FOLLOW IG AUTHOR @kkezzgw untuk tahu muka Lucas-Kiara, tempat, makanan, baju yang dipakai Lucas Kiara.
--------
"I do not gather things, I prefer to rent them rather than to possess them."
-Jerzy Kosinski
----------------
AUTHOR POV
Angin musim gugur berhembus menerpa wajah tampannya yang tak kalah dingin dengan dirinya. Malam itu bintang terlihat bersinar begitu gemerlap ketika Lucas berdiam diri di taman rumahnya selama beberapa menit untuk menenangkan diri. Pertemuan dengan keluarga ayahnya selalu membawa efek buruk baginya, tidak pernah ada kebahagiaan atau kedamaian di dalam hatinya ketika melihat sang ayah bisa bebas tersenyum sedangkan ia tertpuruk sendirian dalam memori kelam yang tak pernah bisa ia lupakan.
Inilah yang biasa ia lakukan setiap hari jika mempunyai waktu, selama ini ia seperti robot yang gila bekerja, berangkat subuh dan pulang dini hari, itulah kebiasaan yang mulai ia terapkan sejak dua orang yang ia cintai meninggalkannya begitu saja.
Lucas menggenggam besi kursi dengan kencang, kepalanya mendadak panas dan pikirannya sudah benar - benar kacau, sama seperti setiap ia mengingat ibunya dan melihat ayahnya. Tanpa pikir panjang, ia berlari kearah mobilnya untuk menuju tempat pelampiasan emosi kaumnya, yaitu alkohol dan wanita.
**
Kiara mematung di sebuah ruang ganti sambil memandangi gaun biru sepaha yang menjadi kostumnya untuk bekerja mulai hari ini. Ya, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran Alexa untuk bekerja di club malam mewah ini demi menyambung hidupnya. Ia hanya berharap keputusannya untuk bekerja disini adalah yang keputusan terbaik.
Dengan cepat ia segera berjalan ke meja rias dan mulai merapikan make up-nya yang sempat luntur terbasuh oleh air bening yang keluar dari matanya.
Suara pintu yang di ketuk pelan memecahkan keheningan ruangan itu, tak lama munculah gadis berambut hitam legam yang sebelumnya mengantarnya kesini.
"Perlu bantuanku?" tanyanya ramah.
Kiara tersenyum mengiyakan. Gadis cantik itu melenggang masuk ke dalam dengan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Kiara. "Kau pasti habis menangis. Tak perlu terlalu dipikirkan, bekerja disini bukanlah sebuah aib yang berarti.." ujarnya santai.
Kiara memperhatikan gesture tubuh maupun wajah gadis cantik yang sekarang sedang mendandaninya, wajahnya terlalu polos untuk bekerja di sebuah club malam seperti ini, belum lagi matanya yang besar seakan semakin menunjukkan betapa lugu dan manisnya gadis ini. "Oh iya kita belum sempat berkenalan tadi. Olivia," katanya mengulurkan tangan bersemangat, "...dan kau?"
Kiara tersenyum. "Kiara, Kiara Roxanne."
Ia mendesah senang. "Ah ya, Kiara! Hari ini kau bertugas di ruangan nomor delapan. Aku akan mengantarmu kesana karena kebetulan sekali aku bertugas di ruangan VIP nomor sembilan."
Baru beberapa menit bertemu, Olivia sudah membuat Kiara nyaman berdekatan dengannya. Sepertinya mereka akan berteman baik setelah ini. "Done! Lihatlah kau sangat cantik walaupun hanya diberi polesan tipis" puji Olivia tulus.
Kiara memperhatikan dirinya yang tampak jauh berbeda dari biasanya, ia terlihat begitu cantik dan elegan dalam waktu bersamaan. "Apa ini benar - benar sosok Kiara Roxanne?" tanyanya dalam hati sambil menatap intens pantulan dirinya di kaca.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan tempat mereka bekerja. Selama perjalanan dari ruang ganti menuju ruangan VIP yang dimaksud, mereka mengobrol bebas tanpa rasa canggung sedikitpun. Tak dapat mengelak jika banyak pria yang melihat mereka dengan baju minim serta aura kecantikan yang begitu terpancar jelas memancing birahi mereka. Namun mereka kembali di sibukkan pada pasangan yang mereka bawa 'dari rumah' untuk bersenang - senang di tempat ini.
"Jadi kita hanya melayani tamu dengan menuangkan minuman ataupun mengajaknya berbincang jika ia butuh teman?" tanya Kiara sedikit tak percaya namun mendesah lega. Alexa benar, pekerjaannya disini tidak untuk memuaskan pelanggan dengan makna lain.
