocorkannya.
Ratna mengangkat wajahnya perlahan ke arah pintu yang tertutup. Di luar sana, menunggu, adalah Arga—yang mengantarnya kemari. Dan di keraton, menunggu kabar, adalah Resi Patala—yang tahu setiap langkahnya.
Salah satu dari mereka, atau keduanya, melayani tangan di balik tirai.
Dan nama yang dibisikkan Ki Demang dengan napas terakhirnya masih bergema di telinga Ratna, mengguncang fondasi segala hal yang ia kira ia ketahui—
Sebuah nama yang akan ia kejar sampai ke takhta itu sendiri, walau harus melewati setiap pisau tersembunyi di keraton Wilwa.