"Aku butuh kau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal," kata Ratna kepada Arga pagi itu, "dan aku butuh kau tidak bertanya mengapa."
Mereka berdiri di sudut taman air, jauh dari telinga. Ratna telah memutuskan satu hal sepanjang malam tanpa tidur: ia tak bisa menyelidiki sendirian, dan menyelidiki lewat orang yang ia curigai justru cara terbaik mengukur orang itu. Bila Arga pengkhianat, ia akan menggagalkan penyelidikan dengan halus. Bila ia setia, ia akan membawa kebenaran.
"Aku mendengar," kata Ratna, "kau pernah berkata sumpahmu padaku tanpa tuan. Hari ini aku mengujinya, walau kau tak tahu sedang diuji." Ia menyodorkan teko tanah liat yang dibungkus kain. "Ki Demang tidak mati karena jantung tua. Ia diracun di hadapanku. Teh dari teko ini. Aku ingin tahu siapa yang menuangkannya."
Wajah Arga berubah—bukan terkejut yang dibuat-buat, melainkan amarah yang menggelap perlahan, amarah seorang prajurit yang mendengar pembunuhan licik. "Diracun. Di rumahnya sendiri." Ia mengepalkan tangan. "Aku ada di luar sepanjang waktu, Gusti. Aku tidak melihat siapa pun masuk."
"Maka racunnya sudah ada di dalam sebelum kita datang," kata Ratna. "Ditaruh di teh, di teko, atau di tangan yang menuang. Cari tahu siapa di kediaman Ki Demang yang menyiapkan teh tadi malam."
Arga pergi sebelum tengah hari dan kembali sebelum gelap, kuda dan dirinya berdebu.
"Kediaman Ki Demang kecil," lapornya, berdiri kaku. "Hanya empat pelayan tetap. Tiga di antaranya sudah mengabdi belasan tahun, tua, tangan mereka gemetar lebih parah dari Tumenggung Wirangga. Mereka menangis sungguhan; aku melihat duka di wajah orang yang mengabdi lama." Ia berhenti. "Tetapi ada satu yang keempat. Seorang pelayan dapur, lelaki muda. Namanya—mereka memanggilnya Sambada. Ia yang menyiapkan teh dan teko malam itu. Tiga pelayan tua berkata Ki Demang yang memintanya khusus, karena ia 'pandai meramu wedang'."
Ratna menegakkan tubuh. "Berapa lama ia mengabdi di sana?"
Arga menatapnya. "Itu yang membuatku datang berkuda secepat ini, Gusti. Sambada baru bekerja di kediaman Ki Demang sejak satu bulan lalu. Datang membawa surat pengantar dari seorang saudagar di ibu kota—surat yang, ketika kucoba lacak saudagarnya, tidak ada. Saudagar itu tak pernah ada."
Satu bulan. Ratna menutup mata sejenak. Satu bulan yang lalu adalah saat ia tiba di keraton. Saat permainan ini benar-benar dimulai. Seseorang menempatkan orangnya di sisi Ki Demang persis ketika sesepuh itu mulai berbahaya—atau lebih buruk, jauh sebelum Ki Demang sendiri tahu ia akan berbahaya.
"Ini bukan pelayan," kata Ratna pelan. "Ini orang yang ditanam. Ditanam dengan sabar, ditunggu sampai dibutuhkan, lalu digunakan satu kali untuk satu pembunuhan. Persis cara seseorang yang punya banyak waktu dan banyak tangan."
"Dalang yang kau cari," kata Arga.
Ratna tidak menjawab langsung. Ia mengamati perwira muda itu—amarahnya, keletihannya, debu di pipinya yang tak dibuat-buat. Bila Arga pengkhianat, ia tak perlu menemukan Sambada; ia bisa kembali dengan tangan kosong dan berkata tak ada apa-apa. Sebaliknya ia membawa benang merah yang menuju ke jantung jaringan dalang. Itu bukan tindakan pengkhianat. Atau, bisik bagian dingin di benak Ratna, itu tepat tindakan pengkhianat yang cukup cerdas untuk memberi sedikit kebenaran agar dipercaya untuk kebohongan besar nanti.
Ia membuang pikiran itu. Belum saatnya.
"Sambada," ucapnya. "Pelayan tanaman yang menuangkan racun. Ia satu-satunya saksi yang bisa menunjuk siapa yang menyuruhnya. Bawa dia padaku, Arga. Hidup. Jangan biarkan ia bicara dengan siapa pun lebih dulu."
Arga membungkuk. "Akan kuringkus malam ini juga."
"Tidak," kata Ratna, dan firasat tua merayapi tengkuknya, firasat yang sudah benar terlalu sering. "Pergi sekarang. Saat ini juga. Jangan menunggu malam." Ia menatap matahari yang miring ke barat. "Bila aku tahu kau menemukan Sambada, maka orang lain pun bisa tahu. Dan apa yang dilakukan dalang ini pada saksi yang ia tak butuhkan lagi, kau dan aku sudah melihatnya semalam di pangkuanku."
Arga berlari menuju kandang. Ratna berdiri sendiri di taman air, memandang air yang tenang seperti cermin, dan untuk pertama kalinya merasakan dingin yang sesungguhnya: bukan takut akan pedang, melainkan takut akan kalah cepat. Lawannya selalu satu langkah lebih dulu. Selalu tahu apa yang ia tahu.
Seolah ada seseorang di sisinya yang berbisik pada tangan di balik tirai.