"Bohong," Satu kata yang terucap saat ini.
Aku pikir, Mas Harry akan pulang lebih awal. Nyatanya, ia sampai pukul 7 malam pun belum sampai rumah juga.
Aku mencoba menyibukan diriku dengan membuat kue-kue kecil. Hingga tanpa aku sadari ada yang memelukku dari belakang.
"Mas Harry?" Aku terkejut melihat Mas Harry, bukankah ia selama ini selalu kasar kepadaku?
"Mas, lepasin." Aku berusaha menglepaskan ikatan tangan mas Harry di pinggangku, namun hasilnya kosong. Tidak ada jawaban darinya.
"Aku mau kamu sekali lagi. Malam ini, Anasya... Hnggg"
Astaga! Aku berusaha melepaskan diri.
"Mas, sadar! Mas mabuk!!"
Dengan segera aku mengambil air di gelas dan menyiramkan ke muka Mas Harry.
Byur.
Mas Harry tetap tidak sadarkan diri. Ia malah semakin menjadi menggeliat di pinggangku. Rasanya aku sangat panik.
"Mas sadar, tolong. " Aku memejamkan mataku penuh harap, berdoa Mas Harry segera pulih.
Sekuat tenaga, aku membawa Mas Harry ke kamarnya, menahan bahunya agar tidak jatuh lagi.
“Kamu minum banyak banget, ya Mas?” Ucapku pelan, dan sedikit lelah.
Mas Harry hanya tertawa kecil, mata setengah terpejam. “Cuma… sedikit,” katanya terbata, lalu hampir terjatuh lagi.
Aku hanya menggeleng pelan, menarik napas dalam-dalam. Dengan sabar, aku melepas jaket yang masih menempel di tubuh Mas Harry, lalu mengambil handuk kecil dari lemari. Aku mengusap pelan wajahnya, seolah menghapus sisa malamnya yang kacau.
Mas Harry menatapku sekilas, matanya merah dan sayu, lalu bergumam lirih, “Kamu nggak marah?”
Pandanganku jatuh pada wajah yang sudah nyaris terlelap itu. Ada banyak hal yang ingin aku katakan sekarang tentang kekhawatiran ke Mas Harry, tentang lelah ku menghadapinya, Tapi semua tertahan di ujung lidahku, aku seperti sudah tidak sanggup berkata-kata lagi.
“Mas, tolong berubah ya, Anasya gak mau lihat mas nyakitin diri sendiri. ” jawabku dengan suara lirih.
Aku menarik selimut untuk Mas Harry, menutup tubuhnya perlahan. Dalam diam, aku duduk di tepi ranjang, menatapnya hingga napasnya kembali teratur. Malam ini, aku tidak bisa marah, Tidak juga menangis. Hanya diam, menjaga Mas Harry yang tertidur dalam keadaan mabuk, sambil berharap esok pagi ada sedikit kesadaran dari Mas Harry.
***
Kepala Harry masih terasa berat, tapi pikirannya perlahan mulai jernih. Harry mulai duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling kamar yang kini tampak rapi dan tenang. Tirai di kamarnya sudah dibuka separuh, membiarkan sinar matahari pagi jatuh lembut di lantai. Di atas nakas, ada segelas air, kopi yang sudah mulai dingin, dan secarik catatan kecil bertuliskan singkat dari Anasya
“Sarapan di dapur. Jangan lupa makan.”
Harry masih terpaku membaca tulisan itu. Ingatannya mulai pulih sedikit demi sedikit suara lembut semalam, tangan yang menuntunnya, dan tatapan yang tidak marah tapi penuh kecewa.
Rasa bersalah muncul perlahan, menyesak di d**a. Harry mulai mengusap wajahnya, menatap bayangannya di cermin. Mata merah, rambut acak-acakan, dan wajah yang tampak asing bahkan untuk dirinya sendiri.
Beberapa langkah kemudian, Harry keluar kamar. Di dapur, ia melihat Anasya sedang menyiapkan roti panggang. Suara alat masak dan aroma kopi baru membuat suasana terasa lebih nyata.
“Mas Harry, Mas sudah bangun?” tanyaku tanpa menoleh, Suaraku saat ini masih dengan nada yang tenang.
“Iya…” menjawabnya pelan, suaranya serak.
“Mas ... ingat semuanya.”
Aku menoleh kearah Mas Harry, menatap langsung ke arahnya. Tidak ada kemarahan di wajahku saat ini hanya kelelahan dan sedikit lega.
