Buat yang penasaran kenapa aku mendadak akrab dengan si Orang Tua penunggu Gunung Heng, semua berawal saat aku kembali ke kaki gunung ini setelah terpental oleh serangan dadakan kakek tua itu kemarin sore.
AAAAA!!!
Aku yang terpental sejauh hampir dua kilometer dari batas luar gunung ini, mendarat tepat di atas atap sebuah penginapan. Dan dengan energi yang menyertaiku kala itu, bangunan tempatku mendarat langsung hancur jadi puing-puing seketika aku jatuh.
Semua orang yang kebetulan sedang berada di sekitar tempat kejadian perkara pun langsung pada berkerubung, memastikan—lebih ke arah kepo—benda apa yang baru saja jatuh dari langit. Kemudian saat tanganku mencuat ketika aku hendak keluar dari timbunan genting dan tiang yang roboh, mereka semua langsung lari terbirit-b***t tuk bersembunyi sambil terus mengintip ke arahku.
Kecuali si Pemilik Penginapan.
Dengan muka pucat bermandikan keringat, dia berdiri di atas kaki yang gemetaran ditemani sehelai handuk bertengger di pundaknya. Menunggu sembari memerhatikanku keluar dari reruntuhan tempat usaha miliknya perlahan kemudian ….
“Eh, Tuan!” kata orang itu dengan kedua tangan menghalauku. “Ma-a-af, a-aku pe-eu-milik da-a-ri ba-angunan pe-eu-nginapan di-i be-belakang a-anda.” Setenang mungkin dia mengenalkan dirinya.
Mendengar itu aku pun menoleh ke belakang.
Dan. “Ya.” Mungkin maksud orang ini sebenarnya adalah, ‘tolong ganti rugi semua kerusakan yang sudah aku perbuat barusan.’ Kukira begitu.
Aku kembali melihat padanya dan tertawa bisu.
Gegara ulahku tersebut dia sempat menelan ludah, tapi saat kukeluarkan satu koin platinum dari dalam kantong mendadak semua warna sendu di dirinya berubah jadi semringah. Dia bahkan menawariku beberapa layanan khusus buat tamu VIP di penginapan tersebut, dengan menu serta fasilitas terbaik—termasuk teman bermalam jika aku berminat.
Sayangnya bukan itu yang kubutuhkan sekarang.
Jadi kuhargai tawarannya barusan dengan dua keping koin emas, satu untuk tanda terimakasih dan satu lagi sebagai imbalan supaya dia mau menunjukkan mana arah menuju ke Gunung Heng. Setelahnya aku berlari sekencang-kencangnya tuk menemui orang tua penunggu gunung itu buat balas dendam—tunggu saja.
Sesampainya di tujuan.
Kulihat elangku lagi ditindih seekor Merak Berbulu Merah, posisinya persis seperti saat aku menemukan dia di bawah himpitan pohon besar kemarin malam.
ELAAANG! APA KAU SELEMAH ITU?
Mata si elang menyala sambil memberontak usai mendengar terikanku barusan, tapi si merak pun tampaknya tak mau kalah. Dia cengkeram kaki si elang sekuat tenaga, lalu mereka berdua melompat mendaki ke langit Gunung Heng.
Ketika kakiku berhenti tepat di depan gapura gerbang masuk ….
“Anda baik-baik saja, Tuan?” sapa orang yang sebelumnya memberitahuku soal guru besar dan para calon murid aliran Tinju Gunung Heng.
“Kemana semua orang?” tanyaku seketika.
Dia lalu menjelaskan bahwa semua orang sudah pergi ke puncak gunung buat mengikuti ujian masuk, melewati gapura dan memanjat anak tangga di hadapanku. Katanya jika calon murid berhasil melalui semua ujian di anak tangga menuju puncak ini baru mereka akan diterima sebagai murid aliran Tinju Gunung Heng, sedangkan sisanya dipersilahkan tuk pulang—pas gagal.
