Zidan berjalan kesana-kemari di teras rumah, menunggu Arga dan Zahra yang tak kunjung sampai. Ia juga menghubungi Arga Namun, ponselnya justru ada di rumah.
Tak lama mobil Arga sampai di pelataran rumah. Dengan khawatir Zidan membawakan payung untuk Arga.
“Kak, Zahra mana?” tanya Zidan melihat kedalam mobil saat Arga keluar.
“Tidak tahu.” Arga melangkah masuk ke dalam rumah tanpa payung.
Zidan masih khawatir dengan Zahra yang tidak tahu di mana. Pria bertumbuh tinggi dan tegap itu berjalan menuju gerbang untuk memastikan mantannya itu sudah ada tanda-tanda menapakkan diri.
Terlihat dari kejauhan ada sosok perempuan berjalan ditengah hujan lebat. Zidan terus memperhatikan perempuan tersebut, tak lama ia sadar itu adalah Zahra.
“Astaga, Zahra.” Zidan berlari menghampiri Zahra.
“Kamu kok jalan?” tanya Zidan sambil memayungi Zahra.
Zahra yang gemetaran karena kedinginan hanya sekilas melihat Zidan, ia ingin menjawab tetapi ia sudah tidak sanggup melawan hawa dingin tubuhnya. Ia memilih terus berjalan sambil menyilangkan tangannya didada.
“Jawab dulu pertanyaanku? Kenapa kamu jalan, terus basah kuyup seperti ini.” Zidan mencekal lengan Zahra.
“Aku ditinggal pak Arga, aku pulang naik bajaj. Mas Lio tahu kan, bajaj tidak boleh masuk perumaha sini.”
“Kenapa kamu tidak menghubungiku?”
Zahra menatap tajam pria yang ada di hadapannya itu, bisanya mulut manisnya itu dengan mudah meminta menghubunginya, dulu saja sudah sering kali ia menghubunginya. Namun, apa? Nomor ponselnya tidak aktif.
Zahra tak segan menampar adik majikannya itu, ia begitu kesal melihatnya.“ Lima tahun aku terus menghubungimu, Mas! Lima tahun! Mas angkat? Terus kenapa sekarang berlagak perhatian, hah, pikir.” Zahra kemudian berlari masuk ke dalam rumah Arga melalui pintu samping.
Zidan terdiam dan teringat nomor ponselnya yang dulu tidak ia gunakan setelah kembali dari KKN di kampung Zahra, karena memang sengaja agar Zahra tidak bisa menghubunginya.
“Astaqfirllah, Zahra!” Bi Iyah terkejut saat melihat Zahra basah kuyup dan kedinginan.
“Budhe dingin,” lirih Zahra, bi Iyah bergegas mengambil handuk untuk Zahra.
“Kamu kenapa bisa kehujanan begini?” tanya bi Iyah saat kembali dari dalam sambil membawa handuk.
“Ceritanya panjang Budhe, payungku ketinggalan dibajaj, jadi tadi masuk perumahan jalan kaki.” Zahra menyelimuti pundaknya dengan handuk.
“Ya sudah, sana mandi. Nanti Budhe buatkan teh hangat,” jawab bi Iyah.
Zahra berlari kecil melewati pembantu lainnya, mereka juga tanda tanya. Sementara itu tamu yang turut berbela sungkawa satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Mereka memaklumi Arga yang tidak menemui mereka, sudah pasti Arga sangat terpukul dan sangat kehilangan, bahkan Arga tidak menemui mamanya yang sedari tadi menunggu kepulangannya dari pemakaman.
Arga saat ini sedang berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya karena baju yang ia kenakan ada tanah yang menempel. Setelah itu ia mengganti bajunya. Arga duduk di ujung tempat tidur dan melihat sekeliling kamarnya, ia masih tidak percaya istri yang tadi pagi masih memeluknya, sore hari sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
“Anita,” lirihnya.
Arga tidak bisa menahan air matanya lagi, entah berapa kali ia menangis mengingat istrinya. Air matanya pun entah sudah berapa banyak mengalir di pipinya.
“Arga, Ini Mama, Nak! Tolong buka pintunya,” pinta ibunda Arga yang tiba-tiba mengetuk pintu kamar.
“Arga!” panggilnya lagi. Namun, Arga tidak bergeming dan mengabaikan ketukan pintu kamarnya.
Baginya mereka semua sudah terlambat jika harus bertanya tentang Anita. Ke mana mereka saat Anita masih hidup? Apa mereka mati? Tapi saat Anita tiada, mereka seperti bangkit dari kubur.
