Orang Tua!
‘Apa?’
Apa kau hanya akan diam saja melihat muridmu meringkuk sambil memegangi perutnya di tengah udara dingin seperti ini, dia sepertinya akan segera mati kalau kau biarkan terus begitu.
‘Lalu aku harus apa?’
Entah, lakukanlah sesuatu dia kan muridmu.
‘Kalau begitu diamlah, jangan ganggu aku jika kau sendiri tidak tahu apa yang mau aku lakukan!’
Sungguh, lalu apa kau akan membiarkan mereka begitu saja. sekarang sudah malam ke dua murid-muridmu itu tidak mendapat makan, metode latihan macam apa yang kau terapkan ini.
‘…’
Orang Tua!
‘…’
Hoi, jangan diam saja!
‘Tenanglah, aku sedang berpikir.’
Kau berpikir terlalu lama, cepat katakanlah sesuatu.
‘Hmmm ….’
Kalau kau diam saja anak-anak itu bisa keburu mati, tahu!
‘Ho, baiklah-baiklah.’
Sudah putuskan sesuatu?
‘Ikanmu!’
APA?!
‘Berikan saja sepotong daging ikan di belakangmu itu pada mereka.’
Kau gila ya, mereka kan muridmu. Lagi pun kenapa jadi aku yang harus membagi hasil buruan dengan mereka, gak mau akh!
‘Hohoho, dengarkan aku dulu. Bukankah kau yang paling mengkhawatirkan keadaan mereka, jadi apa salahnya bagimu mengulurkan sedikit bantuan. Terlebih kau berburu di wilayahku bukan, dan aku adalah tuan di gunung ini. Jadi mana sopan-santunmu, Bocah. Setidaknya berilah dua muridku itu sedikit dari hasil tangkapanmu sebagai rasa terimakasih.’
Sigh … dengarkan aku baik-baik, Orang Tua. Tanah di Eldhera bukan milik siapa-siapa, kau hanya kebetulan jadi orang pertama yang menempatinya saja jadi berhentilah merasa jumawa. Ditambah, kalau bukan gegara burung apimu yang menyeret elang milikku ke gunung ini kemarin aku pun tak mau masuk ke wilayahmu, kau tahu.
‘Lantas kenapa kau tidak segera keluar?’
Soalnya masih ada hewan yang ingin kuburu di gunung ini.
‘Jangan bilang hewan yang sedang kau cari adalah burung salju dan juga petir, katakan kalau tebakanku itu salah?’
Mwehehe, memangnya salah jika aku menginginkan kedua burung itu.
‘APA?!’
Tak perlu kaget begitu, Orang Tua, aku hanya ingin menjajal kebolehan elang milikku itu saja.
‘Apa katamu barusan, Bocah. Sebaiknya batalkan keinginan yang tidak masuk di akal itu, kau sendiri melihat apa yang sudah dilakukan elangmu pada burung apiku bukan. Jangan kau rusak lagi kedamaian di tempat ini, burung-burung itu adalah tiga monster penjaga gunung yang salah satunya telah dihabisi oleh elangmu.’
Heh, burungmu mati bukan salah elangku ya. Dianya saja yang terlalu lemah, makanya lain kali kalau peliharaanmu itu cuma buat pajangan sebaiknya jangan kau lepas sembarangan.
‘Kau!’
Apa?
‘Elangmu itu jelas-jelas main curang, mana ada hewan hidup yang terbang bersama hawa kematian.’
Ohh, lantas burung apimu itu jujur begitu maksudmu. Pak Tua dengar ya, hewan normal mana yang masih hidup setelah dibakar. Kalau kau menuduh elangku berbuat curang gegara hawa kematian membuatnya terus bangkit setelah dipatuk peliharaanmu, lantas kau sebut apa burung yang kemarin mematuknya dari dalam kobaran api itu?
‘Hei, Bocah. Kenapa kita jadi meributkan masalah ini lagi, burung apiku sudah mati gegara elangmu.’
Sudah kubilang kalau kau ingin membangkitkan burungmu lagi lemparkan inti kristalnya ke gunung berapi, lalu alirkan mana-eh chimu ke kawahnya. Pak Tua, kenapa kau masih belum melakukannya?
‘Aku punya alasan sendiri.’
Sigh … kalau begitu aku pun punya alasan sendiri tidak mau membantu muridmu.
‘…’
Kau diam lagi, Orang Tua.
‘Hah … sebenarnya percuma menjelaskan situasiku kepadamu. Tapi ini demi murid-muridku, jadi tolong dengarkan ceritaku.’
Eh. Memangnya apa yang mau kau ceritakan, Orang Tua?
‘Dengarkan saja, setelah itu terserah kau mau mebantu atau tidak.’
Hem, baiklah. Eit-tapi ingat, aku tidak menjanjikanmu apapun!
‘Hohoho, aku mengerti.’
Kalau begitu, lekas mulai.
‘Baiklah, dengarkan. Tinju Gunung Heng merupakan seni manipulasi chi di luar tubuh bukan seperti teknik pukulan lain kebanyakan, dia sama sekali tidak bergantung pada seberapa dalam kolam chi penggunanya serta perlu kelihaian khusus buat menakar kekuatannya.
