"Mau Mas mabuk, kan bukan urusan kamu. Kamu saja menuduh Mas dengan asal bisa. Kenapa mas tidak bisa melakukan hal yang Mas suka?"
Kata-kata Harry membuat Anasya sedikit berpikir saat ini, apakah dia selama ini sering membuatnya sakit hati ya?
Anasya memang sangat membenci sikap Harry yang seperti ini. Selalu sesuka hatinya saat bersikap, "apakah aku tidak punya uang jadi dia bisa memperlakukanku sesuka hatinya? Ah... mengingatnya saja sudah membuatku muak. Andai saja Mas Harry bisa mengontrol emosinya, mungkin aku tidak akan sebenci ini padanya." Anasya menjeda ucapannya.
"Harry Wicaksono lelaki yang menikahi Anasya karna pelunasana hutang, aku minta maaf mungkin untuk selamanya aku tidak akan mencintaimu. " lanjutku kemudian.
Anasya memutuskan untuk keluar rumah, menghilangkan semua pikiran buruk yang menghantuinya.
"Rasanya sepi sekali pagi ini harus berjalan-jalan sendirian di komplek perumahan Mas Harry." Ucapku sambil mengusap kedua telapak tanganku.
Kicauan burung dan juga pemandangan taman bunga di komplek, membuat Anasya sedikit terhibur akibat Harry tadi pagi.
"Anasya Raseline." Ucap pria yang amat aku kenal sekali suaranya, benar dia Harry Wicaksono.
Aku menoleh dengan wajah gugup, jantungku berdebar lebih kencang.
"Anasya Raseline, kalau aku panggil harusnya kamu jawab. Kamu tidak menjadi bisu dadakan kan?" Harry menatapku dengan tatapan tajamnya, ia menyenderkan tubuhnya di pohon dekatnya.
Mulutku rasanya sangat sulit untuk berbicara dengannya, dengan sepenuh hati aku mencoba menjawabnya.
"Tidak Mas."
"Tidak bisu,"
Kosong, tidak ada percakapan lagi antara Anasya dengan Harry, di taman ini hanya ada merekaberdua. Kami adalah sepasang suami istri yang tidak saling bicara layaknya orang asing yang baru pertama kali kenal.
"Kenapa kamu jalan-jalan sendirian," Harry mendekat kearahku. Ia duduk di kursi taman sebelahku.
"Karna, Masudah keluar lebih dulu kan?" Aku menaikan sebelah alisku,
"lelaki di sebelahku ini sedang mencoba berbasa-basi atau dia pura-pura lupa dengan ucapanya pagi tadi?" Aku menghela pelan.
"Kamu sudah sarapan?" Tanyanya tanpa menoleh ke arahku.
"Belum."
"Kamu marah dengan, Mas?"
Anasya tidak menjawab beberapa saat, dia bingung dengan perasaanku saat ini. Anasya ingin berteriak di telinganya, kalau ia benar-benar kecewa kepadanya.
"Anasya Raseline? kok diam saja? memangnya, Mas ada salah sama kamu?"
Anasya menoleh sekilas kearahnya,
"lalu ucapannya tadi pagi itu apa? jika saat ini ia bertanya aku marah dengannya atau tidak." Aku memejamkan mataku sesaat.
Harry memandang langit dengan tatapan kosong.
"Maaf."
Satu kata yang selalu di ucap Mas Harry kepada Anasya, ia sebenarnya sudah bosan dengan kata-kata itu. Rasanya permintaan maaf dar Harry hanya sebagai penenang Anasya saja.
"Untuk apa Mas? maafmu itu basi Mas. Berkali-kali bilang maaf, tapi kamu tidak berubah, kalau kayak gini terus hubungan kita cepat atau lambat akan menemui titik akhir."
Aku berusaha menahan air mataku, aku tidak bisa menutupi mataku yang memerah. Aku tidak sekuat itu menutupi semua kebohonganku.
Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap air mataku yang sudah membasahi pipi sepenuhnya, ia mengusapnya lembut dengan jarinya.
Untuk pertama kalinya, Anasya dapat merasakan usapan lembut dari Mas Harry.
"Maaf."
"Cukup Mas, maaf tidak ada artinya kalau sikapmu sama saja."
"Maaf."
"Mas Harry, lebih baik kita cari sarapan saja daripada aku muak mendengar ucapan maafmu yang tidak ada artinya itu."
"Maaf."
Hanya kata maaf, yang terucap sebelum ia berjalan pergi mendahuluiku.
"Mas mau kemana?"
"Cari sarapan, tadi kamu yang minta kan? terus kenapa kamu masih diam disitu? terus mau mu apa Anasya Raseline?!" Suaranya sedikit meninggi dari kejauhan.
