Chandra baru tersadar setelah Rangga meminta pertolongan kepadanya, ia langsung merengkuh tubuh gadis yang memukuli adiknya dengan membabi buta.
"Lo salah paham Sya!" kalimat itu keluar setelah Rasya berada di pelukan abangnya.
Baiklah, sekarang ia malah ingin sekali memukuli abangnya. Kenapa? Karna ia tengah memeluk tubuh Rasya yang masih meronta minta dilepaskan.
"Lepasin dia, Mas" Rangga berkata dengan dingin. Setelah Chandra melepaskan Rasya, Rasya langsung melayangkan pukulannya lagi pada Rangga tapi kali ini Rangga dengan mudah menangkap tangan itu, sekarang ia memegang kedua tangan Rasya dengan lembut, hanya menahan agar gadis itu tidak memukulinya lagi.
"Gue emang mukulin pacar lo, tapi setelah itu ada orang yang keroyok dia."
"Pacar? Lo kira Rezky itu pacar gue? Dia abang gue!" Rasya berteriak di depan wajah Rangga.
Rangga terkejut mengetahui bahwa Rezky adalah kakak Rasya, senang sekaligus takut menjadi satu. Nyatanya ia tak membantu Rezky malah meninggalkannya saat dikroyok. Rasya pasti makin membencinya. Sebenarnya Rangga tidak suka jika melihat seseorang dikroyok, ia pasti akan membantu, tapi terbakar cemburu ditambah Rezky mengatainya pengecut sebelumnya membuat ia malas untuk membantu pemuda yang suatu saat mungkin menjadi kakak iparnya. Sebuah harapan kosongnya ingin menjadi suami Rasya suatu saat. Senang? Jelas kalian tahu mengapa kan?
"Mending kalian berdua masuk. Jangan di depan pintu. Bicarakan masalah kalian baik-baik. Ngga, Mas pergi dulu sama Alvin," Chandra berkata tanpa ekspresi lalu pergi ke bawah.
"Masuk Sya. Gue jelasin semuanya."
Rasya menggeram kesal setelah mendengar penjelasan dari Rangga. Rangga memang memukuli Rezky, tidak lama saat mereka masih berkelahi, gerombolan genk motor datang menyerang Rezky, genk motor Beelzebub yang diketuai oleh Bima. Rasya kenal betul siapa Bima. Ia bersumpah akan menghajar Bima setelah ini.
"Dan lo? Lo cuman pergi pas abang gue dihajar kaya gitu? Wah! Selain manusia es lo gak punya perasaan, lo gak punya hati nurani! Mati aja lo mendingan! Gak ada untungnya lo hidup kalau nyatanya lo gak punya hati!"
Rangga terkejut, Rasya bisa sekasar itu? Oh Rangga lihat apa yang telah kau perbuat?
"Lo mau kemana? Gue anter" Rangga menahan Rasya, ia tak ingin terjadi apa-apa pada gadis ini. Jika gadis ini saja menghajarnya itu juga bisa terjadi pada Bima. Jika Rangga tidak melawan, kemungkinan besar Bima akan melawan.
"Lepasin gue! Gak sudi gue dipegang sama manusia macam lo!" Rasya membanting pintu ruangan tepat setelah ia menghempaskan tangan Rangga.
"s**t! Rangga, lo b**o!" pintu tak bersalah menjadi sasarannya.
Kecewa pada dirinya sendiri, marah pada dirinya sendiri, Rangga benar-benar kacau saat ini.
***
"Lo banci ya?" Rasya bertanya dengan nada mengejek, tangannya ia silangkan di depan d**a.
"Gue banci? Hahahaha~~ lihat siapa yang terbaring di rumah sakit sekarang?!" Bima turun dari drum yang ia duduki sebelumnya. Berjalan mendekati Rasya yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"Tenang Sya tenang"
Dengan santainya Bima menyentuh pundak Rasya yang berakhir dengan tepisan kasar oleh sang empunya.
"Kalau bukan banci apa namanya main keroyokan kaya gitu?" sekali lagi Rasya bertanya dengan nada mengejek. Ia tak ingin meluap-luap sekarang.
"Itu namanya pintar sayang~" Rasya bergedik jijik saat Bima memanggilnya dengan sayang.
"Kalau gue yang nyerang abang lo sendiri yang ada gue sekarang di rumah sakit" Bima menyambung kalimatnya.
"Dasar banci!"
Tendangan maut Rasya mengarah ke kemaluan Bima. Kena telak! Sang empunya mengerang kesakitan.
"s****n lo b***h! Hajar dia!"
