Sebelumnya.
Di malam aku menemukan si Domba kembali. Tadinya aku berniat menyate elang hitam jambret karena sudah berani mengutil calon makan siangku, tapi kuurung niat tersebut lantaran kristal inti di jantungnya—si burung—memancarkan aura unik, sejenis hawa kematian pekat namun berasal dari jasad hidup.
Normalnya hawa kematian seperti itu bakal merusak wadak yang ditempati, sehingga jasad bernyawa tidak akan sanggup menahan ‘derita’ dari kutukan pendampingnya. Lalu bagaimana burung ini melakukan hal semacam itu, bahkan tanpa efek samping serta malah meningkatkan kekuatan fisiknya berkali-kali lipat.
Sesuatu yang sama sekali baru, belum pernah kutemukan sebelumnya baik di catatan mendiang Chloe atau selama pengalamanku bersama Letta di Istana Tulang Naga.
Sepengetahuanku sebelum ini, aura kematian hanya muncul dari jasad monster yang sudah mati dan berfungsi mengendalikan wadak kosong tersebut sesuai kehendak—untuk sebuah tujuan dari—si perapal mantra.
Garis bawahi ini. Aura kematian muncul akibat pengendapan mana hitam yang dilepaskan oleh si perapal, bersifat sebagai kutukan juga sangat merusak serta rentan terhadap sihir putih dan cahaya. Bahkan buat monster level satu, kutukan ini akan melebur wadaknya jadi abu seketika terkena cahaya matahari—langsung.
Oleh karena itu, layaknya sihir hitam lain di Eldhera kutukan aura kematian dikategorikan sebagai kemampuan terlarang. Karena bukan hanya sekadar mengerikan tetapi juga cara merapalnya pun cukup kejam, si perapal kalau bukan seorang—atau tak memiliki titel—Arc. Mage alias cuma Mage biasa harus menyediakan tumbal berupa jasad hidup.
Jadi selain kurang efisien kutukan aura kematian juga lumayan boros.
Sehingga kalau sasarannya bukan orang penting seperti pejabat kerajaan dan sejenisnya—atau monster kelas tinggi, tapi jarang juga—kutukan aura kematian tak pernah digunakan, biar kata kategori sihir terlarangnya dicabut pun orang bakal mikir dua kali buat merapalnya sembarangan.
Kembali ke si burung kampret di hadapanku.
Aura kematiannya tidak seperti yang selama ini kukenal. Miliknya lebih mendekati berkat ketimbang sebuah kutukan meski aura mengerikannya tetap membuat bulu kudukku berdiri tadi, tapi efeknya malah positif buat si burung—sue.
Selain itu.
Aku pun sudah menggunakan sihir putih tuk mengganggu pancaran energi hitam dari inti kristalnya, tapi bukan menghilang aura kematiannya malah makin kuat serta menelan gangguan yang kuberikan. Tak cukup sampai situ, tampaknya aura kematian milik si elang satu ini pun mengevolusikan sebagian tubuhnya untuk jangka waktu tertentu—macam buff.
Bagaimana aku menjelaskan ini.
Pasalnya setiap kali inti kristalnya selesai melahap energi dariku, ada saja bagian tubuh si elang yang mengalami perubahan … entah itu paruh, bulu tubuh, bulu sayap, bulu ekor, cakar, bahkan mata.
Lebih menarik lagi, setiap perubahan bagian punya spesifikasinya sendiri. Bulu tubuh dan ekor, tiap helainya menjadi sangat keras menyamai plat besi, cakar dan paruhnya menjadi sangat runcing, matanya menyala serta bulu sayapnya menjadi setajam silet.
Namun. Sejauh aku merangsang—memberi energi pada—inti kristal si burung, perubahan bagian tubuhnya tak pernah terjadi sekaligus. Selalu bergantian antara satu dan yang lain, dalam kasus ini—cuma tebakanku—si elang hitam belum mencapai potensi terbaiknya.
Jadi. Begitulah ceritaku punya minat sama elang hitam satu ini dan berkahir menjinakannya, dengan bantuan si domba tentu saja—hehe.
“Mbeeaaa.” Datang tepat waktu.
Bagus. “Domba kemarilah, temui penjambretmu tadi siang!”
“Mbeeaaa.”
Haha, aku tahu kau punya dendam pribadi padanya. “Domba, lakukan apa yang sangat ingin kau lakukan. Lepaskanlah semua yang ada di hati dan pikiranmu, ayo jangan malu-malu!” Lakukan sampai dirimu puas.
