"Lo kok bisa bodoh banget?! Ini semua soal kelas 11 loh yang dikasih!" Rangga geram pada Rasya. Soal matematika yang diberikannya pada Rasya dijawab dengan salah semua.
Saat mereka kerja kelompok, Rasya mengatakan ia tak paham apa-apa dan ia ingin muntah melihat angka-angka yang ada di buku latihannya. Rangga mengajarinya dengan sabar diawal tapi Rasya benar-benar tak mengerti. Akhirnya ia memberikan soal kelas 11 yang berhubungan dengan materi yang harusnya mereka kerjakan.
Rasya memukul kepala Rangga dengan pulpen. Ia kesal dikatai bodoh terus menerus
"Iya tau, lo jenius tapi lo gak berhak bilang orang bodoh! Semua orang punya bidangnya masing-masing! Gue emang gak pinter di hitung-hitungan tapi di sastra gue jagonya!"
"Terus kanapa lo masuk IPA? Kenapa gak Bahasa aja huh?" Rangga gemas dengan Rasya, ingin rasanya melahap bibir Rasya yang mungil.
"I..itu... itu karna ee.. au ah gelap! Gue gak mau belajar ini lagi! Gue mau main sama kobranya lagi!"
Rasya keluar dari kamar Rangga, sementara Rangga memutar ulang kejadian yang mengejutkan baginya.
Kejadian itu adalah Rasya yang tanpa takut mendekati ular kobra milik Alvin dan berusaha menangkapnya layaknya pawang ular serta pernyataan Rasya yang katanya akan menikah dengannya, walau pun pernyataan tersebut pernyataan secara tak langsung.
Flasback
"Wah! Heol! Daebak! Kobra" Rasya menatap takjub pada ular kobra yang mulai berdiri dan membuka tudungnya. Rangga memandang tak percaya. Ia mengira bahwa Rasya akan ketakutan, tapi lihat, malah sebaliknya, Rasya terlihat amat sangat kagum dan senang melihat ada kobra.
Alvin yang memantau dari lantai dua tercengang dibuatnya. Ular kobra itu sendiri sudah dibuang bisa-nya. Niatnya untuk menakut-nakuti gadis itu, tapi nyatanya peliharaan Alvin kini berada di tangan Rasya setelah gadis itu berhasil menangkapnya. Rasya mengalungkan ular kobra tersebut di lehernya dengan tangan kanannya yang memegangi kepala si kobra agar tidak mematuknya.
"Peliharaan lo?" tanya Rasya menatap Rangga.
Rangga menggeleng, "sepupu gue," jawabnya.
"Sepupu lo?"
"Hi! We meet again here!" sapa Alvin muncul tiba-tiba di belakang Rasya. Alvin melompat dari lantai dua dan mendarat dengan ringan. Rangga yang melihatnya menatap Alvin dengan tatapan 'apa yang kau rencanakan? pergi dari sini, s****n!'
Rasya berbalik menatap Alvin, "e. . . . .you. . . cafe?"
"Yes. Namaku Alvin. Senang bertemu denganmu lagi.""Rasya," Rasya memperkenalkan namanya, "ini peliharaan kakak?" tanyanya sembari menunjukkan ular yang ia pegang.Alvin mengangguk, "ya dia milikku. Kalau kau mau, ambil saja. Bisanya sudah kubuang. Ah, maaf tadi dia ku lepaskan karna dia sedang berburu tikus," ucap Alvin yang membuat Rasya membulatkan matanya.
"Ti. . .tikus?" ulang Rasya terbata-bata. Dia memberikan ular itu kembali pada Alvin dan kini bersembunyi di punggung Rangga. "A, gue takut tikus," bisiknya mencengkram kaus Rangga erat sembari matanya lirik sana sini.
Rangga menaikkan alisnya, "lo nggak takut ular tapi takut tikus? Gue nggak salah dengar nih?" tanya Rangga heran.
"Emang gue nggak boleh takut sesuatu, hah?" tanya Rasya ketus dengan tetap mencengkram kaus Rangga dan gelisah. Rangga tersenyum jahil.