Mendengar keterangan tersebut tiba-tiba aku jadi malas berurusan dengan orang tua penunggu gunung itu, tapi setelah si domba aku pun tak mau kehilangan si elang. Jadi kudaki jalur menuju puncak gunung yang tadi dia sebut dengan Jalan Seribu Tangga ini—mau tak mau.
Setelah langkah pertama. Aku baru tahu kalau anak tangga ini bukanlah tangga biasa, mulai langkah ke dua-tiga-empat hingga seterusnya bobot kakiku menjadi berkali lipat seolah ada tekanan berat memaksaku biar jangan melanjutkan pendakian.
Namun—persetan.
Aku yang sudah mampu menopang tiga ribu tujuh ratus lima puluh kali beban tubuh, gak bakal kalah cuma gegara satu-dua kali penambahan berat di ujung kaki—kulanjutkan langkah.
Memijak anak tangga ke lima puluh. Belasan monyet tiba-tiba melempariku dengan patahan ranting dan batu, tapi kuabaikan. Aku terus naik melewati mereka ogah meladeni gangguan kecil, toh kulit bajaku gak bakal tergores cuma gegara hal begitu.
Di langkah ke seratus, rintangan yang muncul adalah Raksasa Bermata Satu. Dua ratus, Ular besar Bersisik Cerah. Tiga ratus, Harimau seukuran kerbau. Empat ratus, Gorila Berambut Kuning—kuabaikan semua.
Dan. Di anak tangga ke lima ratus, kutemukan lagi si elang. Dia tengah berdiri menghadapi tiga musush sekaligus, si merak yang kini tergeletak tak berdaya di tanah dengan dua burung lain—mereka terbang mengitarinya.
Dua Musuh barunya, seekor Cenderawasih Berekor Biru dengan Gagak Bersayap Kuning. Mereka mengepung si elang dari udara, mengitari dirinya yang sudah penuh luka tusuk dan berbagai goresan—bekas cakar.
Aku. Gak kuat dengan pemandangan pilu juga ogah melihat tungganganku terpojok, kukeluarkan Cakram Ungu lalu kulempari mereka—gagak dan cenderawasih itu—teknik Pisau Sabit Kembar. SLIWIRRR.
Menyadari kehadiranku dua burung itu mundur melesat ke puncak gunung, sedangkan elangku langsung ambruk menimpa bangkai si burung merak.
“Kau hebat, Elang. Bertahan melawan tiga sekaligus,” kataku memujinya.
Selanjutnya. Setelah merawat luka elangku dengan sihir penyembuh, kuambil inti kristal dari bangkai si burung merak kemudian melanjutkan pendakian.
Setelah langkah ke seribu. Usai melewati anak tangga terakhir, pendakian kami pun selesai pas ketika langit berubah gelap.
Di sini. Sudah ada dua orang yang lagi terkapar di tanah, begitu kelelahan dengan nafas berat tak beraturan. Mereka melirik padaku sesaat sebelum akhirnya salah satunya berkata, “Hah, orang ke tiga. Kukira tak akan pernah ada murid ke tiga di perguruan ini—”
“Benar!” timbal orang satu lagi.
Kemudian, keduanya duduk bersila menghadap ke arahku. Aku padahal belum mengerti maksud ucapan mereka tapi ….
HOHOHO! Tiba-tiba suara Orang Tua k*****t itu kembali terdengar, diikuti kemunculannya di dekat kedua orang barusan.
Spontan aku menerjang ke arahnya bersama Pukulan Naga, diikuti oleh si elang yang juga langsung mendapatkan lawan—dua burung sebelumnya.
***
Usai perkelahian malam itu, siapa sangka dia jadi bersikap baik kepadaku. Bahkan, si orang tua penunggu gunung itu memperbolehkan kami—aku bersama elangku—buat tinggal serta melihat bagaimana cara dia melatih dua muridnya.