Anak buah Bima mengepung Rasya. Kini ia berada di tengah-tengah bundaran yang dibuat oleh anak-anak Beelzebub.
Kuda-kuda kokoh telah ia pasang. Selanjutnya perkelahian tak terhindarkan.
*
Rangga sudah berkali-kali menghela napasnya. Kini ia berada di rumah sakit keluarga Pramuda, tepatnya di ruang VVIP yang amat sangat lengkap peralatan medisnya, dengan pelayanan nomer wahid.
Ia duduk di samping ranjang khusus pasien yang di atasnya kini terbaring seorang gadis cantik. Di beberapa bagian wajahnya tampak bulatan kebiru-biruan, di atas alis tebalnya terdapat perban berbentuk persegi panjang yang dipasang sedemikan rupa.
"Dia cuman syok dan kelelahan. Gak ada yang serius sama lukanya." Rangga mendongak pada seorang dokter tampan bak dewa Yunani yang memegang pundaknya. Setelah itu dia kembali memandang gadis cantik di depannya.
"Uncle, setelah dia sembuh Uncle harus ngelatih aku lagi. Uncle harus ngelatih aku mati-matian. Aku... aku gak mau jadi orang lemah kaya gini" Rangga menangis. Airis menatap adiknya iba sekaligus tersenyum samar. Jadi, keponakannya ini sudah jatuh cinta rupanya. Ia tak tau siapa gadis yang dibawa keponakannya ke rumah sakit ini, tapi yang jelas gadis itu sudah menaklukan Rangga.
"Untuk urusahan berkelahi, lebih baik minta Ayahmu. Dibandingkan Ayahmu, Uncle tidak ada apa-apanya," ujar Airis sembari mengusap-ngusap pundak Rangga.
Airis kembali mengingat kejadian sejam lalu, dimana keponakannya menggendong seorang gadis yang babak belur dengan wajah panik dan napas yang ngos-ngosan penampilannya pun acak-acakan, percikan darah ada di tubuhnya. UGD gaduh karnanya, Rangga berteriak seperti orang gila meminta pertolongan pada siapapun, padahal anak itu tak pernah mengucapkan kata tolong bahkan kepada dirinya, tapi karna gadis ini, Rangga bahkan sampai bersujud meminta Airis menyelamatkannya (rd : sang gadis), orang yang tak tau medispun tahu bahwa kondisi gadis itu tak sampai mengancam nyawanya.
"Gak ada yang perlu dikhawatirin Nggak. She's okay. Sebentar lagi dia juga sadar," tutur Airis sekali lagi mencoba menenangkan Rangga. Tak ada jawaban dari Rangga, ia hanya berdiam diri memandang Rasya.
"Uncle akan kembali ke hotel. Dokter yang lain akan menanganinya," Airis berlalu pergi setelah pamit.
Otaknya kembali mengingat kejadian yang belum lama berlalu.
Flashback
Rasya sudah babak belur saat Rangga tiba. Ia terduduk di sebuah kursi kayu. Tangannya terikat kebelakang, kakinya pun terikat.
Melihat itu semua Rangga menjadi kalap, ia langsung mengeluarkan pisau lipat yang selalu dibawanya. Rangga menyerang siapa saja dengan membabi buta, darah sudah mengaliri lantai. Bima yang melihat itu lantas mendekati Rasya dan mengarahkan pisau dapur ke lehernya (rd : Rasya).
"Lo mau dia mati?!" Bima berteriak dengan lantang. Menghentikan aktivitas Rangga untuk menusukan pisau lipatnya tepat di leher lawannya.
Rangga berbalik. Matanya menyala saat melihat Rasya ditodong dengan pisau begitu.
"Jauhin pisau itu dari dia atau lo bakal mati secara mengenaskan?!" tiap kata yang diucapkan oleh Rangga penuh dengan tekanan, Bima yang mendengarnyapun semakin ketakutan, tapi ia mencoba sekeras mungkin untuk bersikap tenang. Ia tak ingin terlihat takut dihadapan pemuda yang ia tidak tahu siapa ini.
Rangga berjalan ke arah Bima dengan langkah angkuh, wajahnya mengeras dan memerah, jika ia iblis mungkin tanduk akan keluar dari kepalanya. Tangannya memainkan pisau lipat yang sudah berlumuran darah.
Tepat beberapa langkah dari Bima ia memperingatkan sekali lagi untuk menjauhkan pisau itu dari leher Rasya tapi Bima bahkan tak bergerak sedikitpun, bukan karna telalu berani tapi karna amat sangat takut saat melihat wajah Rangga.