"TIKUS, SYA!" teriak Rangga tiba-tiba yang membuat Alvin serta Rasya terkejut.
"Eomma!!!" teriak Rasya dan langsung naik ke punggung Rangga.
Rangga sudah siap menopang berat badan Rasya dan dia tertawa dengan reaksi gadisnya itu. ALvin memandang kesal pada Rangga karna mengagetinya serta ular kesayangannya.
"Rasya, jangan khawatir. Tikus yang ku lepaskan tadi sudah masuk ke perut ular ini. Rangga membodohimu."
"Jahil banget sih lo, A!" Rasya turun dari punggung Rangga dan memukul pundak pria itu. Rangga tidak memberikan reaksi apa-apa pada Rasya. Dia malah menatap Alvin dan mengisyaratkan pria itu untuk pergi.
"Sya, I think your boyfriend doesn't like if I stay here, so I'll go to my room if you want to meet me or this snake, you can go up stais and my door has a snake sign. See ya!" Alvin mengerling pada Rasya sebelum beranjak naik ke lantai atas.
"Kenapa sepupu lo nganggep gue pacar lo? Lo udah ngomong yang enggak-enggak, ya?" hardik Rasya.
"Lo ke sini buat ngerjain tugas bukan buat intrograsi gue," Rangga berkata dengan ketus berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengingatkan tujuan utama Rasya.
"Nah, gini kek! Jangan kaya beberapa hari yang lalu. Lo manis banget ama gue, jadi jijik,"berhasil Rasya teralihkan perhatiannya.
Beberapa hari lalu Rangga berubah dari ice man menjadi sweet man. Bukannya malah suka, Rasya malah jijik pada Rangga, ia merasa aneh saat Rangga bertingkah seperti anak remaja yang memperhatikan kekasihnya. Menawari makan, mengiriminya pesan setiap waktu, dan perhatian-perhatian menjijikan lainnya, menurut Rasya.
"Udah deh, ayo ke kamar gue! Kita belajar di sana"
"Ke kamar lo? Jangan apa-apain gue?! Gue masih polos" Rasya berkata dengan lucunya, menyilangkan tangan di depan dadanya.
Pintu rumah terbuka lebar, membawa sosok Daniel dan Valerie masuk. Rasya mengalihkan pandangannya dari Daniel. Dia tidak ingin menatap mata Daniel untuk saat ini. Ada perasaan takut yang menggelitik pada diri Rasya ketika menatap mata Daniel setelah dia berbicara padanya tentang kasus Rangga. Dia kembali merinding ketika mengingat dirinya dengan berani menarik Daniel keluar tempo hari.
"Jadi ini yang namanya Rasya. Maaf, ya, Tante tadi ke supermarket sebentar buat beliin kalian cemilan. Rasya sudah lama datangnya?" sapa Valerie ceria, 180 derajat berbanding terbalik dengan sikap Daniel dan Rangga yang dingin.
"Halo, Tante, salam kenal, saya Rasya, jujur saya bukan temannya beruang kutub ini, bukan pula pacarnya apalagi calon istrinya," Rasya berkata dengan santai tidak ingin keluarga pria dingin ini menanggapnya teman, pacar, bahkan calon istri dari beruang kutub dingin di sampingnya. Dia harus menolak Rangga dengan tegas sekali lagi. Bahkan jika harus dihadapan Daniel. Tidak masalah baginya.
Valerie memasang wajah sedihnya, sebenarnya ini sudah diwanti-wanti oleh Daniel. Saat Daniel menceritakan tentang Rasya dan menunjukkan fotonya, Vale sudah begitu amat menyukainya.
Rasya menyadari perubahan raut wajah Valerie.
"Tante cantik, Rasya suka kok sama Rangga cuman Rasya gak suka sama sifat dinginnya. Rasya tarik kembali ucapan Rasya yang tadi. Tante jangan sedih, ya?" dengan imutnya Rasya mengedip-ngedipkan matanya. Daniel sampai terheran-heran. Yang benar yang mana? Ia akan memastikannya setelah ini. Apakah gadis ini menyukai anaknya atau tidak.
