HEI!!!
“Bisakah anda jangan berteriak, Tetua.” Kupingku sakit mendengar suaramu dari jarak sedekat ini.
“Sampai kapan kau mau melamun?” Apa masalahmu, Tetua. “Ketua perguruan ada di depanmu dan kau masih belum menunjukkan sopan santun, kau harus diberi pelajaran!”
Haahhh, drama ini lagi. Berkaca pinggang begitu tak akan membuatku tiba-tiba jadi menghormatimu tahu. Lebih baik aku berbaring sajalah, lapar sekali tiga hari tidak mengunyah apapun.
“Apa yang kau lakukan?” Berisik. “Berani sekali kau tidur di depan Ketua Perguruan. Hei—APA?”
Cih, kemarin Penjaga Ming. Kalian sama saja, orang tua yang hobi sekali mematahkan rotan di tubuhku. Lihat, sekarang muka siapa yang merah.
“Kau, kenapa melihat padaku?”
Meh. Tak boleh kah. “Aku punya mata, memangnya anda,” balasku dengan bergurau.
“Begundal!”
Lihat—siapa sebenarnya yang tidak sopan di sini.
“Sabarlah, Tetua Bong!” Kau dengar, ketua saja menegurmu. “Mi!” Eh. “Aku tahu kau murid berbakat, tapi tolong perhatikan kita sedang berada di mana. Kyongdok adalah adikku, meski dia tidak di sini tolong beri gurumu itu muka di depanku.”
Hem. Kalau Anda bilang begitu, apa boleh buat.
“Bagus, akhirnya kau bang—”
‘Diamlah!!’ Cukup dengan ocehanmu.
“Mi—”
“Tidak apa-apa, Ketua. Murid hanya melempar sedikit chi dingin buat ‘mendinginkan’ permukaan bibir Tetua Bong yang panas, itu tidak akan menyakit—iii!!” Jangan mengguncang tubuhku, Pak Tua.
“Tetua Bong, lepaskan anak itu!” Dengar ketua sekte menyuruhmu, cepat lepaskan aku.
‘Mwehehe.’ Kau tak bisa macam-macam padaku di depan ketua bukan. “Eh!” Buat apa hembusan nafas barusan, kenapa tiba-tiba Ketua mengelus d**a begitu. “Ketua, apa terjadi sesuatu?” Aku penasaran.
‘Lirikan itu!’ Oh, rupanya isyarat untuk Tetua Bong. ‘Bagus.’ lekaslah kau pergi, Pak Tua.
“Mi.”
Ya. “Ketua?”
“Sekarang hanya tinggal kita berdua.”
‘Hadeuh ….’ Anda pikir aku buta ya, Ketua. Meski hawa keberadaan dua orang di balik dinding sebelah sana itu ditekan mati-matian, pancaran energi mereka tak mungkin lolos selama dalam jangkauan mata perakku. ‘Percuma disuruh bersembunyi kalau masih di dekatku, ckck!’
“Apa kau masih mendengarku, Mi?”
Tentu saja.
Memangnya aku tuli. “Ketua.” Apa pun niatmu masa bodohlah, tapi sebelum mengatakan keinginanmu biarkan aku tuk bilang “Murid lapar!”
“Eh?”
Jangan memasang wajah terkejut begitu, aku belum selesai. “Hampir tiga hari ini murid tidak makan apapun, Ketua.”
“Hahaha!” Heh, apa kalian para ketua dunia persilatan sangat suka ketawa mendadak. “Kupikir apa yang membuatmu cemberut saat memenuhi panggilanku, rupanya urusan perut. Hahaha ….”
Sekarang sudah tahu, kan. ‘Mau bagaimana lagi.’
“Baiklah-ha ha-baiklah, mari kendurkan otot mukamu lebih dahulu. Ini—ambilah!”
Hei. Benda apa yang kau lemparkan padaku. Huph! “Apa ini, Ketua?”
“Buka saja, dan coba keluarkan isinya.”
Meh. Kenapa mukamu macam ingin menertawakanku begitu, terserah deh. “Eh, ini!”
“Bagaimana, kau menyukainya?”
Haruskah kau bertanya, tentu saja. Siapa tak suka daging rusa putih Hutan Gorgon yang sangat langka, daging kaya akan endapan mana. Konon, sepotong saja sudah cukup tuk membuat seorang pertapa melewatkan makan lima belas hari penuh. Mwehehe, “Ketua, apa aku-eh murid boleh memakannya?”
“Tentu saja, anggap itu hadiah dariku, makanlah!”
Hehe. Jangan coba kau tarik lagi ucapanmu barusan setelah ini. ‘Aaaa…’ Semua daging rusa putih gorgon yang manis, masuklah ke mulutku.
“MI!”
Terlambat buat menyesal, Ketua. Euk-ah! Aku kenyang. “Terimakasih, Ketua.”
“Kemarikan—”
Hehe. Kau tak pernah menyangkanya bukan, mau diperiksa dengan cara apapun sudah tak ada lagi daging rusa putih tersisa di dalam kantong itu.
