Setelah perjodohan kemarin, rasanya Ibuku jadi menjadi lebih cerewet, hidupku jadi lebih banyak tuntutan. Alasannya, tentu saja aku akan menjadi istri Harry Wicaksana.
"Kamu itu sebentar lagi akan menjadi istri, jalanmu jangan lambat."
"Iya iya bu."
"Kamu itu harus lebih cekatan, menjadi seorang istri harus lebih tanggap daripada ketika kamu masih menjadi gadis."
"Iya bu."
"Kamu kalau di kasih tau iya, iya saja. Tapi kerjaanmu masih main hp saja dari tadi."
Anasya memutar bola matanya malas, "Bu, lagian kan bisa Anasya praktekan nanti, sekarang Anasya lagi capek bu."
"Jawab mulu kalau dikasih tau sama Ibu."
"Lagian, ibu banyak sekali tuntutan. Pernikahan Anasya kan masih lama."
Hembusan napas terdengar pelan dari Ibu, sepertinya ia sudah sangat lelah menjelaskan.
"Kurang dua minggu lagi kamu menikah, jangan terlalu meremehkan." Ibu duduk di sebelahku. Menatapku dengan tatapan serius.
Jantungku rasanya hampir saja melompat dari tempatnya, "Apa bu?" Anasya mematikan handphone yang sedari tadi di mainkan. Matanya menatap tidak percaya atas jawaban Ibu.
"Apa bu, apa bu, kamu tidak di kasih tau Harry kalau pernikahan kalian sudah dekat."
Ibu menatapku dengan penuh pertanyaan.
"Tidak." Anasya mengendikan bahunya acuh.
"Astaga, Harry ini bagaimana. Katanya sudah di beri tau kok kamu gak tau apa-apa." Ibu menggerutu di tempatnya.
"Lagian Anasya di beri tau lewat apa? Bertemu tidak pernah, Nomor w******p tidak punya, Sosial medianya pun tidak tau."
Ibu telihat memijit kepalanya pelan, "Kalian berdua sama saja, yang satu tidak peka yang satu keras kepala. "
"Bukan salah Anasya dong bu? salah Harry seharusnya, ia yang melamarku kenapa harus aku yang memberi kabar. Ibu harus tau, tidak ada kabar artinya itu sebuah kabar dari Harry. Mungkin ia tidak serius dengan hubungan ini."Anasya menguap kecil ketika selesai menjelaskan.
Ibu menepuk lenganku pelan. "Kamu kalau bicara jangan asal kaya gitu, kamu harus berubah. Sebentar lagi kamu mau menjadi istri tolong bersikap sedikit dewasa bukan malah asal bicara seperti anak kecil."
"Ya ya ya ya ya dan iya." Anasya bergegas meninggalkan ibunya, rasanya telinganya sangat gatal, hari - hari harus mendengarkan ibu berceramah panjang lebar tentang pernikahan.
"Anasya? Bisa dengarkan ibu sekali lagi ya. Jangan membantah kalau di kasih tau ibu. Ini demi kebaikan kamu sebelum pernikahan?" Ibu menahan tanganku dengan lembut.
Anasya menoleh sekilas, napasku sedikit memburu mendengar ucapan Ibu.
"Anasya tau, tapi tolong jangan setiap hari seperti ini, Anasya capek bu. " Aku meringis kecil ketika tanganku di tahan olehnya.
Anasya rasanya ingin kabur saja dari rumah ini, rumah yang dulu menjadi surga untuku kini menjadi neraka paling menyeramkan yang pernah aku huni. Hari- hariku hanya di nasihati tentang pernikahan, rasanya tidak ada lagi pembicaraan yang lebih bermutu dari pada itu.
"Kalau kamu sayang Ayah dan Ibu untuk kali ini dengerin permintaan kami, dan jangan membantah omongan Ibu." Ibu melepaskan tangannya. Ia bergegas meninggalkanku.
"Ibu, Anasya sayang Ayah dan Ibu melebihi apapun, kalau tidak sayang Anasya tidak akan bekerja sekeras ini. Kalau Anasya tidak sayang kalian, Anasya tidak akan banting tulang seperti sekarang." Anasya memeluk Ibu dari belakang, berusaha menahannya.
"Ibu tau, Ayah dan Ibu egois terhadap Anasya, menjodohkan hanya demi melunasi hutang. Apa ibu tidak berpikir perasaan Anasya? Ayah dan Ibu juga bahkan tidak bertanya apakah Anasya sudah siap menikah atau belum? Yang kalian pikirkan hanya bagaimana caranya kalian terbebas dari hutang. Hanya uang yang kalian pikirkan. "
"Dan asal Ibu tau, Anasya dan Harry tidak saling mencinta apakah Ibu yakin pernikah kami akan bertahan lama?"
Anasya mengangkat sebelah alisnya, " Ibu tau, sesuatu yang di paksakan itu tidak akan bertahan lama, cepat atau lambat perpisahan itu pasti akan terjadi."
