Bab 8 — Bunga Pertama
Pagi itu berbeda dari sebelumnya. Matahari menyinari halaman kecil rumah Rey dengan lembut, membuat dedaunan tanaman tampak berkilau. Lia bangun lebih cepat, semangat, karena hari ini ia ingin mencoba sesuatu yang baru—menanam bunga.
Setelah sarapan sederhana—nasi, telur, dan sayur—Lia membawa beberapa pot kecil dan bibit bunga yang baru dibelinya. Rey sedang menyiram barisan cabai dan tomat, tapi kali ini matanya menatap Lia lebih lama dari biasanya.
“Kamu mau nanam bunga?” tanyanya datar.
“Iya… aku pikir, biar halaman ini nggak cuma sayuran saja,” jawab Lia sambil tersenyum malu.
Rey mengangguk pelan. “Boleh. Aku bantu.”
Mereka mulai bekerja bersama. Lia belajar menata tanah, menanam bibit, dan menyiram dengan hati-hati. Tidak mudah—tanah berceceran, beberapa bibit jatuh, dan beberapa pot hampir terguling. Tapi setiap kali itu terjadi, Rey selalu sigap menahan pot atau membantu tanpa marah.
“Pelan saja,” ucapnya sekali, sama seperti setiap kali Lia membuat kekacauan kecil. Kali ini, Lia tertawa kecil, karena kalimat itu sudah terasa familiar dan nyaman.
Siang harinya, mereka duduk di bangku halaman, minum air putih sambil memandangi barisan bunga dan sayuran yang mulai tertata. Lia menyadari sesuatu: rumah kecil ini, Rey yang pendiam tapi lembut, dan aktivitas sederhana seperti menanam bunga, membuat hatinya terasa hangat.
Beberapa hari berikutnya, Lia terus merawat bunga-bunga kecil itu. Setiap kali Rey lewat, ia menatap Lia dengan cara yang lembut, sesekali mengoreksi posisi pot atau menyiram tanaman yang kurang air. Lia mulai merasa nyaman dengan perhatian diam-diam itu.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Rey berhenti dari pekerjaannya, menatap bunga yang baru mulai mekar. Lia berdiri di sampingnya, tangan sedikit kotor karena menyiram.
“Tamanmu indah,” kata Rey akhirnya, nada suaranya lebih lembut dari biasanya.
Lia tersentak kecil, menatapnya. Hatinya hangat, tapi ia segera membalas dengan senyum lebar. “Ini bukan tamanku… tapi taman kita.”
Rey menoleh sebentar, matanya menatap Lia tanpa kata, tapi senyumnya tipis. Lia tersenyum kembali, dan saat itu, rumah kecil mereka terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Hari itu, Lia menyadari satu hal: menanam bunga bukan sekadar tentang tanaman. Ini tentang merawat sesuatu bersama, perlahan membangun sesuatu yang hangat dan indah. Dan dengan Rey di sampingnya, setiap hal kecil terasa bermakna.
Malamnya, Lia menulis catatan di buku kecilnya. Ia menulis tentang hari itu, tentang kebahagiaan sederhana yang terasa nyata, dan tentang taman kecil mereka yang mulai hidup. Ia tahu, ini baru awal. Awal dari sesuatu yang manis, hangat, dan penuh warna.
Dan Lia tersenyum sendiri sebelum tidur, membayangkan bunga-bunga itu akan terus mekar, sama seperti hubungan mereka yang perlahan mulai tumbuh.
Bab 9 — Kekacauan Lucu Pertama
Hari itu cuaca cerah, tapi suasana di rumah Rey berbeda dari biasanya. Lia bangun dengan semangat tinggi—hari ini ia ingin merapikan beberapa pot bunga yang baru ia tanam. Ia ingin semuanya terlihat rapi, seperti Rey menanam sayur di halaman.
“Pagi, Rey!” sapa Lia sambil membawa beberapa pot kecil.
“Pagi,” jawab Rey datar, tangannya masih sibuk menyiram barisan cabai.
Lia mulai menata pot-pot bunga di dekat teras. Ia berusaha menyesuaikan posisi, tapi beberapa bibit jatuh, tanah berceceran, dan satu pot hampir terguling. Lia panik sebentar, tapi Rey datang dengan tenang, menahan pot itu sebelum jatuh.
“Pelan saja,” katanya, nada suaranya tetap datar tapi lembut.
Lia menghela napas, tersenyum kecil. “Iya, pelan.”
Beberapa menit kemudian, Lia menyiram bunga dengan botol kecil, tapi secara tidak sengaja air tumpah ke sepatu Rey. Rey menatapnya sebentar, matanya datar, tapi kemudian hanya mengangkat bahu dan melanjutkan menyiram tanaman lain. Lia menunduk, malu, tapi tak bisa menahan tawa kecilnya sendiri.
“Lia, hati-hati!” terdengar suara Rey, kali ini sedikit lebih tegas.
“Maaf… aku nggak sengaja!” jawab Lia sambil menahan tawa.