"Begitulah, disini status kita hanya...hmm pelayan biasa. Untuk hal - hal berbau 'melayani' yang lain, mereka bisa langsung naik ke hotel diatas melalui lift khusus. Tenang saja, club malam ini terhitung cukup sopan. Terlebih kalangan tamu VIP, mereka cukup tahu aturan mengingat mereka rata - rata adalah para pengusaha atau tamu penting. Seperti yang kubilang, mereka akan langsung memesan 'honeys' jika hasratnya sudah tak terbendung"
"Lalu apalagi yang harus kuperhatikan?"
"Kau harus terlihat ramah dan selalu tersenyum, jangan dengarkan apapun perkataan mereka yang menyinggung. Anggap saja meraka sudah mabuk-well mereka memang mabuk, dan jangan sampai membuat tamu marah karena kita pasti akan mendapat hukuman dari boss."
Kiara mengangguk mengerti lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. "By the way, bela diri apa yang kau kuasai?"
"Aku pemegang sabuk hitam taekwondo dan sempat mempelajari kungfu sedikit, kau?"
Olivia tersenyum. "Kita sama! Well, sebenarnya aku juga masih mempelajari judo."
Tak terasa mereka pun sampai di depan sebuah ruangan yang ditutupi dengan tirai berwarna - warni yang terlihat sangat mengundang. "Ini ruangannya. Jika mereka macam - macam, keluarkan kemampuan bela dirimu, fighting!" kata Olivia mengepalkan tangannya kearah Kiara untuk menyemangati teman barunya itu.
Kiara tersenyum tipis lalu kembali focus pada tirai di depannya. Ia menarik nafasnya dalam sebelu menyemangati diri sendiri. "Siapapun yang ada di dalam tidak akan berani macam - macam denganku. Ya, mind control...mind control..." gumam Kiara menyemangati dirinya sendiri.
Perlahan, ia menyibakkan tirai itu dan langsung disuguhkan dengan ruangan kelas atas dengan jejeran sofa melingkar berwarna maroon memenuhi ruangan. Di depan sofa terpampang TV 60 inch, kaca yang berada tepat di belakang TV itu adalah sebuah kaca besar yang menghiasi tembok belakang ruangan dengan pemandangan air yang dihias dengan berbagai lampu yang memantulkan warna neon secara bergantian. Coffee table panjang diletakkan di tengah ruangan bersama dengan botol - botol alcohol bertebaran bebas dan bau - bau aneh tercium di ruangan itu.
Gadis itu langsung memalingkan wajahnya malu melihat tiga pasang pria dan wanita sibuk b******u sedangkan pria lainnya tampak acuh dan hanya meminum vodka-nya secara teratur. Begitu pandangannya bertemu dengan Kiara, pria itu mengibaskan tangan kearahnya. "Kau pelayan kami hari ini 'kan?"
Kiara mengangguk kaku lalu membungkuk. "Yes sir, what can I do for you?"
Pria itu melirik teman - temannya dengan kesal lalu menendang salah satu dari mereka. Kiara ingin tertawa namun beruntungnya ia dapat menjaga sikap.
"What the hell, man?" gerutu pria itu dengan suara serak, pekat akan gairah.
"Pelayannya sudah datang, apa kau ingin menambah sesuatu?" tanyanya, terdengar sangat formal.
"Aish, pesan apapun! Lagi pula ini club malam-ku, Eric!" balasnya dengan kesal sebelum kembali mencumbui wanita bayaran di pangkuannya. Kiara mengernyit jijik melihat pemandangan seperti ini.
Pria itu-yang sepertinya bernama Eric-mendengus pasrah sebelum menatap Kiara dengan bosan. "Kalau begitu ambilkan kami Chateau Latour 1961 dan Dom Perignon. Bilang pada bartender-nya ini atas permintaan Raphael Ford."
Kiara mengangguk mengerti. "Ada lagi, sir?"
"Tidak ada, kau bisa pergi sekarang."
Tak berniat menunda lebih lama lagi, Kiara keluar dari ruangan panas itu dengan wajah merah padam. Ia benar - benar tidak tahan mendengar suara desahan dan erangan tertahan memenuhi ruangan itu, ia heran bagaimana pria bernama Eric tadi bisa bertahan tanpa merasa terganggu. Atau mungkin ia sudah terbiasa?
Lalu apa urusannya denganmu? Batin Kiara menyuarakan pendapatnya. Benar, ini tidak ada urusan dengannya, disini ia hanya bekerja sebagai pelayan mereka. Untuk urusan lain sepertinya ia harus membiasakan diri untuk menutup mata dan menyumpal telinga.
