Di i********: @kkezzgw aku akan kasih liat tempat-tempat yang Lucas-Kiara kunjungin, makanan, dsbnya ya. Jadi ayo yg mau liat juga, follow i********: @kkezzgw.
-----------
We should forgive our enemies, but not before they are hanged"
― Heinrich Heine
-----------------
Sinar matahari yang menusuk permukaan bumi sukses membuat Lucas terjaga dari tidur lelapnya setelah semalaman menghabiskan waktu di club malam. Pria itu menggeliat sesaat sebelum kelopak matanya terbuka sempurna, ia mengerjap sekilas lalu mendudukkan dirinya di tempatnya tidur yang menjadi alas tidurnya selama bertahun - tahun terakhir.
"s**t," umpatnya merasakan kepalanya berdenyut nyeri dan tenggorokannya terasa kering efek meminum alkohol terlalu banyak.
Lucas bangkit berdiri dengan bertelanjang d**a, meraih segelas air dan langsung meminumnya cepat. Dengan langkah malas ia masuk ke dalam kamar mandi bersiap berangkat kerja. Hari Sabtu biasanya dihabiskan oleh sebagian orang untuk bersantai di rumah bersama keluarga mereka, namun hal itu tidak pernah ada dalam kamus seorang Lucas Halstein-setidaknya selama sepuluh tahun terakhir ini.
Tanpa minat sedikitpun, ia mengolesi selai kacang keatas roti tawar di depannya, menyeruput kopi arabika sambil memandangi jendela kaca yang menampakan kecantikan pemandangan kota di pagi hari. Setelah itu Lucas menyalakan televisi mencari berita tentang perekonomian dunia, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat pagi.
Lucas mengalihkan pandangannya dari TV ketika ponselnya berbunyi. Melihat nama asisten ayahnya di layar ponselnya membuat ia menaikkan alis bingung, namun memutuskan untuk mengangkatnya.
"Mr. Lucas?"
"Ada apa, Ronald?"
"Saya hanya ingin memberitahu anda untuk menggantikan posisi Mr. Thomas pada rapat hari ini."
"Memang ada apa dengannya?"
"Hari ini beliau berhalangan hadir dikarenakan urusan yang tidak dapat ditunda."
Lucas mengangguk acuh. "Baiklah, berikan saja semua materinya pada Miss Omarosa, jam berapa meeting itu mulai?"
"Sekitar jam dua siang, sir."
Setelah itu, Lucas segera merapikan semuanya dengan asal sebelum berjalan keluar dari penthouse-nya. Setiap langkah pria itu menunjukkan kebesaran dan keagungannya, siapapun yang melihatnya akan merasa terintimidasi dan bertekuk lutut takut. Tidak heran Lucas kembali menjadi perhatian para wanita yang berada di dalam lift seperti yang selalu terjadi jika wanita melihatnya. Namun Lucas hanya memberikan senyum miring mematikan pada mereka tanpa benar - benar tertarik.
Begitupun ketika langkah tegapnya membawanya masuk ke dalam gedung pencakar langit Halstein Group yang selalu dibanggakan keluarganya. Semua sibuk memberi salam kepada Lucas dengan sopan dan segan.
"Selamat pagi, Tuan Lucas."
"Selamat pagi."
Seperti biasa, Lucas hanya menanggapi sapaan personal assitant-nya yang selalu menyapanya tanpa maksud lain seperti karyawati lainnya. Lucas pribadi cukup mengagumi dan selalu puas akan kinerja kerjanya yang selalu cepat, rapi, dan teratur. Ia juga menikmati ketidaktertarikan wanita itu padanya karena hal itu membuat wanita itu terlihat lebih serius dalam bekerja dan ia merasa nyaman berdiskusi dengan wanita cerdas ini.
"Sir, saya mendapat informasi bahwa anda yang akan menggantikan Mr. Thomas Halstein dalam rapat siang nanti."