“Bagus kalau inget. Mungkin kali ini kamu juga bisa inget gimana rasanya diperhatikan sama orang yang kamu sakiti.” Sindirku tanpa menoleh kearahnya.
Kata-kata itu membuatnya diam. Ia menunduk, menggenggam erat gelas air di tangannya. “Aku minta maaf, Anasya.”
Aku hanya mengangguk pelan, lalu menyodorkan secangkir kopi hangat yang baruku seduh. “Nggak usah janji apa-apa. Cukup sadar, dan jangan ulangi.”
Anasya dan Harry duduk dalam diam. Tidak ada kata manis, tidak ada pelukan. Tapi di antara keheningan itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh lagi, kesadaran, dan sedikit keberanian Harry untuk memperbaiki segalanya.
***
"Semalam Anasya, nungguin Mas pulang, Anasya juga sudah bikin kue kering untuk Mas." Ucapku tanpa menatap matanya.
"Tiba-tiba mas datang dengan kondisi sudah mabuk, Anasya takut." Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku.
"Terus?"
"Kan sudah di jelaskan kalau Anasya, takut sama mas. "
Aku memutar bola mataku malas.
"Maafkan Mas ya, belum bisa kasih contoh yang baik sama kamu." Ia menatapku dengan rasa bersalah.
"iya mas, jangan di ulangi tapi ya?"
Aku menatapnya lembut. Rasanya aku ingin mengusal lembut lengannya namun aku sadar disini aku hanya nikah sebatas status saja, dengan berat hati aku mencoba mengusir pikiran itu.
"Tidak janji ya."
Ia tersenyum simpul kemudian meminum sisa kopinya yang mulai dingin.
"Mas, kenapa sih selalu saja tidak janji, tidaj janji terus? apa susahnya kalau berjanji?"
"Kamu tidak tahu seberat apa pekerjaan ku di kapal Anasya."
"Lantas aku melampiaskan dengan apa, jika aku tidak minum alkohol?"
"Kan kalau ada apa-apa Mas bisa cerita dengan, Anasya? sekarang tidak perlu minum lagi."
"Mas, yang tidak bisa!"
"Kenapa mas?"
"Suatu saat kamu pasti tau kenapa mas menjaga jarak antara kita, kamu tau pernikahan kita hanya sebatas status kan?"
"Kenapa mas selalu egois? Mas maunya menang sendiri. Mas selalu nyuruh Anasya untuk menurut dengan Mas, tapi Mas? Mas bahkan tidak mendengar apa yang Anasya ucapkan." Aku menggebrak pelan meja di depanku.
"Karna.. Mas suami kamu." ia mencoba menjawab setenang mungkin.
"Lalu? Anasya ini apa? Apakah aku ini bukan istrimu? apa susahnya sih mas jadikan Anasya ini rumah? Atau mas punya wanita simpanan di kapal?!"
"Enak saja, kamu kalau bicara! tau apa kamu tentang kapal?! kamu ini hanya pembuat kue, kenapa gampang sekali berbicara seperti itu?"
Aku tersentak kaget dengan ucapan Mas Harry, bukankah beberapa saat tadi dia berbakata manis kepadaku, lalau kenapa sekarang ia berbanding terbalik?
Kembali seperti semula, memandang remeh kaum di bawahnya, padahal aku hanya bertanya mengapa ia langsung terbawa emosi? Apakah aku menyinggung perasaannya?
Hal seperti inilah yang membuatku enggan berada di dekatnya, rasanya aku ingin mengakhiri semuanya saja.
"Sudah, Mas mau keluar saja, berbicara denganmu hanya membuang waktuku saja!" ia berjalan melangkah pergi.
"Mau kemana mas?"
"Bukan urusan kamu."
"Kamu, tidak ada rencana untuk mabuk lagi kan?"
Aku berdiri mengejarnya dari belakang, berusaha menahannya.
Ia menepiskan tanganku asal.
"Mau Mas mabuk kan bukan urusan kamu, kamu saja menuduh Mas dengan asal bisa. Kenapa Mas tidak bisa melakukan hal yang Mas suka?" Ia menatapku remeh.
Aku hanya bisa diam mematung di hadapannya, apakah tadi ucapanku terlalu menyinggung dirinya?
"Mas, jangan pergi..." Aku berusaha menahannya agar tidak pergi dari rumah.
"Minggir!" Ia menatapku tajam, seakan mengibarkan bendera perang mulai detik ini.