BERHENTI!!!
Hah—ada suara.
“Kau! Yang baru saja melewati Gapura Kediaman Pendiri, identifikasikan dirimu!” Suara dari mana itu.
Apa jangan-jangan maksudnya aku. “Anda sedang bicara padaku, Tetua?”
“Apa ada orang lain selain dirimu, di tempat ini?”
Ya … “Karena aku bisa mendengar suara Anda. Meski tak menunjukkan diri, berarti bukan cuma aku sendiri yang ada di tempat ini. Bukankah begitu, Tetua?”
“Hem … kuulangi pertanyaanku, apakah kau datang seorang diri?” Nada suaranya jadi berubah.
“Ya!”
“Sekarang sebutkan namamu, dan apa urusanmu kemari!”
Baiklah. “Namaku Mi, Tetua. Dan aku kemari gegara ini—AW!” Jangan tiba-tiba muncul di depanku seperti itu, “Jangan mendekat!”
“Tenanglah, aku bukan hantu.”
“Muncul mendadak di depanku, itu yang kau sebut bukan hantu?”
“Cih, turunkan kuda-kudamu. Lihatlah, kakiku masih menginjak bumi. Lihatlah kemari, lihat!”
Mendengarmu mengatakan itu sambil menggerakan kaki begitu, sungguh membuatku ragu. Tapi … “Baiklah, aku percaya. Tetua, Anda ini siapa?”
“Berikan token yang barusan kau tunjukkan.”
Tidak mau. “Katakan dulu siapa Anda!”
“Hah?” Kenapa pula kau memasang ekspresi begitu. “Baiklah, aku adalah penanggung jawab di tempat ini. Penjaga Perpustakaan terhebat di seluruh Perguruan Telapak Besi, dan satu-satunya. Akulah—”
Aku malas mendengarkan ocehanmu. “Cukup-cukup, langsung saja ke intinya. Kenapa aku harus memberikan token ini kepada Anda?”
“Kau!” Sepertinya dia kesal. “Dengarkan aku, aku adalah Penjaga Perpustakaan Pendiri. Dan token it—”
Bagus. “Benarkah, tunjukkan padaku di mana Perpustakaan Pendiri itu!”
“Heh.” Apa yang salah, kenapa mukamu jadi seperti itu. “BISAKAH KAU BERHENTI MENYELAKU!!!”
Ish, untung aku langsung menutup telinga. “Baiklah, Tetua.”
“Hah … untuk apa kau pergi ke Perpustakaan Pendiri?”
“Anda tidak perlu tahu, Tetua. Antarkan saja aku ke sana, dan token ini akan menjadi milik Anda.” Bagaimana penawaranku itu.
“Kau sama sekali tidak tahu arti dari benda di tanganmu, bukan?”
Hem … “Siapa peduli, aku hanya ingin masuk ke perpustakaan pendiri. Itu saja, token ini—tangkap!”
“Heh, BOCAH!” Jangan mengacungkan telunjuk padaku, Pak Tua. “Berani sekali kau melemparkan token penerus penjaga perpustakaan seperti itu, apa kau ingin mati?”
Tapi terserahlah. “Tokennya sudah Anda miliki, sekarang antar aku ke Perpustakaan Pendiri.”
“Ha-sudahlah. Percuma meladenimu, ikuti aku!”
Bagus. Perpustakaan Pendiri, aku datang.
***
Setelah aku melewati batas kolom Lima-Tiga dan masuk ke kolom Lima-Dua Benua, pasukan Aliansi Beladiri Benua Timur telah mengepung serta menyudutkanku ke sebuah bibir tebing. Dengan mereka yang datang dari tiga arah—depan juga kanan dan kiri—pilihan yang kupunya hanya ke belakang, tapi itu bisa saja berarti maut karena aku tak tahu seberapa dalam jurang ini.
“Sudah, menyerah saja lah. Kami berjanji tidak akan menyakiti Anda, jika Pemilik Rumah Lelang bersedia bekerja sama!” begitu kata salah seorang dari mereka—berusaha membujukku.