Mbeeaaa ... BAK-BUK! BAK-BUK-BAK! BUK-BAK!
***
Selanjutnya.
Usai berulang kali dihantam oleh kuku-kaki si domba lalu kupulihkan—lagi dan lagi—dengan mantra penyembuh, elang hitam ini pun menyerah dan dia akhirnya menjadi tunggangaku menuju negara Jian Seng.
Terimakasih. Berkat itu perjalananku sebagai petugas pos dadakan jadi lebih cepat.
Ah—si domba, tentu dia kami bawa juga.
Belajar dari pendakian ke Gunung Karang sebelumnya, tak mungkin aku meninggalkan cadangan makananku yang montok tersebut bukan. Dia ada dalam cengkeraman cakarnya si elang di bawah, melaju bersama kami menerjang hembusan angin di tengah cakrawala malam yang luas.
Kwaaakkk … Mbeeaaa … Yuhuuu ….
Di langit. Kami saksikan karya tangan tuhan seusai fajar membentang, bersama datangnya pagi juga terbitnya garis cahaya menyambut mentari di belakang kami. Seolah tak mungkin tapi terjadi, langit bersinar di depan mata dibarengi hangat yang menerpa punggung kami.
Aku terpesona. Apakah ini yang dinamakan antisolar point, atau jika boleh ingin kusebut titik hilang matahari—meski terdengar aneh.
Eh—bau ini!
Baru saja takjub pada suguhan alam di hadapan kami, hidungku langsung mengendus bau wangi yang begitu sedap. Buat memastikan hidungku gak salah cium ketika itu kutanya si elang ….
“Hei, Elang, apa kau juga menciumnya?”
Tak ada respon darinya buat pertanyaanku barusan, justru yang menyahut malah si domba. “Mbeeaaa.”
“Diamlah, Domba, yang kutanya itu kan si elang. Apa kau tidak mencium bau seperti aku dan si domba, hei, Elang?”
Kutanya sekali lagi tapi masih tidak ada jawaban, lalu “Mbeeaaa,” suara domba kembali menyahutku.
Dikacangin begitu aku pun jadi agak kesal, lalu dengan niat memberinya sedikit pelajaran kugeplak kepalanya menggunakan Tapak Dewa tingkat ringan dan ….
“Hei, Elang! Eh—ELAAANG!!!”
BRUKKK!!! Kami bertiga jatuh dari udara.
Mbeeaaa ... kudengar protes si domba padaku setelah tubuh kami semua ambruk ke tanah, “Kau benar harusnya aku mendengarmu, Domba.”
Aduh—sakit sekali.
Dan. Saat si elang bangun dari ‘mimpinya’, “Kwaaakkk!!!”
“ELANG! … kau hampir membunuhku dan si domba tahu, bisa-bisanya tertidur sambil terbang di udara macam tadi. Kau ini sebenarnya albatross atau seekor elang, hah?” Kusemprot dia lantaran sudah membuat jatuh kami bertiga sekaligus.
“Mbeeaaa.” Si domba berada di pihakku saat itu.
Karena peristiwa di pagi hari tersebut tidak terduga juga si elang sudah mengaku bersalah, “Kwaakk.” Kami putuskan buat melanjutkan perjalanan dan ….
“Tuan?!” Seseorang tiba-tiba menyapa ketika aku merapihkan pakaian bekas ‘tragedi’ barusan. Dia bilang, “Aku melihatmu jatuh dari langit, apa anda tidak apa-apa?”
Aku yang tak mengira bakal ada saksi mata di tempat ini cuma ketawa menjawab pertanyaannya. “Hahaha.”
“Jika tidak keberatan.” Dia melanjutkan. “Mampirlah ke pondok kami, Tuan,” tawarnya sambil menunjuk ke Kedai Teh di kanan kami pakai jempol.
Aku yang kebetulan memang mau mengisi perut juga mulai merasa lapar habis perjalanan semalam, menyambut hangat tawaran tersebut. Kuberi dia dua koin emas buat membawakanku makanan beserta daging untuk si elang dan rumput tuk si domba, seusai mengantar kami ke kedainya.
Selanjutnya. Aku jadi tahu, kami telah masuk ke wilayah negara Jiang Seng dan sangat dekat pada tujuan perjalanan kami. Jika melewati jalur darat perjalananku hanya memakan waktu kurang dari seminggu menaiki kereta kuda dan sebulan berjalan kaki … lebih atau kurang … tergantung kecepatan langkah dengan jumlah istirahat selama perjalanan.