Hingar bingar club malam ini selalu menjadi destinasi para muda-mudi yang ingin menghilangkan penat kembali menyapa Kiara. Alunan lagu yang dimainkan oleh DJ, para pria buaya yang lupa keluarga dirumah, kaki - kaki jenjang yang sibuk menari di lantai dansa, serta bau alkohol yang bercampur dengan asap rokok menjadi pemandangan yang sudah lumrah untuk dinikmati di tempat ini.
Kiara mengernyit jengah, ia tidak pernah suka keramaian dan tempat menyesakkan seperti ini. Ia lebih suka membaca novel di kamarnya yang tenang dan damai sambil mendengarkan lagu klasik yang membangun suasana cerita. Kiara sangat ingin angkat kaki dari tempat nista ini, kebutuhan ekonomi-lah yang membuatnya terpaksa menyeret kakinya masuk kesini.
Kiara menghentikan langkahnya begitu melihat cermin besar di lorong itu. Gadis itu mengerjap panik ketika melihat eye shadow dan blush on yang mempercantik wajahnya terlihat sangat tebal. "Aish...tebal sekali....jangan sampai aku disangka wanita bayaran,"
Kiara melupakan sejenak tugasnya dan memilih membersihkan make up-nya. Sayup - sayup ia mendengar perdebatan panas sepasang pria dan wanita di belakangnya.
"Kau bilang apa? Putus?! Apa kau gila?!"
"Well, jika kau berharap kata 'putus' cocok untuk hubungan kita selama ini, aku hanya mengiyakan saja."
"You just want to play with me, right? You take me for fun!"
"Aku heran mengapa kau masih perlu bertanya,"
"Kenapa?! Kenapa kau tiba - tiba membuangku? Apa kemampuanku di ranjang menurun?!"
Kiara mendengus jijik mendengarnya. Master and his mistress, memalukan.
"Aku hanya sudah kehilangan selera denganmu. Kau terus mengoperasi payudaramu hingga membengkak seperti p****t babi."
"Kurang ajar! Kau juga menikmatinya, you brute!"
"Dan sekarang aku sudah muak dengan payudaramu apalagi denganmu. Pergi dari hadapanku sekarang juga!"
Setelah selesai merapikan make up-nya, Kiara pun kembali berjalan kearah tangga dimana bartender berada. Too bad...ia terpaksa harus melewati dua orang ini untuk mempersingkat jarak.
"Apa kau mendapat mistress baru sampai kau menendangku seperti ini?!"
"Kau tidak perlu tahu apapun tentangku."
"Mungkin saja kemampuan ranjang mistress barumu tidak sebanding dengan kemampuanku memuaskan your damn manhood! Tunjukkan padaku seperti apa wanita sialan itu!"
"Shut the f**k up, woman!"
Astaga, wanita ini benar - benar menghancurkan martabat kaum hawa. Mendengarnya begitu menikmati menjadi seorang wanita simpanan para billionaire membuat Kiara muak, dan tanpa sadar ia terus mengamati keduanya.
Kiara tersentak setelah mengenali siapa sosok lelaki itu. Ia tak mungkin salah, ini pria yang ia temui kemarin, pria jelmaan dewa Zeus itu! Matanya mengerjap tak percaya, pria yang tingkat kedinginan serta keangkuhannya melebihi Gunung Everest itu terlihat jauh lebih tampan dan menggairahkan sekarang. Kiara termangu takjub melihat bukti lain keindahan ciptaan Tuhan di muka bumi.
Kiara mengerjap kaget ketika pria itu balas menatapnya. Ia ingin mengalihkan pandangannya namun mata biru sapphire itu seolah menghipnotisnya, membuat Kiara seolah menyelami birunya lautan indah dan tenggelam di dalamnya. Ia bahkan tidak sadar pria itu berjalan menghampirinya dan sekarang berada tepat di depannya.
"Babe, what took you so long? I've been waiting for you,"
Gadis itu mengernyit heran. Bicara dengan siapa pria ini? Kiara menoleh ke belakang namun tidak mendapati siapapun. Dalam kondisi lengah ia kembali menatap ke depan dan terkejut begitu pria ini menarik tengkuk dan pinggangnya mendekat, menatap lurus ke matanya sebelum melakukan hal yang sangat tak ia duga.
He kissed me?!
Tubuh Kiara kaku dan matanya membulat sempurna, dunia disekitarnya seolah berpendar karena yang ia rasakan hanya genggaman tangan pria itu pada pinggangnya dan gerakan sensual di mulutnya yang ia rasakan saat ini. Keduanya saling bertatapan tajam di tengah pergumulan bibir mereka. Ciuman mereka langsung terlepas ketika tangan wanita di belakang pria itu menarik bahunya, menyisakan Kiara yang tercengang luar biasa di tempatnya.