"Ayo cepat sini, jangan lelet!"
Anasya hanya bisa menghela napas pelan, "selalu saja seperti ini. Kadang Mas Harry manis tapi beberapa menit kemudian ia jadi menyebalkan. Omongannya yang membuatku harus makan hati setiap hari." Ucap Anasya sambil mengusap dadanya sabar.
Anasya dengan segera mensejajari langkah kakinya, sebelum ia bergegas meninggalkanku semakin jauh.
"Mas, Tunggu!"
"Kaki kamu pendek sih, makanya jalannya lama."
"Mas yang kakinya terlalu tinggi, ih!"
"Dasar pendek."
Anasya mencebikan bibirnya asal, "Kenapa takdirku harus bertemu dengan pria menyebalkan seperti Mas Harry." Aku menghentakan kakiku asal.
***
"Makannya jangan lama-lama, lemot amat sih kamu." Sinisnya.
"Mas, harus banget mas perdebatin kaya gini di luaran?" Tanyaku kepadanya
"Ya makanya cepetan, jangan lelet. Ini baru jadi istri coba jadi seorang Ibu nanti, bisa satu jam kamu selesainya."Harry tersenyum meremehkan.
"Lagian kita kan sebentar lagi berpisah, jadi Mas gak perlu repot-repot ngurusin Anasya lagi." Aku menepuk tanganku pelan.
"Tidak semudah itu kita berpisah, kalau aku gak mau gimana?" Ia menaikan sebelah alisnya menantangku.
"Tapi kan... di antara kita tidak ada cinta, tidak ada kasih sayang. Setiap hari kerjanya ribut mulu, emang mas gak capek?" Aku menatapnya penuh tanda tanya.
Napasku sudah memburu tidak sabaran menunggu jawabannya.
"Itu karna kita belum terbiasa, bukan karna takdir yang salah." Harry menatapku dalam. Jarinya, mengusap lembut punggung tanganku.
Aku dengan segera mengibas tangan Harry, "Gak usah pegang-pegang ya Mas. Mas pasti mau hipnotis Anasya biar nurut sama omongan Mas, terus memperlakukan Anasya sesuka Mas seperti yang sudah-sudah. " Aku membuang napasku kasar.
"Semua perlakuan Mas, itu basi."
Harry terlihat mengacak rambutnya asal, wajahnya terlihat sedikit kelelahan mengahadapi Anasya.
"Ibumu dulu ngidam apa sih?" Alisnya terangkat sebelah.
"Mas manis katanya ngehipnotis, nanti di tegasin dikit katanya kasar. "
"Kayaknya kita ini emang sebuah takdir yang salah Anasya. Semua yang aku lakukan ini salah, padahal Mas kaya gini biar kamu bisa berubah lebih baik."
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, "apa yang Mas Harry maksut? sebuah takdir yang salah? bukankah dari awal aku dan Mas Harry memang tidak di takdirkan bersama? bukannya kita bersama hanya karna pelunasan hutang. Sekali lagi, karna pelunasan hutang."
"Sudah Anasya, ayo kita pulang saja. Kalau gitu." Ajaknya sambil menarik tanganku pelan.
Aku mengangguk kecil menerima uluran tangannya.
"Hari ini Mas ambil libur biar bisa berduaan sama kamu, biar bisa tau karakter kamu seperti apa, eh kamu malah bikin mas sakit kepala. "
"Jadi ini salah Anasya?"
"Terus salah siapa, kalau bukan salah kamu?"
Sepanjang perjalanan, hanya ada kami dan perdebatan kecil yang tidak ada hentinya.
Rasanya sangat mustahil jika Anasya harus berdamai dengan Harry, mereka sangat berbeda. Semua sifat mereka berbanding terbalik.
"Anasya Raseline." Ucapnya di tengah perjalanan, membuyarkan semua lamunanku tentang dirinya.
"Apa mas?"
"Gak, jadi."
"Kalau jalan jangan melamun"Lanjutnya.
"Lagi ngelamunin Mas, ya?"
"Idiiiiih kepedean banget Mas, " Aku memutar bola mataku malas.
"Bukan kepedean, tapi dari wajah kamu memang kelihatan."
"Nyebelin!" Aku memukul pelan pundaknya.
"Ampun, iya iya jangan di pukulin lagi."
Harry berlari lebih cepat dariku, ia tertawa sangat puas setelah meledekku.
"Jika memang Mas Harry bisa berubah, mungkin aku iklas menjadi takdir yang tercipta untuknya. Dan jika Mas Harry
Tidak berubah, biarlah kata pisah menjadi abadi dalam kisah kita." Ucapku pelan, sebelum berlari menyusul Mas Harry yang mulai tidak terlihat punggungnya.