Suara penghulu bergema lembut di antara isak haru tamu yang hadir.
"Saya nikahkan engkau dengan Anasya Raseline binti Kuswanto , dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan cincin emas dibayar tunai."
Harry menarik napas dalam, menatap tangan yang bergetar pelan.
"Saya terima nikahnya Anasya Raseline, binti Kuswanto dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," ucapnya mantap, meski hatinya bergetar hebat.
Begitu kalimat itu terucap, suasana seolah berhenti sesaat.
Udara di ruangan itu terasa hangat, namun menenangkan. Suara saksi dan penghulu bergema pelan, mengucap “sah,” disertai doa yang mengalun khusyuk.
Tepuk tangan dan ucapan selamat bergema di ruangan, tapi bagi Anasya, semua suara terdengar jauh, seperti gema dari dunia lain. Napasnya terasa berat, seolah baru saja melewati batas yang tak bisa ia kembalikan.
Harry di hadapannya menunduk hormat, menyalami ayahnya, lalu beralih menatapnya sekilas. Tatapan itu datar, sopan, namun kosong. Tak ada senyum bahagia, tak ada binar cinta, hanya kesadaran bahwa mereka kini terikat oleh janji yang diucapkan tanpa perasaan.
Cincin melingkar di jarinya terasa dingin. Terlalu asing untuk disebut lambang cinta. Anasya menggenggam tangannya sendiri, menahan gemetar yang tak seorang pun menyadari. Semua orang tersenyum, mengira hari itu adalah awal kebahagiaan. Padahal di hatinya, justru sebaliknya, awal dari kehidupan baru yang tak pernah Anasya impikan.
Suara doa mengalun lembut, disertai harapan agar rumah tangga mereka penuh berkah. Anasya menunduk, tapi matanya berkaca. Dalam diam ia berdoa juga, bukan untuk cinta yang memabukkan, tapi untuk kekuatan,
agar mampu menjalani hari-hari yang akan datang bersama seseorang yang hatinya tak mengenalnya.
Dan di antara keramaian itu, dua hati yang belum saling terikat cinta kini resmi menjadi satu dalam ikatan suci. Bukan karena keinginan, melainkan karena takdir yang terlalu keras untuk ditolak.
***
Setelah akad dan acara pernikahan selesai malam itu Anasya meminta izin kepada Harry, untuk mengganti nama panggilan mengingat status mereka kini sudah menjadi suami istri.
"Harry, apakah aku boleh panggil kamu mas?"
Harry menatapnya sekilas. Kemudian mengangguk kecil.
"Boleh, panggil sesukamu asal tidak memberatkan. "
"Baik, Mas."
"Ngomong-ngomong Mas malam ini mau di masakin apa?" Anasya mencoba bertanya kepada Harry.
"Apa saja, asal tidak membuatku keracunan."
"Ya sudah Mas masak sendiri saja kalau gitu."
Anasya kembali menarik selimutnya, mendengar jawaban Harry rupanya membuatku sedikit kesal.
"ANASYA!" teriak ibu sambil menghampiriku. Ia menarik selimutku asal.
"Ada apa sih bu?" Aku mengucek mataku dari balik selimut.
"Bisa-bisanya kamu biarin Harry membuat makan malam sendiri. Kamu ini jadi istrinya kok malas!"
"Bu, lagian salah Harry sendiri. Tadi sudah Anasya tawari malah bilang asal gak keracunan. Kan sama saja seperti ngeremehin masakan Anasya, jadi ya Anasya suruh buat sendiri lah."
Ibu sepertinya sangat gemas denganku, ia kemudian duduk di ranjang kamarku.
"Sekarang, kamu temui Harry cepat bikinin dia makanan."
"Iya Bu,"
Anasya melangkah dengan malas menuju dapur, namun ketika dia sedang berjalan kearah dapur. Dia mencium bau gosong.
Anasya dengan cepat berlari kedapur.
"Astaga, Mas!!! cepat minggir!!! Kok bisa kamu masak ayam goreng jadi ayam gosong! Minggir!" Anasya dengan segera mematikan kompor.
"Sudah, kamu duduk di meja makan saja! Makin rusak ini rumahku kalau kamu yang masak!" Anasya mendorong Harry menjauh dari kompor.
"Rumahmu kan memang sudah rusak?" Ia menaikan sebelah alisnya kemudian berjalan menjauhiku.
"Sungguh menyebalkan Harry, baru saja ia menggosongkan wajanku sekarang mulut pedasanya keluar lagi. Aku harus sabar menghadapinya. Sebelum Ibu datang marah-marah lagi kepadaku." gerutuku pelan.
