Bab 11 — Malam Pertama Bicara Jujur
Malam itu sunyi. Hanya suara angin yang menembus sela jendela dan dedaunan yang bergesekan lembut. Lia duduk di sofa, menatap halaman yang diterangi cahaya lampu kecil. Bunga-bunga yang baru ditanam mulai terlihat lebih hidup, sayuran Rey rapi seperti biasa. Namun, hatinya sedikit gelisah.
Rey muncul dari kamar, membawa segelas air putih. “Kamu tidak tidur?” tanyanya datar.
“Belum… cuma ingin melihat halaman sedikit,” jawab Lia.
Rey mengangguk dan duduk di kursi dekatnya, memandang bunga-bunga yang mulai mekar. Keheningan berlangsung beberapa detik sebelum Lia memberanikan diri.
“Rey… aku boleh tanya sesuatu?”
“Boleh,” jawab Rey, suaranya tetap tenang.
Lia menarik napas. “Kamu… tinggal sendiri lama banget ya? Aku maksud… kamu nggak pernah cerita banyak soal dirimu.”
Rey menunduk sebentar, matanya memandang tanaman di depannya. “Aku… ya, aku terbiasa sendiri. Rumah lama, orang-orangnya… aku nggak terlalu dekat dengan mereka,” katanya pelan.
Lia menatapnya, hatinya hangat tapi juga iba. Ia bisa merasakan kesepian yang tersembunyi di balik ketenangan Rey. Ia ingin menepuk bahunya, tapi hanya bisa tersenyum kecil.
“Kalau begitu… aku senang kamu nggak marah waktu aku pingsan dan kamu bawa aku masuk rumah,” lanjut Lia. “Kalau aku nggak ada di sini, aku nggak tahu harus gimana.”
Rey menatapnya sebentar, lalu meneguk air. “Tidak apa-apa. Aku… memang ingin seseorang di sini.” Suaranya hampir tidak terdengar, tapi Lia menangkap kejujuran itu.
Mereka berdua diam sejenak, menikmati keheningan malam. Lampu redup membuat suasana hangat, bunga-bunga dan sayuran kecil seperti ikut menyaksikan percakapan mereka.
“Rey… aku senang bisa tinggal di sini,” kata Lia pelan. “Walaupun awalnya kacau… tapi aku nyaman.”
Rey menoleh sebentar. “Aku juga,” jawabnya singkat. Matanya menatap Lia dengan cara yang lembut tapi tidak berlebihan.
Lia tersenyum, merasa hangat sampai ke hati. Malam itu mereka tidak banyak bicara lagi. Keheningan terasa nyaman, bukan canggung. Kedekatan mereka yang sederhana, tanpa kata-kata panjang, sudah cukup untuk membuat hati Lia tenang.
Sebelum tidur, Lia menulis sedikit di buku catatannya. Ia menulis tentang kehangatan Rey, tentang malam pertama mereka bicara jujur, dan tentang bunga-bunga kecil yang mulai mekar. Ia tahu, hari itu menandai awal sesuatu yang berbeda—lebih dari sekadar teman serumah, lebih dari sekadar kebiasaan sehari-hari.
Malam itu, rumah kecil mereka terasa hidup. Tidak hanya dari tanaman, tapi dari kehadiran satu sama lain. Dan Lia tersenyum sendiri, membayangkan hari-hari berikutnya yang akan semakin hangat dan penuh warna.
Bab 12 — Pasar Tanaman dan Belanja
Pagi itu, Lia bangun dengan semangat yang berbeda. Ia sudah merencanakan sesuatu: mengajak Rey pergi ke pasar tanaman. Tujuannya sederhana—membeli beberapa bibit bunga baru untuk halaman mereka. Tapi Lia tahu, ini juga kesempatan untuk melihat Rey di luar rutinitas rumah.
“Rey, mau ikut ke pasar tanaman?” tanya Lia sambil membawa tas belanja kecil.
“Ke pasar?” Rey menatapnya datar, lalu mengangguk singkat. “Boleh.”
Perjalanan mereka tidak panjang—hanya berjalan kaki beberapa blok. Pasar tanaman pagi itu ramai dengan penjual dan pembeli. Bau tanah basah dan bunga segar memenuhi udara. Lia tersenyum, matanya berbinar melihat beragam bibit bunga dan pot kecil.
“Kita beli ini, Rey!” Lia menunjuk beberapa bibit bunga berwarna cerah.
Rey menatapnya sebentar, lalu mengangkat alis. “Kamu yakin butuh semua ini?”
Lia tersipu. “Ya… biar rumah kita lebih hidup.”
