Di i********: @kkezzgw aku akan kasih liat tempat-tempat yang Lucas-Kiara kunjungin, makanan, dsbnya ya. Jadi ayo yg mau liat juga, follow i********: @kkezzgw.
---
Lucas masuk ke ruangannya dengan langkah berat dan mendapati Xavier dengan santainya duduk di kursi kebesarannya sambil menyeruput secangkir kopi. Lucas mendengus lalu menghampiri Xavier, "Pergi kau dari kursiku!" usir Lucas dingin.
Xavier tertawa riang lalu menjalankan perintah Lucas dan serta merta merangkul bahu kekar sahabatnya, "Jangan terlalu sering emosi, bung! Kau terlihat semakin menua jika kau terus menekuk wajah tampanmu ini. By the way, presentasimu keren" puji Xavier.
Lucas hanya mengangkat bahu tak peduli lalu mengeluarkan dokumen - dokumen yang diperlukan mereka, "Tolong serahkan dokumen - dokumen ini pada ayahmu untuk design pembangunan gedung di Seattle yang baru. "
"Kami akan melakukan yang terbaik untukmu, seperti biasa."
Xavier tertawa begitu melihat Lucas menyipitkan matanya geram. Xavier mendudukan tubuhnya pada sofa panjang di ruangan Lucas dengan santai, "Jadi bagaimana, apa istri palsumu sudah lebih cantik?"
"Aku tidak tahu. Lagi pula, dia lebih pantas disebut upik abu dibanding calon istri orang hebat seperti Lucas Halstein" ucapnya acuh.
Xavier terkekeh, "Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk berhati - hati. Upik abu 'kan memang akhirnya menikah dengan pangeran tampan,"
"Kau ini bicara apa?"
"Kau juga tahu ada pepatah mengatakan 'Benci menjadi Cinta', kan?"
Lucas memutar bola matanya malas mendengar ucapan berlebihan dan tidak penting yang kerap kali dilontarkan mulut besar Xavier. "Pernikahan ini hanya kontrak yang saling menguntungkan. Lagipula aku harus menikah dengan wanita pilihan Thomas agar aku bisa mempertahankan posisi ini."
"Aku bisa merasakan aura mencekam di balik nama 'Kiara. Kurasa gadis itu bukanlah gadis feminim atau gadis yang takut akan aturan-aturan dunia tentang seorang-wanita-ideal. Aku benarkan?"
Tingkah laku Kiara bisa dibilang cukup berani untuk melawannya, terlebih setelah kejadian di meja makan beberapa hari yang lalu membuat perasaan itu semakin kuat mendominasi. Namun sebersit ide cemerlang muncul dalam otak Lucas
Lucas menyeringai licik sambil menatap Xavier, "Bagaimana jika aku mengubahnya menjadi wanita feminim dan sopan? Terima kasih, Xavier Rodriguez, kau baru saja membangunkan singa yang tertidur"
"Maksudmu?"
Lucas hanya tertawa licik sebelum meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Xavier menggeleng pasrah.
Oh tidak, jika Lucas Halstein sudah bekerja, dia bisa saja memerintahkan bulan untuk bersinar di siang hari dan matahari di malam hari.
**
Bunyi bel yang berdering pelan mengalihkan perhatian Kiara dan Irene kearah pelanggan mereka yang baru datang. Sedetik kemudian, mereka terbelalak kaget begitu melihat beberapa pria berjas hitam dengan walkie talkie earpiece menempel di telinga kanan mereka serta beberapa pelayan wanita dengan pakaian tradisional ala kerajaan menghampiri kasir dengan tatapan kaku namun ramah. Kiara dan Irene tercengang ketika mereka semua serempak membungkuk hormat kearah Kiara. Aksi itu jelas memicu rasa ingin tahu dan bingung dari para pelanggan yang ada di café itu saat ini.
"Selamat siang, apa anda nona Kiara Roxanne?"
Kiara mengangguk linglung lalu ikut membungkuk sopan, "Ah ya...kalian siapa ya?"
Para pelayan itu tersenyum sopan sedangkan bodyguard yang ada di belakang mereka menatap lurus ke depan seakan tak tergoyahkan, "Kami diperintahkan oleh Mr. Lucas Halstein untuk mengantarkan anda saat ini"
"Lucas Halstein? Dia menyuruh kalian mengantarku kemana?" tanya Kiara penuh kecurigaan, entah mengapa perasaannya mengatakan hal buruk akan segera terjadi padanya.
***
Kiara memekik tertahan begitu melihat tepatnya dimana kakinya berpijak sekarang. Rasanya ia ingin menghilang sekarang juga dari tempat ini atau terbang karena harus memasuki tempat ini, tempat yang bahkan tidak pernah ada dalam mimpinya atau ia harapkan seumur hidupnya.
Sebuah bangunan megah berwarna merah dengan papan nama 'Sekolah Keputrian dan Kepribadian Theresia K ' terpampang jelas di depan mata Kiara Roxanne, gadis itu bisa merasakan seluruh otot tubuhnya lemas seketika dan kepalanya pening begitu ia menyadari calon suaminya benar - benar akan menyiksanya dengan cara seperti ini.
Tempat dimana semua wanita akan diajarkan bagaimana cara bersikap, berbicara, bertata krama, bahkan cara tersenyum dan cara berjalan pun diajarkan. Kiara terheran - heran mengapa mereka tidak mengajarkan bagaimana cara bernafas ala bangsawan.
Dan bagi Kiara Roxanne, ini benar - benar penyiksaan jiwa raganya. Seumur hidup, ia tidak pernah tertarik apalagi berhubungan dengan hal - hal sejenis ini, baginya hal tabu itu sudah biasa ia lakukan dan kesopanan baginya hanya berlaku untuk kalangan tertentu. Namun di tempat ini, semua wanita harus terlihat santun, anggun, dan berkelas.
