Rasya menatap tajam Rangga yang sekarang jadi lawan latihan basketnya, dendamnya belum hilang karena insiden beberapa hari yang lalu.Rasya mendribbel bola, sasarannya bukan ring basket, tapi kepala Rangga. Matanya tak lepas dari mata lawan mainnya, Rangga. Jarak yang pas pikirnya
1
2
3
Headshoot!!!
Rangga oleng, tapi tak sampai rebah, kepalanya berdenyut, seberapa kuat pun ia, tentu tak mampu menahan sakitnya hantaman bola basket apalagi pas di kepalanya.
"Ups... sorry A, gue gak sengaja" Rasya menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawanya, ia berjalan menghampiri Rangga yang masih berdiri dengan memegangi kepalanya, guru olahraga mereka berteriak menanyakan perihal kepalanya, dan Rangga hanya memberikan acungan jempol pada gurunya itu. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya agar rasa sakitnya hilang.
"Itu balasan elo udah nonjok Rezky" Rasya berbisik pelan sebelum ia menempelkan minuman bersoda dingin ke kepala Rangga. Kini mereka telah berada di pinggir lapangan. Rasya ikut duduk di samping Rangga dan dengan jelas ia mendengar geraman dari pria berwajah dingin tersebut.
"Tenang Pak, Rangga biar jadi tanggung jawab saya. Lagian saya yang salah." Rasya berkata sambil tersenyum pada guru olahraganya. Pak Kasman mengangguk tanda mengerti, setelah itu ia pamit untuk membereskan bola-bola basket di lapangan dibantu murid-muridnya tentu saja.
Setelah dirasa kepalanya tak terlalu pusing, Rangga bangkit meninggalkan Rasya yang tersenyum penuh kemenangan.
***
Rangga menyandarkan punggungnya di pohon besar di belakang sekolahnya.
"Kenapa sih gue gak bisa marah sama itu cewek? Kenapa gue gak bisa berkutik sama dia? Argh!!" Rangga menjabak rambutnya kesal.
"Tenang A, ini baru satu rencana gue, setelah ini akan ada yang lebih seru" kata-katanya masih berseliweran di kepalanya, apalagi kalimat Rasya yang menyatakan ia akan balas dendam karna insiden beberapa hari lalu.
Gadis pertama yang berani melawannya, menantangnya, memarahinya, menatapnya tajam, mencaci makinya, Rasya.
"Oke kalau itu mau lo Sya. Gue bakal ikutin permainan lo dan gue pastiin kalau pacar tersayang lo itu akan berakhir mengenaskan." Rangga tersenyum setan dan anehnya sedetik kemudian ia tersenyum bahagia karena Rasya memanggilnya dengan A, tidak ada yang memanggilnya A, jadi ia merasa bahwa itu panggilan khusus Rasya. Hey! Kau punya puluhan panggilan khusus darinya bodoh! Kutub Utara, Beruang Kutub, es, es krim, dsb. Ia tertawa karna pemikirannya sendiri.
***
"Gila lo anjir! Lo seriusan lempar bola basket ke kepalanya si Rangga? Si Rangga kan monster, dia bahkan gak segan-segan buat mukul cewek kalau dia ngerasa terganggu." Reka histeris setelah mendengar cerita Rasya.
"Monster? Monster apaan? Monster ink?" sahut Rasya. "Emang gue gak bisa bela diri? Lagian dia juga duluan yang nonjok muka abang gue seenak jidatnya," lanjut Rasya mendengus kesal mengingat insiden yang bahkan tidak diingat Rezky lagi.
"Lo mah, Dek, dendaman sama Rangga. Benci, benci, paling entar juga demen-demenan sama dia. Lagian nih ya menurut gue Rangga suka sama lo" Rezky tersenyum mengingat sesuatu yang membuatnya semakin yakin jika Rangga menyukai kembarannya.
Rasya memasang muka datarnya, sedetik kemudian terjadi baku hantam antara abang-adek yang terpaut usia 10 menit ini.
Rambut Rasya acak-acakan, sedangkan Rezky hampir sama amburadulnya. Sedetik kemudian mereka tertawa. Raka hanya tersenyum, ia beralih duduk di sebelah Rasya, merapikan rambut gadis ini dan menguncirnya menjadi satu ke belakang. Reka? Ia sibuk memoto Rezky, baginya ini kejadian langka bisa melihat kondisi Rezky yang mengenaskan. Rezky yang tak suka difotopun berusaha merebut smartphone Reka dan terjadilah aksi kejar-kejaran.
