UTS telah selesai, 'kemesraan' Rangga dan Rasya sering terlihat di sekolah, lebih tepatnya sikap manis Rangga pada Rasya yang tidak pernah ia tunjukan pada siapa pun di sekolah ini. Banyak siswi yang iri melihat Rasya yang bisa berdekatan dengan Rangga. Raka juga lebih sering mendatangi kelas Rasya, tapi ada saja cara Rangga agar Rasya dan Raka tak bersama. Rezky belum diperbolehkan bersekolah oleh Raihan. Ia ingin Rezky benar-benar sembuh dulu, walau dokter sudah memperbolehkan pulang dan beraktivitas asal jangan yang berat-berat, tapi tetap saja ia tak ingin anaknya kenapa-kenapa.
"Sya makan!" Rangga geram, somay yang dibelikan olehnya hanya diadu-aduk oleh Rasya, sedari tadi ia sibuk melihat hpnya
"Rasya?!"
"Ish diem deh A, gue tuh nungguin hasil UTS kita di-upload. Gue gak sabar liat nilai 95 gue tau! Biar lo gak grecokin gue buat belajar mulu!"
Rangga menghela napas, ditariknya piring berisi somay Rasya. Dia yakin 100% Rasya tidak mendapatkan nilai yang telah mereka sepakati. Dia yang mengajarinya selama ini. Dia tau lebih baik daripada guru-guru di sekolah ini. Bukannya dia tidak ingin nilai Rasya menjadi sebaik itu, hanya saja segala cara sudah dilakukannya agar nilai Rasya setidaknya mencapai angka 80, tapi nihil. Rasya bebal jika berhadapan dengan matematika, kimia, apalagi fisika.
"Aaa... buka mulut lo!" Rangga mengalah, akhirnya ia sendiri yang menyuapi Rasya, Rasya bersedia menerima suapan Rangga.
"A, lo bakal nepatin janji lo kan?"
"Iya! Makan cepetan!" jawab Rangga malas. Dia sudah bisa memprediksi berapa nilai gadisnya ini.
Raka dan Reka datang, mata Raka menatap tajam Rangga, yang ditatap membalas dengan mata yang tak kalah tajam.
"RAKREK!! Sini!!" Rasya bersorak senang melihat sahabatnya. Reka menarik Raka mendekat, yang ditarik ogah-ogahan.
"Sya, kapan Rezky sekolah?" Reka sudah duduk di samping Rangga, menghadap ke Rasya tanpa memperdulikan Rangga maupun Raka yang ingin bunuh-bunuhan sekarang.
"Gak tau gue. Tanya dapa aja sono!"
Reka mangguk-mangguk.
"Rasya, makan jangan bicara!" Rangga memang masih menyuapi Rasya, tapi matanya tak lepas menatap Raka.
"Memangnya Rasya anak kecil harus lo suapin?" sindiri Raka pada Rangga.
"Iya ah! Lo kenapa sih bawel banget?! Gue juga bukan anak kecil," Rasya merebut somaynya, memakannya dengan cepat, saking cepatnya ia sampai tersedak.
Raka dan Rangga langsung menyodorkan minum, tanpa basa basi ia meminum minuman yang diberikan Raka sampai tandas.
Raka tersenyum ke arah Rangga seolah mengejek kekalahan Rangga yang minumannya tidak dipilih Rasya.
BUGH!!
Satu pukulan berhasil mengenai Raka, Rasya terpekik, Reka? Ia langsung menarik kerah seragam Rangga.
"Jangan! Sentuh! Gue!" Rangga menepis tangan Reka dengan kasar. Ia benci kekalahan. Ia tak ingin disaingi. Ia tak ingin diremehkan. Jangan meremehkannya jika kalian tak ingin dapat bogem mentah darinya.
"Lo apa-apaan sih?" kini giliran Rasya yang mengamuk. Ia tak terima sahabatnya ditonjok tanpa sebab.
Rangga diam, tak menanggapi pertanyaan Rasya. Kedua tangannya ia masukan di saku celana bahannya.
"Gue pergi," p***s Rangga hendak meninggalkan kantin.
"Udah, Sya. Jangan buang-buang tenaga buat ladenin manusia gak berotak kaya dia," Raka bangun di bantu oleh Reka. Ya, ia berhasil terjungkal ke belakang hanya karna bogem mentah Rangga yang bahkan terhalang oleh meja makan kantin ini, bibirnya bahkan sedikit mengeluarkan darah dan jangan lupakan giginya yang goyang karena tonjokan Rangga.
