Semua tatapan tajam dan dingin kini tertuju pada Rangga yang diam di single sofa.
Daniel, ayah Rangga, dan Airis berada di hadapan Rangga sekarang. Daniel memasang wajah tanpa ekspresi nan dinginnya sedangkan Airis santai dengan menyesap teh hangat.
"Jelaskan bagaimana kamu bisa membunuh hampir 20 orang dalam semalam?" Daniel memecahkan keheningan di tengah-tengah mereka.
Rangga tetap diam. Dia tak tau harus menjawab apa karna ayahnya bertanya bagaimana cara ia membunuh hampir 20 orang dalam semalam. Caranya dengan menikamkan berkali-kali pisau kecil yang selalu dibawanya ke leher manusia-manusia b******n itu, tapi jika dia menjawab demikian, pasti saja ayahnya akan murka, ditambah lagi dia tidak tahu bahwa korbannya sampai sebanyak itu. Dia hanya menikam siapa saja yang menghalangi jalannya. Jadi, sekarang dia tetap diam, namun jika ditanya alasannya baru ia akan menjawab.
"Jawab Rangga Blade!" kali ini nada bicara Rangga sedikit meninggi.
"Rangga kalap, Dad,"akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Kalap? Bagaimana bisa?"
Rangga menjelaskan semuanya, dari awal hingga akhir.
"Jadi karna gadis itu?" kali ini Airis angkat bicara, memastikan dugaannya.
"Apa dia ada di sini, A?" Daniel bertanya dan ditanggapi dengan anggukan oleh Airis. Ia ingin sekali bertemu dengan gadis yang telah membuat anaknya membunuh orang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kebetulan sekali, aku sedang berkunjung ke rumah sakit ini dan anakmu datang dengan panik membawa gadis itu," ungkap Airis.
"Aku ingin bertemu dengan gadis itu."
"Dad, what do you want to do? Mau marahin dia? Dia gak salah! Aku yang salah di sini!" Rangga langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatap mata sang ayah, berharap ayahnya mengurungkan niatnya untuk menemui gadisnya.
Daniel tetap diam menunggu aksi Rangga selanjutnya.
"Aku yang gak bisa ngendaliin amarahku. Jadi...." Rangga menghentikan kalimatnya dan mendekati sang ayah, ia menjatuhkan lututnya ke lantai,
"Aku siap kalau aku harus berakhir di penjara, tapi aku mohon jangan melibatkan dia di masalah ini. Dia korban," ia berlutut di hadapan ayahnya.
Daniel diam, tak mungkin ia membiarkan anaknya masuk penjara. Lagipula dia sadar diri, bahkan dirinya lebih parah daripada Rangga. Dia membunuh ratusan orang atas dasar bisnis dan perintah, sedangkan anaknya membunuh atas dasar cinta dan melindungi walaupun tetap saja itu tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran. Meski pun begitu, dia tidak pernah membantai orang sebanyak itu dalam waktu semalam, tapi lihat anaknya, Rangga mampu membunuh 18 orang dalam semalam. Anggaplah Daniel sinting, tapi ia bangga sudah membuat Rangga ada di dunia ini.
Daniel berdiri, membenarkan jaketnya. Tengah malam ia dikagetkan oleh telpon dari Airis mengenai Rangga ditambah dengan pesan dari Chandra dan laporan dari bodyguard suruhannya yang menjaga Rangga dari jauh. Untung saja Valerie sudah tidur setelah 'pertempuran' mereka. Jadi, ia bisa membereskan masalah ini tanpa diketahui dindanya dan tanpa harus mendapat amukan dan melihat istrinya menangis.
Daniel berlalu setelah menepuk pundak Rangga.
"Aku akan mengantarmu ke ruangan gadis itu," ujar Airis dan berjalan mengikuti Daniel.
Rangga memukul lantai dengan kepalan tangannya. Haruskah ia melawan ayahnya? Setelah berkali-kali menimbang-nimbang ia berdiri, berlari mengejar ayah dan pamannya.
"Stop! Dad, you can't meet her!!" Rangga menghadang langkah ayahnya. Meski ada ketakutan di hatinya saat melihat wajah dingin ayahnya, ia tak gentar. Demi gadisnya.
"Rangga Blade, minggir!"
"Gak!"
Airis hanya memperhatikan saudara dan keponakannya yang bertingkah layaknya musuh. Sejujurnya, Airis sudah mengetahui rencana dari Daniel dan jalan pikiran pria yang dulu pernah menjadi tangan kanannya itu.
"Kamu berani melawan ayahmu demi seorang gadis?" Daniel bertanya dengan nada mengintimidasi, tatapannya pun sudah menggelap.
Rangga memasang kuda-kudanya, jika ia harus melawan sang ayah dengan cara ini maka ia akan melakukannya.
Belum sempat ia melayangkan serangan pada ayahnya, ia sudah terjatuh di lantai. Rangga mengerang kesakitan karna pukulan sang ayah juga tubuhnya yang dibanting membuatnya merasa bahwa tubuhnya remuk.