"Persiapkan semua materinya dan kirim semuanya dalam waktu satu jam ke e-mail saya,"
"Baik, sir."
Dan hari Sabtu ini kembali dihabiskan Lucas dengan berkutat di dalam ruang kerjanya hingga dini hari, melupakan kenyataan bahwa jiwanya meraung penuh kelelahan setiap harinya.
**
Kiara berjalan tergesa menuju halte bus. Ia harus segera sampai di Sugar Momma atau ia harus kembali mendengar nyanyian merusak telinga oleh manager yang kerap kali memarahinya jika ia terlambat.
Namun disatu sisi ia terlihat bersemangat. Bulan ini biasanya banyak turis yang akan datang kesini, sehingga ia tidak sabar untuk melayani mereka di bandara. "Ah..semoga job-ku hari ini mengalir deras!"
"Hey! Stop right there!"
Kiara terbelalak begitu melihat seorang pria berlari kearahnya dengan wajah ketakutan dan panik. "Menyingkir dari hadapanku! Tolong menyingkir, cepat!"
Kiara masih tergagap bingung di tempatnya ketika pria itu tak sanggup melambatkan larinya, sampai akhirnya laki - laki itu menabraknya dan membuat mereka sama - sama terjatuh di aspal dan berguling terus kearah kanan dengan kecepatan tinggi.
"AW!" Kiara memekik keras begitu merasakan punggung dan pantatnya mencium aspal dengan sempurna, bahkan kepalanya juga terbentur trotoar beton yang ada di sampingnya. Detik berikutnya ia bisa merasakan keningnya mulai mengeluarkan darah segar yang membuatnya cukup shock, kepalanya berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya memar begitu saja.
Kiara baru saja berniat membuka mulutnya saat menyadari pria yang menabraknya tadi sudah jatuh terkapar dan dikepung oleh empat pria lainnya dengan keadaan babak belur. Sontak Kiara langsung bangkit berdiri untuk menyelamatkan pria malang itu, tak peduli dengan kepalanya yang mulai pening maupun tubuh memarnya yang harus ia paksakan untuk berdiri.
PLANG~
Sebuah kaleng berhasil mendarat mulus tepat di belakang kepala salah satu dari mereka, pria itu langsung menjerit kesakitan membuat keempatnya menoleh kearah Kiara marah.
"Beraninya kau ikut campur! Apa masalahmu melempariku dengan kaleng bodoh ini, huh? Siapa kau?"
"Aku hanya tidak suka melihat minimnya keadilan disini. Sebagai seorang pria, bagaimana kalian bisa melawan seorang pria dengan bantuan tiga pria lainnya? Memalukan!"
"Jangan macam - macam dengan kami, nona muda! Kau tidak takut pada kami yang sekarang bisa saja mematahkan lehermu hingga mati?" tanyanya dengan wajah garang, berusaha menakuti Kiara.
Kiara tertawa keras lalu menatapnya menantang, "Takut? Aku takut pada kalian? Tak ada satupun alasan di dunia ini yang dapat membuatku takut pada laki - laki biadab seperti kalian!" sentaknya emosi.
Keempatnya langsung mengepalkan tangannya dengan tatapan menyala - nyala mendengar jawaban Kiara. Mereka jelas tersinggung. "Baik, lebih baik bunuh mereka berdua!"
Kiara dengan sigap langsung menghindari serangan dari tiga pria yang sekarang menyerangnya sekaligus. Namun dengan gesit dan cekatan, Kiara yang memang ahli dalam hal bela diri dengan mudahnya menghindar dan bahkan berhasil melayangkan tinjuan ke wajah pria - pria itu. Tubuhnya ia rendahkan dan kaki kanannya terangkat untuk menendang salah satu pria itu, sikutnya berhasil ia gunakan untuk menjinakkan pria yang ingin menyerang di belakangnya. Ketika salah satu dari mereka mulai bangun, Kiara dengan gesit segera memukul mereka dengan lututnya membuat pria itu mengerang kesakitan di bagian dagunya. Kiara benar - benar berhasil mengalahkan pria - pria itu dengan mudahnya-dan sendirian.