Rangga kembali berbalik dan menatap tajam ke arah Raka. Ingin sekali rasanya menghajar saingannya itu habis-habisan sekarang, tapi dia tersadar akan semua permainan licik ini. Sialnya, dia berhasil terpancing kepermainan licik Raka. Reputasinya makin hancur di depan Rasya, pasti setelah ini Rasya membencinya. Jangan! Jangan sampai itu terjadi!
Rasya mendekat ke arah Raka, tangannya terulur menghapus darah yang mengalir di rahang sempurna milik Raka.
"Kita ke UKS," Rasya berkata dengan lembut, Rangga cemburu mendengar nada bicara Rasya yang selembut itu pada Raka! Ia iri! Rasya tak pernah selembut itu padanya. Tangannya kembali mengepal, ingin sekali ia menghabisi Raka. Reka sedari tadi hanya diam, ia hanya membantu Raka berdiri. Tak ingin ikut campur. Cinta segitiga menurutnya rumit dan ia tak ingin terlibat apapun dengan Rangga lewat masalah percintaan ini.
Rasya dan Reka memapah Raka, belum ada selangkah tangan Rasya dicekal Rangga.
Tatapan matanya tajam menusuk siapa saja, tapi ada setitik kelembutan dan cinta saat ia menatap Rasya.
"Jangan pergi ke UKS atau kesepakatan kita batal?!" Rasya menghempaskan tangan Rangga dengan kasar, ia maju beberapa langkah menutup jarak di antara mereka berdua.
Kepalanya mendongak menatap wajah tampan Rangga, matanya tajam, mukanya merah menahan amarah.
"TUAN RANGGA BLADE YANG TERHORMAT, LO BUKAN SIAPA-SIAPA GUE! JANGAN NGATUR-NGATUR HIDUP GUE! MULAI DETIK INI GUE GAK MAU LAGI BERURUSAN SAMA LO! GUE BENCI LO!" dengan emosi yang meluap-luap Rasya berteriak di hadapan Rangga. Sudah sedari tadi mereka menjadi bahan tontonan siswa lain. Mereka takjub dengan Rasya yang berani berteriak di hadapan si iblis.
Rangga terkesiap, rahangnya mengeras, kepalan tangannya makin kuat, tatapannya penuh dengan amarah.
Ia tak pernah diperlakukan siapapun seperti ini dan sekarang Rasya membuat dirinya terlihat mengejar-ngejar Rasya, terlihat rendahan di mata orang lain. Cukup! Hati Rangga tak semurah hati malaikat maut.
Rasya terjatuh saat Aaro dengan sengaja menabrak bahunya dengan lengan kokoh pemuda yang ia sebut beruang kutub.
BAGH!
BUGH!
BAGH!
BUGH!
Perkelahian tak dapat dihindarkan, Rangga menghajar habis-habisan Raka, Reka pun terkena getahnya, pelipisnya robek dan hidungnya mimisan karna berusaha memisahkan Rangga dan kembarannya. Rasya? Sudah berapa kali ia di dorong oleh Rangga menjauh saat ingin memisahkan dirinya dan Raka.
Rangga butuh pelampiasana dan Raka adalah orang yang tepat. Dia yang mengakibatkan Rasya membencinya. Dia pula awal mula yang menyebabkan kericuhan ini.
"Rangga stop!" Rasya berteriak histeris. Tubuh Raka sudah terkulai lemas, begitupun Reka yang keadaanya sedikit lebih baik daripada Raka. Guru-guru yang ada tak berani memisahkan perkelahian itu. Jadi mereka hanya menonton sambil meminta Rangga berhenti.
Rangga tak mengindahkan teriakan siapa saja yang menyuruhnya berhenti. Kini ia menduduki perut Raka dan dengan bebas menghajar wajah tampan Raka.
Rasya merangkak mendekat ke arah Rangga, air matanya sudah berjatuhan. Kakinya terluka di beberapa bagian karna dorongan yang dilakukan Rangga tanpa dia sadari, lengannya pun sudah mengeluarkan darah segar saat terjatuh dan tak sengaja tergores ujung meja lancip kantin.
"Stop!" Rasya memohon dengan lirih. Tinjuan Rangga seketika berhenti, ia menoleh ke belakang tempat Rasya terduduk. Hatinya mencelos saat melihat air mata yang sudah membasahi pipi gadis cantiknya, ditambah dengan penglihatannya yang menangkap adanya luka di beberapa bagian tubuh gadisnya.