Jujur, Daniel pun tak tega melakukan itu pada anaknya, tapi ia harus melakukannya.
Airis menghela napas dan memapah Rangga yang mengerang kesakitan. Dadanya masih sakit akibat ulah sang ayah."Sudahlah, tidak ada gunanya kau melawan Ayahmu," tukas Airis pada Rangga.
Di depan sana, Daniel melihat gadis yang menyembulkan kepalanya di balik pintu. Ia terlihat sedang mengamati sekitar. Daniel mendekati gadis tersebut
"Kamu habis mencuri?"
"UWA MAMAH! DEMI PEDANG GOBLIN.... paman kok ganteng banget?" Rasya kaget, sedetik kemudian ia membekap mulutnya sendiri karna sadar telah memuji om-om di hadapannya dengan pertanyaan polosnya.
Daniel tertawa dalam hati ketika melihat reaksi Rasya, namun wajahnya masih dalam mode datar.
"Paman Goblin ya?" sekali lagi pertanyaan polos terlontar dari mulut gadis itu.
"Tapi gue gak niup api deh. Paman siapa?"
"Daniel Blade"
"Blade? Abangnya si kutub utara ya?"
Daniel menaikan sebelah alisnya, kutub utara? Siapa? Ia juga tak memiliki adik, apa jangan-jangan selama ini ibunya hamil tanpa sepengetahuannya? Atau Ayahnya punya anak dari perempuan lain lagi?
"Rangga, Paman" seakan mengerti kebingungan yang dialami oleh Aidan, Rasya memberitahukan siapa si kutub utara itu.
"Saya ayahnya Rangga" mulut Rasya membentuk huruf O sebelum matanya membelalak karna kaget. Tapi itu hanya terjadi sepersekian detik karna setelah itu ia malah tertawa terbahak-bahak.
"Aduh aduh... anjir sakit..." tawanya terhenti saat ia merasakan kesakitan di area bibirnya yang pecah juga sudut bibirnya yang robek.
"Aduh Paman, kalau ngelawak yang lucu dikit kenapa, Paman ayahnya Rangga? Ya kali muda kaya gini?" masih dengan sisa tawanya Rasya bertanya seraya mengusap air mata yang jatuh dari sudut matanya.
Daniel memandang jengah gadis belia di hadapannya, walau di dalam hati ia merasa heran karna gadis ini sama sekali tak terintimidasi oleh wajah dingin dan tatapan tajamnya yang sedari tadi ia tampilkan.
"Ra...sya..." panggilan Rangga yang terputus-putus membuat ia benar-benar menghentikan tawanya.
"Dad, please... tolong... jangan... la...lakuin itu" setelah berkata demikian Rangga jatuh pingsan, untung saja tubuhnya ditahan oleh Pamannya.
"Lihat apa yang kau lakukan, Daniel! Jangan terlalu keras padanya," ucap Airis kesal.
Daniel terlihat panik saat mengetahui anak ke-3nya pingsan. Airis dengan sigap menggendong sangkeponakan dan memeriksanya di kamar inap Rasya. Dia menerangkan bahwa Rangga baik-baik saja, ia lelah itu yang menyebabkan pukulan dan bantingan Rangga berdampak besar padanya.
"Ku rasa kita harus melakukan xray, aku takut tulang rusukya patah," tukas Airis saat meraba rusuk Rangga.
"Aku percayakan anakku padamu, terima kasih," ucap Daniel dan pergi keluar menemui Rasya yang ternyata tidak ikut masuk ke kamar.
Sebenarnya, Rasya ingin ikut masuk, bagaimanapun Rangga telah menyelamatkan nyawanya dan lagi ia masih memikirkan kata-kata Rangga sebelum jatuh pingsan. Memangnya apa yang akan dilakukan ayahnya?
ASTAGA! Rasya lo b**o atau gimana,si kutub udah bunuh 18 orang. Tentu aja sekarang ayahnya bakal marah besar sama elo yang nyebabin ini semua! Rasya memekik dalam hati. Ia tak masalah jika kena marah, yang ia pikirkan adalah Rangga yang mungkin akan dipenjara atau lebih parah mendapat hukuman mati.
"Saya ingin membicarakan sesuatu. Ikuti saya!"
Ketika dia membayangkan kemungkinan terburuk yang akan didapat Rangga, suara bariton yang cukup seksi membuyarkan pikirannya.
***
Raka memandang iri pada Rezky, bagaimana tidak Rasya tengah memeluk Rezky yang masih tertidur. Setelah pembicaraannya dengan ayah Rangga, Daniel, Rasya memilih kembali ke kamar inap abangnya.
Saat ia kembali hanya ada Raka yang masih berada di ruangan ini, Reka ia pulang untuk mandi dan mengambil baju serta mencari makanan. Raka sempat ingin menghajar Rangga saat melihat keadaan Rasya. Ia berpikir bahwa Rasya begini karna ulah si iblis itu. Nyatanya tidak. Rasya menceritakan semuanya pada Raka kecuali bagian dimana Rangga membunuh semua anak genk Beelzebub.
