TUNGGU!!!
“Mbeeaaa.”
Hei Domba, kenapa kau tiba-tiba … “Berhenti menyeruduk—”
“Sebentar, tunggu, tunggu sebentar!”
Eh, apa dia bicara padaku. “Apa kau barusan memanggilku, Nona?”
“Betul, tolong tunggu sebentar.” Ow, baiklah. Atur nafasmu dulu baru bicara. “Nona saya, meminta saya untuk memberikan ini pada orang yang baru saja meninggalkan istana bersama dengan seekor elang dan juga domba.”
Sebuah kotak hadiah seukuran genggaman tangan, apa ini buatku. Ah, cuma yang lebih membuatku tertarik adalah … walau wajah sampai pundak gadis ini basah oleh keringat, pakaiannya masih terlihat cukup rapih serta bersih kecuali debu pada bagian ujung roknya—bisa dimaklum.
Eh. Barusan dia menyebut soal istana dan nona, mungkinkah … “Dan kau siapa, Nona?”
“Ah, perkenalkan.” Wah. Dengan caramu memberi hormat seperti itu, sopan santunmu boleh juga. “Saya adalah pembantu pribadi Nona Song-Ah, Putri Kera—”
Ah, sial. “Berhenti!” Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga istana, tugasku selesai setelah memberikan surat ketua. “Sepertinya kau salah mengenali orang, aku tidak tahu nonamu, nona siapa tadi?”
“Nona Song-Ah, Tuan.”
“Ya, itu, Nona Song-Ah.” Maafkan, tapi sekali saja cukup aku jadi petugas pos dadakan. Dan. “Hei!” Jangan melirikku seperti itu.
“Tapi Tuan, saat mengejarmu barusan. Sepanjang keluar dari gerbang istana sampai kemari, hanya Anda yang berjalan bersama seekor elang dan juga domba.”
Sigh—tentu saja.
“Hem, aku tidak tahu. Bisa saja orang yang sedang kau cari itu melewati jalan lain, bukankah ada kemungkinan seperti itu juga?”
“Tidak, saya yakin orang itu adalah Anda.” Ngotot sekali gadis ini. “Hanya ada satu jalan utama dari gerbang istana menuju ke tembok batas kota, dan menurut penjaga gerbang yang saya tanya sebelumnya orang dengan elang dan seekor domba mengambil arah kemari ….”
Hem, kau benar. ‘Eh’ Kesempatan … maaf harus menendangmu, Domba. Hei … psst! … Elang cepat terbang … ssst! … jangan bersuara … huph!
“Jadi dari arah gerbang sana sampai menemui anda di—eh! Tuan, anda menghilang kemana?”
***
Pyuhhh!!
“Elang Pintar.” Syukurlah kau mengerti isyaratku. Kalau kau memekik saat melompat sebelum terbang seperti biasa, barusan kita gak mungkin bisa lolos dengan mudah.
Namun—masih ada masalah.
“Sekarang bagaimana cara menemukan si Domba, aku gak sengaja menendangnya sekencang tadi.”
“Kwaakkk!!!”
Ayolah, jangan memekik padaku. “Aku tahu, tapi kalau tidak kulakukan mana mungkin kita bisa langsung menghilang dari hadapan si pelayan tadi. Memangnya kau mau bolak-balik dari istana ke perguruan lalu kembali ke istana trus ke perguruan lagi?”
“Kwaakkk!”
Kan. “Makanya, cuma si Domba yang gak bisa lari kencang di tanah landai, jadi eh—” Ada apa di bawah sana, kenapa banyak orang berkumpul di situ.
“Elang, kau lihat gerombolan di sana?”
“Kwaakkk!!”
Benar itu. “Turun ke dekat mereka, tapi jangan terlalu dekat. Aku penasaran apa yang sedang mereka lakukan, apakah ada perayaan atau semacamnya di bawah situ?”
Di sebelah sini. Huph!
“Ingat ya, Elang. Jangan banyak bersuara, ikuti aku!”
“Kwaak!”
