Rangga tersenyum sinting mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Kini ia duduk di ruang keluarga rumahnya.
"Rangga ada apa, Sayang, kok senyum-senyum terus dari tadi?" Vale bertanya dengan nada lembut. Ia baru saja tiba bersama Daniel. Daniel hanya terkekeh geli melihat anak bungsunya. Tentu saja ia sudah tau apa yang terjadi.
"Jadi kapan?" Daniel langsung to the point. Vale dan Rangga mengerutkan dahinya.
"Melamar gadis itu?" mata Rangga membola mendengar perkataan ayahnya begitupula Valarie.
"A... ayah tau dari mana? Bu...bukannya ayah marah padanya?"
"Marah? Kau tanyakan saja padanya. Cepat katakan, kapan kamu mau melamar gadis mu itu? Ah, sebelum itu pastikan dulu dia menerimamu. Jangan sampai kau ditolak saat melamarnya" dengan kekehan mengejek Aidan mengatakan itu, ia lantas menggiring Valerie masuk ke kamar. Valerie tentu saja menuntut penjelasan mengenai hal yang dikatakan Daniel dan Daniel berjanji akan mengatakannya di kamar.
Rangga, ia masih bingung dari mana ayahnya tau. Pertama, tidak mungkin Rasya yang memberi tahu hal itu, kedua tidak ada orang yang mengenal ayahnya berada di situ, ketiga ia tau bahwa ayahnya akan tau segala hal mengenai dirinya atau saudara-saudaranya yang lain karna setiap pergerakan mereka diawasi tanpa diikut campuri, tapi mengenai ini? Ia tahu betul di ruangan itu hanya ada mereka dan tidak ada yang janggal. Rasanya ia benar-benar bingung. Tidak mungkin kan ayahnya menyadap kamar pasien? Atau, jangan-jangan ayahnya menanamkan chip di dalam tubuhnya, seperti para agen FBI? Rasanya tidak mungkin. Tidak ada bekas jahitan di tubuhnya. Lalu dari mana?
Bodo teuing ah~~ Rangga menyerah memikirkannya ia berjalan ke kamarnya, memilih untuk tidur.
***
Semenjak kepergian Rangga beberapa waktu lalu, ia terus mengomel pada Rezky dan ayahnya
"Dapa kenapa sih main iyain aja? Terus Bang Rez juga! Apa-apaan bilang aku pacaran sama dia?! Ish amit-amit cabang bayi! Nikah sama beruang kutub iuh!"
Raihan dan Rezky layaknya anak kecil yang sedang dimarahi ibunya, tapi nyatanya mereka menahan tawa melihat wajah lucu Rasya saat marah.
"Jangan ketawa!!" Rasya membentak keduanya. Seketika mereka kembali diam. Raihan di kursinya, Rezky di ranjangnya
"Lu sih Ky!" Raihan menyalahkan Rezky layaknya ia menyalahkan saudaranya saat dimarahi ibunya.
"Ish! Dapa udah dibilangin jangan sok-sokan jadi anak ABG, inget umur woy! Anak udah dua juga," setiap kali Raihan bertingkah layaknya ABG saat itupula ia mendapat omelan dari Rezky, ia risih melihat ayahnya bertingkah seumuran dengannya. Memanggil anaknya dengan lo-gue atau apapun lah itu namanya, padahal mereka sama sekali tidak mempunyai keturunan Betawi. Ia tak suka, tapi Raihan tetaplah Raihan, ia akan tetap melakukannya dan juga melihat Rezky kesal hiburan tersendiri untuknya.
"Baru umur 40 tahun kok dibilang tua sih?" Raihan mendengus kesal. Rasya memutar bola matanya. Kenapa malah mereka yang jadi berantem?
"Ish! Rasya tuh ngomong didengerin kek!" Rasya menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Iya-iya princess" jika Dapa atau Rezky sudah memanggilnya princess itu adalah tanda bahwa ia bisa meminta apapun kepada mereka berdua.
"Jangan ngomel-ngomel lagi yah. Nanti Dapa ajak ke Korea deh kalau liburan, ketemu sama yang meranin Kim Shin dan Ji Eun Tak deh. Ya ya?" Raihan mulai merayu anak gadisnya agar tak lagi marah-marah.
