"Nas, kamu mulai besok jangan bikin ulah di kota orang."
"Nas, kalau jadi istri yang sigap jangan sampai tragedi wajan gosong terulang kembali."
"Nas, kamu sudah packing semua keperluanmu sama Harry belum?"
"Nas, kok main hp terus, sebenarnya kamu dengerin ibu atau tidak sih?"
Ibu membuka kamar Anasya dengan tatapan terkejut. "Harry kemana?"
"Mas Harry, izin keluar Bu, beli koper."
"Kamu gak ikut?"
"Mas Harry, gak ngizinin. Katanya panas."
"Kamu ini gimana Anasya, masa gitu doang kamu gak ikut."
Cukup sudah, rasanya telinga Anasya sangat panas. Dirumah ini. Rasanya semenjak kehadiran Harry ia dianggap seperti bukan putrinya lagi.
"Ibu bicara gini demi kebaikan kamu Anasya!" Ucapnya dengan lantang.
Anasya menutup keras pintu kamarnya, rasanya ia sudah muak. Banyak sekali yang ingin Anasya utarakan. Namun ibu terus mamaksanya untuk menjadi jauh lebih baik lagi. Sedangkan pernikahannya hanya sebatas status tanpa ketulusan, Anasyabenci dengan semua ini. Anasya benci di tuntut yang terbaik padahal di balik semua ini hanya ada kepalsuan.
"Permisi, ini ada apa kok rame-rame ya?" Tanya Harry yang baru sampai di rumah.
"Nggak ada apa-apa kok mas." Harry menatapku dengan penuh pertanyaan.
"Jadi gini, Har. Ibu cuma mau bilang, semoga kamu dapat membimbing Anasya, ya? Ibu sudah nasihatin dia berkali - kali tapi anaknya masih keras kepala." Ujar ibu kepada Harry.
Harry menatap Anasya dengan pandangan tidak sukanya, kemudian ia mengangguk kecil kearah Ibu.
"Baik bu, saya akan mencoba membimbingnya sebisa saya."
"Terimakasih ya Harry, kalau gitu Ibu titip Anasya ke kamu. Jaga dia baik-baik, bimbing dia ke jalan yang benar."
Harry mengangguk cepat.
"Itu sudah pasti, Bu!"
Anasya memutar bola matanya malas, "rupanya Harry memang pintar mencari muka di depan orang tuanya. Pasti nanti dia juga nasihatin pakai kata-katanya yang pedas itu." Aku menghembuskan napas pelan.
Harry kemudian menarik tanganku menuju kamar, genggamannya terasa sangat keras. Sehingga aku meringis kesakitan.
"Lepasin!" Aku meniup lenganku yang kemerahan.
"Kamu kenapa sih, susah di bilangin sama Ibu?" Harry sedikit mendorongku di tembok kemudian mengurungku dengan kedua tangannya. Untuk pertama kali, kami sedekat ini.
Ia mengangkat daguku keatas untuk menatap matanya.
"Jangan pernah melawan orang tua, dasar bodoh!"
Anasya meneguk ludahnya pelan, seperti yang aku duga. Ia pasti akan mengeluarkan kata-kata pedasnya itu.
"Kamu denger aku kan Anasya!"
Matanya menatap tajam kearahku.
Anasya mengangguk kecil, berusaha melepaskan diri.
"Iya aku tau, lepasin aku sekarang juga mas!" Ucapku dengan sedikit memberontak.
"Tidak semudah itu, kamu dengar sendiri kan? Aku di tugaskan untuk bimbing kamu. Jadi kali ini tolong sedikit menurut denganku. Atau aku akan melakukan lebih berbahaya dari ini."
Ia mendekatkan wajahnya, mengendus leherku dengan pelan. Kemudian menjilat bibir bawahnya sekilas.
Anasya bergidik ngeri melihatnya saat ini. ia dengan segera mendorong tubuhnya menjauh.
"Aku bakalan nurut apa yang kamu omongin Mas! jadi kamu jangan berprilaku seperti itu lagi di depanku. Aku takut."
Harry hanya tersenyum simpul melihatku
"Ternyata mudah sekali membuatmu takut, sepertinya aku tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membuatmu takut denganku."
"Mas.." Anasya menatapnya tidak percaya, "Pernikahan ini rasanya seperti neraka untuku. " lanjutku
"Apa?" Alisnya sedikit terangkat.
"Daripada membicarakan hal yang membuang waktu lebih baik persiapkan bajumu untuk nanti, kurang 2 jam kita harus berangkat ke kotaku."
Harry menjauhkan tubuhnya dariku, kemudian ia membereskan pakaiannya.
