Bab 5 — Memasak Bersama
Hari ketiga dimulai dengan aroma pagi yang segar. Lia sudah bangun lebih awal dari biasanya, mencoba menyiapkan sarapan sebelum Rey memulai rutinitas kebunnya. Ia ingin membuat sesuatu yang bisa dinikmati bersama, meski hanya sederhana.
“Pagi,” sapa Lia ketika Rey keluar dari kamar dengan wajah datarnya yang khas.
“Pagi,” jawab Rey singkat, sambil menepuk selang penyiram tanaman di tangannya. Ia terlihat sudah siap untuk mulai menyiram barisan cabai dan tomat yang rapi.
“Boleh aku bantu?” tanya Lia.
Rey menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Boleh. Tapi jangan terlalu dekat dengan tanah basah.”
Lia tersenyum canggung dan mulai menyiapkan wajan di dapur. Nasi, telur, dan beberapa sayur sederhana sudah tersedia. Ia mengiris sayur dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang terbuang, meski tangannya masih gemetar sedikit karena takut membuat kekacauan.
Rey masuk beberapa menit kemudian. “Kamu mau aku bantu?”
Lia menggeleng. “Nggak, aku bisa sendiri.”
Rey mengangkat satu alis, lalu tersenyum tipis sebelum menyingkir dan duduk di meja. Lia bisa merasakan matanya yang waspada, mengamati setiap gerakannya.
Ketika telur mulai matang di wajan, Lia tiba-tiba kehilangan fokus karena mendengar suara Rey yang menaruh tanaman di meja dekat jendela. Sendoknya jatuh, sedikit tumpahan minyak di tepi wajan. Lia tersentak, menatap Rey.
Dia menunggu marah, tapi yang datang hanyalah suara datar. “Pelan saja.”
Lia tersenyum lega. “Iya, iya. Pelan.”
Setelah beberapa menit, sarapan sederhana itu siap. Mereka duduk di meja, makanan hangat di piring, dan udara pagi yang masih sejuk menyelimuti ruang kecil itu.
“Enak,” kata Rey, menatap telur dan nasi yang sederhana tapi dibuat dengan hati-hati.
Lia tersenyum, sedikit bangga. “Senang kamu suka.”
Selama sarapan, mereka tidak banyak bicara. Suasana hening tapi nyaman. Tidak ada tekanan, tidak ada kebingungan. Hanya dua orang yang perlahan belajar berbagi rumah dan hidup bersama.
Siang harinya, Lia membantu membersihkan dapur. Rey kembali ke kebunnya. Tangan Lia mulai terbiasa bekerja, meski masih banyak momen konyol: sendok jatuh, piring berantakan, sedikit tumpahan air. Tapi setiap kali itu terjadi, Rey hanya membantu dengan lembut, tanpa kata marah.
Malamnya, ketika lampu di ruang tengah dinyalakan, Lia duduk di sofa sambil melihat Rey memperbaiki pot yang sedikit miring. Mereka berdua diam, tapi perasaan hangat mulai mengalir di antara mereka. Tidak perlu kata-kata panjang untuk merasakan kenyamanan.
Hari ketiga ini terasa seperti awal yang sederhana, tapi penuh makna. Lia sadar, rumah kecil ini, Rey yang diam tapi perhatian, dan kegiatan sehari-hari yang tampak biasa—semua itu perlahan menumbuhkan sesuatu yang berbeda di hatinya.
Dan di akhir hari, Lia tersenyum sendiri sebelum tidur, menyadari satu hal sederhana: hidup serumah dengan Rey mungkin akan kacau, tapi itu adalah kekacauan yang ia ingin alami setiap hari.
Bab 6 — Aturan Mulai Terbiasa
Hari keempat di rumah Rey dimulai dengan suara Rey yang sudah sibuk di halaman. Lia bangun lebih pagi dari biasanya, mencoba menyesuaikan diri dengan ritme rumah baru ini. Ia perlahan melangkah keluar kamar, menatap lelaki yang sudah berjongkok di samping tanaman cabai, tangannya sibuk merapikan tanah.
“Pagi,” sapa Lia pelan.
Rey menoleh sebentar, anggukan kecil menjadi jawaban. Ekspresinya tetap datar, tapi Lia sudah mulai terbiasa membaca sedikit dari cara ia menatap dan bergerak. Ada ketenangan yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Lia mulai menyiapkan sarapan. Kali ini ia lebih percaya diri, karena sudah belajar dari hari-hari sebelumnya. Ia menyalakan kompor, menyiapkan nasi, telur, dan sayur, sambil sesekali menatap Rey yang sibuk di halaman.
“Boleh aku bantu di kebun?” tanya Lia setelah sarapan selesai.
Rey mengangkat satu alis. “Boleh, tapi jangan terlalu banyak menyiram. Fokus pada merapikan pot saja.”
Lia mengangguk, kemudian berjalan ke halaman. Ia meniru gerakan Rey, memindahkan pot-pot kecil dan menata tanah dengan hati-hati. Beberapa kali ia hampir menumpahkan tanah, tapi Rey sigap menahan pot itu, gerakannya lembut.
“Pelan saja,” katanya.
Lia tersenyum malu. “Iya, pelan.”
Seiring waktu, rutinitas kecil itu mulai terasa alami. Lia membersihkan rumah, memasak, dan belajar merapikan tanaman. Rey tetap tenang, tapi perhatian kecilnya membuat Lia merasa dihargai. Misalnya, ketika Lia tersandung sedikit, Rey menahan tangannya tanpa berkata apa pun. Atau saat ia bingung menata pot, Rey diam-diam memindahkan beberapa ke posisi yang tepat, lalu pergi tanpa menyinggungnya.
