Di i********: @kkezzgw aku akan kasih liat tempat-tempat yang Lucas-Kiara kunjungin, makanan, dsbnya ya. Jadi ayo yg mau liat juga, follow i********: @kkezzgw.
---
"A great marriage is not when the 'perfect couple' comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy their differences."
-Dave Meurer
---------------------------------------
Pantulan seorang gadis dengan wedding dress berwarna putih s**u dari cermin besar seukuran tubuh di ruang makeup itu membuat siapapun yang melihatnya tidak sanggup untuk mengalihkan pandangan mereka, bahkan seseorang yang memiliki bayangan itu sendiri tidak percaya bahwa yang ada di depannya adalah dirinya sendiri.
Gaun putih panjang model corset ball gown yang terbuat dari bahan elastic satin dengan low cut pada bagian belakang membuat punggung putih mulusnya terpampang jelas sampai batas pinggul, rambut cokelatnya dibiarkan tergerai menutupi punggung serta sebagian bahunya dengan aksen gelombang dibagian ujung. Stiletto berwarna putih yang sudah dilapisi dengan batu safir membuat tingkat kecantikan Kiara meningkat drastis.
Kiara Roxanne nyaris tidak mengenali dirinya sendiri saat ini. Sekarang, ia lebih terlihat seperti putri di negeri dongeng dibanding seorang wanita yang akan menikah—well menurutnya secantik itulah dirinya saat ini.
"Seperti dugaanku, kau terlihat sangat cantik, Kiara."
Kiara sigap menoleh ke belakang begitu melihat pantulan Victoria dari pantulan cermin di depannya. Gadis itu hanya bisa tersenyum sopan sembari membenahi gaunnya gugup. "Anda juga sangat cantik dan menawan, Nyonya Halstein."
Victoria melempar senyum tipis seraya berjalan mendekati tubuh Kiara yang menjulang tinggi. "Aku harap kau bisa menjalani ini semua dengan baik, Kiara. Setidaknya kau harus melakukan segala cara agar calon istri Lucas tidak menderita."
Helaan nafas tipis menjadi satu – satunya hal yang bisa Kiara lakukan sekarang. Bisakah ia tidak diingatkan tentang tugasnya yang satu itu?
***
Kiara keluar dari ruangan dan matanya bertemu dengan Lucas yang sudah menunggunya.
Terlepas dari kecantikan sang mempelai wanita, tokoh utama pria dalam pernikahan ini juga terlihat sangat tampan dengan tuxedo putih yang membalut tubuhnya. Sekalipun momen ini merupakan salah satu momen terpenting dalam kehidupannya, Lucas tampak cuek dan dingin seperti biasanya, seakan hari ini berjalan seperti biasa dan tidak ada yang patut membuatnya menarik bibirnya keatas. Matanya menatap kosong kearah Kiara dan tak ada rasa bahagia sama sekali yang ia rasakan karena pernikahan ini. Bahkan ia tidak menyadari langkah kaki Kiara yang semakin mendekat dan kini tepat berada di depannya.
Lucas meraih jemari Kiara yang terasa kaku dan kecil dalam genggaman tangan besar Lucas. Keduanya saling melirik melalui ekor mata sebelum kaki mereka berjalan beriringan menuju Clark County Marriage Bureau, Las Vegas.
Mereka menikah secara legal dan instan di Las Vegas. Tidak perlu mengadakan pesta, hanya beberapa orang yang tahu tentang pernikahan ini atau alasan kenapa mereka menikah-lah yang diundang. Dimana lagi tempat yang paling tepat untuk rencana konyol ini selain Las Vegas?
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"Kami ingin mendaftarkan pernikahan kami, mereka saksinya." ujar Lucas singkat.
Petugas itu memerhatikan keluarga Halstein dan teman-teman Lucas serta Irene menatap mereka dari kejauhan. Petugas itu tampak ragu namun dari penampilan mereka, ia yakin mereka sudah mengadakan pesta entah dimana sehingga petugas itu hanya memberikan dokumen-dokumen yang harus diisi Lucas dan Kiara agar status mereka suami istri secara legal. Lalu mereka difoto bersama dengan pose yang terlalu kaku untuk sepasang pengantin.
Setelah itu, Lucas dan Kiara menunggu petugas itu memproses semuanya hingga akhirnya petugas itu bersuara. "Selamat, Mr. and Mrs. Hasltein, kalian sudah resmi secara hukum sebagai suami istri."
Lucas dan Kiara hanya mengangguk datar lalu mengambil dokumen yang diberikan petugas itu.
Tanpa disadari ketiganya, beberapa pasang mata memperhatikan kejadian itu dengan seksama dari tempat duduk mereka. "Lihatlah mereka, mana ada pasangan pengantin sekaku itu. Aku tidak peduli tentang pernikahan pertama atau kedua Lucas, yang jelas kita harus membantu Kiara mengenal Lucas."
Raphael mengiyakan ucapan Xavier. "Kita harus membantu gadis itu."