Momen itu membuat mereka berdua tertawa kecil. Rey tetap datar, tapi Lia bisa merasakan ada hangat di balik sikapnya.
Siang harinya, Lia mencoba memindahkan pot lain ke halaman depan. Tanah berantakan, beberapa bibit jatuh, tapi Rey tetap sigap menolong. Saat Lia menatapnya, ia tersenyum malu. Rey menoleh sebentar, lalu kembali bekerja.
Beberapa tetangga lewat dan melihat mereka berdua di halaman. Tanpa sadar, mereka berbisik-bisik dan salah paham—mereka mengira Lia dan Rey adalah pasangan. Lia panik sebentar, menatap Rey.
Rey hanya menggeleng pelan, tidak menanggapi. Lia menatapnya lagi, sedikit kesal tapi juga geli. Ia tersenyum sendiri.
Sore harinya, mereka duduk di bangku halaman, melihat bunga dan sayuran. Kekacauan kecil hari itu—tanah berceceran, air tumpah, bibit jatuh—ternyata membuat hari itu terasa hidup dan menyenangkan.
Lia menyadari satu hal: rumah kecil ini, Rey yang pendiam tapi selalu sigap membantu, dan kekacauan-kekacauan kecil yang muncul, membuat hatinya hangat. Hari itu penuh tawa kecil, kekacauan manis, dan momen yang membuatnya merasa rumah ini benar-benar mulai hidup.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya. Ia menulis tentang tawa, kekacauan kecil, dan perhatian diam-diam Rey. Ia tahu, setiap hari yang ia jalani di sini, meski sederhana, adalah awal dari sesuatu yang manis—sesuatu yang ia ingin terus rasakan.
Bab 10 — Kesalahpahaman Tetangga
Pagi itu, Lia keluar lebih awal dari kamar. Ia membawa beberapa pot bunga yang mulai tumbuh, ingin menata halaman supaya terlihat lebih rapi. Rey sudah ada di sana, menyiram barisan sayur dengan gerakan tenang seperti biasa.
“Pagi,” sapa Lia.
“Pagi,” jawab Rey singkat, menatap tanaman dengan fokus.
Lia mulai menata pot-pot kecil di dekat teras. Beberapa bibit jatuh, tanah berceceran, tapi Rey tetap sigap menahan pot yang hampir terguling. “Pelan saja,” ucapnya datar. Lia tersenyum kecil, sudah terbiasa dengan kalimat itu.
Beberapa saat kemudian, suara dari pagar terdengar. Tetangga mereka, Ibu Sari, menatap dari luar dengan mata terbelalak. “Wah, kalian ini… pasangan ya?” katanya setengah bercanda.
Lia panik. “Eh… bukan, Bu!” Ia melambaikan tangan, wajah merah.
Rey hanya menggeleng pelan, menatap Lia seolah berkata, biarkan saja mereka berpikir apa pun. Lia menghela napas, menahan tawa malu.
“Ini rumah kami, Bu. Kami hanya teman serumah,” jelas Lia cepat.
Ibu Sari tersenyum, tapi masih terlihat ragu. “Ah, anak muda sekarang… rapi banget urus rumahnya.” Ia pun pergi meninggalkan mereka.
Lia menatap Rey, setengah kesal, setengah geli. “Kenapa nggak kamu bilang?”
Rey diam beberapa detik. “Tidak masalah. Mereka cuma salah paham.”
Lia tertawa kecil, menepuk bahunya. “Kamu ini… dingin banget sih.”
Rey menoleh sebentar, matanya menatap Lia dengan tenang. Lia bisa merasakan sedikit hangat di balik tatapannya.
Siang harinya, Lia mencoba menata sisa pot di halaman. Beberapa tanaman baru mulai tumbuh, beberapa lagi masih kecil. Ia belajar menyesuaikan posisi pot agar rapi, sambil sesekali menatap Rey yang bekerja di kebun.
Momen kekacauan kecil pun terjadi: salah satu pot terjatuh, air tumpah ke tanah, dan Lia hampir tersandung. Rey sigap menahan pot itu, tanpa berkata marah, hanya menepuk bahunya pelan.
“Pelan saja,” ucap Rey datar, tapi Lia tersenyum lebar. Kalimat itu kini terasa seperti janji bahwa Rey akan selalu ada saat ia membutuhkan.
Sore hari, mereka duduk di bangku halaman, melihat halaman yang mulai hidup—sayuran rapi dan bunga-bunga kecil yang mulai mekar. Lia merasa hangat di hati, meski masih malu karena tetangga salah paham.
Hari itu, Lia menyadari satu hal: kekacauan kecil, kesalahpahaman, dan perhatian diam-diam Rey, semuanya membuat rumah ini terasa lebih hidup dan menyenangkan. Bahkan hal-hal yang awalnya membuatnya panik, kini menjadi momen manis yang bisa membuatnya tersenyum sendiri.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang tawa, kekacauan, dan Rey yang pendiam tapi selalu hadir. Ia tahu, hubungan mereka perlahan mulai terbentuk—hangat, manis, dan penuh warna.