Bab 14 — Malam Memasak Bersama
Hari itu terasa hangat. Sinar matahari menembus tirai tipis, membuat rumah kecil Rey terlihat lebih hidup. Lia berdiri di dapur, membawa beberapa bahan sederhana—sayur dari kebun Rey, telur, dan sedikit bumbu. Hari ini, ia ingin mencoba memasak bersama Rey.
“Rey, mau bantuin aku masak?” tanya Lia sambil tersenyum.
Rey menatapnya datar sebentar, lalu mengangguk pelan. “Boleh. Tapi jangan buat berantakan terlalu banyak.”
Lia menatapnya, sedikit tersipu. “Aku janji… semampuku.”
Mereka mulai bekerja. Lia mengupas sayur, Rey memotong dengan rapi. Sesekali Lia menjatuhkan potongan sayur atau menumpahkan air, tapi Rey selalu sigap membantu. Ia tidak marah, hanya menepuk bahu Lia pelan atau membenarkan posisi potongan sayur.
“Pelan saja,” ucap Rey sekali, sama seperti biasanya. Lia tersenyum sendiri, merasa hangat. Kalimat itu kini terasa seperti mantra, menenangkan setiap kekacauan kecil yang terjadi.
Saat memasak, terjadi beberapa momen lucu: bumbu tumpah, sayur hampir terlempar dari wajan, dan Lia sempat kesulitan menyalakan kompor. Rey hanya menggeleng pelan, membetulkan semuanya dengan tenang. Lia tertawa malu, tapi hatinya hangat.
Setelah beberapa saat, masakan mereka selesai. Nasi, sayur, dan telur terlihat sederhana, tapi terasa istimewa karena mereka melakukannya bersama. Mereka duduk di meja, menikmati hasil masakan sambil melihat halaman kecil yang mulai hidup—sayuran rapi dan beberapa bunga kecil mulai mekar.
Lia menatap Rey. “Terima kasih ya… Rey. Aku nggak tahu kalau masak bisa jadi menyenangkan begini.”
Rey menatapnya sebentar, lalu mengangguk tipis. “Iya. Bersama lebih mudah.”
Momen itu membuat Lia tersenyum. Ia menyadari, rumah kecil ini, Rey yang pendiam tapi selalu hadir, dan kebersamaan sederhana seperti memasak bersama, membuat hatinya hangat.
Malam itu, Lia menulis di buku catatannya: tentang tawa kecil saat memasak, tentang perhatian diam-diam Rey, dan tentang bagaimana hari sederhana bisa terasa begitu istimewa. Ia tahu, hari-hari seperti ini adalah fondasi dari sesuatu yang manis dan hangat, sesuatu yang perlahan mulai tumbuh di antara mereka.
Dan Lia tersenyum sendiri sebelum tidur, membayangkan hari-hari berikutnya penuh kekacauan lucu, bunga yang terus mekar, dan Rey yang tetap diam tapi selalu hadir untuknya.
Bab 15 — Taman Kecil Mulai Terbentuk
Pagi itu, Lia keluar lebih awal. Matahari belum terlalu terik, tapi cahaya hangatnya sudah menembus halaman rumah. Ia membawa beberapa pot bunga yang sudah mulai tumbuh dan beberapa bibit baru yang dibelinya beberapa hari lalu.
“Rey, ayo bantu aku tanam ini,” kata Lia sambil tersenyum.
Rey keluar dari rumah dengan gayanya yang tenang, membawa alat-alat berkebun. “Oke,” jawabnya singkat namun lembut.
Mereka mulai bekerja bersama. Lia menata pot-pot kecil, menanam bibit, dan menyiram dengan hati-hati. Rey membantu, membetulkan posisi pot, menambahkan tanah, dan sesekali menepuk bahu Lia pelan ketika ia hampir kehilangan keseimbangan.
Beberapa pot masih berantakan, beberapa bibit jatuh, tapi momen itu justru membuat mereka tertawa kecil. Lia merasa hangat—tidak hanya karena udara pagi, tapi karena kehadiran Rey yang selalu sigap membantu tanpa banyak bicara.
