Bab 21 — Pasar dan Belanja Kacau Lagi
Pagi itu, Lia bangun dengan semangat tinggi. Ia memutuskan untuk pergi ke pasar kecil di dekat rumah untuk membeli beberapa perlengkapan tambahan—pot baru, tanah khusus, dan beberapa bibit bunga langka yang ia incar. Kali ini, Lia ingin Rey ikut, supaya ia bisa mendapatkan bantuan dan sekalian menikmati kebersamaan.
“Rey, ayo ikut! Aku janji nggak akan bikin kacau… terlalu banyak,” kata Lia sambil tersenyum lebar.
Rey menatapnya sebentar, lalu mengangguk tipis. “Oke. Tapi kamu bawa tas besar?”
“Iya… tapi nggak berat kok,” jawab Lia cepat, padahal tasnya sudah penuh dengan beberapa pot kosong.
Di pasar, Lia langsung bersemangat. Ia mengambil bibit satu per satu, kadang terlalu banyak, hingga pot-pot kecil hampir terjatuh. Rey sigap menahan beberapa pot yang hampir terguling.
“Kamu yakin mau semua ini?” Rey bertanya sambil menepuk tas belanja Lia yang mulai berat.
“Yakin! Rumah kita bakal makin cantik,” jawab Lia penuh semangat.
Beberapa kali mereka tertawa karena kekacauan yang terjadi: pot hampir jatuh, tanah tumpah, bahkan seorang penjual salah paham Lia ingin membeli satu pot langka tapi ia malah mengambil banyak. Lia tersipu malu, tapi Rey hanya menepuk bahunya, menahan pot, dan memperbaiki keadaan dengan tenang.
Setelah selesai belanja, mereka kembali ke rumah dengan tangan penuh pot dan bibit. Lia mulai menata semuanya di halaman, tapi kekacauan kecil kembali terjadi: tanah berceceran, beberapa pot hampir terguling, dan bibit-bibit yang seharusnya teratur kini acak.
Rey sigap membantu, membetulkan posisi pot, menyiram tanaman yang perlu, dan menepuk bahu Lia ketika ia hampir kehilangan keseimbangan. “Pelan saja,” ucap Rey, nada tenangnya selalu menenangkan Lia.
Sore harinya, mereka duduk berdua di bangku halaman, melihat taman kecil yang mulai hidup. Bunga-bunga yang baru ditanam Lia mulai terlihat warna-warni, sementara sayuran Rey tetap rapi di sisi lain.
Lia menatap Rey, tersenyum tipis. “Rey… ini bukan taman ku… tapi taman kita,” katanya pelan.
Rey menatapnya sebentar, matanya lembut, lalu mengangguk. Hati Lia hangat. Rumah kecil mereka, dengan kekacauan lucu dan tanaman yang mulai mekar, terasa semakin hidup.
Malam itu, Lia menulis di buku catatannya: tentang pasar, bibit yang kacau, tawa mereka, dan Rey yang diam tapi selalu ada. Ia tersenyum sendiri, menyadari bahwa setiap momen sederhana seperti ini membuat rumah kecil mereka benar-benar menjadi tempat hangat dan penuh warna.
Bab 22 — Malam Hangat dan Momen Manis
Malam itu, udara di rumah kecil Rey terasa sejuk. Lampu temaram menerangi halaman kecil, di mana sayuran dan bunga-bunga mereka mulai terlihat hidup. Lia duduk di bangku halaman sambil memegang secangkir teh hangat, menatap tanaman yang mereka rawat bersama.
Rey keluar dari rumah, membawa dua gelas teh hangat. Ia menyerahkan satu kepada Lia dan duduk di sebelahnya. “Minum dulu,” katanya datar, tapi gerakannya lembut.
Lia tersenyum. “Terima kasih… Rey.”
Mereka duduk diam, menikmati teh dan udara malam. Suara jangkrik dan daun yang tertiup angin membuat suasana terasa damai. Tidak banyak kata-kata, tapi momen itu hangat.
Setelah beberapa saat, Lia memberanikan diri. “Rey… aku senang bisa tinggal di sini. Meski awalnya kacau, tapi sekarang… terasa nyaman. Kamu bikin rumah ini hidup.”
Rey menatapnya sebentar, lalu meneguk tehnya pelan. “Aku juga… senang kamu di sini,” jawabnya singkat, tapi nada lembut itu membuat Lia tersenyum lebar.
Mereka berbicara ringan tentang hal-hal sederhana—rencana menanam bunga baru, sayuran yang mulai tumbuh, dan beberapa kejadian lucu yang mereka alami beberapa hari terakhir. Tidak ada tekanan, tidak ada keributan—hanya kebersamaan yang tulus dan hangat.
