Arga membawa Anita ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Anita, tapi rupanya Anita memang sudah tiada.
“Maaf, Tuan Arga. Nyonya Anita memang benar-benar sudah tidak ada, benturan di kepalanya juga mempengaruhi kondisi kesadaran sebelum nyonya Anita meninggal,” ucap dokter pada Arga.
Arga menangis memeluk jasad istrinya di kamar UGD. Ingatannya kembali saat awal bertemu. Tatapan dan senyuman Anita yang teduh membuatnya nyaman seperti menemukan sesuatu yang hilang.
“Anita Prasanti, kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini. Kamu tahu kan, aku tidak bisa berbuat apa pun tanpa dirimu.” Arga masih memeluk Anita.
“Maaf Tuan, izinkan kami untuk mengurus jenazah istri Anda,” ucap salah satu Suster.
“Istriku tidak meninggal, Sus. Dia hanya tidur.” Arga benar-benar terpukul dengan kepergian Anita yang begitu mendadak baginya.
Zidan yang mendengar ucapan Arga turut prihatin dengan sang kakak. Zidan menepuk pundak Arga sebagai tanda untuk merelakan Anita pergi.
“Kak, jenazah mbak Anita harus segera diurus dan di makamkan. Jangan ditahan kasihan mbak Anita.”
“Anita masih hidup, Zid. Dia masih hidup! Lihat, dia cuma tidur.” Arga tidak melepas pelukannya.
Zidan memijit panggil hidungnya, bagaimana cara meyakinkan sang kakak.“ Iya, mbak Anita Cuma tidur, tapi tidurnya harus dipindah, Kak.” Zidan mencoba menarik bahu Arga.
Arga mulai melepaskan pelukannya dan memandangi wajah Anita, ia mengusap lembut pipi Anita lalu mencium keningnya. “Mama tidur? Baiklah, Papa tidak akan mengganggu Mama. Istirahatlah, Mama pasti kelelahan mengurusku dan hidup denganku, kan? Tunggu Papa ya, Ma. Nanti Papa ikut tidur sama Mama.” Arga sekali lagi mencium kening istrinya.
Arga sendiri yang menutup jasad istrinya dengan selimut rumah sakit, perlahan ia mundur dan terkulai lemas di lantai. Ia meringkuk di sudut IGD dan pasrah melihat suster membawa istrinya untuk diurus.
Zahra yang ikut ke rumah sakit pun tak kuasa menahan tangis, dari kejauhan ia menangis dan teringat almarhum ibunya yang juga meninggal dunia. Sementara itu Zidan mengurusi administrasi kepulangan jenazah Anita.
Zahra perlahan mendekati Arga untuk memberikan minum. “Pak, minum dulu. Dari pagi Bapak belum minum dan sarapan.” Zahra begitu hati-hati mendekati Arga dan begitu takut menyodorkan botol air mineralnya. Arga tidak merespons Zahra karena ia masih bingung dan tidak percaya jika sang istri sudah tiada.
“Pak Arga,” ucap Zahra kembali yang seketika mendapat lirikan Arga. Namun, Arga secepat kilat mengalihkan matanya memandang lantai, kemudian meraih botol minuman dari tangan Zahra.
Arga minum beberapa teguk lalu ia bangkit dan berjalan menuju ruang Jenazah diikuti Zahra.
Arga duduk di kursi dan hanya diam, sementara Zidan sibuk menghubungi saudara dan kerabat Anita serta keluarga dari pihaknya.
“Kak, mbak Anita dibawa ke rumah dulu, kan? Teman dan saudaranya ingin melihat untuk terakhir kalinya,” ucap Zidan.
“Langsung ke pemakaman,” jawab Arga tanpa melihat Zidan yang berdiri di hadapannya.
“Kak, mereka juga ingin melihat mbak Anita untuk terakhir kalinya, begitu juga Mama.”
Arga bangkit dan meremas botol Air mineralnya.“ Mama ingin melihat Anita? Waktu masih hidup, mama tidak pernah menganggap Anita sebagai menantunya? Sekarang ingin bertemu? Apa hanya ingin merayakan kematian istriku? Katakan pada mereka, aku suaminya tidak mengizinkan siapa pun melihat jenazah istriku. Aku yang memutuskan mau dibawa pulang atau langsung dimakamkan.” Arga begitu emosi dengan ucapan sang Adik.
“Kak.” Zidan juga sudah pasrah jika kakaknya itu sudah emosi.
“Aku punya hak sepenuhnya, bahkan keluarganya pun tidak berhak. Apalagi temannya yang hanya datang saat ada perlu!” teriak Arga begitu emosi.
“Maaf Tuan, jangan berdebat di sini,” ucap salah satu perawat.
Zidan menghela nafas melihat kakaknya yang sangat terpukul. Tatapan matanya kosong dan entah apa yang saat ini di pikirannya sekarang. Zidan mengalah lalu memberitahu perawat untuk langsung membawa Anita ke pemakaman.
Zidan melihat Zahra yang berdiri bersandar di dinding sambil memegang botol mineral. Ia pun menghampiri Zahra lalu mengambil botolnya begitu saja dan langsung meminumnya, padahal itu bekas Zahra.
“Mas! Itu bekasku,” pekik Zahra.
