"Dapa, ayolah, Rezky males banget ini kebanyakan diemnya. Udah sebulan loh Rezky kaya orang penyakitan gini. Ini juga kenapa gak pulang-pulang sih?"
"Rezky putra dapa yang paling tampan, tulang rusukmu itu patah sayang. Harus ditanganin secara benar biar kamu gak kenapa-kenapa."
Rezky mendengus kesal. Ia memang boleh bergerak tapi tak disarankan bergerak terlalu banyak. Dadanya sudah tak senyeri diawal patahnya tulang rusuknya, ia hanya ingin pulang dan kembali beraktivitas.
"Dapa kapan Bang Rezky boleh pulang? Rasya bosen setiap hari ke RS mulu," Rezky melemparkan bantal ke arah Rasya
"Kagak ada yang nyuruh lo ke sini, kunyuk!"
"Rezky mulutnya!" Raihan mengingatkan anak pertamanya. Rasya memeletkan lidah sedangkan Rezky semakin sebal.
"Yoo, bro!!" Raka dan Reka masuk membawa parsel berisi buah. Rasya langsung bangkit dan mengambil alih parsel tersebut. Ia memakan buah pisang dengan lahap.
"Pelan-pelan kalau makan, Sya" Raka mengingatkan dan ditanggapi anggukan oleh Rasya
Reka menghampiri Raihan yang masih duduk di kursi samping ranjang Rezky. Mereka berdua melakukan tos ala-ala anak muda. Rezky memutar bola matanya malas. Dapanya mulai bertingkah muda lagi.
"Halo, Om," Raka mencium tangan Raihan
"Kok gak bareng Rasya?"
"Tadi masih ada latihan futsal dulu, Om. Karna anak om yang paling cantik itu gak mau nunggu makanya disuruh duluan," Reka menjelaskan. Raihan mengangguk.
Pintu terbuka lagi, kini menampakan pemuda tinggi nan tampan. Rahangnya yang kokoh, bibirnya yang berwarna merah muda, porsi matanya yang sempurna, serta hidungnya yang mancung menegaskan bahwa pemuda ini dipahat Tuhan dengan penuh kehati-hatian.
"Rangga," Raihan berdiri menyambut ramah calon menantunya. Rangga tersenyum singkat seraya mencium tangan Raihan dan mengangguk pada Rezky sebagai bentuk sapaan. Tatapannya berubah tajam dan wajahnya berubah datar ketika bertatapan dengan Raka. Aura permusuhan jelas terasa di ruangan ini. Raihan, Rezky, dan Reka merasakan aura membunuh dari keduanya. Mereka bergedik ngeri. Sedangkan Rasya? Ia masih sibuk dengan pisangnya yang ketiga.
"Ngapain lo bedua tatapan gitu? Awas jatuh cinta!" celutukan Rasya berhasil memutuskan perkelahian Raka dan Rangga lewat tatapan mata.
"Ngapain lo ke sini?" Raka bertanya dengan ketus. Reka menyikut lengan Raka, mengingatkan bahwa di sini ada Raihan. Bisa celaka dua belas kalau sang camer tak menyukai Raka.
"Bukan urusan lo!" Rangga menjawab dengan lebih ketus. Kini Rangga sudah duduk di samping Rasya, meletakkan setumpuk buka bertuliskan 'MATEMATIKA' di cover nya.
"Lo tuh ya?! Udah gue bilang jangan bawain buku kaya beginian lagi! Mending lu bawain gue makanan kek," Rasya mendumel, sudah beberapa hari ini Rangga menjadi guru pribadi Rasya. Jika tidak Rasya yang diseret ke rumah Rangga maka Rangga yang datang ke rumah sakit. Selama ia ke rumah sakit, ia tak pernah bertemu dengan Raka, kalau Reka pernah beberapa kali.
"Rasya, Rangga tuh baik sayang. Kamu mau nilai rapot kamu di bidang hitung-hitungan merah lagi?"Raihan mengingatkan Rasya. Rasya mendengus sebal. Semenjak kehadiran Rangga, dapanya selalu mempermasalahkan nilai merah Rasya, padahal dulu tidak.
"Raka bisa ngajarin Rasya, Om," Raka menawarkan diri. Rangga menutup buku yang baru saja di bukanya, meletakan ah lebih tepatnya membanting buku itu ke meja setelah mendengar perkataan Raka. Enak saja! Dia pikir bisa merebut posisi penting ini darinya? Tidak bisa dibiarkan.
