Di i********: @kkezzgw aku akan kasih liat tempat-tempat yang Lucas-Kiara kunjungin, makanan, dsbnya ya. Jadi ayo yg mau liat juga, follow i********: @kkezzgw.
---
"Compromise brings harmony to both, happiness to none."
- Amit Kalantri
----------------------
Hal pertama yang Kiara lihat saat membuka matanya adalah sebuah ruangan kosong yang hanya berisi dua kursi kayu dan meja mahogany yang berada tepat beberapa meter di depannya. Ingatan sebelum ia pingsan kembali masuk ke pikirannya, membuat Kiara bergidik ketakutan. Apa para debt collector itu menculiknya?
"Kau sudah sadar rupanya,"
Sontak Kiara langsung menoleh dan matanya terbelalak melihat Thomas Halstein berjalan masuk ke dalam ruangan diiringi banyak bodyguard di belakangnya. Ketakutannya mendadak hilang dan hanya perasaan benci yang dirasakan Kiara saat ini.
Thomas menyeringai sinis kearah Kiara seraya meletakkan pistol keatas meja, "Don't look at me like that, young lady. Kau tahu itu tidak menakutiku, seharusnya kaulah yang takut padaku karena kapan saja aku bisa mengakhiri hidupmu dengan pistol ini."
"Kau tidak mungkin berpikir aku takut padamu setelah apa yang kulakukan padamu 'kan, Tuan Halstein?!"
"Sayang sekali, seharusnya kau takut padaku, Nona Roxanne. Terlebih setelah apa yang ayahmu lakukan pada perusahaanku."
Kiara mengernyit bingung, "Apa maksudmu?"
Thomas memberi isyarat pada Ronald untuk melakukan apapun yang sudah mereka sepakati. Ronald pun mengangguk dan langsung memberikan sebuah map yang berisi kumpulan - kumpulan berita mengenai Halstein Group di tahun 2009, dimana saat itu pabrik Halstein Industries bermasalah dengan para buruh, terutama karena kecelakaan kerja yang menewaskan tujuh buruh mereka, termasuk ayah Kiara.
"Saat itu perusahaan kami sedang merancang proyek terbaru yang membutuhkan teknologi terbaru untuk dapat menciptakan produk sesuai ekspektasi kami. Hal ini tidak dapat terwujud karena kemampuan para buruh sudah tertinggal jauh dari yang kami harapkan untuk proyek kami. Karena itulah Halstein Industries memutuskan untuk mengurangi hampir sebanyak 70% dari buruh yang ada dan menggantinya dengan mesin, namun mereka tidak dapat menerima keputusan itu dan memutuskan untuk berdemo besar - besaran yang mengguncang nilai saham perusahaan kami,"
Kiara hanya menatap Ronald datar tanpa minat, ia tahu akan berujung kemana perkataannya, "Lalu apa hubungannya dengan kecelakaan itu?"
"Ayah anda, atau Jordan Roxanne....adalah pemimpin dari demo tersebut."
"A-apa?! Ti-tidak mungkin! Kalian pasti hanya mengkambing hitamkan ayahku!"
Kini Ronald menunjukkan potongan - potongan rekaman CCTV kepada Kiara. Disana terlihat ayahnya sedang berdiri di tengah - tengah buruh lainnya, "Anda bisa melihatnya sendiri, nona. Disana terlihat jelas bahwa Jordan Roxanne tengah memprovokasi buruh lainnya agar melakukan demo itu. Rekaman CCTV ini diambil dua hari sebelum demo besar - besaran itu terjadi."
Kiara tercengang begitu mendengar fakta mengejutkan yang baru saja ia dengar. Wajahnya seperti baru disiram air es, ia sama sekali tidak tahu akan hal ini.
"Karena ulah ayahmu kami harus mempertimbangkan kembali proyek terbaru Halstein Industries ini. Jatuhnya nilai saham perusahaan membuat kami semua harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan kembali para investor, menarik kembali minat mereka menanam saham di perusahaan kami. Akhirnya proyek kami terpaksa dibatalkan karena perusahaan lain telah mencuri ide kami dengan meraup keuntungan besar, sesuai prediksi kami ketika pertama kali mencetuskan ide ini."
Dengan susah payah Kiara menelan salivanya sambil sesekali membasahi bibirnya yang terasa kering, ia mendadak gugup dan sedikit takut dengan sosok pria di depannya. Ia takut karena kebenciannya pada Halstein Group selama ini ternyata sama sekali tidak beralasan, apa seharusnya ia bersyukur karena mereka tidak menuntut ayahnya?