Tiba - tiba pintu sekolah terbuka dan keluarlah seorang wanita dengan wajah tegas menghampirinya dan membungkuk penuh hormat. Kiara reflek membalas sapaan itu dengan kikuk.
"Selamat datang, nona Kiara Roxanne. Suatu kehormatan bagi kami semua untuk bertemu anda,"
"A-aku...mengapa aku bisa berada disini?"
Kepala dayang itu tersenyum sopan, "Tuan Lucas Halstein mempercayakan kami untuk mendidik dan melatih anda."
"Lucas Halstein....aku benar-benar akan membunuhmu!" pekik Kiara sambil memejamkan matanya pasrah begitu para dayang yang menjemputnya tadi menggiringnya masuk ke dalam.
"Berapa lama aku akan berada disini?"
"Tuan Lucas Halstein meminta paket belajar special yang terbaik dan terketat. Anda bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu satu minggu, exclude test dan hasil test resmi yang menyatakan anda lulus atau harus mengulang lagi, tepatnya 10 hari kami akan melatih anda, nona."
Kiara menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Welcome to living hell, Kiara Roxanne.
**
Jam menunjukkan pukul 12 malam begitu Lucas melangkahkan kakinya memasuki rumah besar keluarga Halstein dengan keadaan setengah mabuk. Kemeja putihnya terlihat lusuh dan tetesan alcohol terlihat di bagian tertentu kemejanya, dan yang terburuk adalah bekas lipstick merah yang menempel di kerah kemejanya membuat Victoria tertegun mendapati kondisi Lucas saat ini, ia merasa bersalah namun tidak tahu harus berbuat apa mengingat putra tirinya ini begitu membenci seisi keluarganya, terutama dirinya.
Pria itu masih bisa menajamkan konsentrasinya dengan baik untuk mencapai kamarnya di lantai dua, ia pun menyadari keberadaan Victoria yang menunggu kedatangannya dari ujung tangga. Lucas mendengus kesal dan memutar haluannya menuju tangga di sisi kiri, Victoria tidak menyerah dan ia berjalan dari ujung tangga kanan ke ujung tangga kiri dengan cepat.
Lucas menatap Victoria jengkel saat wanita itu berhasil sampai disini beberapa detik sebelum ia mencapai anak tangga terakhir, "Apa?!"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu"
Lucas berdecak sinis, "Kita bisa melakukannya besok. Aku mengantuk, lupakan ini semua."
"Sebentar lagi kau akan menikah, Lucas Halstein. Jaga sikapmu dan hentikan aksi pulang malammu mulai sekarang"
Lucas menyeringai bengis mendengar ibu tiri yang sudah menghancurkan kebahagiaannya terdengar begitu perhatian padanya, tanpa menjawab sedikitpun Lucas melenggang pergi tak peduli dengan ibu tirinya yang menatapnya nanar punggung tegap Lucas yang menjauhinya.
"Bisakah kau menghargaiku? Bagimanapun, suka tidak suka, sekarang aku adalah ibumu, Lucas Halstein"
Langkah gontai Lucas Halstein terhenti begitu Victoria mulai membahas ibu kandungnya yang sudah berhasil wanita itu tendang dari rumah ini. Tangannya mengepal sempurna seiring dengan wajahnya yang memerah karena emosi dan didukung oleh asupan alcohol yang beberapa jam lalu ia tenggak bersama wanita malamnya. Ia memutar tubuhnya hingga mata elangnya menatap tajam kearah Victoria yang kini memancarkan tatapan menyala - nyala.
"Mungkin kau memang istri ayahku saat ini, namun tidak akan ada yang bisa menggantikan Michelia Hanna sebagai ibu dalam hidupku, termasuk anda Nyonya Victoria Halstein. Mungkin kau sudah puas bisa merebut Thomas Halstein kembali padamu, tapi sampai kapanpun...kau tidak akan pernah menjadi ibuku!"
Victoria hanya menghela nafas mendengar itu semua, ia menatap Lucas dengan tatapan terluka, "Aku tahu suatu kesalahan besar membiarkan ayahmu melakukan itu pada ibumu, tapi dia tidak sengaja melakukan itu. Kau...hanya tidak tahu kenyataan apa yang kami semua hadapi!"
Lucas menyeringai sinis mendengar suara lemah Victoria mengaum di telinganya, "Maksudmu kenyataan yang tidak disengaja adalah kalian berselingkuh disaat Mama mengandungku, begitu? Kau memanfaatkan situasi, bukan?"
Victoria terbelalak kaget saat Lucas mengatakan hal itu, "Jaga bicaramu, Lucas!"
"Aku yang seharusnya mengatakan kalimat itu! Jangan bertingkah seperti kau tidak tahu hal menimpaku dan ibuku!"
Lucas berjalan perlahan menghampiri Victoria dengan ekspresi dingin, "Mendengar betapa menderitanya ibuku saja sudah membuatku muak dengan kalian semua! Aku tidak akan jatuh cinta lagi karena saat mengingat perasaan cinta, aku akan teringat pada cinta ibuku dan kisah cinta menjijikan antara kau dan ayahku!"
TO BE CONTINUE
Kalian inget gak sih Barbie yg Princess and the Pauper? Itu kan ada si Erika semacam dilatih jadi supaya princess gitu ya? Aku sepertinya terinspirasi dari itu untuk buat chapter ini hehe
Dan tambahan! Sepertinya ini juga aku scr gk sadar ada ide bikin chapter ini karena lagi-lagi Princess Hours episode 3, dimana sebelum Chae Kyung menikah sama Shin (Putra Mahkota), dia dilatih dulu tata krama dll WKWKWKW