Di i********: @kkezzgw aku akan kasih liat tempat-tempat yang Lucas-Kiara kunjungin, makanan, dsbnya ya. Jadi ayo yg mau liat juga, follow i********: @kkezzgw.
---
"No one ever told me how sorrow traumatizes your heart, making you think it will never beat exactly the same way again. No one ever told me how grief feels like a wet sock in my mouth. One I'm forced to breathe through, thinking that with each breath I'll come up short and suffocate."
- Sarah Noffke
---------------------------------
Kata 'neraka' mungkin sangat cocok untuk mengambarkan suasana dalam tempat pembelajaran ini, hanya bedanya tidak ada api ataupun iblis dengan wajah menyeramkan yang dilengkapi dengan berbagai alat siksaan yang mengerikan. Namun neraka yang Kiara hadapi saat ini adalah penyiksaan terhadap kebiasaannya yang jauh dari semua yang diajarkan padanya dua minggu ini, serta para 'iblis' disini berdandan cantik dengan pakaian tradisional. Mereka menyiksa Kiara dengan buku setebal salju di kutub utara yang berisi tentang berbagai jenis tata krama dan bahkan sejarah-yang sudah dipelajarinya di bangku sekolah beberapa tahun yang lalu.
Tidak ada gadget Tidak ada kebebasan. Tidak ada waktu untuk sekedar bernafas.
Itulah yang dirasakan Kiara selama dirinya berada disini karena ulah calon suaminya yang ingin memulai mencuri start perang. Gadis itu disiksa dengan rasa kebosanan dan segala hal - hal tua yang harus ia pelajari demi kelulusannya dari tempat pengajaran sialan ini.
Seperti saat ini, dengan pasrahnya gadis itu menopang dagu sambil memperhatikan review yang diberikan instruktornya bersama empat gadis lainnya di sebuah ruang makan karena dua hari lagi sudah memasuki hari menjelang ujiannya, semua pelajaran yang sudah diajarkan kemarin akan di review selama dua hari dan para peserta mendapat test harian dari sana.
"Kiara, kau tidak boleh memegang sumpit seperti itu karena akan membuat sikumu tidak simetris. Fokus dan jangan terburu - buru!"
Dari lima gadis dalam kelompok Kiara, Kiara-lah yang paling sering mendapat teguran dari instruktornya mengingat hanya dia satu - satunya gadis yang bukan dari keluarga kaya. Maklum saja, gadis itu tak pernah diajarkan hal - hal tak perlu seperti ini, bahkan keluarganya memperebutkan makanan yang ada di meja setelah itu mereka akan tertawa bersama. Kiara membuang nafasnya kasar, mengingat memori itu membuatnya senang sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan.
Dengan pakaian tradisional yang membungkus kelimanya, lima gadis itu berdiri sejajar di sebuah lorong. Sang instruktor memperhatikan mereka dari depan sambil memperhatikan siapa yang melakukan kesalahan, "Mata harus lurus ke depan dengan tangan yang ditaruh di depan perut, tubuh harus tegap yang menunjukkan kepercayaan diri dan kaki harus berjalan segaris"
Kelimanya berjalan perlahan sesuai dengan apa yang diperintahkan dan mereka pelajari selama dua minggu disini, kelimanya sukses memancarkan aura masing - masing dengan senyum tipis yang terbentuk di bibir mereka, tak terkecuali Kiara. Well, mereka memang harus tersenyum seperti ini, mereka bilang sebuah senyuman atau guratan ekspresi di wajah seorang putrid menunjukkan emosi putri tersebut.
"Saat berbicara harus terlihat santun dan lembut, serta nada suara harus kita jaga agar tidak melebihi dua oktaf, perlihatkan wibawa kalian dalam setiap perkataan yang kalian ucapkan layaknya putri kerajaan."
Kiara jengah mendengar kalimat tersebut. Astaga, semua orang seakan di setting untuk mengatakan hal itu setiap harinya minimal empat kali sehari, bahkan Kiara bisa meniru dengan jelas intonasi sang instructor setiap mengatakannya.
Kini mereka mulai me-review pelajaran music tradisional di ruang band yang cukup modern. Kiara memutuskan untuk bermain ajaeng atau sejenis kecapi yang merupakan alat music tradisional Korea. Sedangkan keempat temannya yang lain ada yang bermain seruling, gitar, angklung yang berasal dari Indonesia, dan ada juga guzheng yang berasal dari China. Untuk bermusik, setiap kelompok akan diuji secara bersamaan dengan kelompoknya, karena itu Kiara paling tertarik dengan pelajaran bermusik, ia merasa tidak perlu berjuang sendirian di hadapan petinggi sekolah bodoh ini.
Dan setelah melewati siang hari dengan berbagai review yang membuat otaknya pening, Kiara semakin tak berdaya ketika review untuk sejarah negara Tiongkok mengenai Dinasti Tang diadakan malam ini. Ya Tuhan, bahkan ia hanya bisa memejamkan matanya tak lebih dari 30 menit karena mereka diperlakukan bak permasuri kerajaan yang memang tidak mengenal kata istirahat saat bertugas memimpin negara.