"Oke! Rasya setuju. Raka aja yang ngajarin Rasya," Rasya mengangguk semangat, akhirnya ia bisa bebas dari manusia kutub, Rangga, dan kenapa itu tak terpikir dari kemarin?Rangga menatap tajam ke arah Rasya, meminta Rasya menarik kata-katanya.
"No no no! Yang ada Raka bakal manjain elo, bukan ngajarin," Rezky tidak setuju, ia tahu betul bahwa Raka tidak bisa menolak apapun permintaan Rasya.
"Bang?!"
"Rez?!"
"GAK"
Raka dan Rasya menghembuskan napasnya kecewa. Keputusan Rezky adalah mutlak bagi 4R. Reka mengusap pundak kembarannya pelan, Rangga tersenyum penuh kemenangan, mengejek ke arah Raka. Raihan? Ia hanya diam, tak ingin ikut campur di urusan percintaan remaja ini.
"Ambil buku kamu, Sya," Aaro menyuruh Rasya dengan dingin. Ia tak ingin bermanis-manis sekarang, tujuannya satu, membuat nilai Rasya menjadi naik.
Jangan berpikir bahwa Rezky jahat pada sahabatnya, tak mendukung Raka yang jelas-jelas mencintai adiknya. Ia hanya menjaga perasaan semua orang dan ada alasan di balik Rezky yang mendukung Rangga menjadi adik iparnya suatu saat.
"Hai guys, I should go to office now. Rangga, Om percayain Rasya sama kamu. Boy dapa pergi dulu. See guys!"
Raihan pamit setelah Raka dan Reka pamit pulang, alasannya ada tugas yang harus mereka kerjakan, tapi semua orang di ruangan itu tau alasan sebenarnya, kecuali Rasya yang tak peka.
Rasya tak mendengarkan penjelasan Rangga, ia terfokus pada pisang ke6nya, Rangga menoleh ke samping, pandangannya tertuju pada bibir Rasya yang menggoda, ditambah lagi sedang melahap pisang. Err... jangan salahkan pikiran Rangga, tapi salahkan Rasya yang bibirnya terlalu menggoda. Tahan Nggga, belum sah, tahan. Rangga berusaha menenangkan pikirannya, mungkin jika di ruangan ini tak ada Rezky yang tengah asik dengan hpnya, bibir Rasya sudah berada di mulut Aaro.
TAK
"Rangga kamvret! Ngapain lu mukul gue?" Rasya mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh buku. Beberapa hari ini, itu adalah pandangan biasa yang dilihat Rezky.
"Perhatiin penjelasan gue, Rasya Anugrah Pitona!" jika sudah memanggil nama lengkapnya Aaro sudah berada diambang batas kesabarannya.
"Iya iya berung kutub!"
Rangga menjelaskan lagi dari awal materi anak SD kelas 5, Rasya memperhatikan dengan malas.
"A, kalau nilai gue jadi 70 di UTS nanti lo gak usah ngajarin gue lagi ya?" Rasya berusaha bernego dengan sang tuan es.
"95 baru gue gak ngajarin lo lagi dan nilai itu harus di semua mata pelajaran," Rangga menjawab tanpa menatap Rasya, dirinya tengah sibuk membuat soal yang menjadi PR Rasya jika pelajaran darinya sudah berakhir. Rasya membelalakan matanya kaget, 95? Hell yah! Baiklah! Demi tak diajari manusia es di sampingnya ia akan berusaha mati-matian.
"Ok! Lo juga harus jauh-jauh dari gue kalau gue dapet segitu," Rangga memandang Rasya dengan tajam
"100 di semua mata pelajaran dan lo harus dapet peringkat 1 seangkatan kalau mau itu terjadi," Rangga berkata dengan dingin, kemudian bangkit, ia pamit pada Rezky, saat tangannya menggapai handle pintu, ia berbalik
"Kerjain pr dari gue itu dengan baik!" setelah berkata seperti itu tubuhnya menghilang di balik pintu
"Ranking 1, Dek. Yakin nih? Mana bisa lo ngambil posisinya Rangga, jangankan dia posisi Raka pun gak bisa," Rezky tertawa di ranjangnya. Rasya mendengus sebal, dilemparnya kulit pisang yang menumpuk setelah itu ia kabur, meninggalkan kakaknya yang berteriak marah-marah karenanya.
***