"Kota ini terang, tapi aku sering merasa sepi. Di antara suara kendaraan dan lampu-lampu malam, aku hanya ingin pulang, meski tak tahu lagi, rumahku yang mana. "Ucapkau sambil menarik napas pelan.
Malam sudah larut. Jarum jam dinding terus bergerak tanpa suara, hanya menyisakan dengung kipas angin yang berputar pelan. Anasya menunggu Harry yang belum juga sampai rumah Anasya sendirian di ujung sofa, Ia masih mengenakan daster bermotif bunga. Secangkir teh di depannya sudah dingin, tapi Anasya tidak berniat menggantinya.
Anasya menatap pintu rumah yang masih tertutup rapat, seolah dari sana akan muncul sosok yang dirindukannya. Setiap kali terdengar suara kendaraan di luar, dadanya sempat berdebar, lalu kembali tenang dalam kecewa.
"Mas Harry belum sampai juga, ” gumamku pelan, nyaris seperti doa yang tersangkut di tenggorokan.
Rasanya punggungku sudah sangat lelah, aku mencoba merebahkan tubuhku sambil memejamkan mataku, "Mungkin Mas Harry, sebentar lagi pulang."
***
"Selamat pagi, Anasya." Ucap Mas Harry yang sudah duduk di sebalah ranjang tempat tidurku.
"Mas Harry?!!" Aku terpekik terkejut kala Mas Harry sudah berada di rumah ini, aku dengan segera berlari untuk melihat jam dinding. Ternyata ini sudah pagi, pantas saja Mas Harry sudah berada di rumah.
Anasya dengan segera bergegas menuju kamar Mas Harry untuk membersihakan seprainya, "ya .... kita memang sudah menikah. Tapi bukan berarti pernikahan itu membawa kita dalam satu ranjang."
"Sudah Anasya, kamu bersihkannya nanti siang saja, mas sudah lapar. Ayo cepat buatkan sarapan untuk mas." Ucap Harry dari balik pintu kamarnya.
Anasya menepuk jidatnya asal, "Aduh! Kok bisa kelupaan sih Anasya."
Anasya dengan segera mencari alasan supaya Harry tidak telat sarapan.
" Oh iya maaf mas Anasya belum bikin masakan, bagiamana kalau kita pesan di online saja? Atau Mas beli di luar?"
Harry menggeleng pelan, "Tidak mau." Tatapannya berubah menjadi dingin.
" Aku sudah bilang kan kalau.. kamu yang buatkan masakan untuk Mas kan? kenapa malah suruh Mas makan di luar? kamu tidak mau mencoba menjadi istri yang baik buat Mas?" Harry mendekat ke arah Anasya dengan pandangan penuh selidik.
"Aduh, bukan begitu mas!" Anasya berusaha mengelak.
"Daripada Mas kelaparan, kan lebih baik Mas makan duluan!" Aku menggosok pipiku yang tidak gatal, semoga kali ini aku tidak salah menjawab.
"Tetap tidak mau, sekarang lepaskan sapu itu dan segeralah memasak!" Harry mendekat kearahku, melemparkan sapu ke sembarang arah.
Terdengar suara pecahan kaca di kamar Mas Harry akibat benturan dengan sapu tadi. Ia menatapku penuh dengan tatapan tajam.
Anasya mematung sejenak, Dia masih belum terbiasa menjadi seorang istri, langkahnya terasa sangat berat saat menuju dapur.
"Jangan sekali-kali membuatku marah Anasya, kalau aku bilang ini ya cepat lakukan!" Ia menggebrak meja di depannya dengan penuh amarah.
Seluruh tubuh Anasya saat ini bergetar hebat, "Anasya, minta maaf mas" Ucapku lirih.
Mataku memerah, aku berusaha menghapusnya agar Mas Harry tidak melihatnya.
Anasya menyiapkan makanan untuk Harry dengan bahan seadanya, doanya kali ini semoga masakanku cocok di lidah Harry, sesekali dia melihat ke arah meja makan. Terlihat Harry tersenyum kecil saat bermain Hp terkadang ia juga terlihat begitu fokus dengan Hpnya. Mungkin Mas Harry butuh hiburan saat ini, pikirku.
"Mas, Anasya cuma bisa bikinin sayur asem sama ayam goreng, semoga mas suka."
Aku meletakan masakanku ke meja Harry, kemudian bergegas meninggalkannya.
Tangan kekar Harry, mencengkram kuat saat aku hendak melangkah menuju kamarku.
"Mau kemana?" Tanya Mas Harry dengan tatapan teduhnya.
"Anasya mau beberes rumah, rumah Mas masih kotor tadi kan Anasya belum sempat membersihakan." Aku menjawab sambil menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang tidak bisa aku tahan lagi.
"Makan sini sama Mas, kamu bukan pembantu Mas kan?" Pinta Harry.