Raphael menepuk tangannya semangat. "Benar, sepertinya kita memang harus turun tangan sendiri. Tapi dengan cara apa? Any idea?"
Eric mengelus dagunya pelan, terlihat menyetujui usul ketiga sahabatnya sambil memikirkan cara untuk melakukan rencana itu. Detik berikutnya ia tersenyum tipis, "Aku tahu apa yang harus kita lakukan"
Mereka saling berpandangan dan menunjukkan ekspresi aneh yang membuat siapapun yang melihatnya curiga. Sepertinya mereka bertiga tahu apa yang akan Eric lakukan mengingat kerja otak sahabat mereka yang satu ini memang luar biasa hebat, akhirnya ketiganya pun tertawa lalu mengangguk setuju. Ide Eric Fitzherbert selalu menjadi yang terbaik diantara yang lain, dan mereka pun yakin kali ini fakta itu tetap berlaku.
**
Lucas dan Kiara berjalan tergesa – gesa masuk ke dalam kamar hotel mereka. Mereka sudah tidak sabar untuk mendudukan tubuh mereka dalam tempat tidur maupun sofa yang dapat merenggangkan tubuh mereka yang terasa kaku akibat acara pernikahan bodoh itu.
"Akhirnya pernikahan itu berakhir juga!" desah Lucas sembari membuka dasi serta jasnya dan mendudukan dirinya di tempat tidur.
Kiara pun merasakan hal yang sama. Ia sama sekali tidak mengharapkan adanya pernikahan ini, karena itulah dengan wajah ditekuk ia berjalan kearah meja rias yang ada di ujung ruangan dan mulai melepas sepatu serta beberapa perhiasan yang mempercantik wajahnya.
Keheningan menyelimuti atmosfer diantara mereka. Keduanya sibuk mengurusi urusannya masing – masing tanpa saling menoleh ataupun mempedulikan satu sama lain. Kiara bangkit berdiri dan berniat untuk menarik risleting ketat yang membuat dadanya sesak. Gadis itu menggulung rambutnya asal ke depan dan tangannya mulai mencari ujung risleting gaunnya. Gadis itu melakukannya dengan tenang tanpa menyadari kehadiran Lucas yang hanya bisa tercengang di tempat tak tahu harus melakukan apa.
Kiara yang merasa kulit punggungnya terbakar karena tatapan seseorang menoleh dan terkejut mendapati wajah Lucas yang menatap kearahnya tanpa berniat membuang muka. Gadis itu mengeram kesal, tangannya yang bebas meraih bantal sofa terdekat dan sepersekian detik setelahnya bantal itu melayang mulus kearah kepala Lucas.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Berhenti!" pekik Lucas tak terima dan melindungi diri dibawah tangannya yang terangkat untuk melindungi serangan bertubi – tubi yang dilakukan Kiara dengan brutal.
Nafas Kiara tersenggal – senggal setelahnya namun sorot kekesalan dan tuntutan begitu terlihat dari pupil matanya yang berkilat penuh dendam, "Apa hah apa? Apa yang aku lakukan? Tentu saja untuk memberi pelajaran pada mata menjijikanmu yang harus kutusuk, pria m***m!"
Lucas menatap Kiara garang. "Apa kau baru saja menyebutku pria m***m?" tanyanya dengan suara pelan namun sarat akan emosi.
"Kenapa? Kau tidak terima? Kalau begitu jangan menatapku seperti itu dan keluar sekarang karena aku ingin mengganti pakaian!"
Lucas tercengang di tempatnya, apa gadis ini baru saja mengusirnya?
Karena ia tidak mau dan malas berurusan dengan gadis aneh yang kebetulan sekali sekarang menjadi istrinya, pria itu menatap Kiara marah seraya bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar hotel. Kiara memperhatikan setiap pergerakan suaminya dengan mata menyipit, bunyi pintu yang tertutup membuat gadis itu mendesah lega dan kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
..
Sinar rembulan bersinar redup menyinari dinginnya malam akibat angin musim gugur yang masih berembus tipis diluar sana saat sepasang insan manusia tidak tahu harus melakukan apa di kamar yang sama setelah sebelumnya mereka diresmikan menjadi sepasang suami istri.
Setelah berusaha saling mengabaikan dan menganggap satu sama lain tidak ada hingga waktu mengingatkan mereka untuk beristirahat. Lucas dan Kiara saling memandang dingin di tempat masing – masing karena ternyata keduanya seakan memiliki kontak batin untuk melakukan hal yang sama dan nayris di waktu yang sama—memejamkan mata dan beristirahat di tempat tidur. Keduanya saling menatap sengit, pupil mata mereka bergerak panik kearah 'lawannya' lalu berganti kearah tempat tidur dan begitupun seterusnya.
Detik berikutnya, tanpa disangka keduanya berlari cepat kearah tempat tidur dan langsung melompat ke tempat tidur, membuat tubuh mereka saling bertabrakan dan suara mengaduh serta ringisan terdengar begitu pilu di kamar itu. Lucas dan Kiara masih menikmati rasa sakit itu sebelum keduanya saling menatap dengan tatapan kesal dan menuduh satu sama lain.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah aku ingin tidur!"