Lia menatap Rey lagi. “Kamu tahu nggak… ini bukan hanya tamanku… tapi taman kita,” katanya sambil menunjuk tanaman yang mulai mekar.
Rey menatapnya, matanya lembut. Ia diam beberapa saat, lalu hanya mengangguk. Lia tersenyum sendiri, hatinya hangat. Rumah kecil mereka, dengan bunga-bunga yang mekar dan sayuran yang rapi, terasa hidup bukan hanya karena tanaman, tapi karena momen-momen sederhana yang mereka bagi bersama.
Malam itu, Lia menulis di buku catatannya: tentang teh hangat, kebersamaan, dan Rey yang diam tapi selalu ada. Ia tersenyum sendiri, menyadari bahwa rumah kecil itu kini benar-benar menjadi tempat yang hangat, penuh tawa, dan momen manis yang akan selalu ia ingat.
Bab 23 — Kotak Kenangan yang Tak Sengaja Terbuka
Hari itu Rey sedang merapikan rak kecil di ruang tamu. Beberapa buku, alat berkebun, dan kotak-kotak tersusun rapi. Lia duduk di sofa sambil membaca, tapi matanya sesekali melirik Rey yang terlihat sibuk.
Saat Rey menurunkan sebuah kotak kecil dari rak paling atas, kotak itu tergelincir sedikit dan terbuka. Foto-foto lama jatuh berserakan ke lantai. Lia menatap sekilas, matanya berhenti pada satu foto Rey waktu kecil, tersenyum di halaman panti asuhan.
“Rey… ini… foto kamu?” tanya Lia, suaranya pelan.
Rey menatap kotak itu sebentar, lalu menunduk. “Ah… itu…” Ia mengambil foto-foto itu dengan cepat, menutup kotak. Nada suaranya datar, tapi Lia menangkap sedikit kekakuan.
“Maaf… aku nggak sengaja,” kata Lia, merasa sedikit canggung.
Rey menghela napas tipis, lalu menepuk bahu Lia pelan. “Tidak apa-apa. Jangan terlalu penasaran,” ucapnya singkat.
Lia tersenyum malu, tapi hatinya hangat. Ia tahu Rey biasanya sulit membuka masa lalunya, tapi momen kecil ini membuatnya merasa sedikit lebih dekat.
Seiring hari berlalu, Lia mencoba tetap santai. Mereka duduk di halaman sambil menyiram bunga, tapi Lia tidak bisa berhenti memikirkan foto-foto itu. Ia ingin Rey tahu bahwa ia bisa dipercaya, tapi juga tidak ingin memaksa.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang kotak kecil itu, tentang Rey yang diam tapi tulus, dan tentang perasaan hangat yang perlahan muncul dari momen sederhana. Ia tersenyum sendiri, merasa bahwa rumah kecil mereka bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat di mana hati bisa perlahan terbuka dan tumbuh.
Bab 24 — Rey Marah Kecil Tapi Tenang
Pagi itu, Lia sedang membersihkan rak buku di ruang tamu ketika kotak kecil Rey yang tadi sempat terbuka jatuh lagi, beberapa foto berserakan di lantai. Lia buru-buru menunduk untuk mengambilnya, tapi Rey sudah datang dengan langkah tenang namun wajahnya terlihat sedikit tegang.
“Lia… lagi?” katanya pelan, tapi nada suaranya menandakan sedikit marah.
“Aku… aku nggak sengaja, Rey. Aku cuma mau rapikan rak ini,” jawab Lia cepat, sedikit canggung.
Rey menatapnya sebentar, kemudian menghela napas panjang. “Aku tahu… tapi kotak itu… bukan untuk dilihat sembarangan,” ucapnya datar. Meskipun tenang, Lia bisa merasakan bahwa Rey merasa sedikit terganggu.
Lia menunduk, merasa bersalah. “Maaf… aku janji nggak akan membuka lagi,” katanya tulus.
Rey menepuk bahunya pelan. “Baik. Jangan terlalu penasaran. Itu bagian dari masa laluku yang… sulit dibicarakan,” ucapnya. Nada lembutnya kembali muncul, dan Lia merasakan hangat yang biasa muncul dari Rey.
Setelah itu, mereka duduk di halaman, menatap bunga-bunga yang mulai mekar. Lia masih merasa sedikit canggung, tapi Rey duduk diam di sampingnya, tenang. Tanpa banyak kata, kehadiran Rey yang stabil membuat Lia merasa aman dan diterima.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang marah kecil Rey tapi tetap tenang, tentang bagaimana ia menghargai batasan orang lain, dan tentang rasa hangat yang muncul dari momen sederhana seperti ini. Ia tersenyum sendiri, menyadari bahwa rumah kecil mereka adalah tempat di mana hati bisa perlahan menerima satu sama lain, bahkan di saat-saat kecil penuh kekakuan.