"Lo jangan terlalu masuk ke kehidupannya Rangga, dia itu iblis, gue takut lo kenapa-kenapa." Raka berkata dengan lembut. Rasya menyenderkan kepalanya pada bahu Raka. Kini mereka tengah berada di taman sekolah yang terdapat banyak gazebo untuk bersantai.
4R, Rezky, Raka, Reka, dan Rasya. Genk ala-ala yang saling melengkapi. Rezky dengan sifat jailnya, Raka dengan sifat kepemimpinannya, Reka dengan sifat kekanak-kanakannya, dan Rasya dengan sifat labilnya. 2 pasang manusia kembar yang dipertemukan pada saat MOS. Awalnya sifat Raka amat sangat dingin pada Rasya maupun Rezky tapi lama-kelamaan sifat aslinya keluar. Lembut, penyabar, care, pacar goals bangetlah pokoknya. Sedangkan Reka yang dari awal memang selengean sudah jangan ditanya. Mereka berbaur menjadi satu, dimana ada mereka pasti ada kehebohan. Diantara mereka tentu saja Raka yang paling kalem dan menjadi penengah di setiap berdebatan yang tercipta.
"Tenang aja Rak, gue bisa jaga diri kok. Lo pikir gunanya ban hitam gue tuh apa? Lagiankan ada lo semua." Rasya memperhatikan Rezky dan Reka yang masih melakukan aksi kejar-kejarannya.
Raka menghela napas, susah sekali menasehati gadis keras kepala yang kini tengah bersandar di bahunya.
"Ya sudah, terserah lo. Kalau nanti lo kenapa-kenapa gue gak tanggung."
***
Rasya berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Ia mendapat kabar bahwa kakaknya dihajar habis-habisan oleh seseorang.
Tulang rusuknya patah, benturan di kepalanya cukup keras, tapi untung saja tidak mengakibatkan amnesia atau geger otak. Selalu ada yang disyukuri di setiap kejadian bukan? Itu yang dikatakan Raka saat menelponnya ditengah tidurnya yang nyenyak.
Dipandangnya kakaknya yang sekarang tergeletak mengenaskan di kasur rumah sakit. Tangannya mengepal, hatinya mengutuk siapa saja yang telah melakukan ini, pandangannya mulai mengabur karna air mata yang menggenang. Raka langsung merengkuh tubuh mungil Rasya, menuntunnya mendekat ke arah Rezky yang terbaring lemah.
"Lo kok lemah banget sih! Kok lo bisa kalah gini?! Gimana lo jagain gue kalau lo kaya gini? Lo abang gue kan?!" tangis Rasya tak kuasa ia tahan saat melihat wajah saudara kembarnya yang 'tak berbentuk'.
"Siapa yang ngelakuin ini ke abang gue?" Rasya bertanya dengan wajah garang yang masih berderai tangis. Raka semakin mengusap bahu Rasya mencoba untuk menyalurkan ketenangan pada Rasya.
"Kita gak tau, Sya. Kita lagi nongkrong di tempat biasa, terus abang lo pamit mau buang air, karna lama kita samperin eh taunya dia udah kaya gini, malah lebih parah" Reka menceritakan kejadian yang menimpa Rezky.
Tangan Rasya semakin mengepal, matanya menggelap.
"s**l!" ia menghempaskan tangan Raka dari bahunya. Dengan cepat ia bergerak menuju pintu, sebelum melangkahkan kakinya ia berkata bahwa Raka dan Reka tidak boleh meninggalkan ruangan ini sampai dia kembali dan jika salah satu dari mereka mengikutinya maka jangan salahkan ia bilang orang itu berakhir sama mengenaskannya. Ancamannya bukanlah hal yang main-main. Terbukti dengan Raka dan Reka tak beranjak sedikitpun dari ruang VIP rumah sakit ini. Betapa inginpun Raka mengejar gadis yang sedang dikuasi amarah itu tapi ia tak akan bisa. Karna apa? Karna lebih baik membiarkan gadis yang dikuasai oleh amarah itu sendiri sekarang. Jangan membangunkan singa yang sudah terbangun, begitu kata Reka.
***
"s**l! Gue gak tau sama sekali di mana alamat si beruang kutub s****n itu!" Rasya mengerang frustasi.
"Apa lo liat-liat? Mau gue makan?!" Rasya mendelik sebal saat semua pengunjung caffe di mana ia berada sekarang menatapnya dengan tatapan menilai. Ia tak suka ditatap seperti itu.