Thomas Halstein tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Kiara yang mendadak berubah pucat, "Jadi Nona Kiara, setelah mendengar semuanya seharusnya anda bersyukur saat itu saya tidak menuntutnya karena membuat saham perusahaan Halstein Group jatuh hingga 27% serta mengalami kerugian sebesar puluhan triliun," ujar Thomas dingin, "Tapi sepertinya aku harus menuntutnya karena putri semata wayangnya berani menghajarku tanpa tahu kebenaran yang ada."
"Ti-tidak!" Kiara menggeleng keras dan langsung berlutut ketakutan di depan Thomas, "Maaf atas tindakan dan perkataan saya yang menyinggung hati anda. Tapi, kumohon...ja-jangan libatkan ayah saya dalam hal ini, kumohon..."
"Memang sejak awal aku tidak berminat menuntutnya, tapi karena kau nona, sepertinya aku harus mempertimbangkan keputusanku beberapa tahun silam. Karena dia, perusahaanku sempat merugi dan bahkan enam tahun kemudian putrinya menghajarku di kantor yang ia rusak. Bagaimana ini? Sepertinya akan sulit sekali memaafkan ayah anda, saya bukan orang pemaaf."
Kiara menggeleng ketakutan dan kalut, tanpa ia sadari ia sudah menangis dan mengemis maaf pada Thomas, "Kumohon tuan, jangan! Jangan tuntut ayahku......atau—atau biar aku saja yang menanggungnya, kau boleh lakukan apapun padaku tapi jangan pada ayahku...."
"Kau bersedia menangung tuntutannya?"
Kiara mengangguk yakin, "Ya, tuntut saja aku."
"Apapun yang harus kau lakukan agar ayahmu bebas dari tuntutan?"
Gadis itu terdiam sebentar tampak ragu, namun seraya mendesah pasrah ia perlahan mengangguk, "Apapun."
Senyum penuh arti di wajah Thomas semakin melebar mendengarnya, "Kau harus menikah kontrak dengan putra sulungku sampai Anniversary Party Halstein Group,"
Tubuh Kiara seperti disambar petir di siang hari karena ia hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, "A-apa?"
Thomas mengangguk santai, "Kau mendengarnya 'kan? Itu tuntutanku padamu dan kau tidak bisa membantah. Aku hanya membutuhkanmu untuk sementara demi rencana kami setelah melihat kau menghajarku kemarin,"
"Membutuhkanku katamu?"
"Jadi begini, Lucas akan dijodohkan dengan rekan bisnisku. Tapi ayah dari calon istrinya tahu bagaimana sifat Lucas selama ini, karena itu ia memintaku mencari wanita yang bisa menyiapkan Lucas menjadi suami yang baik bagi putrinya. Perubahan rencana ini sangat mendadak dan ketika aku melihatmu, sepertinya kau bisa membantu kami. Calon besanku setuju juga memintamu menyiapkan Lucas. Lucas tahu aku akan menjodohkannya dengan rekan bisnis Halstein Group, tapi aku takut sikapnya terhadap wanita itu akan menjadi boomerang bagi bisnisku."
Guratan kebingungan di wajah Kiara semakin terlihat, "Aku tidak mengerti.. Kenapa kau tidak menyuruhku menjadi asisten rumah tangga saja?"
"Kami sempat berpikir untuk menjadikanmu asisten rumah tangga Lucas, karena anak rekan bisnisku sangat mencintai Lucas. Tapi di satu sisi, kami yakin Lucas tidak akan meladenimu. Karena itu kami terpaksa melakukan ini semua."
Pikiran Kiara seakan lumpuh. Kenapa ia bisa terlibat dalam masalah pelik seperti ini?
Memang seharusnya aku tidak datang dan menghajarnya waktu itu, umpat Kiara dalam hati.
"Aku akan membayar seluruh biaya pengobatan ayahmu. Tapi jika kau menolaknya, jangan harap ayahmu akan terbebas dari tuntutanku."
Kiara rasanya ingin meneriakkan kalimat itu tepat di wajah Thomas. Ia benar – benar tidak siap dengan semua ini, bagaimana mungkin ini bahkan terjadi?
Dengan tangan gemetar serta keputusan bulat, Kiara menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum membubuhi surat itu dengan tanda tangannya.
Thomas tersenyum penuh kemenangan melihat tanda tangan Kiara sudah menghiasi surat itu dengan baik. "Terima kasih kerja samanya, Kiara Roxanne. Saya dan calon besan saya berharap hubungan bisnis kita bisa berjalan lancar,"
Kiara hanya diam tak bergeming, ini masih terasa seperti mimpi dalam bayangannya.
TO BE CONTINUE