Pria yang menabrak Kiara tadi sibuk menganga lebar melihat aksi Kiara. Ia terbiasa melihat para actor - actor di film action beradegan seperti ini, namun berbeda rasanya jika kau melihat itu secara langsung dan 'pemeran utamanya' adalah seorang wanita.
Wanita?
Pria itu mengerjap untuk memastikan dan memang benar di depannya seorang gadis sibuk berkutat dengan para lelaki yang mengerjarnya, sedangkan ia? Hanya pria lemah yang terlihat semakin lemah saat melihat wanita secantik Kiara ahli bela diri. Detik berikutnya, ia berinisiatif untuk menelpon polisi agar segera datang ke tempat kejadian, ia juga melirik papan nama jalan yang terdekat di sekitarnya, setelah itu menyembunyikan kembali ponselnya.
Ketua dari pria - pria yang sekarang sudah terkapar di aspal itu melebarkan matanya tak percaya melihat Kiara yang sanggup menaklukkan anak buahnya. Ia mengeram marah dan langsung menyerang Kiara, namun siapa sangka justru Kiara langsung memasang kuda - kuda dan berputar cepat. Anak buah dari pria itu menahan nafas melihat Kiara memutar tubuh dan menendang kepala pria itu dengan mudahnya, seketika itu juga priaitu berhasil ia taklukkan dengan mudahnya.
NENONENONENO~
Semua yang ada disana langsung menoleh saat mendengar suara sirine polisi menggema, ketika keempat pria itu berusaha kabur dari sana, Kiara langsung membungkam mereka dengan pukulan maupun injakkan keras di punggung mereka membuat keempatnya langsung meringis sakit dan kembali jatuh kesakitan.
Polisi - polisi itu segera mengamankan keempat preman tadi menuju mobil polisi. Kiara masih mengatur nafasnya yang memburu, ekor matanya tak sengaja melihat pria yang menabraknya tadi bangkit berdiri dan menghampirinya. "Nona, te-terimakasih banyak atas bantuanmu! Mungkin tanpa kau, nyawaku berakhir hari ini juga" katanya sambil membungkuk sopan.
Kiara tersenyum lalu menepuk bahunya lembut, "It's okay. Sudah kewajibanku menolong orang lain jika aku memang bisa. Apa lukamu tidak apa - apa?"
"Ah, aku sudah biasa menghadapai hal seperti ini, sudah tidak terasa sakit lagi." ujar pria itu tersenyum malu sebelum ia menyadari luka baru yang ada di kening Kiara. Pria itu menarik nafas kaget. "Nona, keningmu berdarah! Astaga, kau harus segera ke rumah sakit! Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, nona."
Kiara menggeleng cepat dengan ekspresi santai walaupun sebenarnya kepalanya terasa sakit. Perbincangan singkat mereka harus terhenti saat seorang polisi menghampiri keduanya untuk mengamankan mereka sebagai saksi dalam kejadian ini.
**
Kiara langsung bangkit berdiri begitu melihat pria yang ternyata bernama Zachary itu keluar dari ruangan interogasi yang memerangkapnya selama dua jam terakhir. Pria itu terlihat letih, putus asa, dan sedikit ketakutan entah karena apa.
"Apa interogasinya berjalan dengan lancar?" tanya Kiara ragu.
Zachary hanya mengangguk seadanya membuat Kiara bingung dengan tingkah pria ini. "Apa kau sudah menghubungi keluargamu?"
"Itu..itu-"
"ZACHARY!"
Kiara terlonjak kaget dan langsung menoleh kearah belakang, wanita berambut pirang dengan postur seperti model berjalan kearah mereka dengan ekspresi siap menerkam. Kiara terkesiap bingung saat Zachary berlari menyembunyikan diri di belakangnya ketakutan.