"Beneran?" mata Rasya mulai berbinar, layaknya anak anjing yang diberi makanan oleh tuannya. Raihan mengangguk. Secepat kilat Rasya menubrukan badannya ke arah Raihan. Untung saja mereka tak jatuh ke belakang.
Dapa? Aneh ya? Dapa artinya daddy appa, dulu sekali Raihan ingin dipanggil daddy oleh anak-anaknya, sedangkan mending ibu anak-anaknya ingin mendengar Raihan dipanggil appa (ayah dalam bahasa Korea). Akhirnya terciptalah Dapa, daddy appa.
*
Daniel masuk dengan dagu yang terangkat diiringi dengan Rangga. Raihan yang baru saja menidurkan kedua anak remajanya beranjak bangun dari duduknya dan menghampiri Daniel.
"Saya Daniel Blade, ayah dari Rangga," Daniel menjabat tangan Raihan, Raihan mengangguk dan menyebutkan namanya pula
"Raihan Anugrah Pitona."
Mereka bertiga duduk di sofa.
"Saya banyak mendengar tentang Anda, orang kepercayaan Tuan Pramuda. Anda sangat disegani di dunia bisnis. Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini, ditambah lagi, Anda ayah dari pemuda pemberani ini. Saya tidak pernah mendengar bahwa Anda sudah menikah," lanjut Raihan.
Dibalik bisnis hitam yang dijalankan Daniel atas nama Pramuda, Daniel adalah orang yang disegani siapa saja yang ada di dunia bisnis atas pencapaian hebatnya. Tidak ada yang tidak mengenalnya, seorang pemuda gila bertangan emas, itu julukannya ketika masih muda. Apa pun yang dia sentuh akan membuahkan untung. Apa pun yang dijalaninya selalu berhasil. Bahkan, ketika para pembisnis lain menganggap ide yang dijalankannya tidak akan berhasil, tapi nyatanya itu menjadi sukses dan tren baru di dunia.
"Ah itu hanya masa lalu. Terima kasih jika menganggapku begitu," balas Daniel merendah dengan angkuhnya.
Daniel memberitahukan maksud kedatangannya. Raihan awalnya mengira anak ingusan yang sekarang berada di hadapannya hanya main-main dengan ucapannya, nyatanya tidak.
"Hm, begini Daniel. Saya tidak bisa mengatakan iya atau tidak mengenai hal ini. Keputusan ada di tangan Rasya. Jika dia mengatakan 'iya' maka saya juga iya, jika 'tidak' maka saya juga tidak." Daniel mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia bisa memahami pemikiran Raihan. Jika dia memiliki anak perempuan, tidak akan mungkin melepaskannya begitu mudah pada pemuda gila seperti anaknya, mungkin juga bila ia jadi Raihan ia akan lebih protective pada Rasya.
"Nah Rangga, sepertinya kamu akan lebih sulit menaklukan hati Rasya dari pada Om. Cintanya sulit didapatkan," Raihan tersenyum ke arah Aaro.
"Ayo bertaruh Rai, apakah anakmu akan luluh pada anakku? Aku bertaruh anakmu tak akan luluh pada anakku," bukannya mendukung Rangga, ayahnya malah mendukung Rasya untuk tak jatuh hati padanya. Rangga memutar matanya malas.
Raihan tertawa "Kalau begitu aku bertaruh untuk anakmu"
Setelah lamaran tak resmi itu Daniel dan Raihan berbicara mengenai bisnis. Keduanya cukup akrab untuk orang yang baru saja bertemu. Rangga terkacangi oleh kedua ayah tampan tersebut. Kini ia beralih tempat duduk ke samping ranjang Rezky, memperhatikan Rasya yang tidur memeluk Rezky. Walaupun Rezky adalah saudara kembarnya tapi Rangga benar-benar tak rela melihatnya. Wajah polos Rasya menjadi tontonan menarik bagi Rangga, tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut Rasya.
GRAB
Tangan Rezky menangkap tangan Rangga. Matanya membuka sempurna.
"Oh lo. Gue kira siapa. Sorry, refleks, mode perlindungan buat adek gue nih" Rezky cengengesan dan melepaskan tangan Aaro.