Mereka mulai berkeliling, memilih bibit dan pot. Lia terlalu bersemangat, mengambil terlalu banyak, hingga Rey harus menahan beberapa pot agar tidak jatuh. Beberapa kali Lia menabrak keranjang penjual, hampir menjatuhkan bibit, dan membuat Rey harus sigap menahan agar semuanya tetap rapi.
“Lia… pelan,” kata Rey, suaranya datar tapi nada lembutnya jelas terdengar.
“Maaf… aku terlalu bersemangat,” jawab Lia sambil tertawa malu.
Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke rumah dengan tangan penuh pot dan bibit. Lia mencoba menata semuanya di halaman, tapi kekacauan pun muncul: tanah berceceran, bibit jatuh, dan beberapa pot hampir terguling.
Rey sigap membantu, menahan pot-pot yang hampir jatuh, menyiram yang perlu, dan menepuk bahu Lia pelan saat ia hampir kehilangan keseimbangan. “Pelan saja,” ucapnya sekali, sama seperti biasanya.
Lia menatapnya, tersenyum malu tapi hangat. Ia mulai menyadari, meski Rey terlihat dingin, perhatiannya selalu ada. Dia tidak perlu kata-kata manis untuk menunjukkan peduli—cukup gerakan kecil dan kehadirannya.
Malamnya, setelah semuanya tertata, Lia duduk di bangku halaman, menatap bunga-bunga yang mulai ditanam hari ini. Rey duduk di sampingnya, diam tapi hadir.
“Kamu lihat? Rumah kita mulai hidup, kan?” kata Lia pelan.
Rey menatapnya sebentar, lalu mengangguk tipis. “Iya.”
Lia tersenyum, perasaan hangat mengalir. Hari itu, ia belajar satu hal penting: kebersamaan dan sedikit kekacauan bisa membuat sesuatu yang sederhana terasa menyenangkan. Dan rumah kecil mereka, dengan bunga, sayuran, dan Rey yang selalu ada, perlahan berubah menjadi tempat yang benar-benar hangat.
Bab 13 — Malam Hujan dan Obrolan Pelan
Hujan turun dengan lembut malam itu, menempel di jendela rumah kecil Rey. Suara rintiknya menenangkan, tapi membuat suasana terasa sedikit hening. Lia duduk di sofa dengan secangkir teh hangat, menatap hujan di luar.
Rey duduk di kursi dekat jendela, membaca buku. Lampu temaram memantul di halaman yang basah, membuat kebun sayur dan bunga tampak lebih hidup.
“Rey… kamu nggak takut hujan?” tanya Lia pelan, memecah keheningan.
Rey menoleh sebentar, matanya menatap hujan di luar. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku suka suara hujan.”
Lia tersenyum sendiri. Ia menyesap tehnya, merasa hangat dari dalam. Diam-diam, ia senang Rey yang biasanya dingin bisa terlihat tenang dan nyaman dalam suasana sederhana seperti ini.
“Kalau hujan, biasanya kamu ngapain?” Lia melanjutkan, penasaran.
Rey menunduk sebentar, lalu berkata pelan. “Biasanya duduk sendiri, dengar hujan, berpikir… atau kadang menulis.” Ia menatap Lia sebentar, lalu menoleh ke bukunya lagi.
Lia merasa hatinya hangat. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk dekat, menikmati keheningan yang nyaman itu. Tidak perlu kata-kata manis atau percakapan panjang—hadirnya Rey sudah cukup.
Beberapa saat kemudian, Lia memberanikan diri. “Rey… aku senang bisa tinggal di sini. Meski awalnya kacau, tapi… aku merasa nyaman. Kamu bikin rumah ini terasa hidup.”
Rey menatapnya sebentar, lalu menunduk lagi. “Aku juga… senang kamu di sini,” ucapnya pelan, dengan suara yang jarang ia tunjukkan.
Lia tersenyum tipis. Malam hujan itu terasa hangat, bukan hanya karena teh yang ia minum, tapi karena kehadiran Rey di sampingnya.
Mereka duduk berdua, menikmati hujan, tanpa kata-kata panjang. Kebersamaan sederhana itu membuat Lia sadar: hubungan mereka perlahan mulai tumbuh. Tidak tergesa-gesa, tidak ribut, hanya perlahan dan hangat, seperti hujan yang menetes pelan tapi terus memberi kehidupan pada tanah dan tanaman mereka.
Malam itu, Lia menulis sedikit di buku catatannya. Tentang hujan, tentang Rey, dan tentang kehangatan yang ia rasakan—kehangatan yang membuatnya merasa rumah kecil ini benar-benar milik mereka berdua, bahkan sebelum mereka benar-benar menyadarinya.