Dan sekarang Rasya sudah tertidur nyenyak sambil memeluk abangnya dengan hati-hati. Ranjang yang cukup besar membuat ia bisa tidur berdua dengan abang tercintanya. Menurut informasi dari Raka, ayahnya sudah berangkat dari LA menuju Indonesia setelah mendapat kabar mengenai keadaan Rezky. Rasya sempat marah pada Raka karna ia mengabarkan keadaan Rezky pada ayahnya, dia tidak ingin membuat ayahnya khawatir, tapi nasi sudah menjadi bubur tak ada gunanya juga marah-marah. Akhirnya Rasya memilih tidur setelah makan makanan yang belikan Raka.
***
Alvin, anak sulung Airis yang ditugaskan menjaga Rangga mengejar Rangga yang berlari seperti orang kesetanan. Setelah ia sadar, dirinya langsung mencari Rasya. Suster yang sedang menanganinnya menjadi sasaran amukannya karna tak memberitahukan keberadaan gadis yang dicarinya. Sampai akhirnya Airis dan Alvin datang dan Airis mengatakan di mana keberadaan Rasya.
Rangga membuka pintu dengan kasar, Rezky yang hampir tertidur terbangun karenanya. Sedangkan Rasya mengintip sedikit dari celah buku komiknya.
"Sya..." Rangga memanggilnya dengan penuh kelegaan. Gadisnya baik-baik saja dan kini tengah duduk di sofa sambil membaca komik.
"Naon Pak?" Rasya bertanya dengan mata yang masih tertuju pada komiknya.
Rangga duduk di samping Rasya. Rezky yang memperhatikan mereka berdua hanya terkikik geli melihat si tuan es malah diacuhkan oleh adiknya.
Alvin masuk ke ruang rawat Rezky setelahnya, melihat adik sepupunya duduk tenang di samping Rasya membuatnya sedikit lega bahwa adiknya ini tak akan membuat keributan lagi. Setelahnya ia mengangguk pada Rezky lalu keluar.
"Rezky Rasya!" teriakkan seorang pria yang baru saja membuka pintu dengan kasar membuat Rasya membanting komiknya dan berdiri, ingin menghajar pemilik suara itu, tapi dirinya kemudian tersenyum cerah dan melompat ke arah pria yang kini di sekujur tubuhnya bercucuran keringat. Kemeja biru yang dikenakannya pun sudah acak-acakan. Namun, itu semua membuatnya terlihat lebih hot, badan atletisnya tercetak jelas di balik kemeja yang lengannya sudah digulung sebatas siku dan juga rambutnya yang acak-acakan dan basah.
"Dapa!!! Rasya kangen," dengan sigap pria itu menangkap tubuh Rasya yang seolah-olah menerkamnya. Ia berputar seraya memeluk Rasya.
"I miss you too honey," pria itu menurunkan Rasya kemudian menempelkan hidungnya pada hidung Rasya. Tinggi Rasya yang hanya sedadanya mengharuskan ia menunduk.
Rangga yang melihat itu semua mengepalkan tangannya, wajahnya memerah, napasnya memburu.
Rezky yang sedari tadi memperhatikan ketiga makhluk itu tertawa, jika saja rusuknya baik-baik saja mungkin ia akan tertawa lepas.
"Dapa! Look at here!" Rezky mengintrupsi kegiatan Rasya dan pria yang disebut Dapa.
"Astaga! I forgot about you, boy," pria itu tertawa dan berjalan ke arah Rezky. "What's up bro?! Kenapa sih kamu bisa kaya gini, huh?!" dengan penuh kelembutan pria itu mengusap rambut tebal Rezky.
"Dikroyok. Dap, jangan sok jadi anak ABG deh, tuh liat pacarnya Rasya sampe salah paham, jangan sampe Dapa ditonjok sama itu anak kaya Rezky," Rezky terkekeh sendiri melihat Rasya yang sedari tadi menarik Rangga agar mendekat melepaskan tangannya seketika dan melotot ke arahnya.
Pria tersebut berbalik, ia bahkan tak menyadari adanya pemuda lain di ruangan ini. Kemudian ia tertawa.
"Halo, boy? Saya ayahnya Rezky dan Rasya. Jangan salah paham ya?" Raihan tersenyum ramah, matanya ia kedipkan untuk menggoda kedua remaja itu.
Rangga hanya mengangguk canggung sedangkan Rasya menggembungkan pipinya. Khas dirinya jika marah pada ayah dan kakaknya.
"Ciee yang malu-malu," Raihan semakin gencar menggoda.
"RASYA GAK PACARAN SAMA COWOK SENGAK INI!" Rasya berteriak kesal.
Rangga menatap Rasya tajam, yang ditatap bukannya takut malah menunjukkan tatapan tajam juga.
"Saya memang tidak pacaran dengan Rasya, Om, tapi saya akan menikahinya dalam waktu dekat. Setelah kelulusan saya akan melamarnya" Rangga berkata dengan tenang seraya menatap ke arah Raihan yang melongo mendengar perkataannya.