“Zid, bagaimana ini? Kakakmu tidak mau membuka pintu kamar,” tanya sang mama saat melihat Zidan keluar kamarnya.
Zidan menghela nafasnya lalu mendekati sang mama. “Biarkan dulu, Ma. Mama tahu, kan. Kak Arga seperti apa.”
“Huh! Kalian ini sama saja, masalah perempuan saja dramatis. Istri mati bisa cari lagi yang lebih muda, yang bisa kasih anak.”
Wanita yang sudah berusia enam puluhan tahun itu pun berlalu dari hadapan Zidan, ini lah kenapa Zidan masih melajang hingga sekarang dan memilih bermain-main dengan banyak perempuan walau sudah bertunangan.
Zidan kemudian memutuskan untuk turun ke bawah, ia juga ingin tahu keadaan Zahra. Sebelum ke dapur, Zidan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hujan pun semakin deras. Ia berjalan menuju dapur dan melihat Zahra mengenakan setelan baju tidur dan menggunakan jaket.
Zidan menghampiri Zahra yang sedang membuat mie instan. “Kamu sedang membuat apa?” tanya Zidan yang begitu dekat berdiri di samping Zahra, Zahra pun terkejut. Beruntung panci yang ia pegang tidak terlepas dari tangannya.
“Kebiasaan dari dulu suka ngagetin! Awas-awas aku mau makan.” Zahra kemudian menuangkan mienya ke mangkok.
Zahra membawa mienya kemeja makan khusus pembantu. Ia makan dengan santai tanpa menghiraukan Zidan yang terus mengikutinya, pembantu yang lain hanya melihat dari kejauhan, karena sudah tahu kelakuan Zidan yang suka mendekati dan menggoda pembantu rumah kakaknya. Tapi mereka juga tahu Zahra bukanlah wanita yang mudah di dekati.
“Zahra, ini obat sakit kepalanya,” ucap bi Iyah datang sambil membawakan obat sakit kepala untuk Zahra.
“Terima kasih, Budhe. Oh iya, pak Arga tadi sudah makan belum Budhe, waktu sampai rumah?” tanya Zahra.
Bi Iyah menggeleng, karena bi Iyah tidak tahu cara membujuk Arga jika sudah tidak mau makan, bahkan Anita dulu pun kebingungan membujuk Arga saat tidak mau makan karena kesibukan pekerjaannya.
“Ya sudah, nanti aku buatkan sesuatu untu pak Arga.” Zahra kemudian melanjutkan makan mienya, Zidan terus memperhatikan Zahra. Zahra yang dulu begitu polos dan malu-malu, kini sedikit berubah menjadi wanita tegas.
“Aku tidak akan terpana dengan tatapanmu lagi, Mas, ” ujar Zahra sedikit kesal pada Zidan yang terus memperhatikannya.
“Masa’?”
“Lebih baik aku mengurusi majikanku dari pada dekat-dekat denganmu!” Zahra kemudian menghabiskan mienya.
“Awas saja kalau kamu jatuh hati lagi padaku.”
“Eng...gak!” Zahra kemudian meninggalkan Zidan untuk mencuci mangkoknya.
Zidan tertawa kecil sambil terus melihat Zahra yang sedang mencuci mangkoknya. Setelah itu Zahra berinisiatif untuk membuatkan Arga roti panggang keju dan segelas jahe hangat.
“Kamu bikin apa?” tanya Zidan melihat Zahra membuka bungkus roti tawar dan mengeluarkan keju serta coklat.
“Roti untuk pak Arga,” jawab Zahra malas.
“Tidak akan dimakan, percuma.” Zidan mengambil satu lembar roti tawarnya.
“Tidak apa-apa, setidaknya aku berusaha biar majikanku makan.” Zahra mengoleskan margarin diatas roti tawanya.
“Aku mau dong,” pinta Zidan ingin dibuatkan roti bakar.
“Buat saja sendiri!” Zarah melirik kesal ke arah Zidan.
Zidan masih tertawa kecil dan sesekali menjaili Zahra dengan mengambil keju yang sudah di parut. Namun, Zahra menganggap Zidan tidak ada.
Zahra dengan cekatan membuat roti panggang keju seperti Anita ajarkan dulu. Setelah itu ia menuju lantai atas ke kamar Arga.
Zidan tersenyum memandangi Zahra keluar dari dapur, pria yang pernah memikat hati Zahra itu yakin suatu saat nanti Zahra akan jatuh cinta lagi padanya.