"Hah? Seharusnya itu kalimatku, Lucas Halstein. Aku ingin tidur sekarang dan kau pikir apa yang kau lakukan sekarang?"
"Kau bisa tidur di sofa,"
"Kalau begitu kau juga bisa tidur di sofa 'kan?"
Lucas mengepalkan tangannya kesal. "Kamar ini disewa atas namaku, jadi aku berhak memilih untuk tidur dimanapun yang kuinginkan."
Kiara mengangguk pelan namun pergerakan itu sarat akan sindirian, "Ah, jadi kau tipe pria yang seperti ini, tidak mau mengalah dan malah menyuruh wanita tidur di sofa? Gentleman sekali, Lucas."
"Aku ingin tidur dengan nyaman, Nona Roxanne."
"Aku juga! Jadi lebih baik kau tidur di sofa saja karena aku tidak mau tidur di ranjang yang sama dengan pria m***m sepertimu!"
Sebelum Lucas menjawab ataupun menyadari apa yang terjadi, pria itu terhempas ke ujung tempat tidur dan bahkan ia nyaris saja terjatuh jika ia tidak memegang tufted headboard berwarna putih itu dengan cekatan. Kilatan kepuasan terlihat di mata Kiara saat tendangannya berhasil, gadis itu segera mengambil posisi di tengah – tengah tempat tidur dengan mata terpejam, kaki maupun tangannya ia buka lebar - lebar seolah tidak mempedulikan teriakan Lucas ataupun tatapan mata pria itu yang berkilat marah.
Lucas yang tidak terima diperlakukan seperti itu segera mendekat dan tidur di samping kiri Kiara. Punggung kekarnya mendorong tubuh mungil Kiara dengan kekuatan besar, membuat gadis itu semakin lama semakin terintimidasi dan tergeser ke kanan hingga gadis itu merasakan apa yang Lucas alami sebelumnya—nyaris terjatuh dan mengandalkan kehadiran tufted headboard tempat tidur itu. Pekikan gadis itu membuat senyum penuh kemenangan terukir di wajah tampan Lucas, pria itu kembali melakukan apa yang dilakukan Kiara—tidur di tengah ranjang dengan kaki dan tangan yang terbuka lebar serta mata yang tertutup.
Kiara menggigit bibir bawahnya emosi. "Lucas Halstein, kupastikan hidupmu tidak akan tentram!"
Gadis itu meraih bantal terdekat yang bisa ia jangkau lalu melompat keatas tubuh Lucas, pria itu memekik kaget, suara teriakannya tenggelam dalam sapuan bantal – bantal yang diarahkan Kiara padanya. Lucas melawan, pria itu meraih pinggang mungil Kiara dan membalikan posisi mereka, kini pria itu yang menguasai keadaan. Lucas segera mengambil bantal yang ada di sisi kirinya dan melakukan hal yang sama dengan Kiara.
Kiara Roxanne terus meronta dalam kurungan tubuh Lucas sekalipun ukuran tubuhnya kalah besar. Kiara dan Lucas saling memukul dengan bantal yang ada di tangannya, selimut maupun sprei kasur berwarna putih itu sudah tak terbentuk akibat ulah keduanya.
Kiara tersenyum puas karena tendangannya berhasil melumpuhkan Lucas yang kini tergeletak di sampingnya namun aksi perang bantal itu tidak berhenti begitu saja. Kini keduanya mulai menggunakan alat gerak mereka yang lain seperti kaki.
Kaki keduanya saling menendang dan melilit satu sama lain, Kiara dengan gesitu melingkarkan salah satu kakinya di pinggang Lucas untuk mengunci pergerakan suaminya. Telapak tangan kirinya ia tangkupkan ke depan wajah Lucas, tangan kanannya bekerja untuk memukuli Lucas dengan gerakan teratur. Sedangkan Lucas berusaha keras untuk melepaskan kaki Kiara karena aksi istrinya membuatnya tidak bisa bergerak untuk melawan, pria itu juga berusaha mengumpulkan konsentrasi dan tenaganya yang terasa nyaris habis karena tingkah konyol keduanya.
Bintang – bintang bersinar redup saat kedua anak manusia yang sudah bersatu menjadi suami istri sedang menghabiskan waktu bersama dengan moment yang sangat berbeda dari pasangan pada umumnya. Lucas dan Kiara tidak mengingat apa yang seharusnya mereka lakukan di malam pertama mereka, yang ada dipikiran keduanya hanyalah bersaing untuk menguasai tempat tidur ini sendirian dan tidak ada niat berbagi.
Mereka juga melupakan fakta bahwa kehidupan mereka kini sudah terikat sempurna dan benang merah telah mengikat keduanya seumur hidup mereka, entah mereka sadari atau tidak.
TO BE CONTINUE