"Apa? Kok jadi banyak orang? Perasaan gak ada yang punya acara di rumah ini."
Anasya, terkejut mengapa pagi ini di rumahnya banyak sekali orang berdatangan. Bukankah sekarang hari liburnya? Seharusnya ia menghabiskan waktu untuk bersantai.
"Kamu jangan melamun, sya. Cepat ganti pakaianmu dengan gaun yang sudah Ibu siapkan! " Ujar Ibu sambil menarik tanganku untuk bergegas menuju kamar.
"Bu, sebenarnya ini ada apa?" Aku berkata lirih ketika memasuki kamar.
"Ibu minta maaf, hari ini kamu di jodohkan demi melunasi hutang keluarga." Ibu menatapku dengan tatapan bersalah.
"Perjodohan apa bu? Kenapa ibu tidak bilang ke Anasya dulu, apakah Anasya menerima atau tidak!" Tatapku tidak terima. Aku membaringkan tubuhku di ranjang dengan penuh emosi.
"Kalau begini, sama saja Ibu menjual putri Ibu demi uang!"
"Anasya Raseline. Dengarkan Ibu, kamu apa tidak kasihan dengan orang tuamu yang sudah mulai tua? mau melunasi pakai apa kami? uangmu dari hasil jualan kue itu tidak cukup."
"Ayah sama Ibu egois."
Aku menutup wajahku dengan bantal, air mataku mengalir dengan begitu deras. Rasanya aku hanya sebagai alat pelunas hutang keluarga. Semua egois. Aku sangat membenci Ayah dan Ibu sejak mulai detik ini.
***
"Anasya Raseline, bangun jangan bikin Ibu sama Ayah malu, keluarga dari calon kamu sudah menunggu dari tadi." Ibu menggoyangkan badanku dengan terburu.
Aku masih enggan membuka mataku, aku menutup kedua telingaku dengan bantal. Menghiraukan Ibu yang sedari tadi mencoba membangunkanku.
"Ibu saja sana yang di jodohkan, Anasya tidak mau! lebih baik Anasya tidak usah menikah kalau caranya seperti ini."
"Ini permintaan Ibu terakhir kali, terima perjodohan ini setelah itu Ibu tidak akan meminta apapun lagi dari kamu."
Aku menghembuskan napas pelan, bangun dari tidurku dengan gontai. Mengganti bajuku dengan gaun yang sudah di siapkan Ibu, Ibu juga membantuku untuk merias wajahku secantik mungkin.
Aku memutar bola mataku malas, "Sekarang Ibu puas?"
Rasanya aku sudah muak dengan drama pagi ini, lebih baik aku mengalah. Daripada nanti harus di kutuk menjadi malin kundang karna menolak perjodohan.
Ibu tersenyum penuh kemenangan, ia dengan segera menggandeng tanganku keluar dari kamar untuk menuju ruang tamu, disana aku sudah melihat sepasang mata sedang menatapku dengan tajam. Aku hanya bisa menunduk karna merasa ia sedang mengintaiku.
Aku mencoba duduk dengan tenang di sebelah Ibu, menetralkan perasaanku saat ini. Hingga tiba saatnya aku mengetahui, lelaki yang sedari tadi menatapku dengan tajam, ialah yang akan di jodohkan denganku.
"Bagaimana, apakah saudari Anasya Raseline menerima perjohan dengan Saudara Harry Wicaksana?" Tanya salah satu perwakilan dari pihak keluarga Harry.
Aku terdiam sesaat, akal pikiran dan hatiku saat ini sedang tidak satu jalan. Ada banyak pertanyaan yang menghantuiku. Bagimana jika nanti setelah perjodohan ini akan ada banyak masalah yang menimpaku? Apakah Ayah dan Ibu akan bertanggung jawab dengan semua yang mereka lakukan untukku?
"Anasya Raseline?" Tanyanya sekali lagi.
Aku memejamkan mataku sesaat, mencoba menjawab dengan perlahan.
"Iya, saya menerima perjodohan dengan Saudara Harry Wicaksana."
Terlihat senyum bahagia dari raut wajah kedua orang tuaku, begitu pula dengan kedua orang tua dari Harry Wicaksana. Mereka terlihat bahagia ketika aku menerima perjodohan ini.
"Kepada Saudara Harry, bisa di pasangkan cincin sebagai tanda kalian terikat satu sama lain." Ucap perwakilan dari keluarga Harry.