Ia bangkit, mendekat ke arah gadisnya, berjongkok, dan menghapus lembut air mata Rasya dengan jempol tangannya.
"Maaf," Rangga berkata dengan tulus setelah Rasya berada di pelukannya.
Rangga berubah dari iblis kembali menjadi manusia ketika mendengar lirihan Rasya yang cukup menyayat hatinya.
"Lo iblis! Lo gak punya hati!" Rasya mengucapkannya dengan pelan tapi cukup menusuk hati Rangga karna gadisnya masih saja menangis.
"Ya, gue iblis. Gue gak punya hati," dengan pelan Rangga membelai rambut Rasya lembut, ia akan mengiyakan apapun perkataan Rasya sekarang. Ia hanya ingin gadisnya tenang dan berhenti menangis.
"Gue benci sama lo"
"I love you too"
*
Rangga gelisah, ia tak berhentinya mondar mandir di depan pintu kamar Rasya. Ya, seteleh kejadian ia mengamuk, Rasya yang tak kunjung berhenti menangis, mencaci makinya, dan memukulinya, akhirnya ia memutuskan untuk membawa pulang Rasya dengan paksa.
Raihan dan Rezky senyam-senyum sendiri melihat Rangga seperti bapak-bapak yang menunggu istrinya melahirkan. Sejujurnya, mereka pun tidak tau apa masalahnya sampai Rasya marah dan menangis seperti itu. Rasya jarang menangis kecuali ketika disuntik. Mereka pun tidak menyadari luka-luka di tubuh Rasya karna gadis itu langsung masuk ke kamar ketika sampai.
"Rasya, buka pintunya!!" sudah berkali-kali Rangga berteriak dan menggedor pintu berwarna coklat tua, terdapat papan tulis kecil bertuliskan "Rasya's room! Don't enter my territorial!" yang tergantung di sana.
"Pergi lo!! Gue gak kenal siapa lo! Gue benci sama lo! Pergi!!!!" Rasya balas berteriak dari dalam.
Raihan bangkit dari duduknya, menghapiri Rangga dan menyuruhnya pulang. Ia akan membujuk Rasya yang sedang dalam mode Frankenstein's Dark Spear.
Rangga mengangguk pasrah, Rezky mengambil jaketnya dan meminta Rangga mengantarkannya ke rumah sakit tempat kedua sahabatnya di rawat tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah kepergian Rezky dan Rangga, Raihan mengetuk pintu kamar Rasya.
"Uri-dariya~~" (putriku)
Rasya membuka pintu kamarnya, matanya sembab karna menangis. Ia memeluk Raihan dengan erat.
"Raka... Raka sama Reka kasian, dap. Mereka...mereka gak salah apa-apa....tapi... tapi Rangga langsung hajar mereka."
"Iya. . . sekarang tenang dulu," ujar Raihan.
*
Rangga tiba di rumah dengan keadaan kacau, Vale sampai histeris dan panik dibuatnya, bukan mengkhawatirkan Rangga tapi lawan Rangga. Jagoan kecilnya tak mungkin kalah. Jika kedua anak pertamanya belajar bela diri hanya sebatas terpaksa karena ayah dan paman mereka, tidak dengan Rangga yang benar-benar menikmatinya. Rangga sangat ahli dalam perkelahian. Saat SMP dulu bahkan tidak ada hari di mana telpon rumah mereka tidak berdering karena panggilan dari sekolah. Rangga selalu berkelahi. Siapa pun yang dirasa menganggunya akan dia habisi. Perlikakunya itu kemudian agak sedikit berkurang ketika masuk SMA.
"Kamu berantem sama siapa lagi Rangga? Gimana keadaan lawan kamu?!" Vale membrondongnya dengan berbagai pertanyaan yang intinya menanyakan keadaan lawannya, bukan dirinya. Rangga mencebik kesal, ia kesal karna bundanya tak mengkhawatirkannya. Ayahnya duduk dengan santai, keadaan yang sudah biasa jika anaknya berkelahi.
"Daniel?! Jangan diam aja, anakmu berkelahi lagi!" Vale kesal, bibirnya ia majukan dan tangannya ia lipat di d**a. Daniel menarik Vale agar duduk di sampingnya. Ia menatap Rangga.
"Boy,.." Daniel menarik napasnya dalam-dalam
"Gimana keadaan musuh mu? Dia mati atau hanya babak belur? Kalau dia baik-baik saja kau bukan anakku!" Daniel berseru dengan lantang. Mata Vale membola mendengar penuturan suaminya.
Vale memukul pundak Daniel kesal, "kau ini!" teriaknya.
