Arga berderap memasuki gerbang ibu kota saat lampu-lampu warung mulai dinyalakan. Ia tahu satu hal yang membuat perutnya mengeras: ia sudah terlambat sebelum berangkat.
Kediaman Ki Demang sunyi oleh berkabung. Salah satu pelayan tua, yang matanya bengkak menangis, menggeleng saat Arga bertanya. "Sambada? Ia pergi pagi tadi, Tuan. Sebelum jenazah Ki Demang diangkat. Katanya hendak membeli kemenyan untuk selamatan. Belum kembali sampai sekarang."
"Ke mana ia membeli kemenyan?"
"Pasar Kulon, biasanya. Tapi, Tuan—" perempuan tua itu menatap Arga, takut, "—ia membawa buntalannya. Semua bajunya. Untuk apa membawa baju bila hanya membeli kemenyan?"
Arga sudah berlari ke kuda sebelum kalimat itu selesai.
Pasar Kulon di ibu kota Wilwa adalah labirin dari lapak-lapak rendah, atap jerami yang berdempetan, dan lorong-lorong sempit yang baunya bercampur antara ikan asin, dupa, dan tanah basah. Di siang hari ribuan orang berdesak; di malam hari lorong-lorongnya menjadi kerajaan bayangan. Arga turun dari kuda, menyerahkan talinya pada bocah penjaga, dan menyelinap ke dalam dengan tangan di gagang pedang.
Ia bertanya dari lapak ke lapak. Lelaki muda, perawakan sedang, alis tebal, membawa buntalan. Penjual kemenyan menggeleng. Penjual kain mengerutkan dahi, lalu mengangguk ragu—ya, mungkin, seseorang seperti itu lewat tengah hari, terburu-buru, melihat ke belakang berkali-kali seolah dikejar. Ia menuju lorong gerabah, ke arah kanal.
Arga mengikuti arah itu. Lorong gerabah lebih sempit, lebih gelap, lapak-lapaknya sudah tutup. Di ujungnya, kanal hitam membelah pasar, airnya pekat memantulkan langit jingga. Di sanalah ia menemukan kerumunan kecil—beberapa orang berdiri membungkuk di tepi kanal, berbisik, salah satu perempuan menutup mulut.
Arga menerobos. "Minggir. Pengawal istana."
Mereka menyibak. Di air dangkal tepi kanal, tersangkut di antara tiang bambu lapak, terapung sesosok tubuh. Lelaki muda. Perawakan sedang. Alis tebal. Buntalan kain masih terikat di tubuhnya, basah, isinya tumpah—baju lusuh, beberapa keping uang, dan tak ada apa pun lagi yang berharga. Bukan perampokan, maka.
Arga berlutut dan menarik tubuh itu ke tepi. Tak ada luka pedang, tak ada darah. Tetapi di leher Sambada, melingkar di bawah dagunya, membekas jelas: garis merah ungu yang dalam, jejak kain pencekik yang dililitkan dari belakang. Sebuah kematian yang, bila tubuh ini tak tersangkut bambu dan keburu hanyut, akan tampak seperti orang tenggelam mabuk.
Kain pencekik. Kematian yang tampak seperti tidur, atau seperti kecelakaan. Metode yang sama dengan penyusup di malam kelima di paviliun Ratna.
Arga membalik tubuh itu, memeriksa pakaiannya cepat dengan jari yang terlatih. Tak ada benang nila. Tak ada jejak warna abdi dalem. Kali ini si pembunuh tak meninggalkan apa pun—tak ada bukti palsu untuk menuding siapa pun, tak ada umpan. Hanya tubuh bersih dari saksi yang telah dibungkam.
Itu, sadar Arga sambil berdiri dengan air menetes dari lututnya, justru lebih menakutkan daripada benang nila. Sebab benang nila berarti seseorang ingin menyalahkan orang lain. Tak adanya jejak berarti seseorang tak lagi peduli menyalahkan siapa pun. Seseorang yang merasa cukup aman untuk membunuh tanpa perlu berbohong.
Ia menatap air hitam kanal yang menelan jejak mengalir entah ke mana. Sambada mati pagi tadi—berarti hanya beberapa jam setelah Ratna menyuruh Arga mencari pelayan teh. Berarti dalang tahu Ratna akan mencari, dan bertindak lebih dulu, lagi.
Berapa cepat kabar harus bergerak, pikir Arga, agar pembunuh sampai ke Sambada sebelum aku? Ia sendiri baru tahu nama Sambada siang ini. Ratna baru memerintah pagi ini. Dan Sambada sudah mati pagi ini juga.
Hanya ada satu jawaban yang masuk akal, dan jawaban itu membuat Arga merasa seolah lantai keraton bergeser di bawahnya: kabar tidak menyusul perintah Ratna. Kabar mendahuluinya. Sambada telah ditandai untuk mati sejak ia menuang teh terakhir bagi Ki Demang—mungkin sejak sebelum itu. Dalang sudah membersihkan jalannya bahkan sebelum Ratna mulai berjalan.
Arga menutup mata Sambada—satu sopan santun terakhir untuk seorang pembunuh yang juga korban—lalu menyuruh orang-orang pasar memanggil penjaga. Ia akan membawa kabar buruk ini pulang. Dan ia tahu, saat menaiki kudanya kembali ke keraton di bawah langit yang kini ungu gelap, bahwa setiap benang yang ia tarik untuk Ratna telah dipotong dari ujung yang satunya oleh tangan yang lebih panjang dari yang bisa ia jangkau.