Anasya dengan cekatan menggoreng sisa Ayam yang masih mentah, dan menyiapkan sambal buatanku. Anasya membuatkan Harry menu Ayam penyet malam ini.
Setelah selesai memasak aku dengan segera merapikan dapur yang berantakan akibat ulah Harry.
"Nih, makan dulu Mas." Anasya meletakan ayam penyet di meja makan.
"Terimakasih, kamu makan juga Nas."
Anasya mengangguk kecil, kemudian mengambil duduk agak berjauhan dengan Harry.
"Masakanmu enak, Nas." Ucap Harry di sela-sela makannya.
"Tumben Mas muji Anasya, biasanya ngeledekin mulu. Ini Mas gak lagi ngeledek kan?"
Ia menatapku sesaat lalu menggeleng pelan.
"Tidak, daripada Ayam gosongku tadi masakanmu memang enak."
Anasya tertawa kecil mendengar ucapan Harry, kemudian melanjutkan makannya. Tidak ada percakapan atau sekedar canda tawa di meja makan. Hanya ada suara sendok dan piring yang sedang beradu.
"Mas, mau balik ke kamar dulu. Kamu ada yang mau di bantuin tidak, Nas?"
"Mas cuci tangan dulu sana, nanti kamar Anasya kotor karna tangan mas."
"Oke."
Harry kemudian bergegas meninggalkanku, tidak ada percakapan panjang. Namun ada yang aneh, Harry memanggil namanya dengan sebutan Mas. Dan itu membuat bibirku sedikit melengkung.
Setelah membereskan semua peralatan yang kotor aku segera menyusul Harry ke kamar. Namun disini Harry memasang kasur lipat di bawah kasurku.
"Mas kok tidur di bawah?"
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Kenapa tidak tidur dengan Anasya saja mas?"
"Kamu pikir, pernikahan kita atas nama cinta? Harus kamu ingat Nas. Pernikahan kita karna uang, lalu apa salah Mas tidur di bawah? Kita memang menikah Nas. Tapi itu hanya sekedar status saja."
Anasya menahan senyumnya, sesaat.
Dia dengan segera membaringkan tubuhku di ranjang, memandang Harry dari atas tempat tidurku.
"Mas udah tidur?"
Harry menggeliat perlahan, tidak ada jawaban dari Harry.
"Heum, belum Nas."
"Mas, gak mau tidur di atas saja? Mas pasti gak terbiasa tidur di lantai?"
"Nggak usah, Nas. Mas di bawah saja. Kamu yang di atas. Oh iya. Besok kita siap-siap Nas. Tadi mas sudah izin ibu."
"Siap-siap untuk apa?"
"Siap-siap besok kita mau pindahan ke kota mas bekerja."
Anasya membelalakan matanya, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan.
"Cuti mas tinggal dua hari, besok terakhir."
Rasanya ada kesedihan yang terpendam. Artinya mulai besok ia meninggalkan rumah ini, dan semua kenangannya. Juga toko kue dan Kota ini.
"Kamu gak papa kan, tinggal sama mas?"
Anasya mengangguk perlahan. Rasanya bagai di tusuk berkali - kali. Aku terdiam sesaat memandangi langit- langit kamarku. Meninggalakan kamarnya secepat ini adalah hal yang tidak pernah Anasya bayangkan.
"Kalau mau, nanti di daerah Mas, Mas buatin kedai kue buat kamu. Kamu katanya suka buat kue kan?"
"Iya Mas, tapi sepertinya tidak usah Mas, nanti hutang keluarga Nasya malah makin numpuk."
"Anasya, meskipun kita menikah hanya sekedar status tapi menafkahi kamu adalah kewajiban dari Mas. Mas gak mau di katain pelit. Asal kamu tau."
"Terimakasih, Mas."
Anasya tersenyum kecil, kagum dengan sikap Harry, meskipun kita menikah hanya untuk melunasi hutang keluargaku. Tapi Harry benar-benar melakukan tanggung jawabnya layaknya suami pada umumnya.
Anasya melihat Harry sudah tertidur nyenyak, dengan cepat aku turun kebawah meletakan selimut di atas tubuh Harry.
"Tidur, Nas."
Anasya dengan cepat menoleh ke sumber suara, terkejut jika Harry mengetahui perhatianku.
Harry menggeliat kecil membenarkan selimut di tubuhnya, rupanya tadi Harry hanya mengigau. Aku tersenyum kecil kemudian kembali ke tempat tidurku.