"Hey! Aku mengajarkannya bela diri, jika ternyata bela dirinya tidak berguna, untuk apa dia menjadi anakku."
Rangga menghela napas, akan terjadi perdebatan panjang lagi antara ibu dan ayahnya.
"Rangga ke kamar dulu. Rangga cape," tukasnya dan menuju kamar, malas menyaksikan perdebatan orang tuanya yang pasti akan dimenangkan ibunya karena ayahnya akan mengalah kemudian. Lalu, mereka akan bermesraan lagi, Rangga kadang tak habis pikir dengan kelakuan orang tuanya. Kadang mereka seperti kucing dan anjing, kadang seperti sepasang angsa. Kadang juga ia iri dengan ayahnya yang mendapatkan hati ibundanya, betapa beruntungnya ayah. Ibundanya yang penyabar, lemah lembut kadang, penyayang, dan amat sangat cantik mendapatkan ayahnya yang agak 'lain' dari yang lain. Tapi ia juga menganggumi ayahnya yang bisa menjadi sosok manja di hadapan istrinya dan menjadi sosok panutan dan "pelindung" saat di hadapan anak-anaknya, serta menjadi orang berpengaruh di luar sana.
Rangga menutup pintu kamarnya. Dia melepas seragamnya dan melemparkannya asal ke lantai. Rangga menghempaskan begitu saja tubuhnya ke kasur.
"b**o banget sih lo, Ngga!" erangnya. Kepalan tangannya menghantam kasur.
Ia mengerang fruatasi, kenapa ia bisa begitu emosi dan menghajar Raka mati-matian di depan Rasya. Kenapa ia begitu bodoh? Baiklah! Sekarang ia harus membuat Rasya memaafkannya sebelum ia bisa mendapatkan hati gadis itu.
"Apa kamu terlalu bodoh sampai tidak bisa memikirkan dampaknya jika melakukan hal itu dihadapan Rasya?" Rangga menoleh ke arah pintu yang baru saja di buka ayahnya. Ayahnya berjalan dengan angkuh lalu duduk di kursi belajar Rangga, sedangkan Rangga bangkit dari tidurnya duduk menghadap ayah gilanya.
"Apalagi kau menghajar sahabatnya," tambah Daniel lagi.
Rangga diam saja ketika ayahnya mengatai dirinya bodoh, kenyatannya memang begitu. Otaknya tidak berguna ketika berurusan dengan Rasya.
"Kamu harus lebih banyak belajar dari Daddy-mu ini," Daniel menyombongkan diri.
"Aku tidak ingat kalau ada sesuatu yang bisa ku pelajari darimu selain bisnis dan berkelahi, Dad. Setiap kau pulang kau hanya bermesraan dengan Mommy, melatihku dan Mas Chandra dan Mas Andra berkelahi, mengajariku bisnis, tidak ada yang bisa ku pelajari darimu selain berkelahi dan bisnis. Sejauh ini hanya itu," tutur Rangga.
Ayahnya memang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri karena bisnisnya. Vale tidak berkenan untuk pindah ke negara asal Daniel. Jadi, Daniel mengalah untuk bolak-balik LN-Indo.
"Ah, ya kau tidak pernah ku ajari ini, menaklukan hati perempuan," jawab Daniel santai.
"Ok. Mari dengar caramu, Dad."
"Cium bibirnya," Rangga memandang ayahnya tak percaya, mencium bibir Rasya? Bukan mendapatkan hatinya yang ada dia mendapatkan tinjuannya.
"Are you crazy?" Daniel menjewer kuping Rangga, ia geram anaknya mengatainya gila. "Sakit! Lepaskan!"
Daniel melepaskan jewerannya, "kalau kau tidak percaya dengan itu pakai cara ini saja," Daniel membisikan sesuatu, mata Rangga membola. Baiklah, ayahnya benar-benar gila.
"Really? Hey, her father and her brother will kill me!"
"Lalu, beladirimu untuk apa?" Daniel bertanya dengan wajah sombongnya.
Rangga tidak menjawab dan malah mengajukan pertanyaan yang ada di benaknya sejak ayahnya mengatakan hal tak masuk akal itu.
"Did you do that to Mom?" Daniel tidak menjawab apa-apa. Ayah dan anak itu terdiam beberapa saat.
"I did," Daniel lalu pergi keluar kamar.
Aaro menelan air liurnya kasar, ia tak menyangka ayahnya melakukan hal itu untuk mendapatkan ibunya. Haruskah ia juga melakukan itu? Haruskah?