Gaya pukulan ini mengalirkan energi murni dari sekeliling pengguna lalu merubahnya menjadi bentuk kekuatan lain, atau sederhananya tubuh si pengguna hanyalah sebuah katalis dan saringan buat merubah energi mentah menjadi kekuatan hasil olah. Karena pada dasarnya semua energi di alam terus mengalami perubahan, maka tubuh pengguna gaya pukulan ini cuma memilah perubahan itu saja.’
Lantas?
‘Bocah, biarkan aku menjelaskannya dasar-dasarnya dulu kepadamu. Jika praktisi manipulasi chi biasa menyerap energi lalu menyimpannya di dalam tubuh mereka kemudian mengalirkannya melalui pembuluh darah, kami praktisi gaya ini mengalirkan energi langsung di luar tanpa memasukannya ke dalam tubuh. Jika mereka menyerap satu jenis energi tertentu untuk disimpan, kami membaca satu aliran energi kemudian menggerakannya.’
Aku belum mengerti.
‘Itu bukanlah urusanku, Bocah. Intinya Tinju Aliran Luar Gunung Heng kami mempraktikan pengolahan chi dari luar tubuh, itu saja.’
Lalu apa gunanya penjelasan tadi?
‘Huh … kau tahu tubuh kita ini umumnya hanya mengenali satu jenis aliran energi, entah itu berupa elemen atau bentuk lainnya. Oleh sebab itu pula, biasanya kita pun hanya dapat mengendalikan satu jenis energi tertentu. Dan aku akan mengajarimu bagaimana cara untuk melakukannya, Bocah.’
Tidak, tunggu. Terimakasih, tapi aku sudah menjadi murid perguruan lain.
‘Ini bukan soal kau menjadi murid perguruan mana, ini soal bagaimana kau akan memahami keadaan murid-muridku dan mau membantu mereka.’
Hemmm.
‘Untuk menjadi muridku kau perlu membungkuk padaku tiga kali—‘
Dan aku tidak melakukannya, bukan.
‘Tepat, jadi meskipun aku memberitahumu teknik perguruanku kau tetaplah bukan muridku. Bagiaman menurutmu, Bocah?’
…
‘Diammu kuartikan sebagai setuju, Bocah. Cobalah melakukan apa yang kukatakan, agak sulit mengajarimu hanya lewat telepati begini.’
…
‘Bocah, jawab aku!’
Ya ya, terserah.
‘Dengarkan. Setiap seni manipulasi chi memakai setidaknya satu jenis energi sebagai fondasi, cobalah untuk merasakan jenis energi tersebut di sekelilingmu.’
Iya.
‘Sudah kau rasakan?’
Sudah.
‘Sungguh?’
Bawel, mataku terpejam sekarang, bagaimana bisa aku tidak merasakan energi di sekitarku?
‘Baiklah-baiklah, sekarang coba tarik energi dari sekelilingmu itu supaya mendekat.’
Heh, tadi kau bilang tidak menyerap energi.
‘Kubilang tarik, bukan serap.’
Ohh, tapi bagaimana aku menarik tanpa menyerapnya?
‘Itu urusanmu, pikirkanlah sendiri.’
Cih, kau sebenarnya berniat mengajariku apa tidak?
‘Huh, lakukan saja seperti kataku. Aturlah nafasmu seperti saat bermeditasi dan menghimpun hawa, lalu ketika kau merasakan ada energi di sekitarmu alirkan energi tubuhmu ke satu bagian tertentu.’
Sedang kucoba, eh-Pak Tua. Aliran di sekitarku bergerak mengikuti energi di tubuhku, seperti katamu aku melihatnya!
‘Maksudmu kau sudah dapat merasakan energi luar itu bergerak sesuai kehendakmu, begitukah?’
Kurang lebih.
‘Hem … aku saja butuh waktu sebulan untuk merasakan gerakan energi di sekitarku setelah guruku memeragakannya di depan mataku dahulu.’
Jangan samakan aku denganmu, Orang Tua!
‘…’
Lalu apa lagi yang harus kulakukan?
‘Tidak ada. Setelah kau berhasil merasakan energi di sekitarmu kemudian menggerakannya, maka pelajaranmu di sini sudah selesai. Sisanya hanya tinggal mempelajari gerakan tinju perguruanku, apa kau mau?’
Oh, kalau begitu terimakasih, aku tidak tertarik.
‘Sekarang, tolong berikan sisa daging ikan di belakangmu pada kedua muridku. Jujur saja mereka sangat membutuhkannya, ikan itu adalah Koi Sisik Perak yang punya khasiat meningkatkan kepekaan terhadap energi dan cuma muncul lima belas tahun sekali. Jika kau menghabiskan semua daging ikan itu sendirian, selain mati kelaparan tak ada yang bisa dilakukan oleh kedua muridku untuk lima belas tahun kedepan.’
Ishh, kau ini guru macam apa.
‘…’
Cih, baiklah. Akan kubagi ikan ini pada mereka, lagi pun aku bukan orang yang tak tahu balas budi.
***