Berjam-jam ia mencari kediaman Rangga, menanyakan teman-teman sekelasnya lewat handphone atau mendatangi rumah mereka satu persatu untuk bertanya alamat si beruang kutub. Namun, hasilnya nihil, tidak ada satupun yang tahu. Bahkan, Aurora yang notabennya pemuja Rangga.
Ya, Rasya mendatangi kediaman Aurora, walaupum hanya berbicara lewat intercome tapi setidaknya gadis songong itu mau mengatakan yang sejujurnya.
Dan di sinilah dia sekarang. Di caffe "The Abhi Cafe", setelah ia lelah berkeliling ia memutuskan untuk mengisi perutnya. Rasya bukanlah perempuan drama yang jika orang disayangnya sakit ia tidak makan atau merana atau apalah itu, ia akan tetap makan seperti biasa karna pemikirannya yang jika ia ikutan sakit bagaimana ia bisa menjaga orang yang disayangnya? dan prinsipnya sedih boleh b**o jangan.
"Rangga s****n!" erangnya sekali lagi dan sekali lagi para pengunjung menatapnya aneh, yang ditatap malah membalas dengan tatapan sangarnya.
"Permisi, saya Chandra, kalau gak salah denger tadi kamu bilang Rangga kan?" seorang pemuda tampan tiba-tiba menghampiri Rasya, ia pelayan cafe di sini. Tatapannya dingin, layaknya tatapan Rangga, tapi pria yang lebih tua di depannya ini sangat sopan dibandingkan Rangga. Rasya menghembuskan napasnya kasar.
Masa iya gue ketemu orang dingin lagi setelah si beruang kutub s****n itu batin Rasya
"Hei! Kalau Saya boleh tau, apa Rangga yang kamu maksud Rangga Blade?" Rasya langsung bangkit dari duduknya dan mengangguk cepat layaknya anak kecil yang ditawari permen.
"Iya! Rangga Blade. Kakak kenal? Kakak tau rumahnya di mana?"
"Ya. Dia adik Saya. Ada urusan apa kamu cari dia dan kamu ada masalah apa sampai bilang dia s****n?"
Kakak sama adek kok sama. Sama-sama kaya Kutub Utara yang dingin. Emak bapaknya bikin mereka di Kutub Utara kali ya Rasya membatin sekali lagi seraya memperhatikan pemuda di hadapannya.
"Karna Kakak ini kakaknya Rangga, tolong antarin saya ke tempat dia sekarang," ucap Rasya tanpa menjawab pertanyaan Chandra.
"Jawab dulu pertanyaan Saya," Chandra berkata tanpa ekspresi dan dengan nada yang datar.
Rasya memutar bola matanya jengah
"Antar Saya aja langsung, please." Rasya memohon dengan malas.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar," Chandra mengalah pada gadis kecil di hadapannya ini yang sama keras kepalanya seperti sepupunya yang saat ini sedang berjalan ke arah Chandra dari pintu masuk cafe.
"Are you still busy? I'm waiting here, then," tanya pria tersebut.
"Wait here for a minute. She wants to meet Rangga upstair! We will go after I bring her to him," terang Chandra pada pria asing bermata biru laut yang menhampirinya tadi. Dia juga memanggil pelayan lain untuk melayani pria yang juga sepupunya itu.
"Kamu ikuti Saya," ujar Chandra pada gadis kecil yang ia pun belum tau namanya.
Chandra membawa Rasya ke lantai tiga cafe ini. Dia berhenti pada sebuah pintu putih bergantungkan tanda dilarang masuk.
"Ngga, buka pintunya!"
"Ada ap... ngapain lo di sini?" Rangga berkata tak suka saat melihat Rasya berada di belakang abangnya, matanya langsung berubah dingin.
Rasya menerobos maju, mengakibatkan bahunya berbenturan dengan lengan Chandra.
"Lo!" mata Rasya mengisyaratkan kemarahan, sedetik kemudian Rasya sudah berada di atas perut Rangga, tangannya terangkat dengan kepalan yang amat sangat kuat, siap membuat wajah yang mulai membiru tambah biru.
Dengan ini Rasya yakin bahwa Rangga lah penyebab kakaknya terbaring lemah di rumah sakit.
Chandra yang melihat kejadian itu sedikit terkejut. Adiknya yang jago bela diri kini tengah berada di bawah kungkungan gadis mungil? Ini benar-benar gila, pikirnya.
Bak buk bak buk!!!
Pukulan bertubi-tubi sudah diterima Rangga. Ia hanya menangkis seadanya, tak ingin membalas. Membiarkan gadis yang berada di atasnya sekarang bertindak sesuka hatinya. Ia pasrah.
***