Gadis itu langsung menarik kaus Zachary kasar. "Kau berulah lagi ya?!" tanya gadis itu galak.
"Tatiana, ini bukan sepenuhnya kesalahanku! Mereka benar - benar mencari masalah!" cicit Zachary membela diri.
Tatiana menggertakkan giginya kesal lalu memukul punggung Zachary kencang hingga Zachary mengaduh kesakitan. "It's hurt, damn you!" jeritnya kesal dan malu.
Zachary jelas menyadari kehadiran Kiara diantara mereka, namun ia ragu kakaknya yang cantik ini sadar akan hal itu. Jika ia sadar, tidak mungkin wanita yang sellau menjaga image ini melakukan kekejaman ini di depan orang lain.
Tatiana menatap Zachary sinis dengan tangan terlipat di dadanya. Kiara semakin kaget melihat Tatiana menarik telinga Zachary hingga pria malang itu memekik kesakitan. "AH! LEPASKAN! SAKIT! HOLY MOTHER, ARE U DEAF!?"
Kiara sejak tadi hanya mengulum senyum dan memilih untuk menjadi penonton yang baik, tak berniat sama sekali untuk menginterupsi keduanya.
Zachary memejamkan matanya sambil merutuki dirinya sendiri ketika ia melihat ekspresi Kiara. Mata Tatiana menutup mulutnya yang menganga karena kaget, sepertinya juga baru menyadari kehadiran Kiara diantara mereka.
Gadis itu terlihat gelagapan di tempatnya menyadari 'kekerasan' yang ia lakukan pada adiknya menjadi santapan orang lain. "Uh-oh...aku baru sadar ada orang lain disini," ucapnya sambil tertawa canggung yang hanya dicibir Zachary sinis.
Kiara tertawa geli. "It's okay, kalian terlihat lucu. Aku merasa terhibur melihatnya"
Oh demi Tuhan Tatiana, kau menghibur orang lain dengan cara seperti ini? batin Tatiana mengumpat.
"Tunggu....apa kau wanita yang ditabrak b*****h ini?"
"b*****h!?" bentak Zachary tak terima.
Tatiana kembali menyerang Zachary dengan cubitannya ketika Kiara mengangguk, "Holy s**t! Kau ini kenapa, huh?"
"You're such a dickhead! Lihatlah, kau sudah membuat nona ini terkena serangan musuh - musuhmu! Kau pasti belum minta maaf, kan?"
"Siapa bilang? Aku sudah meminta maaf padanya sebelum kau datang!"
Tatiana menggeleng tak setuju, "Do it again in front of me or I'll tell mom and dad right away!"
Zachary menghela nafas pasrah dan hanya menuruti perintah kakaknya, "Maafkan aku, nona, Maafkan aku,"
Tatiana tersenyum sungkan pada Kiara, "Maafkan dia, nona. Adikku ini memang terkadang sulit diatur. Aku akan menanggung biaya berobatmu."
"Tidak perlu sampai seperti itu, aku sudah terbiasa mendapat luka seperti ini," Kiara mengumpat pelan begitu teringat dengan pekerjaannya di cafe, gawat ia bisa terkena amukan nenek sihir lagi kalau begini caranya!
"Hmm...nona, sepertinya saya harus pergi sekarang, ada urusan mendadak yang harus saya lakukan sekarang, permisi!"
"Eo, nona kau mau kemana? Nona!?"
**
Bahu Kiara serasa ingin patah. Ia benar - benar kelelahan hari ini dan akhirnya terpaksa membatalkan pekerjaannya di bandara sebagai supir gelap. Kepalanya berdenyut tanpa henti dan satu - satunya hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah tidur.
Tapi sepertinya keinginannya itu tidak terkabulkan. Tidak setelah ia melihat pintu kamar kosnya terbuka lebar dan barang - barang pribadinya berserakan di teras. Terlihat para debt collector yang waktu itu mengejar - ngejarnya sibuk mengangkut barang - barang itu.