“Kenapa? Bukannya dulu kita pernah ciuman.” Zidan kemudian meninggalkan Zahra yang melongo mendengar mantannya itu mengingat momen yang tidak pernah ia lupakan.
Akhirnya Anita langsung dimakamkan, dan pemakaman selesai jam 5 sore. Teman dan kerabat datang ke pemakaman, kecuali orang tua Arga yang menunggu di rumah.
Arga masih tidak beranjak dari gundukan tanah sang istri, ia masih menangis dibalik kaca mata hitamnya. Zidan serta Risa tidak tega melihat Arga begitu terpukul begitu juga Zahra. Zahra juga menangis kehilangan majikannya yang begitu baik. Tapi ia juga gelisah harus mencari pekerjaan di mana lagi, sedangkan sang nyonya sudah tidak ada, otomatis ia sudah tidak dibutuhkan.
Zidan menghampiri Arga agar mau diajak pulang.“ Kak, hari sudah hampir gelap, ayo pulang! Di rumah sudah banyak yang datang, kolega serta sahabat kakak.”
“Aku mau di sini, aku tidak mau Anita sendiri, pasti dia kedinginan di dalam sana.” Arga mengusap papan nisannya.
“Kak, ayolah. Mbak Anita juga tidak suka kalau kakak seperti ini. Ikhlaskan, kak!” Zidan sedikit kesal dengan sang kakak tetapi ia juga memaklumi atas kehilangan kakaknya itu.
“Kalau kau mau pulang, pulang saja sendiri,” jawab Arga datar.
Zidan akhirnya meninggalkan Arga. Zidan berjalan menuju mobil sambil merangkul Risa dan di ikuti Zahra. Zahra hanya bisa tersenyum prihatin melihat Arga duduk sendirian di dekat pusara sang istri. Zahra juga menahan sakit melihat Zidan begitu memperhatikan Risa, bagaimanapun sisa rasa cinta itu masih ada.
Hari semakin gelap ditambah mendung dan sedikit gerimis. Zahra yang sudah naik mobil bersama Zidan pun semakin khawatir dengan Arga, karena takut majikannya kehujanan. Saat Zidan hendak menginjak pedal gas mobilnya. Zahra tiba-tiba membuka pintu sambil membawa payung besar. Zidan terkejut dan melihat ke arah jok belakang.
“Zahra, kamu mau ke mana? Pulang!” ucap Zidan sedikit lantang.
“Mas Zidan duluan saja. Saya mau memberikan payung untuk pak Arga, nanti saya pulang sama Pak Arga!” Zahra langsung menutup pintu mobil lalu berlari menghampiri Arga. Zidan juga hendak turun, tetapi malah hujan lebat, ia hanya bisa melihat Zahra yang sedang memayungi Arga.
“Sudahlah, Mas. Kita juga tidak bisa memaksa kak Arga. Aku tahu kak Arga begitu terpukul dengan meninggalnya mbak Anita yang mendadak. Ayo pulang, kamu juga harus bantu yang di rumah, kan. Biarkan jak Arga sendiri dulu, biar Zahra yang menemani.” Risa mengusap bahu Zidan, ia juga khawatir dengan Arga.
Zidan mengangguk lalu melajukan mobilnya dan membiarkan Arga di pemakaman bersama Zahra.
Hujan semakin lebat, Arga pun tidak sadar jika Zahra berdiri memayunginya. Ia masih memandangi Nisan sang istri sambil menangis. Zahra yang sudah basah kuyub pun memberanikan diri ikut berjongkok disamping Arga sambil terus memayunginya.
“Pak, mari pulang! Hari sudah mulai gelap. Biar bu Anita istirahat dengan tenang, pasti bu Anita juga menunggu Bapak. Tapi Bapak harus sabar ya,” ucap Zahra.
“Menunggu?”
“Iya, Pak. Suatu saat nanti Bapak akan bersatu lagi dengan bu Anita, itu sudah pasti.” Zahra begitu berusaha meyakinkan Arga. Zahra yakin saat ini pikiran Arga hanya tertuju pada Anita dan tidak bisa berpikir jernih dan terlihat seperti anak kecil yang kehilangan sang ibu.
“Apa nanti aku masih suaminya?”
“Sampai kapan pun Bapak suami bu Anita. Di dunia dan di dunia berikutnya. Hanya menunggu giliran saja, Pak. Saya juga menunggu giliran biar bisa berkumpul lagi dengan ibu dan ayah saya. Saya tahu perasaan Bapak. Tapi hidup kita harus tetap berjalan. Mari pulang, Pak!” Ajak Zahra dengan lembut sambil tersenyum tipis
Arga mengusap air matanya lalu mencium batu nisan sang istri. Arga bangkit dan melangkah meninggalkan Zahra begitu saja, Zahra mengela nafas lega dan sejenak memperhatikan Arga berjalan. Tak lama ia menoleh kanan dan kiri, ia merinding dan berlari mengejar Arga menuju mobil.
“Gila, hampir saja ditinggal di kuburan sendiri.”
Namun, saat Zahra hendak membuka pintu mobil. Arga justru melupakan Zahra dan melajukan mobilnya.
“Pak Arga, tunggu!” Zahra berlari di tengah hujan mengejar mobil Arga.
“Malah ditinggal, sih! Mana masih di kuburan lagi.” Zahra berlari keluar dari area pemakaman. terpaksa ia pulang dengan menaiki bajaj.