Pintar. Ayo kita dekati mereka. “Ah, permisi.” Eh. Buat apa mata haus darah itu kalian arahkan padaku, kan aku cuma baru menyapa. “Hehe, maaf-maaf. Aku hanya pejalan yang kebetulan lewat, tidak bermaksud mengganggu.” Tolong berhenti menatapku, rasanya bak penjahat kalau direspon begitu.
“Hei … psst! … kemari!”
Eh. “Aku?” Apa lambaian itu buatku.
“Jangan bertanya pada mereka!”
Lah. Kau siapa, boleh kutanya alasannya. “Kenapa?”
“Euh, mereka adalah pendekar yang ingin menjadi murid perguruan aliran Tinju Gunung Heng.”
Ohh. “Lantas?”
“Anda tidak mengerti, burung yang mengikutimu bukankah dia jenis Elang Paruh-Cakar Besi?”
Benarkah. “Heh!” Elang, apa-apaan pose aroganmu itu.
“Dengarkan. Orang-orang yang barusan Anda tanya sedang bersaing satu sama lain, dari luar saja terlihat tenang padahal sebenarnya di dalam mereka sedang saling mengancam.”
Apa aku gak salah dengar, begitu tenang dari sebelah mananya. “Lantas?” Apa pula urusannya denganku dan si elang.
“Anda belum mengerti juga?”
Sama sekali. “Tidak.” Memangnya wajahku belum menunjukkan kalau aku tak paham dengan semua yang barusan kau katakan.
“Haduh … kalau menggeleng seperti itu, mau bagaimana lagi … apa boleh buat, tolong pasang telinga anda baik-baik. Elang Paruh-Cakar Besi adalah jenis monster langka, selain cuma bisa ditemukan di pegunungan berbatu yang kering dan curam mereka termasuk monster kelas tinggi bahkan bisa disejajarkan dengan Great Boa—”
Tahan dulu. “Kau sedang bercanda, bukan. Dia ini tidak sekuat itu—AW!” Kenapa kau tiba-tiba mematukku.
“Kwaakk!”
Heh-Elang, akan kuremas kerongkonganmu kemari kau ….
“Tuan … tuan … tolong tahan diri anda.”
Berhenti menarik bajuku dan jangan halangi aku, biar kuberi burung tengik ini pelajaran sudah berani mematukku. “Kau, menyingkirlah!”
HOHOHO!!!
Eh—suara siapa.
“Hei, apa yang terjadi. Kenapa merek—kau juga, buat apa kalian semua membungkuk?”
“ssst! … tuan, Guru Besar aliran Tinju Gunung Heng telah hadir di sinih.”
Memangnya kenapa. “Kenapa nada bicaramu mendadak jadi pelan dan hampir berbisik begitu?”
Heh—jawab.
Arghhh … terserah, mari lihat seperti apa orang yang dipanggil Guru Besar ini. “HEI!”
“ah-tuan, tolong pelankan suara anda.”
Sigh—bodo.
“KELUARLAH KALAU KAU MEMANG BERNYALI, JANGAN HANYA MENGIRIM SUARA SAMBIL SEMBUNYI?”
“Hei, apa orang itu tidak waras?”
“Di depan Gerbang Masuk Gunung Heng, berani sekali dia berkata seperti itu, ckck-cari mati.”
“tuan ….”
Diamlah. Aku gak peduli kalian mau ngomong apa yang jelas, “APA KAU SEORANG PENGECUT, JAWAB AKU!!”
Cih. sampai kapan kau mau terus sembunyi ….
HOHOHO!!
“Eh, di sana!”
“Lihat, di atas gerbang!”
”Hormat pada Guru Besar aliran Tinju Gunung Heng!”
Meh—Orang Tua.
“Hohoho … tampaknya Gunung Heng tahun ini kedatangan orang-orang yang menarik.”
“Kenapa?” Adakah yang perlu ditatap di diriku, Orang Tua.
“Juga sedikit guncangan kecil, sepertinya. Hohoho.”
Sigh. Mengatakan itu setelah melihatku, menyebalkan. “Kau bilang apa barusan, aku tidak mengerti!”
“tuan ….”
Diam—Ini urusanku.
“Hoho, kau tidak perlu mengerti ….”
Eh. DUARRR!!! Orang Tua k*****t, tunggu pembalasanku.
***