Bab 25 — Rey Mulai Cerita Sedikit Masa Lalu
Hari itu cerah dan hangat. Lia sedang menyiangi beberapa bunga yang tumbuh di pinggir taman, sementara Rey membersihkan alat-alat berkebun. Suara mereka bergabung dengan kicau burung pagi, membuat rumah kecil itu terasa hidup.
“Rey… boleh nggak aku tanya sesuatu?” Lia menoleh, menyeka keringat di dahinya.
Rey menatapnya sebentar, lalu mengangguk tipis. “Tanya saja.”
Lia menarik napas. “Dulu… waktu kecil, kamu tinggal di mana sih? Kenapa kamu nggak cerita banyak tentang masa lalumu?”
Rey terdiam sebentar, matanya menatap tanah di depan. “Aku… tinggal di panti asuhan. Setelah itu, diadopsi keluarga baru. Mereka… kurang perhatian. Jadi aku terbiasa sendiri,” ucapnya pelan, suaranya datar tapi lembut.
Lia berhenti dari pekerjaannya, duduk di bangku kecil dekat Rey. “Aku ngerti… pasti sulit, ya?”
Rey mengangguk, tapi tidak menatap Lia langsung. “Iya… tapi aku belajar… menikmati kesendirian. Sekarang, aku senang… bisa berbagi hari-hari denganmu,” katanya pelan.
Lia tersenyum tipis, hatinya hangat. “Aku juga senang ada di sini, Rey. Rasanya… rumah ini nggak cuma tempat tinggal, tapi… tempat nyaman.”
Rey menoleh sebentar, menatap Lia, matanya lembut. Ia hanya menepuk bahu Lia pelan, tapi itu sudah membuat Lia tersenyum lebar.
Sore harinya, mereka duduk bersama di bangku halaman sambil menyiram bunga. Lia memperhatikan Rey yang diam tapi penuh perhatian, dan merasa rumah kecil itu benar-benar mulai menjadi tempat hangat—bukan hanya karena tanaman yang mekar, tapi karena momen sederhana yang mereka bagi bersama.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang Rey yang mulai bercerita, tentang kesendirian yang perlahan terisi, dan tentang rumah kecil mereka yang terasa hidup karena kebersamaan, tawa, dan perhatian kecil yang tulus.
Hari itu, Lia menyadari satu hal penting—Rey tidak harus banyak bicara untuk membuatnya merasa diterima. Rumah kecil itu, kebun mereka, dan momen-momen sederhana inilah yang membuat hati mereka perlahan tumbuh bersama.
Bab 26 — Taman Bunga Mulai Terlihat Hidup
Pagi itu, matahari baru muncul, menyinari halaman rumah kecil Rey. Lia keluar dengan semangat membawa beberapa pot bunga yang baru ia beli kemarin. Bibit bunga yang ia tanam beberapa hari lalu mulai menunjukkan tunas kecil, hijau dan segar.
“Rey! Lihat! Mereka mulai tumbuh!” seru Lia sambil menunjuk tunas-tunas mungil itu.
Rey keluar dari kebun sayurnya, mengelap tangan dengan kain. “Lumayan rapi,” jawabnya datar, tapi senyum tipisnya muncul di sudut bibirnya.
Lia tersenyum lebar, lalu mulai menata pot-pot baru di sisi taman. Ia berhati-hati, memastikan bibit-bibit itu mendapat posisi dan tanah yang pas. Beberapa kali bibit jatuh atau pot miring, tapi Rey sigap membenarkan semuanya tanpa banyak bicara.
“Terima kasih, Rey,” kata Lia pelan, matanya menatap tangan Rey yang menata pot dengan lembut.
Rey hanya menepuk bahu Lia pelan. “Pelan saja. Jangan terburu-buru.”
Seiring siang, taman kecil mereka mulai terlihat hidup. Warna-warni bunga muncul di antara sayuran Rey. Lia berhenti sejenak, menatap hasil kerja mereka, dan tersenyum puas. Ia merasa bangga, bukan hanya karena tanamannya tumbuh, tapi karena mereka membuat semuanya bersama.
Sore harinya, Lia duduk di bangku halaman sambil minum teh hangat. “Rey… ini… bukan hanya taman ku,” katanya pelan, menatap bunga-bunga yang mulai mekar, “tapi taman kita.”
Rey menatapnya, matanya lembut, lalu mengangguk tipis. Ia tidak banyak bicara, tapi perhatian diam-diamnya sudah terasa. Lia tersenyum sendiri, hatinya hangat. Rumah kecil itu, dengan kebun sayur, bunga yang mekar, dan momen sederhana bersama Rey, terasa hidup.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang tunas-tunas yang mulai tumbuh, tentang tangan Rey yang diam tapi sigap, dan tentang taman kecil yang perlahan menjadi simbol kebersamaan mereka. Hari itu, Lia merasa lebih dekat dengan Rey, lebih nyaman di rumah kecil itu, dan lebih percaya bahwa mereka bisa membuat sesuatu indah bersama.
