"Mas Harry, Anasya mau tanya? Kenapa sih kok Mas Harry selalu mengungkit tentang uang di hadapan Anasya. Hutang keluarga Anasya banyak ya?" Tanya Anasya.
"Hah? Kok kamu tiba-tiba jadi tanya begini? Nggak banyak kok setau aku."
"Tapi kenapa, Mas selalu bahas uang dengan Anasya."
Tidak ada jawaban dari Harry mungkin, ia sedang kebingunan menjawab.
"Apa karna Anasya gak cantik ya makanya mas selalu bahas uang? atau Anasya kurang tanggap sama pekerjaan?"
"Tidak juga."
"Lalu karna apa Mas?"
"Kamu sendiri kan yang bilang, kita menikah karna pelunasan hutang? Kamu sendiri yang berkali-kali bilang kita akan berpisah, dan kamu sendiri yang bilang kan kalau di antara kita tidak ada cinta?"
"Lalu kenapa kalau Mas membicarakan soal uang? kamu tidak terima?" Harrymenyilangkan sebelah kakinya dengan santai. Tatapannya menyelidik kearahku.
Anasya menggeleng pelan.
"Tidak, Anasya hanya bertanya sama Mas.Jujur saja Anasya selalu risih jika harus diingatkan soal uang."
Tatapan Harry berubah menjadi sedikit lebih teduh. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal, kalau kamu bilang. Mungkin tidak ada perdebatan kecil di antara kita." Harry meregangkan kedua tangannya.
"Karna Anasya takut sama Mas, "
Anasya menghela napas pelan. Kemudian Harry terkekeh kecil mendengarku.
"Padahal aku gak serem-serem amat loh."
"Gak serem apanya, orang yang nguntit anasya ke taman siapa kalau bukan Mas Harry? Itu serem tau."
"Salah sendiri kabur saat di ajakin milih gaun pernikahan, jadi ya jangan salahkan aku kalau aku melakukan hal yang nekat." Harry menaik turunkan alisnya.
"Tapi mas, kalau begini rasanya jadi aneh gak sih?" Aku menatapnya bertanya.
"Aneh kenapa lagi?"
"Biasanya kita bertengkar, sekarang baikan rasanya kaya ada yang kurang."
"Kamu pikir, pernikahan isinya tentang bertengkar saja? Pernikahan itu isinya saling terbuka satu sama lain, saling mengerti dan tidak egois."
"Tapi kita menikah hanya sebatas status asal Mas ingat itu," Anasya menghembuskan napasnya pelan
Harry yang mendengarnya langsung mengangguk pelan.
"Mas ingat kok, gak ada yang Mas lupa."
"Jadi, kapan kita berpisah, Mas?"
"Kok kamu tiba-tiba tanya seperti itu?!" Harry mulai menatapku tidak senang.
Anasya menepuk jidatnya pelan, harusnya dia tidak membicarakan ini, Anasya tahu Harry ingin sekali mempertahankan pernikahan ini, tapi terkadang dia sangat lelah dengan sikapnya.
"Kamu mau berpisah sama Mas emangnya?" Harry menatapku tidak suka.
"Kalau minta pisah, itu namanya tidak tahu diri. Keluarga kamu kan sudah Mas bantu, jadi kamu tidak semudah itu bisa lepas dari Mas." Aku dengan segera menggeleng pelan kepalaku.
"Harusnya aku tidak membicarakan itu sekarang." Ujarku kemudian.
"Anasya minta maaf Mas, maaf kalau kata-kata Anasya tadi sedikit menyinggung perasaan Mas. "
"Itu bukan sedikit, tapi banyak. Gak akan Mas maafin! " Harry menatap Anasya tidak terima, kemudian membentak Anasya dengan nada lantang.
"Loh.. terus, Anasya harus apa dong kalau gitu?" Aku mendekat kearahnya. Mataku menatapnya bertanya.
"Turutin permintaan Mas, kali ini saja."
"Apa emang?"
"Nanti malam tidur sama Mas,"
Deg,
Anasya terpaku di tempat. "Rasanya ini tidak mungkin, bagaimana bisa aku tidur dengannya? Sejak pernikahan kami, aku duduk dengannya saja jarang-jarang. Sekarang aku harus tidur dengannya? Ini sangat gila!" Aku dengan cepat menggeleng kepalaku tidak yakin.
"Kalau gak gitu, gak akan Mas maafin." Ia tersenyum simpul, namun pandanhannya masih terfokus pada televisi di depan kami.
"Anasya pikir-pikir dulu ya, Mas." Ucapku sambil menggigit kecil bibir bawahku.
"Gak akan Mas perkosa juga. Jadi kenapa kamu gak nurut saja sih sama Mas?" Harry menatapku bertanya.
"Anasya gak terbiasa tidur sama laki-laki." Ucapku sambil menunduk.
Ia mengangkat daguku, " Bukankah kita sudah menikah?"
"Tapi kita menikah hanya sebatas status Mas."