Harry dengan sigap berdiri menghampiriku, ia mengeluarkan satu kotak cincin. Diraihnya tanganku, lalu ia memasang cincin itu di jari manisku. Sebelum ia bergegas kembali ke tempatnya, ada satu bisikan yang ia berikan kepadaku. Dan itu membuatku sangat membenci dirinya.
"Dasar lama." Ucap Harry sambil berjalan meninggalkanku.
Aku menatapnya dengan pandangan kesal, aku meremas pelan jariku. Rasanya aku ingin memukulnya saat ini juga, pria yang sangat menyebalkan! Mengapa aku harus di jodohkan dengan pria menyebalkan seperti Harry? Rasanya ini seperti mimpi buruk untukku.
***
Sedangkan di seberang ada Harry yang diam-diam mengamati Anasya, menurutnya perjodohan ini tidak terlalu buruk, ia memang tidak mengenal Anasya, bahkan Anasya bukan tipenya. Dari segi pandangannya Anasya memang cantik tetapi tidak modis, dan terlihat seperti gadis kampung.
Lamunan Harry menghilang saat perwakilan keluarganya meminya izin untuk pamit. "Terimaksih untuk Saudari Anasya, yang sudah menerima perjodohan ini. Semoga hubungan kalian bisa sampai ke jenjang yang lebih serius. Saya hermawan selaku perwakilan dari keluarga Harry Wicaksana meminta izin untuk izin pamit dulu. "
Seketika sorakan terdengar ricuh di ruang tamu. Keluarga Harry dan orang tuaku sibuk mengatur jadwal pernikahan kami. Sedangkan aku acuh dengan pembicaraan mereka. Namun ada yang tidak bisa aku hindari, Harry mendekatiku. Ia duduk di sebelahku saat ini.
"Jangan di bawa perasaan kita di jodohkan hanya untuk pelunasan hutang, setelah semua selesai kamu bebas meminta sesukamu. Meminta pisah pun tidak masalah." Harry berbicara dengan mata yang teduh.
"Aku tidak tau Harry, setelah ini apa yang terjadi."
"Setelah ini kita menikah, begitu saja kamu tidak mengerti, dasar lemot. "
"Harry, bukankah ini pertemuan pertama kita? Bisakah kau berbicara lebih lembut? Kehadiranmu datang kesini saja sudah menganggu waktu liburku. Sekarang kau malah memaki diriku sesuka dirimu. Memang orang kaya selalu seperti itu ya? Memandang remeh kaum di bawahnya. Aku memang tidak punya banyak uang seperti dirimu tapi aku tau cara berbicara yang baik."
"Oh."
"Harry, setelah aku bicara panjang lebar, kau hanya membalas satu kata? Ini yang akan di jodohkan dengan diriku?" Aku menaikan sebelah alisku bertanya.
"Oh Tuhan, ini memang mimpi buruk untuku. Semoga ada keajaiban perjodohan ini di batalkan. " Aku memejamkan mataku sambil berdoa dengan tulus.
"Perjodohan ini tidak akan di batalkan, kamu tau? ketika uang di atas segalanya, kau tidak akan pernah lepas dari ikatanku. Mulai saat ini kau terikat denganku. Anasya Raseline." Ucap Harry dengan senyum simpulnya.
"Kepada keluarga Saudara Harry dan Saudari Anasya di harapkan berfoto sebagai album kenang-kenangan. "
Aku terpaksa berdiri di sebelah Harry berfoto dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya, memasang senyum palsu di depan kamera yang sedang memotret kami.
Rasanya aku sudah lelah dengan kepalsuan semua ini.
Setelah acara berfoto selesai Keluarga Harry meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Aku menghela napas lega setelah kepergian mereka.
"Ayah lihat kalian sudah akrab, berarti disini tidak ada tekanan terhadap perjodohan kalian" Ayah menghampiriku dengan senyum bahagianya.
"Iya Ayah, kami sudah sedikit dekat. " Ucapku dengan memberikan senyum terpaksa.
Sebenarnya Aku berbohong agar Ayah tidak kecewa kepadaku. Aku rela mengorbankan harga diriku demi Ayah dan Ibu. Entah apa yang terjadi hari esok aku tidak tau. Yang ku tahu, aku mengorbankan diriku sendiri demi menyelamatkan keluargaku.