Seiring berjalannya hari, taman kecil itu mulai terbentuk. Sayuran Rey rapi di satu sisi, bunga-bunga Lia di sisi lain. Lia menatap hasil kerja mereka, matanya berbinar. “Rey… lihat! Kita berhasil!”
Rey menoleh sebentar, matanya menatap halaman yang mulai hidup. “Iya… lumayan rapi,” katanya datar, tapi senyum tipisnya terlihat jelas.
Lia tersenyum lebar. “Kamu tahu nggak? Ini bukan cuma tamanku… tapi taman kita,” katanya, sambil menunjuk bunga-bunga yang mulai mekar.
Rey menatapnya sebentar, matanya lembut, lalu mengangguk. Lia bisa merasakan hangat dari tatapannya. Rumah kecil mereka terasa hidup, bukan hanya karena tanaman, tapi karena momen-momen sederhana yang mereka bagi bersama.
Sore harinya, mereka duduk di bangku halaman, minum air, dan melihat taman kecil itu. Angin sepoi-sepoi membuat bunga-bunga bergoyang perlahan, membuat Rey dan Lia merasa damai.
Hari itu, Lia menyadari sesuatu: menanam bunga bukan sekadar tentang tanaman. Ini tentang merawat sesuatu bersama, belajar sabar, dan melihat sesuatu tumbuh karena usaha mereka berdua. Dan dengan Rey di sampingnya, setiap momen terasa lebih berarti, lebih hangat, dan lebih manis.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang taman kecil mereka, tentang Rey yang diam tapi selalu ada, dan tentang kebahagiaan sederhana yang membuat hatinya tersenyum. Ia tahu, hari itu menandai awal dari sesuatu yang indah—awal dari taman mereka dan hubungan yang perlahan mulai mekar.
Bab 16 — Rey Tanpa Sadar Melindungi Lia
Pagi itu, cuaca cerah dan hangat. Lia sedang menyapu halaman, memindahkan beberapa daun kering dari bunga-bunga kecil yang mulai mekar. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari jalan dekat rumah.
Seorang tukang pengantar datang, membawa paket besar untuk Lia. Ia tampak kebingungan melihat Lia sendirian di halaman. Saat mencoba menurunkan paket itu, satu kotak hampir jatuh tepat ke kaki Lia.
Rey, yang sedang menyiram sayuran, langsung sigap. Dengan langkah cepat tapi tenang, ia menahan kotak itu sebelum mengenai Lia. Lia tersentak kaget.
“Rey! Aku bisa…” Lia mulai membela diri, tapi Rey hanya menatapnya, nada suaranya datar, tapi tegas. “Hati-hati.”
Lia menelan ludah. Ia menyadari sesuatu—Rey selalu ada, diam-diam, untuk memastikan ia aman. Bukan hanya membantu di kebun atau di rumah, tapi benar-benar memperhatikan keselamatannya.
Setelah itu, mereka menata paket bersama. Lia mencoba tersenyum, tapi hatinya hangat. Ia merasa nyaman, bahkan tanpa kata-kata manis, kehadiran Rey membuatnya merasa aman.
Sore harinya, Lia memutuskan untuk menanam beberapa bunga tambahan di taman kecil mereka. Saat ia membungkuk, sebuah pot hampir jatuh, tapi Rey cepat menahan, matanya menatap Lia dengan lembut.
“Terima kasih…” Lia berbisik, sambil tersenyum tipis di bibirnya.
Rey hanya mengangguk, menepuk bahunya pelan. “Pelan saja.”
Malamnya, Lia duduk di bangku halaman sambil melihat bunga-bunga mereka. Ia menulis di buku catatannya: tentang perhatian Rey yang selalu hadir, tentang rasa aman yang ia rasakan, dan tentang bagaimana hal-hal kecil bisa membuat hati hangat.
Hari itu Lia menyadari satu hal penting—perhatian diam-diam Rey bukan hanya manis, tapi tulus. Dan semakin hari, ia merasa rumah kecil ini bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat di mana hatinya bisa tumbuh dan merasa aman, bersanding dengan Rey yang diam tapi selalu ada, dan selalu bisa di andalkan