Bab 17 — Kesibukan di Taman Bunga
Pagi itu, Lia keluar lebih awal membawa beberapa pot bunga baru. Matahari baru saja muncul, menyinari halaman rumah kecil Rey. Ia ingin menata bunga-bunga itu di sisi taman yang belum tertata rapi.
“Rey, bantu aku taruh ini di sini, yuk,” kata Lia sambil tersenyum.
Rey muncul dari kebun sayur, membawa sekop dan beberapa pot tanah. “Oke,” jawabnya singkat, namun gerakannya tetap sigap.
Mereka mulai bekerja bersama. Lia menanam bibit, menyiram bunga, sementara Rey menyiapkan tanah dan membetulkan posisi pot. Sesekali Lia menjatuhkan sedikit tanah atau bibit, tapi Rey selalu sigap menahan pot yang hampir terguling.
“Pelan saja,” ucap Rey datar, tapi nada lembutnya terdengar jelas. Lia tersenyum sendiri. Kalimat itu sudah menjadi mantra kecil yang menenangkan setiap kekacauan yang terjadi.
Beberapa pot bunga yang Lia tanam ternyata salah posisi, sehingga tumbuhnya agak miring. Lia hampir panik, tapi Rey datang, menyesuaikan posisi pot dengan tenang. “Begini lebih rapi,” katanya. Lia mengangguk, hatinya hangat.
Saat sore tiba, taman kecil mereka mulai terlihat lebih hidup. Sayuran Rey rapi di satu sisi, bunga-bunga Lia mulai mekar di sisi lain. Lia menatap hasil kerja mereka, matanya berbinar. “Rey… lihat! Ini mulai terlihat seperti taman sungguhan!”
Rey menatap sebentar, lalu mengangguk tipis. “Iya… lumayan rapi,” katanya datar, tapi senyum tipisnya membuat hati Lia hangat.
Lia mendekat, menatap Rey. “Kamu tahu nggak? Ini bukan hanya taman ku… tapi taman kita,” katanya sambil menunjuk bunga-bunga yang mulai mekar.
Rey menatapnya beberapa detik, matanya lembut. Ia tidak banyak bicara, tapi anggukannya sudah cukup. Hari itu, Lia merasakan kebahagiaan sederhana—taman mereka, kekacauan kecil yang berubah jadi tawa, dan kehadiran Rey yang selalu diam tapi selalu ada, membuat rumah kecil ini terasa hidup dan hangat.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang taman kecil mereka, tentang Rey yang diam tapi penuh perhatian, dan tentang kebahagiaan sederhana yang perlahan mulai mekar bersama mereka. Ia tersenyum sendiri, membayangkan hari-hari berikutnya yang akan lebih hangat, lebih lucu, dan semakin manis.
Bab 18 — Rey Tanpa Sadar Mulai Terbuka
Hari itu tampak cerah, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan di halaman. Lia sedang menyiram bunga-bunga yang baru ditanam, sementara Rey merapikan barisan sayur. Udara pagi terasa hangat, dan rumah kecil itu seperti hidup karena suara mereka dan tanaman yang mulai mekar.
“Rey… kamu tahu nggak? Bunga-bunga ini tumbuh lebih cepat karena kamu bantuin tanam juga,” kata Lia sambil tersenyum.
Rey menatapnya sebentar, lalu menunduk menyesuaikan posisi pot. “Kalau kamu rajin, memang lebih cepat tumbuh,” jawabnya datar. Tapi nada suaranya ada sedikit hangat yang membuat Lia tersenyum lebar.
Saat mereka bekerja, Lia menyadari Rey mulai lebih banyak bicara tentang hal-hal sederhana—apa yang dia suka, tanaman mana yang lebih mudah dirawat, dan kadang sedikit bercanda tentang bibit bunga yang tumbuh aneh. Lia merasa senang, tapi juga penasaran.
“Rey… kamu jarang banget cerita soal diri kamu,” kata Lia pelan ketika mereka duduk di bangku halaman, minum air setelah selesai menanam beberapa pot baru.
Rey diam sebentar, menatap bunga-bunga kecil di depannya. “Aku… tidak terbiasa bercerita,” ucapnya pelan. “Tapi… aku senang bisa melakukan hal-hal seperti ini bersamamu.”
Lia tersenyum. “Aku juga, Rey. Rasanya… nyaman banget.”
Rey menoleh sebentar, matanya menatap Lia dengan lembut. Lia bisa merasakan hangat yang jarang ia temui dari Rey, dan itu membuatnya merasa aman.
Malamnya, setelah semua beres, Lia duduk di sofa menulis di buku catatannya. Ia menulis tentang Rey yang perlahan mulai terbuka, tentang kehangatan yang ia rasakan dari perhatian diam-diam Rey, dan tentang kebahagiaan sederhana yang mereka bagikan.