"Mas tau, Mas ingat, dan Mas gak lupa." ucapnya datar.
"Mas ngajakin kamu tidur bareng biar kamu gak minta pisah terus sama Mas."
"Capek telinga Mas ini dengernya, hampir setiap saat kamu minta pisah, kalau benar kita pisah, mau di taruh mana muka Mas ini? " Harry terlihat menghela napas pelan.
"Nanti malam kamu harus tidur sama aku Anasya! kamu tidak boleh menolaknya. Atau aku akan marah kepadamu." Ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi.
"Baiklah! hanya malam ini. Besok dan seterusnya, kita pisah kamar!"
"Oke deal"
***
"Duh, pakai baju apa ya enaknya."
"Yang ini gak cocok yang itu juga gak cocok," Anasya berkali kali memilih baju, namun rasanya seperti ada yang kurang.
Dia menghembuskan napas pelan, ini adalah momen pertama Anasya tidur bersama dengan Harry Wicaksana. Ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan saat ini, biasanya mereka hanya bertengkar setiap saat kali ini Harry mengajaknya tidur bersama, mungkin ini ranjang pertama dan terakhir Anasya dan Harry.
"Anasya, kamu betah banget di kamar kamu. Kamu gak mau nemenin mas di kamar Mas saja?"
Deg,
"Apa-apaan ini, perjanjiannya kan nanti malam, kenapa harus sekarang. Aku harus beralasan apa ini, agar Mas Harry bisa percaya kepadaku." gerutuku pelan.
"Anu, Mas. Anasya masih sibuk milih baju, banyak baju kotor ini yang belum Anasya cuci."
"Loh, kan tadi pagi kamu baru cuci baju?! Mau cuci semua isi lemari kamu?" Tanya Harry dari dalam kamarnya.
"Hehe iya," balasku.
"Yaudah Mas ke kamar kamu, sekarang ya."
Harry bergegas turun dari ranjang kasurnya kemudian, menyusul ke kamar Anasya.
Clek, seperti suara pintu terbuka.
"Waduh bisa gawat."
Anasya dengan cepat keluar dari kamar, namun tidak menemukan tanda-tanda adanya Harry.
"Kamu mau ke kamar Mas sekarang?" Ucap Mas Harry tiba-tiba, yang berjalan dari dapur.
Anasya dengan cepat menggeleng, dia masih belum siap jika harus satu kamar dengannya.
"Enggak hehe, kan perjanjiannya nanti malam." Aku dengan segera masuk kembali ke kamarku, namun Harry lebih cepat menarikku. Ia menggendongku dengan kedua tangannya.
"Mati!"
Anasya tidak bisa berkutip saat ini, "harusnya aku tidak usah keluar kamar tadi." Aku menggigit kecil bibirku.
"Kenak juga kan akhirnya perangkap Mas, ternyata tidak susah juga. Dan tidak perlu mengancam. " Ia menendang kecil pintunya. Kemudian menurunkanku di dalam kamarnya.
"Bantuin Mas beresin kamar." Ucap Harry sambil mengacak rambutnya asal.
"Oke Anasya bantu, tapi nanti Anasya tidur di kamar Anasya ya Mas?"
Harry menggeleng pelan, tatapannya berubah tidak suka.
"Oh tidak, kamu harus tidur sama Mas malam ini." Ucapnya santai.
Anasya berdecak pelan, kemudian membersihakan kamarnya yang berantakan.
"Banyak sekali baju berserakan." ucap Anasya kemudian dia dengan segera meletakannya di tempatnya.
"Nah, gitu dong. Kamar Mas kan jadi bersih." Ucapnya.
"Mas gak mau bantuin?"
"Mas bantu kok, bantu doa maksutnya." Ucapnya dari balik hpnya mungkin saat ini ia sedang asik dengan game di hpnya.
"Akhirnya selesai juga," Aku meregangkan kedua tanganku lega kemudian duduk di ranjang Mas Harry.
"Sudah, sini ayo istirahat, kamu sepertinya capek."
Aku menggeleng pelan, "Tidak Mas, aku masih belum ngantuk." Tolakku halus.
"Cepat, atau Mas paksa." Ancamnya.
Anasya menghembuskan napas pelan, pasrah dengan keadaan. "Lebih baik aku mengalah daripada harus bertengkar tidak jelas malam ini."
Anasya merebahakan tubuhnya di sebelah Harry. Tidak lupa ia juga meletakan guling di tengahnya.
"Buat apasih guling, buang saja." Harry melempar asal guling tadi.
.
Mas Harry menarik Anasya dalam pelukannya, namun ia masih fokus dengan game di ponselnya, ia mendekapku hangat dalam peluknya. Aku berusaha mencari posisi nyaman.
Bilamana ini jadi pertama dan terakhir Anasya dengan Harry di atas ranjang yang sama. Mungkin Anasya tidak akan melupakan malam ini. Anasya memang membencinya dan bahkan tidak menyukainya sama sekali. Tapi dia tidak bisa berbohong, dia menemukan kehangantan di dalam pelukannya.