"Tapi Anasya sedang tidak lapar Mas, "
Bohong, semua yang Anasya ucapakan bohong. Dia sengaja beralasan agar Harry, tidak melihat aku menangis di hadapannya.
"Sudah ya, Anasya harus ke kamar dulu."
Aku berlari kecil meninggalkan Mas Harry yang masih termenung di meja makan.
Sesampainya di kamar, Anasya dengan segera mengeluarkan semua isi hatiku. Menutup wajahnya dengan bantal, menumpahakan semua air mata yang masih terbendung di mataku.
Suara ketukan pintu terdengar. Mungkin itu Mas Harry.
"Anasya, buka pintunya. Mas mau ke situ."Ujarnya dari balik pintu, tangannya mengetuk pintu berkali - kali tanpa henti.
"Mas sudah selesai makannya?" Aku mencoba bertanya dengan suara lirih, berharap tangisanku tidak terdengar.
"Sudah, sekarang mas mau ketemu sama kamu." Ucap Mas Harry.
"Mas cuma mau tanya baju Mas sudah di siapkan belum? 30 menit lagi mas harus berangkat kerja."
Deg.
Mengapa secepat ini? Anasga mencoba melirik jam, "apakah Harry berbohong denganku? Ini masih pukul 9 pagi. Mau bertemu siapa dia pagi ini?"
"Baju Mas sudah Anasya siapkan di kamar mas." Ucapku.
Tidak terdengar sautan dari luar kamarku, aku bernapas lega. Mungkin Mas Harry kembali ke kamarnya.
Aku berusaha menenangkan diriku, agar Mas Harry tidak curiga kalau aku telah menangis.
Clek.
Pintu berhasil terbuka, Mas Harry menemukanku dengan wajahku dan rambutku yang masih berantakan.
"Kamu habis menangis?" Ia berjalan mendekat kearahku.
Aku menggeleng pelan, "Tidak Mas, tadi Anasya habis beberes debu di kamar Anasya jadi mata Anasya merah. Mungkin karna iritasi."
"Kamu jangan berbohong Anasya, suami mana yang bisa percaya kalau istrinya sedang berbohong?" Ia menatapku dalam. Tangannya seperti ingin mengusap lenganku, namun ia berusaha menahannya.
"Kita hanya suami istri di dalam pernikahan tanpa cinta, Mas. Bagaimana aku bisa percaya dengan omonganmu?" Aku memalingkan wajahku darinnya.
"Apakah kamu akan membayarku 100 dolar, dengan alasan uang dapat membayar segalanya?" Lanjutku.
Tangannya memegang kedua pundakku erat, hingga aku sedikit meringis kesakitan. "Hentikan omong kosongmu itu, aku bahkan sama sekali tidak berpikiran seperti itu." Matanya menyorot menatapku tajam
"Awww mas!! lepasin! sakit!" Anasya berusaha melepas tangannya saat ini.
"Jujur sama Mas, nanti akan mas lepas."
"Iya, aku selesai menangis. Mas puas?"
"Mas minta maaf kalau terlalu kasar sama kamu," Harry melepas tangannya dari pundakku.
"Mas minta maaf," Ia berucap lirih.
Anasya menghembuskan napasnya pelan, "Iya Anasya maafkan. Tapi jangan di ulangi lagi."
"Tidak janji,"
"Ya sudah, Mas mau berangkat ke kapal sebentar lagi. Masakan kamu nanti Mas bawa untuk bekal ya? Mas suka masakan kamu. Oh iya hari ini mas ada jadwal pagi. Mas sengaja mengubah jadwal agar kita bisa menghabiskan banyak waktu berdua Anasya." Ucapnya.
Aku meneguk ludahku pelan, "menghabiskan waktu lebih banyak dengan Mas Harry? rasanya seperti neraka akan menyambutku lebih cepat. Pria kasar dan keras yang membuatku menangis pagi ini akan bersamaku lebih lama? apakah aku kuat menerima semua ini? apakah aku sanggup? ataukah perpisahan akan semakin dekat?"
"Hidup baru dengan Mas Harry membuatku lebih banyak mengeluarkan air mata, akankah aku sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. Rasanya aku ingin berpisah dengannya secepat mungkin, aku pikir hidup dengannya akan jauh lebih menyenangkan. Nyatanya aku di buat semakin menderita dengan sikap kasar Mas Harry." ucapku lirih
"Mas berangkat dulu, kamu jangan lupa makan. Dan segera hapus air matamu."
Anasya mengangguk pelan, sebagai tanda aku mengiyakan ucapannya. Anasya mencium lembut punggung tangan Mas Harry sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan rumah ini.
Mereka memang layakanya suami istri pada umumnya, namun di balik itu ada rahasia kecil yang tidak semua orang tahu. Semua yang kita lakukan adalah kepalsuan.
Akankah Anasya sanggup bertahan di balik kerasnya Mas Harry, dan juga kepalsuan rumah tangga ini? kalau tidak karna Ibu mungkin aku sudah menyerah saat ini.