Mwehehe … Aku suka.
Selain ukurannya besar, kulitmu yang begitu kenyal saat kuremas ini pasti dipenuhi lemak dan daging bukan. “Untuk seekor domba gunung liar, kau terlalu menggoda buat perutku yang sudah keroncongan dua hari ini.”
“Meeaaa.” Begitukah suaramu.
“Kenapa, kau tak suka kupanggul begini, Domba?”
“Mbeeaaa.” Aku mendengarnya.
“Tenang saja, setelah kita sampai ke dekat sungai atau aliran air kau akan segera kuturunkan. Lagi pun, aku tidak tahan dengan badan baumu. Kalau bukan gegara gak ada makanan di Perpustakaan Pendiri di puncak gunung sebelah sana, kau lihat?”
“Mbeeaaa.” Tak mengerti.
Sigh. “Mana mau aku berburu di tebing curam kayak tadi.”
“Mbeeaaa.” Ayolah.
“Ngomong-ngomong kau hebat juga, bisa berlari loncat kesana-kemari di tebing yang hampir vertikal. Aku saja perlu menyelaraskan energi di kakiku supaya bisa mengejarmu, kuku kakimu ini benar-benar luar biasa!”
Eh, itu … ‘Suara air!’
“Kau dengar itu, Domba. Sebentar lagi kau akan menjadi makananku, ayo segera ke sana!”
“Mbeee ….” Aku tahu kau juga bersemangat.
“HAHAHA! kita sampai … turunlah, Domba!”
Huh—akhirnya pundakku menjadi ringan.
Kukira, Perpustakaan Pendiri akan jadi tempat yang ideal buat sembunyi. “Eh!” Tahunya malah yang terburuk sejauh ini, puasa dua hari berturut-turut bahkan tanpa minum bagaimana aku bisa bertahan.
Untung saja aku mendengar lalu mengikuti—suara—domba muda menuju ke kawanan mereka tadi, hasilnya lumayan meski kudu melompat ke tebing di belakang perpustakaan mengerikan itu lebih dulu.
Dan. Biar kata blusukan, paling tidak aku punya dia tuk sarapan sekaligus makan siang hari ini.
“Tunggulah Domba, setelah aku selesai mencuci tangan dan kakiku akan kusembelih kau pakai pisau liuk kesayanganku. Jadi sabar sebentar akan kubuka ikatan kakimu setelah ini, okay, Domba? Dom—”
“HEI!” Meleng sebentar saja makananku sudah ada yang menyambar.
Sialan—kenapa aku tidak merasakan kehadirannya.
Tunggu kau. “Burung, kembalikan calon makananku!”
‘Arghhh!’ Kalau dia terbang seperti itu, bagaimana caraku mengejarnya. ‘Eh, tunggu!’ Kenapa aku repot-repot berlari mengejar dia yang meluncur di udara, padahal bisa kugunakan cara ini. Hu-uh!
Kau akan jadi peluruku. “Pohon besar, tolong maafkan aku!”
Heuuu! Akar pohon ini kuat mencengkeram tanah, tapi bukan masalah.
Masih sanggup kurabut. “Pohon besar, tolong jatuhkan burung hitam itu buatku.”
Huph! Bobotnya lumayan berat.
Satu … dua … “Hei, Burung, terima ini!”
Hiyaaat!! Rasakan lemparanku.
***
Setelah lebih dari sepuluh nafas mengadu serangan jarak jauh, aku dan lawanku sama-sama kehabisan mana. Tapi meski tekanan dari gelombang pukulan kami sudah tiada, pasukan Aliansi Beladiri Benua Timur belum ada yang mendekat dan masih mematung di posisi mereka.
Padahal dengan lenyapnya debu yang menghalangi pandangan, tidakkah mereka penasaran pada hasil duel dua naga kami.
Hem—gak ada gerakan apapun dari pihak lawanku padahal sudah berlalu beberapa saat.
Sigh. Apa mereka memang gerombolan pengecut, tidak adakah yang mau memanfaatkan kesempatan buat meringkusku atau berinisiatif membantu si pemimpin mumpung kolam mana kami belum terisi lagi.
Atau.
Jangan-jangan mereka itu anjing terlatih, sebelum orang di depanku memberi perintah gak bakal ada yang berani mendekati kami—benarkah.
“Hahaha!” Kenapa dia ini tiba-tiba tertawa. “Tak kukira akan ada orang yang mampu menghadapi Tarian Naga Laut Timur sebaik dirimu, Pemilik Rumah Lelang, haha-ha ha-ha hoek-hoek,” katanya sambil tertawa kepayahan.
Hah—apa barusan kepalanya membentur sesuatu?
Kuda-kudamu gemetaran begitu, waspadaku malah jadi hilang. “Hei, Ketua Angin Timur?”
“ALIANSI!” Heh, rupanya dia sanggup meneriakiku kalau salah menyebut gelarnya. “Aku sudah memperkenalkan diri tadi, apa sesusah itu mengingat Perkumpulan Beladiri Benua Timur?” keluhnya.
Hem. “Ya-terserah, gak masalah kan jika aku duduk?” tanyaku yang langsung menyelonjorkan kaki di depannya.
“APA?!” Kulihat matanya melebar saat dia berteriak. “Kenapa kau bisa sesantai itu di saat seperti ini?”
Ohh—sekarang bahasa formalmu sudah hilang.
Kenapa, jangan samakan aku denganmu. Sebelum kalian memakai chi buat mengganti istilah mana, aku sudah duluan mencapai tingkat tertinggi manipulasi energi. Bahkan kalau saja mendiang Chloe mengizinkanku dulu, aku sudah menjadi praktisi Essen di benua ini—lebih murni dari mana.
“Pemilik Rumah Lelang, sampai kapan kau akan mengabaikanku?”
Entahlah.
Ehem. “Kemana kata ‘Anda’ yang sebelumnya kudengar?”
“Cih! SEMUANYA DENGARKAN!” Ow, sebaiknya aku menutup telinga. “Aku dan Pemilik Rumah Lelang telah sama-sama mencapai batas kami, semuanya ikuti perintah.” Hem, apa yang akan dia katakan. “SERBU PEMILIK RUMAH LELANG, SEKARANG!!!”
Sigh—bodoh.
Saat kita bicara barusan, kolam manaku sudah terisi penuh. Jangankan hanya kalian, Mighty Guardian saja sanggup kutundukan.
Haaa—sepertinya aku memang tidak punya pilihan lain.
“Hei-hei-hei, apa yang akan kau lakukan?”
Cih. Masih nanya, bukankah kalian punya mata. “Menurutmu apa?”
Haaaph! Biar kutunjukkan kenapa aku dulu dipanggil monster.
“SEMUANYA BERHENTI, KEMBALI!!!”
‘Terlambat.’ Makanlah ini, Tapak Dewa tingkat ke tiga—Chiaaat!
DUARRR!!! Pada akhirnya jurang inilah satu-satunya jalanku tuk lolos dari mereka.
***