***
Waktu sudah menunjukan jam 10 pagi, aku dan Harry segera berpamitan pada Ibu. Tentu saja kami meminta restu agar di beri keselamatan sampai di tempat.
"Kami pergi dulu bu," Harry mencium telapak tangan Ibu.
"Hati-hati di sana ya, Ibu titip Anasya sama kamu. Ibu percaya kamu bisa membuat Anasya jauh lebih baik."
"Itu pasti, Bu."
Sebelum meninggalakan rumah, Anasya memeluk Ayah dan Ibu sebagai tanda perpisahan.
"Jangan lupakan nasihat Ibu selama ini," Ibu mengusap lembut punggungku.
Anasya mengangguk kecil, air matanya menetes saat ini. "Rasanya sangat berat meninggalakan rumah dan kedua orang tuaku. "
"Mbak Anasya, Ais bakalan kangen buat jailin mbak lagi habis ini." Ucap Aisyah adikku yang paling kecil
"Kamu belajar yang rajin Ais, biar gedenya bisa jadi dokter." Aku menepuk pelan pundaknya.
"Tentu, Mbak!" Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Anasya melambaikan tangannya ketika memasuki mobil, dari kejauhan ia melihat ayah menghampiriku.
"Kamu jaga kesehatan ya, jangan sakit-sakitan."
"Siap, Ayah!" Aku tersenyum kecil kepada Ayah.
"Harry, kalau nyetir mobil juga hati-hati ya, semoga nanti disana selamat ketika sudah sampai rumah." Ujar Ayah.
"Siap, Ayah. Ya sudah kami berangkat dulu Yah, " Ucap Harry kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
"Anasya, barang-barangnya sudah kamu cek lagi? Ada yang kurang gak?" Tanya Harry.
"Semua sudah Anasya masukan kedalam koper, Mas."
"Okay kalau gitu. Kamu nanti kalau capek tidur saja."
"Anasya, gak ngantuk Mas, jadi buat apa tidur."
"Ini perjalanan jauh, Anasya."
"Nggak! Anasya mau nemenin mas. Pokoknya Anasya gak mau tidur apalagi ketiduran."
"Dasar keras kepala. Ini perjalanan jauh, jadi jangan terlalu keras. Tadi kamu juga dengar sendiri, Ayah sama Ibu itu nitipin kamu ke Aku." Harry menghembuskan napas kesalnya. Tapi matanya masih tertuju di jalanan.
"Ya terus kenapa kalau aku keras kepala? niatku kan baik mau nemenin Mas! Ada yang salah?!" Anasya sedikit menggebrak kursi belakang.
"Anasya Raseline, aku ini suamimu kenapa tidak mau menurut kepadaku?" Ia menghentikan mobilnya di tengah perjalanan.
"Mas memang suamiku, tapi Mas tau sendiri kan? Pernikahan kita atas dasar uang. Aku di nikahkan karna harus melunasi hutang keluargaku. Lantas, mengapa aku harus menuruti mas?" Anasya mendengus kesal, rasanya sangat sakit jika harus mengingat pernikahannya dengan Harry.
"Tolong, jangan membuatku marah Anasya Raseline. Atau aku turunkan kamu di tengah jalan saja?" Ia menoleh kearahku.
"Mas tega? Aku disini tidak kenal siapa-siapa mas? Aku hanya punya mas disini."
"Nah itu kamu tau, jadi menurutlah dengan apa yang Mas ucapkan. Sekarang istirahat!" Perintahnya kepadaku.
Anasya menghembuskan napasnya pelan, lebih baik sekarang aku menurut saja dengannya daripada harus di turunkan di tengah jalan.
"Anasya," Ucap Harry dari balik kemudinya.
"Apa? tadi katanya Anasya di suruh istirahat, sekarang malah Mas yang ngajak ngobrol." Anasya memutar bola matanya malas.
"Maafin Mas..kalau selama ini ucapan Mas ini kasar"
"Nah, itu Mas sadar. Kenapa tidak dari kemarin saja, Mas minta maaf." Anasya tersenyum simpul mendengar ucapannya.
"Karna kamu sebentar lagi tinggal sama Mas, makanya Mas minta maaf. Mas kerja di laut terbiasa hidup keras."
Aku mengangguk paham, yang diucapkan Harry memang benar, kebanyakan kehidupan pelaut memang lebih keras dari yang kita bayangkan.
"Mas tau, pernikahan kita hanyalah status tapi disini mas harus jaga kamu. Karna status mas disini suami kamu."
"Kalau misal nih ya, suatu saat Mas gak betah sama Anasya. Terus kita pisah bagaimana mas?" Tanyaku penasaran.
"Itu terserah kamu, pernikahan kita dari awal tanpa adanya cinta. Tidak ada yang perlu di sesali kalau kita berpisah."