Dengan panik, Kiara segera berlari menuju kamar kosnya. Betapa kagetnya dia ketika mendapati kamarnya sudah acak - acakan dan nyaris kosong. Matanya menggelap marah melihat foto keluarganya pecah dan sudah tak berbentuk lagi.
"Apa yang kalian lakukan disini?! KELUAR!"
"Ah, pemilik kamar ini sepertinya sudah datang," ucap salah satu dari mereka tampak cuek dan mereka semua tetap mengobrak - abrik kamar Kiara.
Kiara masih sibuk memikirkan berbagai cara untuk mengusir mereka sebelum matanya melihat preman itu menemukan kalung peninggalan ibunya yang ia sembunyikan dibawah seprai bantal. Kalap, Kiara segera menarik salah satu preman disana hingga preman itu jatuh dan mengerang kesakitan.
Niat Kiara untuk merebut kalung itu terhenti ketika ketua preman itu menarik lengannya kasar dan menampar pipinya kencang hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Kepalanya mendadak pening dan darah segar mengucur deras di sudut bibirnya. Ia ingin melawan lagi tapi tamparan kedua membuat mulutnya terkunci.
Dengan ganas, ketua preman itu mengangkat wajah Kiara kasar sambil tersenyum penuh ejek. "Sudah lama sekali aku ingin menampar wajah sialanmu ini, jalang kecil," dan Kiara hanya bisa menahan tangis ketika preman itu menamparnya lagi, "selama ini aku sudah menyuruhmu untuk membayar tunggakan hutang - hutang itu secara baik - baik, tapi sepertinya kau lebih suka dikasari!"
"Kalian membuat hutangku meningkat 600% dari yang seharusnya kubayarkan, jelaskan padaku bagaimana aku harus membayarnya, b******n!?"
"KAMI TIDAK PEDULI! Yang kami tahu adalah hutang adalah hutang, dan kami ingin hutang itu dibayarkan segera atau—"
"Atau apa?!"
Preman itu mengerang marah dan langsung mengangkat dagu Kiara dengan tatapan membunuh, "Jangan menantang kami, nona manis. "Kami bisa melakukan apa saja yang kami mau, termasuk membunuh ayahmu yang malang itu."
"b******n!" teriak Kiara penuh amarah dan frustasi, "Jangan pernah kalian sentuh ayahku!"
Preman - preman itu hanya tertawa senang mendengarnya sebelum kembali menangkup wajah Kiara kasar, "Kalau begitu berikan uang itu, gadis manis. Kami memberikanmu waktu satu minggu ke depan untuk melunasi semuanya. Jika tidak...maka kau tidak akan senang dengan apa yang akan kami lakukan padamu dan ayahmu,"
Mereka menarik paksa kalung peninggalan ibu Kiara dari tangannya sebelum berjalan keluar. "Ah ya, persiapkan tubuh indahmu itu untuk kami nikmati minggu depan! HAHAHA!"
Hati Kiara terasa hancur dan ia langsung menangis sambil memeluk foto keluarganya yang masih tersisa dari sisa penjarahan yang dilakukan preman - preman itu. Tidak ada satupun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Marah, kecewa, sedih, terluka, dan dendam seolah berkumpul menjadi satu.
Tangannya terkepal hingga memutih dan wajahnya mengeras ketika melirik koran yang menampilkan kesuksesan Hasltein Group menjadi salah satu perusahaan tersukses di dunia. Dendam yang selama ini berusaha ia padamkan kini langsung membakar hatinya yang sedang terluka.
Kiara menghapus air matanya dengan kasar sebelum berjalan keluar dari kamar kosnya. Ia harus memberi pelajaran pada orang yang membuat keluarganya hancur seperti sekarang.