"Beneran kamu mau nikah sama Rangga nanti?" Vale bertanya dengan wajah berseri-seri.
"E itu... iya asal Tante cantik gak sedih," Rasya berkata dengan ragu. Ia hanya tak ingin membuat Valerie sedih, ia tak ingin membuat seorang ibu bersedih. Jadi, tak apalah jika ia harus berbohong asal Vale tak bersedih, tapi kalimat yang tadi sudah menumbuhkan harapan bagi Rangga dan bagi Daniel itu sebuah janji. Rangga mungkin tidak seperti ayahnya yang terkadang bermain licik, tapi untuk kali ini saja, biarkan dirinya bermain licik dengan menggunakan Ibu-nya. Tentu saja ia tak bisa bermain licik dengan mudah karna dirinya jelas tau bahwa seorang Rasya bukan perempuan yang bisa dikendalikan dengan mudah.
Flashback ends
Tak!!
Pisau sudah menancap tepat di pintu kamar Rangga, jarak pisau dengan Rasya hanya 1 cm. Pelakunya adalah Adbert, adik dari Alvin. Rasya terdiam. Adbert puas, ia berpikir bahwa Rasya akan lari ketakutan setelah ini dan dia memenangkan taruhan dan mendapatkan laptop gaming kakaknya.
"Kamu..." Adbert menaikkan dagunya menantikan kalimat Rasya selanjutnya.
"Kamu hebat banget, Dek!!!!" Rasya mengajungkan jempolnya, senyumnya mengembang layaknya anak kecil diberi permen.
Adbert tak percaya, mulutnya menganga.
"Namamu siapa?" Rasya mendekati Adbert dan bertanya dengan ramah.
Adbert menyadarkan dirinya dan menjawab pertanyaan Rasya, "Adbert."
"Adeknya kak Alvin atau Rangga?"
"Alvin," jawab Adbert cepat. Oh ayolah! Matanya sangat mirip dengan Alvin, bukan Rangga.
"Kalau gitu, temenin aku ke kamarnya Kak Alvin, yuk?"
"Untuk apa?"
"Dia bilang kalau mau main sama ularnya aku boleh ke kamarnya. Tolong tunjukin kamarnya, ya?" pinta Rasya.
"Ok."
Sembari mengantar Rasya ke kamar Alvin yang terletak di seberang lantai kamar Rangga, Adbert memikirkan cara untuk membuat Rasya takut dan lari keluar rumah ini, untuk memenangnkan taruhan dan mendapatkan laptop kakaknya.
*
"Makan yang buanyaaaaak, biar gede" Rasya menatap ular kobra milik Alvin yang sedang memakan ular kecil. Dia dilarang oleh Alvin untuk mendekat karna itu akan membuat si ular tidak mau makan.
"You lose. Now, get out of my room," suruh Alvin pada Adbert yang kalah taruhan darinya.
"Ceritakan bagaimana kau bisa mengenal Rangga," pinta Alvin sembari menarik kursi dan meletakkannya di depan Rasya yang tengah duduk di kasurnya.
"Satu kelas dari kelas 10."
"Lalu, bagaimana kau bisa menyukai Rangga?"
"Kak, sebenernya aku gak suka sama Rangga, aku bukan pacarnya apalagi calon istrinya," terang Rasya.
"Tapi, tadi ku dengar kau akan menikah dengannya?"
" Ah itu, itu demi Tante Vale,aku nggak mau dia sedih. Lagi pula, Rangga nggak akan mungkin suka sama aku juga, tapi kalau pada akhirnya aku harus menikah dengannya demi Tante Vale, nggak papa deh, aku cuman nggak mau Tante Vale sedih. She reminds me of my mother," tukas Rasya.
Alvin tidak mengerti jalan pikiran Rasya. Menikah hanya karna demi seseorang"
"Kenapa karna Aunty Val? Memangnya kamu bisa menikah dengan orang yang tidak kamu cintai dan itu hanya karna ibunya?"