"Bastard!"
PLAK!
Suara tamparan itu langsung membuat orang - orang memperhatikan mereka bertiga. Pria itu berdecak sinis sebelum menatap mantan mistress-nya jengah. "Hey, apa kau tuli? Jadi aku harus mengejanya sekarang? Aku muak denganmu, pig's butthole!"
"Asshole!" maki wanita itu jengkel sebelum pergi meninggalkan mereka.
Pria itu hanya menyeringai dingin lalu menatap kembali memusatkan perhatiannya apda Kiara yang masih tercengang. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mengibaskan tangannya di depan mata Kiara. "Hey nona! Nona? Nona?! Hey! Ck, sepertinya ia benar - benar kehilangan jiwanya,"
Jiwa Kiara mulai terkumpul kembali, matanya langsung menatap lurus kearah mata biru itu. Dengan lancang, sang pria mengeluarkan selembar cek dari dompetnya, lalu menyelipkannya di telapak tangan Kiara dengan santai. "Thank you."
Bola mata Kiara menggelap menahan amarah. "Apa maksudnya ini?"
"Itu bayaranmu untuk ciuman sewaan tadi," jawabnya santai sambil melirik jam tangan Rolex-nya, "sepertinya aku harus pergi sekarang. Bye!"
Pria itu berbalik dan melambai malas kearah Kiara. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, Kiara yang sudah meledak amarahnya langsung menyusulnya dengan langkah secepat kilat, meraih tangan pria itu, dan dalam sekejap mata tubuh pria itu sudah ia banting ke lantai kaca. Pria itu langsung meringis kesakitan namun hal itu justru membuat Kiara tersenyum senang.
"Sakit tuan!? Ah...kau punya kulit setebal tembok, jadi seharusnya itu tidak sakit," ucap Kiara penuh sarkasme.
Gadis itu meremas cek di tangannya lalu melempar kearah muka pria itu dengan dagu terangkat tinggi. "Sebaiknya kau gunakan ini untuk biaya berobatmu."
Mata birunya menatap Kiara tak percaya seolah - olah ia baru saja melihat hantu. "Apa kau sadar apa yang kau lakukan tadi?"
Tangan Kiara terkepal di samping tubuhnya. "Wanita yang anda anggap dapat di bungkam dengan cek sialan ini sadar sesadar - sadarnya!" jawabnya marah.
"You really have no idea who I am."
"A jerk who don't have brain enough to handle his goddamn manhood! How close am I, Sir?" tandasnya berapi - api sebelum mengangkat kaki menjauhi pria itu bak wabah penyakit.
Lautan biru itu seolah membeku ketika tatapannya menatap dingin kearah gadis itu. Tangannya mengepal sempurna ketika ekor matanya mendapati banyak mata memperhatikan dirinya sejak tadi. Jika sebelumnya ia tidak shock dengan kemampuan gadis itu, mungkin saat ini nasib gadis itu akan berakhir di ranjangnya detik ini juga. Ia mengusap bibirnya seraya tersenyum sinis. "Bibir yang menarik,"
"Lucas!"
Pria itu menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh suara familiar dari belakang. Ia hanya mengangkat sebelah alis menatap sahabatnya itu. "Ada apa, Xavier?"
"Aku melihat Madeline bersama seorang anak Menteri disana, apa kau sudah memutuskannya?"
Lucas hanya tersenyum sinis. Gold-digger b***h, makinya.
"Ya, aku sudah bosan dengannya," tandas Lucas lalu menyesap champagne milik Xavier.
"No wonder, aku heran mengapa kau bahkan tertarik dengan wanita bekas Raphael itu."
Lucas mengangkat bahunya tak peduli. "Ia mengirimiku pesan menawarkan dirinya waktu itu. Karena saat itu aku juga baru membuang Shinta, aku menerimanya saja."
"Jackass," umpat Xavier seraya tertawa pelan. "Ah ya, apa kau kenal Katie Damatella? Playboy's model, blonde, cup 36D-"
"Apa aku bahkan mengenalnya?"
"Sepertinya ya, karena ia menanyakanmu kemarin. Dia bilang kau semakin menggairahkan."
"Oh ya?"
"Entahlah, aku sudah terlalu bosan melihatmu," jawab Xavier lelah, "Anyway, sepertinya kita harus kembali ke ruangan secepat mungkin. Damien bilang pelayan ruangan kita hari ini sexy!"
TO BE CONTINUE