"Beberapa hal yang penting dari pelajaran tentang dinasti adalah dinasti Tang. Dinasti T'ang, adalah salah satu dinasti Tiongkok yang menggantikan Dinasti Sui dan mendahului periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan. Dinasti ini didirikan oleh keluarga Li, yang mengambil alih kekuasaan pada masa kemunduran dan keruntuhan Sui. Keberlangsungan dinasti ini sempat terganggu saat Maharani Wu Zetian mengambil alih tahta dan memproklamirkan berdirinya dinasti Zhou Kedua, dan menjadi satu-satunya kaisar perempuan dalam sejarah Tiongkok--"
Kiara tak sanggup lagi mendengarkan dongeng menyebalkan ini, ia menganggap suara dosen yang mengaung memenuhi ruangan kedap suara itu hanyalah erangan dari radio rusak. Ia benar - benar lelah setelah selama dua minggu kegiatan seperti ini tak henti - hentinya menerjang dirinya. Dengan mata terpejam dan tangannya memangku dagunya, ia pun terlelap dengan damainya.
"Setelah ini kita akan mengadakan test harian untuk persiapan ujian, bersiaplah. Saya akan memberikan waktu kepada kalian semua selama lima menit"
APA?!?!
Mata Kiara langsung terbuka sempurna mendengarnya. Tidak....mengapa penyiksaan ini belum berhenti juga? Ia tidak mau belajar untuk test itu, namun jika ia gagal ia akan mengulang selama dua minggu lagi, dan ia tidak mau sama sekali. Kini ia menggunakan seluruh kemampuan menghafalnya dan mulai menerka maksud dari semua tulisan dalam modulnya ini.
"Lucas Halstein...aku bersumpah akan membalasmu nanti!" umpatnya dalam hati sambil sesekali mengutuk semua tulisan yang harus ia hafalkan.
.
.
"Apa kau ingat drama Korea 'Boys Before Flowers' yang kita tonton saat kita masih SMP?"
Kiara mengangguk sambil memakan hidangan yang ada di pesawat. "Ingat, kenapa?"
"Kau lihat sekarang," Irene menunjuk Lucas dan sahabat-sahabatnya dengan dagunya. "Kita sedang di pesawat pribadi, dikeliling pria-pria tampan dan dibawa ke destinasi impian banyak orang. Bukan 'kah kita seperti Geum Jan Di dan Chu Ga Eul?" ujar Irene dramatis.
Kiara memutar bola matanya kearah sahabatnya. "Kau terlalu banyak nonton drama Korea, Irene Kato. Sadar."
"Aku serius!" debat Irene tak terima, "Kau Geum Jan Di, calon suamimu itu Gu Jun Pyo, dan aku Chu Ga Eul. Wah, apakah aku akan berpacaran dengan salah satu anggota F4 disana?"
Kiara menggelengkan kepalanya membiarkan temannya berkhayal tinggi sementara jantungnya berdebar cepat karena mereka sekarang sudah ada dalam perjalanan menuju Las Vegas.
Detik dia keluar dari neraka itu, Tatiana menjemputnya dan mengatakan bahwa mereka harus ke Las Vegas untuk pernikahan legalnya dengan Lucas. Kiara tidak tahu harus berkata apa dan akhirnya terpaksa mengikuti perintah itu dan menelepon Irene secepat kilat.
**
Meskipun ia terlihat tidak peduli dan terkesan pasrah dengan pernikahan ini, namun jauh di dalam lubuk hatinya Lucas Halstein merasakan desiran gugup maupun cemas di relung hatinya yang terdalam. Sekalipun ia bersikap seolah - olah kemanusiawiannya sudah membeku, namun sebenarnya sisi manusiawi dalam dirinya masih bekerja untuk hari penting dalam hidupnya.
Pernikahan.
Acara sakral yang seharusnya dilalui keturunan adam dan hawa yang saling mencintai dan sepakat untuk menjalin cinta mereka dalam sebuah ikatan suci di hadapan Tuhan secara resmi. Bagaimanapun, Lucas sedikit tergelitik dengan fakta bahwa ia akan melakukan itu bersama seorang wanita demi sebuah perjanjian.
Pria itu mendesah frustasi, selalu seperti ini jika membahas tentang sosok wanita. Bayangan rupa maupun senyum yang terus menghantuinya selalu membuatnya tak pernah bisa memandang masa depan dengan cerah. Hidupnya terasa hampa karena ia sadar bahwa kebahagiaannya sudah pergi direnggut oleh takdir yang memisahkan alam mereka.
Lucas memperhatikan Kiara di ujung sana yang juga tampak memikirkan banyak hal sama sepertinya. Pria itu menghembuskan nafasnya berat.
Baiklah, mari lakukan ini.
Setidaknya jika ia menjalani kedua pernikahan ini dengan baik, satu-satunya alasannya hidup saat ini—jabatan CEO dan perusahaan itu—akan menjadi miliknya selamanya.
TO BE CONTINUE