“Hah, kau melahap lima potong daging rusa putih sekaligus.”
Aku bahkan masih bisa makan lebih banyak kalau ada—gak usah heran—Ketua.
***
Usai mengintrogasiku bagaimana caranya aku selamat dari Jurang Lembah Giok, di perbatasan antara Kolom Lima-Tiga dan Lima-Dua Benua. Aku malah diminta mengirim sepucuk surat ke negara Jian Seng oleh ketua, di Kolom Empat-Satu Benua.
Sigh—permintaan yang tak boleh kutolak.
Dia pun bertanya kenapa aku bisa sampai berurusan dengan Aliansi Beladiri Benua Timur, bahkan mencurigaiku punya maksud terselubung saat bergabung dengan Perguruan Telapak Besi. Padahal yang punya maksud tersembunyi kan dirinya menanyakan hal itu—aku yakin.
Lihat saja kertas di tanganku, sepucuk surat dengan sehelai bulu elang hitam sebagai segelnya. Dibubuhi mantra tahan tempa, cuaca, serta Rajah Sandi Besi Tiga Lapis buat pesan biasa—kelewat megah.
Jujur—kau cuma mau menggunakanku bukan.
Makanya. Setelah mendengar aku bisa mengimbangi Ketua Perkumpulan Beladiri Benua Timur, langsung kau tawari aku perlindungan penuh sebagai imbalan supaya mau mengantar surat ini—mengaku sajalah.
Dasar rubah tua.
Padahal tadi langsung saja bilang, “Aku ingin minta tolong.” Apa susahnya. Kenapa pula kau menanyakan alasanku mendaftarkan diri bersama Doll dan Roxina ke Perguruan Telapak Besi setelah menguasai Pukulan Naga dan Tapak Dewa segala. “Ya, tentu saja buat mempelajari Pukulan Telapak Besi.” Memangnya apa lagi.
Dan.
Jika kau tidak percaya aku selamat setelah jatuh ke jurang menggunakan Ilmu Kulit Baja, itu urusanmu—lantas—jangan korek aku dengan bredelan pertanyaan mengatas namakan guru. Aku benci mendengar, “Dimi wijih girimi iki birtinyi ipi iti….” Beliau saja tidak pernah menyelidiki asal-usulku, kenapa kau kepo sekali.
Arghhh.
Lagi pun, hanya karena Ilmu kulit bajamu biasa saja bukan berarti orang lain tidak boleh lebih baik bukan. Apapun tuduhan di kepalamu jawabanku, “Ya, Ilmu Kulit Baja.” Itu, Titik.
Rahasiaku. Jangankan memberitahu, menyinggung saja aku gak sudi. Jadi puaslah hanya dengan Ilmu Kulit Baja, gak bakal keluar lagi jawaban lain dari mulutku soal insiden di Lembah Giok kepadamu. “Eh, itu kan—”
Eh. Energi hidup yang begitu tipis kenapa datang dari balik bukit itu, sebaiknya kuperiksa … ini kan, “DOMBA!!!”
“Mbeeaaa.”
Oh calon makan siangku yang tadi digondol elang, kini kau telah kembali. “Bagaimana kau bisa berada di tempat seperti ini, Domba?” Biar kubuka ikatan kakimu dulu. “Haha, kupikir aku akan kehilangan calon makananku.”
“Mbeeaaa.”
Bagus, ayo berdirilah. “Hei, Domba. Mana burung k*****t yang tadi siang mencurimu dariku?”
“Mbeeaa.” Kau tidak tahu.
Hem. Jika kau jatuh di sini berarti burung itu juga … HAHA! Rupanya tak perlu merem lama buat menemukanmu, Pencuri.
Ayo. “Domba, mari kita pukuli maling yang tadi siang menyambarmu.”
“Mbeeeee.”
Ke sebelah sini, eh … “Ini!” Tekanan kematian yang luar biasa, hanya melihatnya saja membuatku merinding. “Hei, Burung Jambret, sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi kau di bawah situ bukan.”
Cih—kecuali mengerang dan bertaruh dengan hidup.
Tampaknya tenagamu sudah habis kau gunakan buat mencoba meloloskan diri dari himpitan pohon di atas tubuhmu bukan, bahkan energi hidup dari inti kristalmu sampai berhamburan kemana-mana. “Mwehehe.” Biarkan aku ‘membantu’ dengan caraku.
“Kau tadi siang telah mengutil calon makananku, waktunya memilih antara pisau liuk kesukaanku ini atau gada kristal ungu untuk mel—”
Eh tapi—terlalu enteng buat membiarkanmu.
“Tunggu dulu, aku berubah pikiran. Ditindih oleh pohon besar seperti ini kau pasti sangat menderita, bukan?” Hahaha, bagus pohon besar. Kau sungguh menjatuhkan burung suhe ini buatku, elusan saja belum cukup membalas jasamu—kurasa.
“Baiklah, Burung, aku punya rencana lain untukmu!”3
***