Siang itu, mereka makan bersama di meja kecil. Tidak banyak bicara, hanya sesekali saling memberi komentar ringan tentang makanan dan tanaman. Lia mulai merasa nyaman dengan ritme rumah ini, meski masih ada sedikit kekacauan di dapur atau kebun.
Menjelang sore, Lia duduk di teras, memandangi Rey yang menanam beberapa bibit baru. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda: suasana rumah ini tidak lagi terasa asing, dan lelaki itu—meski dingin dan sedikit misterius—membuat hatinya tenang.
Malam hari, setelah membersihkan rumah, Lia duduk di sofa sambil menulis catatan kecil. Ia mencatat hal-hal yang ia pelajari hari ini: cara menanam, cara merapikan rumah, dan beberapa momen lucu yang terjadi.
Rey duduk di kursi dekat jendela, membaca buku. Sesekali ia menoleh ke arah Lia, hanya sebentar, lalu kembali fokus. Lia tersenyum sendiri.
Hari keempat ini mungkin terlihat sederhana, tapi bagi Lia, ini adalah hari di mana aturan-aturan kecil rumah Rey mulai terasa nyaman. Ia mulai merasa, mungkin ia bisa betah di sini lebih lama.
Dan untuk pertama kalinya, Lia menyadari satu hal: hidup serumah dengan Rey tidak hanya tentang mengikuti aturan, tapi juga tentang belajar menghargai satu sama lain. Sebuah awal kecil, tapi hangat.
Bab 7 — Awal dari Kebiasaan
Hari kelima dimulai dengan matahari pagi yang menembus tirai tipis kamar Lia. Ia terbangun lebih awal, seperti biasanya, tapi kali ini dengan perasaan yang sedikit berbeda. Rumah kecil ini sudah mulai terasa seperti rumahnya sendiri—bukan sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatnya tidak tergesa-gesa keluar kamar.
Di halaman, Rey sudah sibuk dengan kebun sayurnya. Tangannya bergerak tenang, menyiram dan menata pot, wajahnya datar seperti biasa. Lia menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. Ia menyadari, setiap gerakan Rey yang rapi dan hati-hatinya ternyata memiliki ritme sendiri, dan ia perlahan mulai menyesuaikan diri dengan ritme itu.
“Pagi,” sapa Lia pelan.
“Pagi,” jawab Rey, mengangkat satu alis. Tidak ada senyum, tapi Lia bisa merasakan perhatian yang tersembunyi di balik kata itu.
Sarapan kali ini lebih tenang. Lia menyiapkan nasi, telur, dan sayur, mencoba menata semuanya dengan rapi. Tidak ada wajan terbalik, tidak ada sendok yang jatuh—setidaknya tidak sebanyak kemarin. Rey duduk di meja, mengamati sebentar, lalu mulai makan tanpa komentar panjang.
Setelah sarapan, Lia mulai membersihkan rumah. Kali ini, ia merasa lebih percaya diri. Barang-barang di tempatnya, lantai bersih, dan beberapa tanaman kecil yang ia letakkan di teras tampak rapi. Rey sesekali menatapnya dari halaman, tapi tidak mengganggu. Lia menyadari, keheningan Rey bukanlah ketidaktertarikan, tapi semacam cara ia menunjukkan pengakuan—diam tapi hadir.
Siang harinya, Lia memutuskan membantu Rey di kebun. Ia belajar menanam beberapa bibit kecil dengan lebih hati-hati, mengikuti gerakan Rey. Beberapa kali tanah berantakan, tapi Rey selalu sigap membantu dengan lembut. “Pelan saja,” ucapnya datar, tapi kali ini terdengar seperti senyum yang tersembunyi di balik suaranya.
Momen kecil itu membuat Lia tersenyum. Ia mulai memahami, tinggal serumah dengan Rey bukan tentang kekakuan atau aturan yang kaku, tapi tentang ritme bersama, saling belajar, dan perlahan membiasakan diri dengan kebiasaan satu sama lain.
Menjelang sore, mereka duduk di bangku halaman, melihat tanaman yang baru ditanam. Beberapa pot masih sedikit miring, beberapa bibit masih kecil, tapi Lia merasa puas. Ia belajar bahwa sesuatu yang baru membutuhkan waktu dan perhatian, sama seperti hubungan mereka yang perlahan mulai terbentuk.
Malam hari, setelah membersihkan rumah dan menata meja, Lia duduk di sofa, menulis catatan kecil. Ia mencatat hari-hari yang telah dilewati: kekacauan kecil, sarapan sederhana, dan kebiasaan yang mulai terbentuk.
Rey duduk di kursi dekat jendela, membaca buku, sesekali menoleh. Lia tersenyum sendiri. Ia tahu, meski masih banyak hal yang harus dipelajari, rumah kecil ini, Rey yang pendiam tapi lembut, dan ritme sederhana ini perlahan membuatnya merasa nyaman—lebih dari yang pernah ia rasakan di tempat lain.
Hari kelima itu, Lia menyadari satu hal penting: kebiasaan kecil dan perhatian yang diam-diam bisa membuat rumah terasa seperti rumah, dan orang yang awalnya tampak dingin bisa menjadi seseorang yang hangat. Sebuah awal yang sederhana, tapi manis, untuk hari-hari berikutnya.