Aura gelap menyelimuti Rangga, ia merogoh kantung jaketnya, pisau lipat yang lebih kecil dari sebelumnya sudah berada di tangan kirinya, dengan sekali gerakan pisau itu sudah beralih posisi tepat menancap di pergelangan tangan Bima, darah seketika menyembur, Bima jatuh ke lantai. Rasya yang setengah sadar melihat semua kejadian mengerikan itu, ia melihat Rangga mengamuk, melihat Rangga membunuh seorang manusia layaknya membunuh seekor nyamuk, tanpa beban sama sekali. Seakan-akan nyawa manusia sebanding dengan nyawa nyamuk. Ia bergedik ngeri melihat bagaimana Rangga melemparkan pisau ke arah pergelangan tangan Bima, jika meleset mungkin pisau itu menancap di d**a atau lehernya. Saat pisau itu menancap di pergelangan tangan Bima dan tepat saat darah itu menyembur ia jatuh pingsan.
"Maaf gue gak bisa jagain elo" permintaan maaf amat sangat tulus keluar dari mulut seorang Rangga Blade, ia menggenggam tangan Rasya yang bebas dari selang infus dengan lembut. Setelah pamannya keluar ia baru berani menggenggam tangan yang sedari tadi ingin digenggamnya.
"Ngapain lo jagain gue?" dengan suara yang masih serak Rasya bertanya
Rangga yang tadinya menunduk seketika mengangkat wajahnya menatap Rasya. Benar kata pamannya bahwa Rasya akan sadar sebentar lagi.
"Lo udah sadar?" Rangga yang terlampau senang langsung berdiri dan memanggil dokter dengan cara berteriak. Rasya memperhatikan tangannya yang digenggam Rangga. Hangat, itu yang ia rasakan.
"Kamu gak perlu teriak-teriak kaya di hutan Rangga," Airis kembali masuk dengan kesal diikuti seorang suster yang mendorong troli berisi alat-alat medis dan beberapa dokter yang mengekor di belakangnya.
Rangga hanya tersenyum canggung menanggapi pamannya, Rasya terdiam melihat Rangga yang tersenyum, pertama kalinya ia melihat si es seperti itu.
"Ekheem... ini tangan bisa kali dilepasin" seketika Rangga melepaskan genggaman tangannya dan memasang wajah datarnya setelah Rasya mengatakan kalimat yang memalukan baginya. Ia malu karna ketahuan mengenggam tangan gadis itu di hadapan pamannya.
Dengan teratur Rangga mundur membiarkan dokter yang dibawa pamannya memeriksa gadisnya, ya gadisnya. Rangga sudah mengklaim bahwa Rasya gadisnya secara sepihak.
"Kamu cuman perlu istirahat dan banyak makan. Setelah itu kamu boleh pulang. Wajahmu hanya perlu diolesi salep dan juga ganti perbanmu sesering mungkin untuk menghindari infeksi" dokter yang memeriksa Rasya menjelaskan kondisi Rasya setelah memeriksanya. Rasya tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih.
"Ini rumah sakit apa?" Rasya bertanya pada siapa saja yang mau menjawab dan kebetulan yang menjawab adalah Rangga.
"Lo apa-apaan? Ngapain infusnya dicabut?!" Rangga bertanya dengan nada tinggi, ia langsung bangkit dari duduknya saat melihat Rasya mencabut infusnya, tak mengindahkan pertanyaan Rangga, ia turun dari ranjangnya. Airis terkejut dengan sikap Rasya, tapi hanya 0.0001 detik ia memperlihatkan wajah terkejutnya, setelahnya berganti dengan wajah kakunya.
"Rasya?!"
Panggilan Rangga yang terdengar menakutkan tak menghentikan Rasya yang berjalan keluar dari ruangannya dan dengan cepat Rangga sudah berada di hadapannya.
"Lo mau kemana?" bukannya menjawab Rasya mendorong tubuh Rangga agar menjauh dari jalannya.
"s**t!"
Rasya meronta saat Rangga dengan paksa menggendongnya
"Beruang kutub turunin gue!!!" d**a Rangga menjadi sasaran empuk pukulan Rasya, pukulan yang rasanya menggelikan bagi Rangga.
Airis memberikan jalan pada Rangga untuk membaringkan Rasya.
"Lo tuh masih sakit! Jangan macem-macem!" Rangga sudah seperti ibu-ibu sekarang bagi Rasya, cerewet. Ia tak mengira si beruang kutub bisa secerewet ini.
Rasya menjulurkan lidahnya pada Rangga, mengejek. Setelah itu ia menarik selimut sampai menutupi seluruh badannya.