Sementara buat kami. Karena memilih jalur udara, cuma butuh sekali melompat diapit dua pekikan lantang dari si elang ketika lepas landas dan saat mendarat di depan kediaman calon penerima surat yang kuantar.
Meski—tidak sepenuhnya mulus.
Sebab. Ketika si domba dilepas dari cengkeraman kaki si elang sebelum mendarat dan aku melompat turun dari punggungnya setelah cakarnya menyentuh tanah, seketika satu peleton—lebih—pasukan berzirah lengkap mengepung lalu mengacungkan tombak mereka kepada kami.
Sambutan termeriah buat seorang petugas pos dadakan—di mataku.
Reaksi wajar—sebetulnya—setelah melihat kedatanganku menunggangi seekor burung berukuran lebih besar daripada beruang, sebagai bentuk waspada aku pun mungkin akan melakukan hal serupa.
“Berhenti!” Teriak seseorang dengan lantang, sepertinya komandan regu tersebut. “Segera Identifikasikan dirimu, dan ada keperluan apa mendekati kediaman Raja Jian Seng, jawab!” nadanya tegas juga lantang.
Sejak tadi. Si domba menggaruk-garukkan kuku ke tanah, siap mendobrak kepungan di sekeliling kami. Sedangkan si elang sudah melebarkan sayap buat peringatan, tanda supaya jaga jarak. Sementara aku, menepuk jidat melihat reaksi kubu di depanku dengan sikap dua rekan perjalananku.
Kemudian. “Aku cuma pengantar surat!” kataku tak kalah lantang ingin menjelaskan situasi. “Lihat!” Kuambil ‘amanat’ ketua sekte dari dalam Kantong Hati Naga dan kuacungkan ke muka mereka.
Namun.
Tampaknya, mereka curiga. Komandan tadi maju satu langkah lalu bilang, “Serahkan benda di tanganmu padaku, dan silahkan tinggalkan tempat ini segera!”
Cih—najis.
Siapa juga yang mau melakukan itu. Kesepakatanku dengan ketua adalah surat ini sampai ke tangan penerimanya, bukan diberikan pada penjaga gerbang sepertimu.
“Ogah, aku mau menemui tuanmu, putri … putri …?” Sialan, aku lupa nama si penerima surat. “Arghhh … pokoknya putri!”
Karena omonganku dirasa kurang jelas mereka jadi makin curiga. “Cukup!” kata si komandan lalu memberi isyarat untuk meringkus kami.
Aku tak bisa protes. Lantaran salahku gak hafal nama penerima surat ini, tapi aku juga ogah buat ditangkap oleh cecunguk macam mereka. Terpaksa, kubuka kuda-kuda Pukulan Naga bersiap menerobos ke dalam istana. “Elang, Domba,” isyaratku pada dua rekan seperjalananku agar mengikutiku dari belakang.
Satu. Dua. “Maju!” Baru saja bersorak seraya melepas pukulan mendobrak kepungan dari dalam, tiba-tiba sebuah jeritan meminta kami tuk berhenti.
HENTIKAN!!! Seketika perhatian kami tertuju ke sumber suara.
Nahasnya, hal itu membuat Pukulan Nagaku tak sengaja kuarahkan padanya. ROAARRGH! Hawa panas berwujud naga pun melesat hendak menerjang mangsa.
Dalam situasi tak terkendali. Kucoba buat menarik pukulanku kembali, tapi gagal. Arahnya cuma melenceng beberapa derajat saja, nagaku masih akan mencelakai orang tersebut.
Namun—dalam gerakan lambat.
Bersama laju pukulanku yang hendak menerkam mangsanya, Komandan Peleton tadi melompat menjadikan dirinya tameng hidup. Dia mendahului terjangan naga tersebut sembari menghantamnya dengan punggung dan bahu kiri, membuat seranganku itu melenceng lebih jauh dari sasaran.
Menyelamatkan wanita yang tadi menjerit—si korban.
Sayangnya. Zirah beserta lengan kiri si komandan menjadi tumbal, ditukar dengan satu nyawa yang barusan dia selamatkan. Luka bakarnya begitu mengerikan hingga ke belikat, meski tidak putus warnanya begitu legam juga berbau daging gosong.4
***