Cih, jujur saja. Kalau bukan karena Chloe Kecil dan ibunya, dengan semua tingkat yang telah kucapai menghabisi mereka di sini bukanlah masalah sulit. Hanya saja aku punya janji pada mendiang Chloe, tidak akan menjadi monster penebar teror untuk Eldhera.
Cuma—sekadar mengikuti permainan ini saja.
“Bagaimana?” Mereka masih ingin aku menyerah.
“Najiiis!” kataku sambil melempar Pukulan Naga tingkat dua, yang sialnya—serangan jarak jauhku itu—bisa dinetralisir oleh mereka.
Dan.
Di tengah keriuhan pada tepi jurang tersebut, seseorang tiba-tiba berteriak. Karena teriakannya itu pula pasukan yang sedang menghalauku tiba-tiba membelah diri jadi dua kelompok, membuka jalan untuknya yang baru saja memekik.
“SEMUANYA BERHENTI!!!”
Aku yang juga mendengar teriakan tersebut, spontan melihat ke sumber suara. Dari antara dua barisan tadi, mendekat orang-orang dengan atribut yang mudah dikenali bahwa mereka bukanlah orang biasa—sekali lirik.
‘Baiklah,’ mantapku dalam hati sebelum akhirnya kukatakan, “Siapa lagi kalian, dan mau apa?” Langsung menanyai mereka saat tiba di depanku.
Kupasang kuda-kuda. Bersiap melempar pukulan Tapak Dewa, jaga-jaga kalau orang-orang ini juga berniat meringkusku.
“Tenanglah Pemilik Rumah Lelang, kami di sini berniat untuk bernegosiasi,” jawab salah seorang dari mereka yang berada di paling depan—sepertinya pemimpinnya.
“Apa aku tidak salah dengar?” tanyaku merespon apa yang baru saja dia katakan. “Bernegosiasi, setelah mengerahkan pasukan sebanyak ini buat menangkapku. Kau pasti bercanda, bukan?”
Dia tersenyum kecil dan hendak melangkah maju, tapi ….
“Eit-eit-eit! Selangkah kakimu mendekat, akan kubakar kau dengan pukulan panasku ini!” Aku mengancam.
“Lancang!” teriak seorang pendekar dari regu kiri yang kemudian menjerit. “Arghhh … Panaaas … Panaaas ….” Setelah terkena lemparan Tapak dewa tingkat satuku.
Sementara semua orang yang menyaksikan peristiwa itu, langsung tahu bahwa kata-kataku bukanlah main-main. Sehingga para pendekar di barisan paling depan dari dua regu tersebut menjadi lebih waspada, mereka serentak menodongkan senjatanya ke arahku.
“Bagus! Takut kan kalian sekarang,” kataku yang kembali membuka kuda-kuda.
Namun, dia yang tadi mengatakan ingin bernedosiasi juga kukuh dengan ucapannya. “Bisakah kita mulai berdiskusi, Pemilik Rumah Lelang?”
Hem … di pinggir jurang seperti ini, pilihan apa yang kupunya. “Baiklah, katakan kau mau apa dariku?”
“Hahaha!” Dia tertawa kencang. “Pemilik Rumah Lelang, bergabunglah dengan perkumpulan perguruan beladiri kami,” katanya dengan tangan yang terbuka lebar.
Mencurigakan.
Aku yakin ada maksud lain dari ajakan tersebut. “Hah, kuhargai tawaranmu tersebut. Tapi maaf saja aku sudah bergabung dengan perguruan lain, lihatlah pakaianku ini,” kataku sambil memberikan isyarat bahu.
Dia sepertinya tidak puas. “Pemilik Rumah Lelang, Anda sepertinya salah mengartikan. Ucapanku tadi bukanlah sebuah ajakan, melainkan perin—”
Sudah kuduga, “Cih, terserah. Kalimatku tadi juga bukan jawaban, aku pun tidak peduli padamu.”
“HAHAHA!!!” Dia tertawa terbahak-bahak. “Kalian semua dengar itu. Orang ini tidak peduli kepadaku, hahaha,” katanya yang kemudian menunjukku sambil terus tertawa.
Aku jengkel dengan caranya bersikap.