"Karna ibu tau apa resiko yang akan terjadi, makanya Ibu setiap hari cerewet. Ini semua Ibu lakukan demi kamu, demi kalian. Demi Harry dan Anasya. Ayo buat Harry jatuh cinta dengan sikap kamu. Ibu percaya kamu bisa. Ibu minta maaf jika selama ini Ibu terlalu menuntut kamu."
"Tidak semudah itu bu, cinta tidak bisa di paksakan."
"Cinta itu datang karna terbiasa, Anasya." Ibu mengusap lembut rambutku.
Anasya terdiam sesaat mendengar penjelasan Ibu, dalam hatinya bertanya apa benar jika cinta itu tumbuh karna terbiasa? bukankah cinta hanya ada dalam novel?
"Sudah sekarang kamu mandi, sebentar lagi Harry datang kesini untuk mengajakmu memilih gaun pernikahan nanti." Ibu melepas pelukannya, kemudian berjalan meninggalkanku.
"IBU!!!!" aku berteriak dengan sangat kesal, baru saja aku berdamai dengan Ibu, lalu sekarang Ibu sudah membuatku emosi saja.
Rasanya keluarga ini selalu membuat keputusan tanpa persetujuanku. Aku dengan segera mandi dan membersihkan tubuhku. Kepalaku rasanya sudah cukup panas pagi ini, lebih baik aku membersihkan diri. Siapa tau dengan mandi pikiranku menjadi sedikit lebih segar.
Setelah keluar dari kamar mandi, Anasya mendengar ada sedikit suara di ruang tamu. Aku berjinjit mengintip siapa yang datang di pagi ini. Dan ternyata benar, Harry Wicaksana. Ia sudah rapi dengan kemejanya duduk di ruang tamu.
Anasya dengan segera berjalan ke kamarnya berjinjit, agar tidak ada yang mengatahui kehadirannya di balik tembok.
Sudah setengah jam Anasha berjalan tanpa arah di kamar, pikiranku sangat kacau, bagaimana bisa anasya memesan gaun pengantin dengan Harry? Ia bahkan tidak menghubunginya terlebih dahulu.
Terbesit akal licik di pikirannya, sepertinya aku lebih baik dia kabur saja untuk sekarang.
Anasya mengendap- endap berjalam melalui pintu belakang. Sepertinya tidak ada yang mengawasiku hari ini.
"Huh akhirnya aku bisa bebas hari ini." Anasya berlari meraih sepeda kayuh miliknya, ia menggoes dengan penuh semangat.
"Selamat tinggal Harry Wicaksana selamat memilih gaun pengantin sendirian." ucapku sambil menggoes sepedah menjauhi pekarangan rumah.
"Hahahaha kasian.."
Hampir 10 menit aku menggoes sepedaku, rasanya sudah sangat melelahkan. Aku memarkirkan sepedaku di taman komplek.
"Pagi yang indah tanpa gangguan." Anasya meregangkan tangannya menghirup udara segar pagi ini.
Anasya menyibukan diri dengan bermain bersama merpati putih di taman, menikmati waktunya sendirian. Namun sedikit terbesit di benaknha, apakah Ibu akan kecewa jika aku melarikan diri hari ini?
Anasya mendudukan tubuhnya di kursi taman, mencoba menghilangkan semua pikiran, yang mencoba menghasutku untuk kembali.
Namun, rasanya seperti ada yang aneh. Seperti ada yang mengikutinya ke taman. Rupanya itu Harry Wicaksna! Anasya memicingkan matanya, ia berusaha melihat Harry dari kejauhan. "Untuk apa dia kesini?" Ujarnya.
Anasya segera berlari kecil meninggalkan kursi taman. Bersembunyi di balik semak-semak.
ia mengintipnya dari kejauhan, Harry tampak kebingungan. Mungkin ia tidak tau jika aku ada di balik sini. Aku memegang dadaku dengan lega. Semoga ia tidak bisa menemukanku disini.
"Cara kaburmu sangat kuno, balik badan atau aku terobos semak-semak itu!" Teriak Harry dari belakang.
"Satu, dua, tiga, balik badan atau aku akan melakukan hal gila Anasya!"
Mati sudah, aku menggigit bibirku kecil. Segera bangun dari persembunyianku.
Ia terlihat tersenyum penuh kemenangan, matanya menyorot tajam kearahku.
"Dasar bodoh! kabur bukan solusi untuk menjauhi pernikahan. Ayo ikut aku sekarang atau aku akan lapor orang tuamu bahwa kamu kabur dari seorang Harry Wicaksana." ia menarik tangan Anasya dengan sedikit kasar.
"Aww!!! lepasin! Iya! Aku akan ikut denganmu untuk memilih gaun pengantin! dasar pecundang!" Anasya mengibaskan tangannya dengan cepat.
"Uang berbicara segalanya, cantik. Mau lari sejauh apa dariku, ketika uangku sudah berbicara aku akan dengan cepat menemukanmu."