Rai dan Aidan menoleh ke arah mereka. Keduanya tersenyum lalu mengobrol lagi. Jujur Daniel takjub pada Rezky, bahkan disaat ia tertidur insting melindunginya masih aktif.Tidak seperti Rangga yang tidur layaknya orang mati.
"Jangan cemburu calon adek ipar. Adek gue emang gak bisa tidur tanpa diklonin kaya gini," Rezky mencoba bercanda pada Rangga tapi yang diajak bercanda malah memasang wajah datarnya.
"Gue kasih tau satu rahasia terbesar Rasya buat lu, mau gak?" mata Rangga berbinar, ia mengangguk cepat.
"Lo harus baik sama gue kalau mau adek gue. Karna apa yang gue bilang pasti dia turu.... aw awsh... Rasya!" Rasya bangun dari tidurnya, ia mencubit pinggang Rezky lalu menatap Rangga tajam . Sedetik kemudian, ia telah menapakkan kakinya di lantai, menarik Rangga keluar.
"Taruhan, Rasya pasti mukulin Rangga," Daniel kembali mengajak Rai bertaruh.
"Rasya gue gak sekasar itu deh," Rai memegang dagunya tak terima jika Daniel secara tak langsung mengatakan bahwa anak perempuannya bar-bar. Tentu saja ia hanya bercanda.
"Rezky ikut taruhan, Om bakal ditarik Rasya keluar, Dapa juga!" Rezky berucap penuh arti.
"Dapa dan Paman Daniel yang tampan kaya Malaikat Maut! K.E
L.U.A.R!!!"
Rasya membanting pintu, ia menyeret Rai dan Daniel dengan mudah, lebih tepatnya kedua pria itu tidak ingin melawan si gadis kecil ini.
Daniel terkejut atas perlakuan Rasya, ia... takjub. Baru pertama kali ia diperlakukan seperti ini,selain oleh Daabia dan Airis.
Sedangkan Raihan memijat pangkal hidungnya, frustasi.
"Gue harus tidur di koridor rumah sakit deh. Gara-gara lu bedua sih!" Rai menyalahkan Daniel dan Rangga yang kini memasang wajah bingungnya. Mereka sama-sama bingung atas perlakuan Rasya, mereka tak pernah diperlakukan seperti ini, dan lagi gadis itu baru saja bangun dari tidurnya jadi kenapa gadis itu langsung mengusir mereka keluar.
"Rasya kalau tidurnya diganggu bakal kaya singa," Rai mengatakan fakta sangar dari Rasya.
Rangga mengangguk setuju dan Daniel bertepuk tangan mengakui keberanian Rasya pada dirinya yang selalu memasang wajah sangar. Daniel mengatakan kalau Rasya hebat, setelah itu pamit pulang karna katanya, istrinya memintanya untuk pulang melalui pesan, padahal dia yang sudah merindukan istrinya itu. Daniel lebih banyak menghabiskan waktunya di New York ketimbang Indonesia bersama keluarganya. Rangga pun pamit pulang, lagi pula untuk apa ia di sini? Berdiam diri menemani Rai? Tidak terimakasih.
***
Valerie sibuk menyiapkan makanan kecil untuk tamu istimewanya hari ini. Rasya akan datang ke kediaman Blade karna kerja kelompok yang memaksanya. Rangga panas dingin, ia takut saudaranya yang bernama Alvin mengerjai Rasya. Apalagi, tadi pagi Alvin terlihat uring-uringan dan saat mendengar bahwa teman Rangga alias Rasya akan bertamu, tiba-tiba pria itu tersenyum cerah. Tidak akan ada yang menyangka dibalik wajah dan sikap dingin yang ia tampilkan setiap kali bertemu orang lain, nyatanya Alvin penuh dengan kehangatan dan kejahilan.
"Masuk, Sya," Rangga mempersilahkan Rasya masuk. Gadis ini datang dengan pakaian sederhana, kaos dan celana jins hitam, rambutnya diikat asal. Rasya masuk dengan santai.
"I. . . . itu. . . ular cobra?" Rasya bertanya dengan gagap. Wajah Aaro memerah. Alvin pasti sengaja melepaskannya.
"Damn! Alviin!!" Rangga berteriak geram pada sepupunya.