**
Thomas Halstein berjalan dengan penuh wibawa saat ia memasuki gedung Halstein Group. Tampak kepuasan tersirat di balik kulit wajahnya yang keras dan dingin setiap melihat kerajaannya semakin berkembang pesat. Berpuluh - puluh tahun ia mengembangkannya dengan cara apapun untuk mencapai posisi ini dan sebentar lagi Lucas-lah yang harus menjaga perusahaan ini. Dan ia yakin dengan kejeniusan Lucas, Halstein Group akan menjadi perusahaan nomor satu di dunia.
Tanpa Thomas dan pengawalnya ketahui, Kiara berhasil masuk ke dalam gedung Halstein Group. Tangannya masih mengenggam foto keluarganya erat - erat, pandangannya terpusat pada Thomas yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.
Langkah kaki Kiara semakin dekat dengan posisi Thomas berdiri saat ini, dan ketika dirasa jarak mereka sudah cukup, Kiara setengah berlari menghampiri pria itu.
Sebelum Thomas sempat menyadari apa yang terjadi, Kiara sudah melayangkan tinjunya pada Thomas hingga pemimpin perusahaan raksaksa itu jatuh. Mata Thomas melotot kaget, namun kepahitan gadis itu terhadap Thomas membuatnya tidak peduli dengan apapun lagi selain melakukan ini.
Kiara mencengkram kerah kemeja Thomas kencang, tangannya bergetar menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang dari kedua matanya, "APA KAU PUAS?! KAU PUAS KARENA EGO-MU ITU BERHASIL MENGHANCURKAN KELUARGAKU?! HAH?! JAWAB AKU!!"
"A-apa-apaan ini! Si-singkirkan gadis ini sekarang juga!"
Sebelum bodyguard - bodyguard Thomas sempat menarik gadis itu Kiara langsung melawan semua bodyguard yang berniat menghajar ayahnya. Kali ini ia mengeluarkan semua kemampuannya dalam bela diri membuat Thomas Halstein yang masih terdiam menatapnya takjub sekaligus takut. Bayangkan saja, gadis itu sukses menghadapi sekitar sepuluh bodyguard-nya yang sudah terlatih seorang diri, namun detik berikutnya ketakutan langsung menghantuinya begitu Kiara menoleh kearahnya dengan tatapan penuh kebencian.
Gadis itu kembali mencengkram kerah Thomas dengan ganas, "Apa kau bahkan pernah memikirkan nasib karyawan - karyawanmu yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya?! Menghargai mereka layaknya manusia pada umumnya?! KAU BAHKAN MENGANGGAP RAKYAT RENDAHAN SEPERTI KAMI BAGAI ONGGOKAN SAMPAH YANG MENGEMIS UANG PADAMU!"
"N-nona, sepertinya anda—"
"Apa kau tahu apa yang terjadi dalam hidupku selama enam tahun ini karena kau?! Kau melimpahkan semua kesalahanmu pada kami, tanpa pernah memikirkan dampak atau apa yang akan kami alami selanjutnya!" Kiara tanpa sadar mencekik leher Thomas Halstein hingga nafas pria itu mulai megap - megap, "Kau.....KAU SECARA TIDAK LANGSUNG ADALAH PEMBUNUH IBUKU, b******n! AKAN KUBUNUH KAU!!"
Thomas terus berusaha melepas cengkraman tangan Kiara hingga para bodyguard-nya berhasil menyeret gadis itu menjauh dari Thomas yang kini terbatuk - batuk, "CEPAT BAWA GADIS INI KELUAR!"
Kiara susah payah memberotak sekuat tenaga dalam cengkraman bodyguard-nya. Sorot matanya yang gelap menatap penuh kebencian kearahnya, "Aku tidak peduli lagi jika kau akan melaporkanku ke polisi atau memasukkanku ke rumah sakit jiwa, karena.....KARENA KAU SUDAH MENGHANCURKAN SEMUA YANG MENJADIKAN ALASANKU UNTUK HIDUP! TERKUTUK KAU, THOMAS HALSTEIN!!!"
