Ratna tidak menjerit. Ia belajar sejak kecil bahwa jeritan hanya memberi tahu pembunuh bahwa pekerjaannya berhasil.
Ia memangku jenazah Ki Demang Anggralocana di lantai kediaman luar tembok itu, dan untuk sekian helaan napas, ia hanya diam. Nama yang dibisikkan lelaki tua itu masih menggantung di telinganya seperti bara yang tak mau padam. Sebuah nama yang tak boleh ia ucapkan. Belum. Sebab begitu nama itu keluar dari mulutnya, ia akan menjadi sasaran berikut—dan ia belum punya satu pun bukti yang bisa berdiri tegak di hadapan dewan agung.
"Pikirkan dulu," bisiknya pada diri sendiri, suara serak. "Jangan menjadi mayat ketiga di ruangan ini."
Ia menatap dua cangkir di meja rendah. Tehnya masih mengepul tipis. Teko tanah liat berdiri di antara keduanya, lehernya berembun. Ratna mengangkat cangkirnya sendiri—yang belum sempat ia minum—dan menciumnya. Aroma melati, lalu di baliknya, sesuatu yang pahit getir, samar seperti kulit biji yang dibakar. Ia menuangkan isi cangkirnya kembali ke teko, lalu menutup teko itu dengan kain dan menyimpannya di balik selendangnya. Bukti. Selalu, bukti dulu.
Kemudian ia menata jenazah Ki Demang. Ia membaringkannya telentang, meluruskan jubahnya, mengatupkan kelopak matanya yang masih melebar oleh kengerian pemahaman. Ia menyeka busa tipis di sudut bibir tua itu dengan ujung selendang, lalu membuang selendang itu ke dalam buntalannya. Ia memindahkan kedua cangkir ke pojok, mencucinya dengan air kendi, dan meletakkan keduanya kering di rak—seolah tak pernah ada teh yang diminum. Bila esok orang menemukan Ki Demang, mereka harus melihat seorang sesepuh tua yang jantungnya berhenti di tengah malam. Bukan racun. Sebab bila racun terendus, dalang akan tahu Ratna mencurigai racun—dan akan tahu pula Ratna sempat mendengar.
Tangannya gemetar saat menutup pintu kamar dari dalam dan keluar lewat jendela belakang, menyusup ke pekat malam.
Arga menunggu di bawah pohon asam, sosoknya tegak, satu tangan di gagang pedang. Ia berbalik begitu mendengar langkah Ratna. "Gusti. Sudah selesai bicaranya? Aku mendengar—"
"Ki Demang lelah," potong Ratna, suaranya datar sempurna. "Ia tertidur. Kita pulang."
Arga menatapnya. Di gelap, Ratna tak bisa membaca matanya, dan itu menyiksanya. Apakah perwira muda ini tahu? Apakah ia yang membocorkan pertemuan ini, lalu kini berpura-pura bertanya? Atau ketulusan di wajahnya itu sejati?
Salah satu dari kalian, pikir Ratna sambil melangkah melewatinya. Salah satu dari kalian membunuh sesepuh itu lewat tangan orang lain.
Sepanjang perjalanan pulang yang sunyi, ia tidak menguji Arga. Ia menguji sesuatu yang lain. Ia mengingat-ingat siapa yang tahu ia akan menemui Ki Demang malam itu. Arga, yang mengantar. Resi Patala, yang ia kabari sore tadi bahwa ia "ingin udara segar di luar tembok". Dan Ki Demang sendiri, yang kini mati.
Tiga orang. Satu sudah tiada. Tinggal dua.
Tiba di paviliun barat, Nyai Tirta menyambutnya dengan lampu minyak. "Gusti pucat. Ada apa—"
"Tidak ada apa-apa, Bibi. Tidurlah." Ratna mencium kening perempuan tua itu—satu-satunya sentuhan jujur di seluruh keraton ini—lalu masuk ke biliknya dan menyelot pintu.
Esok paginya, kabar datang seperti yang ia duga. Tetapi cara kabar itu datang adalah ujian sesungguhnya.
Belum lewat waktu sarapan, seorang utusan masuk tergopoh ke pelataran. Dan yang menerima utusan itu, yang lebih dulu mengetahui isi kabarnya, yang datang ke paviliun Ratna dengan wajah prihatin tertata rapi—adalah Resi Patala.
Jubah putihnya bersih seperti biasa. Mata sumur dalamnya menatap Ratna dengan kesedihan yang tampak tulus. "Kabar duka, Gusti," katanya pelan. "Ki Demang Anggralocana ditemukan wafat di pembaringannya semalam. Usia. Jantung tua. Aku tahu Gusti menghormatinya."
Ratna menunduk, menyembunyikan wajahnya, menyembunyikan kilau dingin di matanya. Sebab Resi Patala baru saja melakukan kesalahan kecil yang besar.
Tak seorang pun, saat itu, sudah memeriksa jantung Ki Demang. Tabib belum datang. Tubuhnya baru ditemukan oleh pelayan. Maka dari mana Resi tahu bahwa itu "jantung tua"—kecuali ia sudah tahu sebelum tabib mana pun memeriksa?
"Ya," bisik Ratna ke lantai. "Jantung tua. Tentu saja." Ia mengangkat wajah, dan wajah itu kini hanya berisi duka seorang putri. "Terima kasih telah memberitahuku, Resi. Aku ingin sendiri sebentar."
Resi Patala mengangguk, membungkuk, dan pergi dengan langkah halus tanpa suara.
Ratna menatap pintu yang menutup di belakangnya. Nama yang dibisikkan Ki Demang berdenyut sekali lagi di kepalanya, dan kali ini ia tidak lagi yakin ia salah dengar.
Tetapi ia tetap diam. Sebuah nama tanpa bukti hanyalah cara cepat untuk mati. Ia akan mengumpulkan bukti itu satu demi satu, sabar seperti lawannya sabar—dimulai dari teko di balik selendangnya, dan dari pertanyaan yang akan menjadi awal segalanya: siapa yang menuangkan teh terakhir Ki Demang?