Bab 27 — Malam Hujan dan Kejutan Kecil
Hujan turun perlahan sore itu. Tetesannya menimpa atap rumah kecil, membuat suara yang tenang dan menenangkan. Lia duduk di bangku halaman sambil menatap bunga-bunga yang mulai mekar, menikmati aroma tanah basah dan udara segar.
Rey keluar membawa dua gelas teh hangat. “Minum dulu,” ucapnya datar, menyerahkan satu gelas pada Lia.
“Terima kasih, Rey,” jawab Lia sambil tersenyum. Suara hujan dan teh hangat di tangan membuat suasana terasa nyaman.
Mereka duduk diam, menikmati hujan. Lia merasa hangat di dalam, bukan hanya karena teh, tapi karena kehadiran Rey di sampingnya. Sesekali Rey menatap bunga, lalu menoleh ke Lia dengan pandangan lembut yang jarang ia tunjukkan.
“Lia…” Rey akhirnya bersuara, nada pelan, “terima kasih… sudah tinggal di sini. Aku… senang ada kamu.”
Lia tersenyum, hatinya berdebar sedikit. “Aku juga senang, Rey. Rasanya… rumah ini jadi tempat yang hangat, bukan cuma untuk tidur, tapi tempat nyaman untuk hati.”
Rey meneguk tehnya pelan, matanya kembali menatap hujan di luar jendela. Lia tahu Rey jarang sekali mengungkapkan perasaannya, tapi malam itu, kehangatan yang ia rasakan cukup untuk membuatnya tersenyum sendiri.
Beberapa menit kemudian, mereka tertawa kecil karena kucing tetangga yang masuk ke halaman, basah kuyup dan berlari mengganggu tanaman. Lia berlari mengejar kucing itu, sementara Rey diam menonton dengan senyum tipis. Kekacauan kecil itu membuat momen malam hujan terasa hidup, lucu, dan hangat.
Malam itu, Lia menulis di buku catatannya: tentang hujan, teh hangat, Rey yang lembut tapi diam, dan momen kecil yang membuat hatinya nyaman. Ia tersenyum sendiri, menyadari bahwa rumah kecil mereka bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat di mana hati bisa tumbuh dan momen sederhana terasa begitu berharga.
Bab 28 — Kejutan dari Masa Lalu Rey
Pagi itu, Rey tampak sibuk di kebun sayur. Lia keluar dari rumah sambil membawa beberapa pot bunga yang baru ia beli di pasar. Ia ingin menambah warna taman kecil mereka.
“Tunggu… Rey,” Lia memanggil, “aku mau bantu tanam juga.”
Rey menoleh sebentar, menatapnya dengan mata lembut. “Oke. Tapi pelan saja,” katanya datar tapi nada suaranya hangat.
Saat mereka menanam bersama, Lia menemukan sebuah amplop kecil yang tersembunyi di antara pot-pot Rey. Tanpa sengaja, amplop itu terbuka dan beberapa kertas jatuh ke tanah. Lia melihat tulisan tangan Rey—beberapa surat lama yang belum sempat ia baca.
“Rey… ini apa?” tanya Lia, hati berdebar.
Rey menoleh, wajahnya sedikit tegang tapi tetap tenang. “Itu… surat lama. Jangan dibaca.”
Lia tersenyum canggung. “Maaf… aku nggak sengaja.”
Rey menarik napas, lalu duduk di bangku kecil dekatnya. “Dulu… aku pernah menulis ini ketika aku merasa sendiri. Membantu menenangkan diri sendiri. Aku jarang sekali menunjukkan ini pada orang lain.”
Lia menatapnya, hatinya hangat. “Aku ngerti… aku nggak akan menyentuhnya lagi, Rey.”
Rey menatap Lia beberapa detik, lalu pelan-pelan mengangguk. Ia tersenyum tipis, sesuatu yang jarang Lia lihat. “Terima kasih… karena kamu ada di sini,” katanya pelan.
Sore itu, mereka menyelesaikan menanam bunga bersama. Momen kecil itu membuat Lia merasa lebih dekat dengan Rey, dan Rey mulai terbiasa membuka sedikit bagian masa lalunya, meski hanya lewat kejadian sederhana.
Malamnya, Lia menulis di buku catatannya: tentang surat lama Rey, tentang rasa hangat yang muncul dari momen sederhana, dan tentang rumah kecil mereka yang perlahan menjadi tempat hati bisa terbuka dan tumbuh bersama. Lia tersenyum sendiri, menyadari bahwa setiap hari bersama Rey adalah bagian dari kebahagiaan kecil yang membuat rumah kecil mereka terasa hidup.