Karyawan - karyawan yang ada disana menatap kebingungan dan penuh rasa ingin tahu kearah Thomas yang mengepalkan tangannya marah.
Ronald menghampiri Thomas dengan panik, "A-anda tidak apa - apa, tuan?"
Dan tanpa keduanya sadari, Lucas berdiri di ujung dengan tatapan menilai serta alis terangkat penuh spekulasi.
**
PLAK!
Ronald hanya memasang wajah datar ketika atasannya melampiaskan kemarahannya padanya dan beberapa barang yang dilempar begitu saja dari meja kerjanya.
"BAGAIMANA MUNGKIN GADIS ITU BISA LOLOS DARI PANTAUAN SECURITY HAH?! BAGAIMANA KALAU ADA CALON INVESTOR MELIHAT ORANG BIASA SEPERTI DIA BISA MENGHAJAR CEO PERUSAHAAN INI?!"
"Maafkan saya, tuan. Kami akan lebih memperketat pengamanan kantor mulai saat ini."
Ekspresi Thomas Halstein sekarang tampak mengerikan, bagaikan predator yang bersiap mencari mangsanya. Gadis kurang ajar, ia mempermalukannya di depan seluruh karyawannya, harga dirinya terasa diinjak - injak oleh gadis tadi.
"Kurang ajar, apa gadis sialan itu tidak tahu dia berhadapan dengan siapa? Berani - beraninya ia memperlakukan seorang Thomas Halstein seperti itu?!"
Ronald hanya diam di hadapan Thomas tanpa memberikan komentar, walaupun ia tahu apa tugasnya setelah ini.
"Selidiki gadis itu," Perintah Thomas begitu dingin, "Selidiki apapun yang berhubungan dengan gadis kurang ajar itu, selengkap dan sedalam - dalamnya. Jangan sampai ada yang terlewatkan, terutama alasan mengapa ia berani menghajarku seperti tadi! Aku ingin semuanya sudah ada di depan mejaku paling lambat besok pagi. Dan pastikan rekaman CCTV yang berhubungan dengan insiden itu dimusnahkan. Kau dengar itu Ronald?!"
Ronald memandang atasannya dengan skeptis, "A-anda tidak menyuruh saya membunuhnya?"
Thomas menggeleng seraya tersenyum dingin, "Tidak, aku punya cara yang lebih menyenangkan untuk menyiksa gadis itu..."
Ronald menundukkan kepalanya patuh. "Baik, tuan."
**
Sepanjang perjalanan Kiara meremas rambutnya frustasi dan memukul - mukul kepalanya sambil bergumam, "Bodoh...Kiara bodoh...kau memang bodoh...."
Bagaimana mungkin ia berani melakukan itu pada pimpinan perusahaan nomor satu di negara ini? Hingga detik ini Kiara pun masih mempertanyakan kegilaan yang ia lakukan kemarin siang, walaupun tentu saja ia tidak menyesali perbuatannya.
Malam itu sudah sangat larut karena Kiara baru pulang dari kerjanya di klub malam. Ketika Kiara memasuki gang - gang kecil untuk mempersingkat waktu menuju halte, tiba - tiba ia merasakan derap langkah kaki yang tak terdengar di belakangnya. Kiara menegang dan langsung memasang mode waspada.
Kiara langsung menarik tangan pria yang memegang bahunya lalu membantingnya ke aspal, ia memelintir tangannya hingga pria itu mengerang kesakitan, "Siapa kau?!"
Saat Kiara lengah, sesuatu membekap mulut dan hidungnya dengan kain putih. Kiara yang kebingungan berusaha meronta namun bekapan itu semakin kencang dan gadis itu bisa merasakan kedua tangannya dipegangi oleh dua pria lainnya. Dan detik berikutnya, kegelapan menyapa Kiara dan ia tidak sadarkan diri.
TO BE CONTINUE