Rasya mengangguk, "Tante Val bikin aku inget sama alm.bundaku. Aku nggak mau lihat Tante Val sedih karna itu sama kaya lihat bundaku sedih. Alasan yang aneh dan nggak jelaskan," Rasya tersenyum, tapi matanya mengatakan bahwa ia menyimpan sejuta kesedihan. Alvin mengangguk, dia tak ingin membuat Rasya bersedih lagi jika bertanya lebih dalam. Intinya Rasya sayang pada aunty-nya. Pria sedingin Alvin ini tidak ingin membuat gadis seceria dan semanis Rasya bersedih.
"Tapi, sebagai kakak sepupunya Rangga, aku tidak terlalu setuju jika akhirnya kau menikahi Rangga hanya karna itu. Kau berhak menikahi pria yang kau cintai, pun Rangga."
Rasya terkekeh, "aku kira kakak orangnya dingin kaya si kutub utara dan nggak punya hati, ternyata bisa semanis ini," ucap Rasya dan tersenyum menatap Alvin.
"Hai, jangan jatuh cinta padaku dan jangan membuatku menyukaimu. Akan ada pertumpahan darah nanti di keluarga ini," canda Alvin menyentil pelan dahi Rasya.
Bunyi ketukan pintu mengalihkan perhatian Alvin dan Rasya ke arah pintu di mana Rangga berdiri dengan wajah terdinginnya.
"Ku pikir kau mencintai Naufa," ucap Rangga dingin pada Alvin. Dia jelas tidak suka melihat kedekatan Alvin dan Rasya. Dia benci melihat Rasya bisa semanis dan selembut itu pada Alvin. Sedangkan, padanya Rasya tidak pernah bersikap seperti itu, tersenyum pun tidak pernah.
"Urusanku mencintai siapa. Toh, dia bukan kekasihmu," balas Alvin memainkan adik sepupunya.
"KAU!" Rangga berlari masuk dan menarik kerah Alvin. Membuat pria itu terangkat dari kursinya.
"Hei! Lo apa-apaan sih!" Rasya lantas memisahkan Alvin dan Rangga.
Tatapan Rangga beradu dengan Rasya.
"Ayo balik ke kamar gue!" perintah Rangga dan menarik Rasya pergi.
"Lepasin, A. Sakit!" keluh Rasya. Rangga melepaskan cengkramannya pada pergelangan Rasya yang memerah. s**l! Dia tidak sadar mengeluarkan kekuatan sebesar itu.
"Sorry, gue nggak sadar. Ayo ke dapur, gue kompres tangan lo," kini Rangga memegang tangan Rasya dengan lembut dan membawanya ke dapur.
Kini mereka ada di dapur. Val yang sedang menyiapkan cemilan dan membuat kue menanyakan apa yang mereka butuhkan."Kompres es batu, Mom. Aku nggak sadar tadi megang tangan Rasya kuat banget sampe merah gini," Rangga menunjukkan pergelangan tangan kanan Rasya yang memerah.
"Astaga, Rangga!"
"Tante, santai. Ini nggak terlalu sakit kok, cuman merah. Rangga aja yang lebay banget.""Kamu duduk di sini sebentar, Tante ambilin kompres," Vale dengan cepat mengambil es batu dan kain kompres. "Ini, kompres tangan kamu biar nggak bengkak," Vale memberikan kompresan pada Rasya dan langsung disambut oleh Rangga. Dia meletakkan perlahan di pergelangan tangan Rasya yang sejujurnya Rasya sekarang tidak merasakan sakit apa-apa.
"Tante, Rasya boleh minta kuenya?" tanya Rasya melihat kue coklat di atas meja makan. Dia menunjukkan senyum polos dan bodohnya.
"Tentu aja boleh. Ini makan, Sayang. Sambil nungguin kompresnya selesai," jawab Vale.
"Ini tante yang buat?" Rasya bertanya dengan mulut penuh cake
"Ditelan dulu sayang baru bicara. Panggil Tante, Mama ya mulai sekarang?" Rasya mengangguk patuh. Tak masalah baginya.
Di sisi lain, Rangga tersenyum setan, ia sudah memiliki kartu AS di tangannya yang bisa mengendalikan Rasya.