“Hahaha … hah-ha … ha-ha ….” Tertawa dia sampai bengek. “Biar kuperjelas sesuatu,” ucapnya dengan nada serius. “Aku adalah Ketua Perkumpulan Beladiri Benua Timur.”
Euu. Aku hanya diam menyaksikan perilakunya barusan—kebingungan.
“Hah, kenapa … Apa Ketua Perkumpulan Beladiri Benua Timur tidak berarti apa-apa untukmu. Begitukah … Pemilik Rumah Lelang, ayo jawablah aku.”
Sepertinya dia keheranan sendiri dengan reaksiku.
Hah … “Terus terang, kalau tidak ada hal lain lagi yang kau inginkan dariku sebaiknya tolong bubarkan saja mereka,” kataku sambil menunjuk pada dua kelompok di kanan dan kirinya menggunakan dagu.
Entah apa isi pikirannya setelah aku mengatakan itu, tapi mukanya adalah wajah yang tak mau kulihat lagi seumur hidup—menyebalkan.
Dengan raut kaku dia bilang, “Aku tidak berniat membuang-buang waktu lagi denganmu.” Kemudian melakukan bukaan buat jurus yang dia sebut, “Tarian Naga Laut Timur!”
Aku tidak tahu akan semegah apa dampak dari jurus ini, tapi melihat orang-orang di sekitarnya mengambil jarak seketika namanya disebut sepertinya dia bukanlah main-main. Makanya ketika persipan tuk melepas gelombang pukulan Tarian Naga Laut Timur itu selesai, aku pun mengambil setengah langkah ke belakang melakukan bukaan buat Pukulan Naga tingkat tiga.
“Hahaha, rupanya kau punya nyali juga!” katanya sesaat sebelum melempar gelombang energi pukulan yang sudah tampak seperti naga biru lagi mengamuk—ingin menerjangku.
Kubalas, “BACOT!!!” Menyambut terjangan gelombang berat yang dia lemparkan barusan, kulepas pula gelombang hawa panas menyerupai seekor naga tuk menghadapi pukulan tersebut.
DUARRR!!! Gelombang pukulan kami beradu di udara.
“Berlindung!!!” Orang-orang pun berusaha—menjauh—menghindari angin dari ledakan pukulan kami. “Cepat mundur!”
Meski tekanan udara di depan satu sama lain makin berat, tapi kami sama-sama tidak mau mengalah. Dua naga yang kami lepaskan saling melilit dan membentur berkali-kali, menghasilkan suara menggelegar disertai angin ledakan—keras dan kencang.
***
Setelah sehari semalam mengubrak-abrik seluruh isi Perpustakaan Pendiri, jenuh dan bosan kembali menghampiriku. Selain jumlah bukunya lebih sedikit ketimbang perpustakaan utama di padepokan, halamannya pun tipis-tipis dan cuma berisi metode ‘rahasia’ sirkulasi chi—sama sekali gak kubutuhkan.
‘Aku menyesal datang ke sini.’
Bahkan setelah menggunakan Mata Perak buat menyisir—kalau ada—rahasia tersembunyi di balik dinding dan lantai tempat ini, tetap gak ada apapun yang menarik. Jadi pada malam ke duaku di Perpustakaan Pendiri, kuputuskan berjalan keluar sejenak tuk menghirup udara segar.
Namun. ‘Kutarik kembali ucapanku soal menyesal sudah datang kemari.’
Soalnya. Dalam balutan sejuknnya cahaya rembulan, gemilang pancaran aura ‘harta karun’ Perguruan Telapak Besi membangunkan Mata Perak saat tak sengaja kulihat waktu membuka pintu. Pantas gak ketemu pas aku di dalam, pusaka yang kucari-cari itu bukan berada pada lembaran buku—rupanya.
Menakjubkan.
Melalui ukiran pada pintu besi di seberang pekarangan perpustakaan, rentetan pola serangan serta pertahanan mengalir—bak menari—dalam sorotan Mata Perak milikku. Melantunkan bait-bait yang seketika berubah menjadi gerakan dalam kepalaku, menampilkan rangkaian manipulasi energi berbentuk tendangan juga pukulan yang—entah bagaimana—spontan kusebut “Pamungkas Seni Langkah Besi.”2
***