Hari itu, Lia sadar satu hal: hubungan mereka mulai berkembang bukan karena kata-kata manis, tapi karena momen-momen sederhana, kehangatan diam-diam, dan kehadiran satu sama lain. Rumah kecil mereka kini bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat di mana hati mereka mulai saling mengenal dan tumbuh, perlahan tapi pasti.
Bab 19 — Malam Hujan dan Teh Hangat
Hujan turun perlahan sore itu, menimpa atap rumah kecil mereka. Lia duduk di dekat jendela dengan secangkir teh hangat, menatap tetesan hujan yang menetes di kaca. Suara rintik hujan membuat suasana terasa tenang, tapi juga sedikit sunyi.
Rey duduk di kursi dekatnya, memegang mug sendiri. Ia menatap hujan sebentar, lalu menoleh ke Lia. “Kamu suka hujan?” tanyanya datar.
“Ya… rasanya tenang,” jawab Lia sambil tersenyum tipis. “Apalagi kalau bisa ditemani teh hangat.”
Rey meneguk tehnya pelan, matanya menatap halaman yang basah. “Iya… aku juga suka,” katanya singkat, tapi ada nada hangat yang tidak biasa terdengar.
Mereka duduk berdua, menikmati hujan dan keheningan yang nyaman. Tidak banyak kata-kata, tapi kehadiran satu sama lain sudah cukup membuat hati Lia hangat.
Setelah beberapa saat, Lia memberanikan diri bertanya, “Rey… kamu nggak pernah cerita banyak soal masa lalu kamu, ya?”
Rey menunduk sebentar, lalu menjawab pelan, “Aku… terbiasa sendiri. Tapi sekarang… aku senang ada kamu di sini.”
Lia tersenyum, hatinya hangat. Ia menatap Rey yang diam tapi tulus, dan merasa rumah kecil itu bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat di mana hatinya bisa merasa aman dan diterima.
Malam itu, Lia menulis di buku catatannya: tentang hujan, teh hangat, dan Rey yang diam tapi selalu ada. Ia tersenyum sendiri, menyadari bahwa kebersamaan sederhana seperti ini lebih berarti daripada kata-kata manis atau gestur besar. Rumah kecil mereka perlahan menjadi tempat yang hangat, penuh tawa kecil, dan momen manis yang akan selalu ia ingat.
Bab 20 — Salah Beli Bibit dan Kekacauan Lucu
Pagi itu, Lia bersemangat. Ia membawa beberapa bibit bunga baru yang dibelinya di pasar kemarin. Ia ingin menambah variasi bunga di taman kecil mereka. Rey keluar dari rumah, membawa sekop dan ember air.
“Kamu yakin semua ini bisa ditanam di sini?” tanya Rey sambil menatap bibit yang dibawa Lia.
“Yakin! Ini akan bikin taman kita makin hidup,” jawab Lia dengan senyum lebar.
Mereka mulai menanam bersama. Lia terlalu bersemangat, beberapa pot salah posisi, beberapa bibit tercecer di tanah. Rey hanya menggeleng tipis, menepuk bahunya pelan, dan membenarkan posisi pot dengan tenang.
Saat Lia menanam bunga terakhir, ia baru sadar—beberapa bibit yang ia beli ternyata salah jenis. Alih-alih bunga, sebagian tumbuh aneh seperti tanaman liar kecil. Lia menatapnya, panik dan malu.
“Rey… aku salah beli, ya?” kata Lia sambil menahan tawa dan rasa malu.
Rey menatap pot-pot itu sebentar, lalu menepuk bahu Lia pelan. “Nggak apa-apa. Bisa jadi unik,” katanya datar tapi ada senyum tipis di wajahnya.
Mereka tertawa bersama, meski kekacauan itu membuat taman terlihat lucu dan kacau. Lia merasa hangat—meski berantakan, Rey selalu ada, sigap menolong tanpa mengomel, hanya menyesuaikan semuanya dengan tenang.
Sore harinya, mereka duduk di bangku halaman, melihat taman kecil yang mulai hidup dengan bunga, sayuran, dan beberapa tanaman aneh hasil kekacauan Lia.
“Kamu tahu nggak, Rey?” kata Lia sambil tersenyum. “Ini bukan sekadar taman ku… tapi taman kita.”
Rey menatapnya, matanya lembut. Ia diam beberapa saat, lalu hanya mengangguk. Lia tersenyum lebar, hati hangat. Rumah kecil mereka, dengan kekacauan lucu dan tanaman yang mulai mekar, terasa lebih hidup.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya tentang momen hari itu—tentang bibit yang salah, tawa mereka, dan Rey yang selalu ada. Ia sadar, momen-momen kecil seperti ini membuat rumah kecil mereka benar-benar menjadi tempat yang hangat dan penuh warna.