Tawaran yang menurutku gak menarik tapi tetap kuterima pada akhirnya, soalnya dia bilang boleh melakukan apapun selama berada di gunung ini. Orang tua itu bahkan memaafkanku meski telah mengambil inti si burung merah juga memberikannya sebagai hadiah, hanya saja sikapnya yang mendadak baik justru membuatku kurang nyaman—jadi kukembalikan kristal itu padanya.
Dua hari di gunung ini. Sementara si orang tua fokus melatih dua muridnya merasakan energi alam, aku dan elangku sudah menangkap satu ikan koi besar dengan dua banteng gemuk serta mengosongkan sarang beberapa ekor kelinci imut.
Hari ke tigaku—di gunung ini.
Selesai membersihkan diri di air terjun pagi tadi, aku meminta si elang tuk membawaku terbang mengitari lereng gunung. Soalnya aku hari ini lagi ingin makan masakan olahan, siapa tahu di dekat lereng sana ada desa atau perkampungan. Paling tidak sebuah penginapan atau warung kecil di persimpangan jalan kalau memang sama sekali gak ada desa, sesuatu seperti itu yang penting bisa kubayar buat memuaskan selera lidahku.
“Kwaaakkk!!!”
Aku tidak tahu seberapa jauh pekikan elangku akan terdengar, tapi yang pasti aku tahu sudah dua putaran kami mengelilingi lereng Gunung Heng dan belum menemukan satu bangunan pun.
Hingga—aku pun bosan.
“Elang, ayo terbang keluar dari gunung ini.” Aku Menyerah.
“Kwaakkk!!”
Burung pintar. “Pergi ke arah sana, kita akan pulang ke padepokan,” kataku lalu merebah di atas punggu si elang. Dan. Sesaat aku hendak terpejam dalam buaian laju angin melewati punggungnya tiba-tiba ….
KWAAAKKK!!!
Pekikan kuat disusul gerakan dirinya menukik tajam membelalakan mataku seketika, spontan aku memutar tubuh lalu berpegang pada bulu-bulu dekat pangkal sayap. “ELAAANG!!!”
BRUK! Aku terpental dari punggung si elang begitu dia ngerem mendadak.
“Burung sueee!” Makuku. “Apa-apaan barusan itu?” Ini aksi kedua aku jatuh dari punggungnya usai beberapa hari lalu.
Tapi. Kali ini elangku masih melayang di udara, gak ikut jatuh dan tengah mengepakkan sayap menjaga keseimbangan. “Kwaaakkk!!!” Dia memekik.
Sesaat kemudian. Aku sadar, aksi juga pekikan barusan dilakukan bukan tanpa tujuan.
“Mbeeaaa.”
Di depan kami. Si domba sedang digantung terbalik hendak disembelih oleh beberapa orang, pekikannya tadi dimaksudkan tuk mengulur hal tersebut. Mengalihkan perhatian tukang jagal kepada dirinya, menahan sabetan maut agar jangan dulu melepas nyawa si domba.
Aku paham.
“Tunggu, tunggu, tunggu sebentar,” kataku menghalau orang-orang dengan tombak dan parang di tangan hendak melempari si elang. “Ini cuma salah paham.” Aku menjelaskan situasi sebenarnya pada mereka, soal dombaku yang hilang sejak kembali dari negara Jian Seng tiga hari lalu.
Awalnya mereka tidak percaya, tapi saat kukatakan ingin memberi ganti rugi sikap mereka agak melunak. Kami sepakat dengan satu koin emas sebagai kompensasi, lima kali lebih tinggi dari pasar jika mengacu pada harga domba hidup—dua puluh koin perak.
Namun.
Dasar kesempatan dalam kesempitan alias aji mumpung, mereka tetiba meminta lima kali lipat dari harga barusan. Jelas menurutku ini sebuah pemerasan, tapi saat melihat si elang mengelus bulu si domba dengan ujung cakarnya permintaan tersebut tiba-tiba terasa murah. Kuberi mereka lima koin emas dan si domba pun bebas kami bawa pergi.5
***