"Saksiku mati," kata Ratna, datar, ketika Arga selesai melaporkan. "Pembunuhnya tak meninggalkan jejak. Dan kita kembali ke tempat kita mulai—tahu ada dalang, tak punya satu pun bukti yang bisa berdiri di hadapan dewan."
Ia berkata itu di paviliun barat, pagi setelah Arga pulang, dengan suara yang ia jaga setenang air taman. Tetapi di dalam, ia menghitung dengan dingin: dua percobaan pembunuhan atas dirinya, dua saksi mati di hadapannya atau di tangan orangnya, dan tak satu pun pelindung yang bisa ia percayai sepenuhnya. Resi Patala mungkin dalangnya. Arga mungkin pembocornya. Patih ingin ia menjadi putri hiasan atau mayat. Ia sebatang kara di tengah keraton yang setiap bayangannya bisa membawa kain pencekik.
Ratna bukan panglima. Ia tak punya prajurit. Akal saja tak menghentikan pisau di tengah malam. Dan ia menyadari, dengan kepahitan yang ia telan utuh, bahwa untuk tetap hidup cukup lama agar bisa menang, ia membutuhkan sesuatu yang ia tak punya: pedang.
Hanya ada satu pedang di Wilwa yang cukup besar untuk membuat dalang berpikir dua kali.
"Siapkan jamuan," katanya kepada Nyai Tirta. "Sederhana. Untuk Adipati Krendrawira."
Sang Singa dari barat datang sore itu, mengisi ruang dengan tubuhnya yang besar dan bekas luka di pelipisnya. Ia duduk bersila, menatap Ratna dengan mata seorang lelaki yang telah menghitung untung-rugi seluruh hidupnya di medan perang dan ruang dewan.
"Kau memanggilku, Gusti Putri," katanya. "Sebulan lalu kau menolak madu dariku. Sekarang kau menyajikan teh sendiri. Singa tua ini ingin tahu apa yang berubah."
Ratna tidak berbasa-basi. Ia sudah memutuskan bahwa terhadap Krendrawira, kelicikan justru kalah oleh kejujuran terukur. Lelaki ini menghormati keberanian.
"Yang berubah," katanya, "adalah aku tahu sekarang ada seseorang di keraton ini yang membunuh raja-raja seperti orang lain mematikan lampu. Ki Demang Anggralocana mati diracun dua malam lalu—di hadapanku, sebelum ia sempat menyebut sebuah nama. Saksi yang menuangkan racun itu juga sudah dibungkam. Aku tak punya bukti, Adipati. Yang kupunya hanya keyakinan, dan keyakinan tak bisa menahan pisau."
Krendrawira menatapnya lama. Ia tidak meremehkan, tidak pula tergesa percaya. "Dan kau ingin pedangku berdiri di antaramu dan pisau itu."
"Aku ingin perlindungan," kata Ratna. "Sementara. Beberapa prajuritmu di sekitar paviliun barat. Cukup banyak agar siapa pun yang ingin membunuhku tahu bahwa ia harus melewati Singa dari barat dulu. Aku tidak memintamu memenangkan takhta untukku. Aku memintamu menjaga aku tetap bernapas sampai aku bisa membuktikan kebenaran."
Mata tua Krendrawira menyipit. "Dan harganya? Sebulan lalu hargaku adalah pernikahan. Pedang dan darah murni, kau ingat. Apakah teh hari ini berarti kau menerima pinangan itu?"
Inilah tepiannya. Ratna merasakan jurang di kedua sisi langkahnya. Bila ia menjual diri pada pernikahan demi pedang, ia menjadi alat persis seperti yang ia sumpahkan untuk tak ia jadikan diri. Tetapi bila ia menolak terlalu keras, ia kehilangan satu-satunya perisai.
"Aku tidak menerima pinangan," kata Ratna pelan, menatap mata sang Singa tanpa berkedip. "Bukan karena aku menolakmu, Adipati. Tetapi karena bila aku menikahimu hari ini, dalang itu menang. Ia ingin aku menjadi milik salah satu singa—milik pedang atau milik segel—agar dewan menolakku sebagai boneka. Bila aku berdiri sendiri sebagai darah murni yang sah, aku berbahaya baginya. Bila aku berdiri sebagai istri panglima, aku hanya hadiah perang."
Ia menundukkan kepala sedikit—bukan tunduk, tetapi hormat. "Maka aku tak bisa membayarmu dengan tubuhku. Aku berutang padamu, Adipati Krendrawira. Utang yang kuakui di hadapan saksimu sendiri bila kau mau. Dan aku berjanji utang itu akan kubayar—dengan cara yang menjadikanmu lebih dari sekadar suami seorang ratu. Aku akan menjadikanmu lelaki yang menyelamatkan Wilwa dari tangan yang membusukkannya. Itu lebih besar daripada pernikahan mana pun."
Hening panjang. Di luar, angin menggerakkan daun.
Lalu, perlahan, sudut bibir Krendrawira yang penuh bekas luka tertarik. Bukan senyum kemenangan; senyum seorang penjudi tua yang mengenali penjudi lain yang lebih berani dari dugaannya.
"Ibumu juga begitu," gumamnya. "Menolak dengan cara yang membuatmu merasa terhormat ditolak." Ia bangkit, tubuh besarnya menjulang. "Akan kukirim lima puluh prajurit ke sekitar paviliunmu. Dengan alasan resmi: menjaga ketertiban masa berkabung. Tak seorang pun bisa menyebutnya konspirasi." Ia menatap Ratna dari atas. "Tetapi ingat hutangmu, Putri. Singa tidak melupakan."
"Singa tidak melupakan," ulang Ratna. "Dan putri ini tidak ingkar."
Ketika Krendrawira pergi, Ratna menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia telah membeli waktu. Tetapi ia tahu—dengan kejernihan dingin yang sama yang membuatnya menyembunyikan racun di selendang—bahwa pedang yang melindunginya hari ini adalah pedang yang sama yang besok bisa menuntut takhta. Ia telah berutang pada seekor singa. Dan singa, cepat atau lambat, datang menagih.