Setelah dimintai keterangan resmi — dua jam di ruang sempit, pertanyaan yang sama diputar dari sudut yang berbeda, pulpen Iptu Raharja menggigit kertas — Murtiwati pulang ke bengkel dan duduk dalam gelap sampai larut. Ia tahu sekarang ia tak bisa lagi hanya membaca dari luar. Pembaca yang baik menunggu dipanggil. Tapi tak ada lagi yang akan memanggilnya sebagai pembaca. Untuk membela diri, ia harus melakukan hal yang selama tujuh tahun ia bersumpah tak akan pernah ia lakukan: membuka pintu yang bukan haknya.
Logika konspirasi ini berputar pada satu poros yang belum ia lihat: siapa yang punya akses ke semua tempat sekaligus. Pelaku menguasai kunci Cahaya Mas, Hartono Jaya, dan notaris Wibisana. Ketiganya sistem yang berbeda, pemilik yang berbeda, dipasang pada waktu yang berbeda. Untuk satu tangan menguasai ketiganya, harus ada satu titik di mana ketiga sistem itu bertemu. Murtiwati harus menemukan titik itu, dan untuk menemukannya, ia harus memetakan hierarki akses setiap gedung — sesuatu yang seharusnya hanya dilakukan dengan izin pemilik, dengan berita acara, dengan tanda tangan. Ia tak punya satu pun dari itu sekarang.
Ia mulai dari yang paling mungkin: catatannya sendiri. Ia membuka log untuk Hartono Jaya dan notaris — tunggu, notaris tak ada di lognya. Cahaya Mas dan Hartono Jaya ada. Notaris tidak. Tapi ketiga tempat dibobol dengan tangan yang sama. Maka penghubungnya bukan dirinya. Penghubungnya sesuatu yang lain, di luar lognya, yang menyentuh ketiganya — termasuk tempat yang tak pernah ia layani.
Ia menyusuri detail teknis tiap TKP dari foto-fotonya. Silinder Cahaya Mas: merek tertentu, dipasang bukan olehnya, ia hanya servis brankas. Silinder Hartono Jaya: dipasang olehnya, dengan sistem kunci induk. Silinder notaris: ia belum periksa mereknya dengan cermat. Ia menelepon resepsionis notaris dengan dalih melengkapi keterangan — setengah benar lagi — dan menanyakan siapa yang dulu memasang sistem keamanan kantor itu. Perempuan muda itu, masih takut tapi masih sopan, menyebut sebuah nama: sebuah perusahaan vendor pemasang sistem keamanan, yang juga memasang CCTV dan alarm.
Nama itu membuat Murtiwati berhenti. Karena ia mengenalnya. Vendor itu adalah perusahaan yang, beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, menyubkontrakkan pekerjaan kunci induk padanya. Ketika sebuah gedung butuh sistem master key yang rumit, vendor itu memasang alarm dan kamera, lalu memanggil ahli kunci untuk bagian mekanisnya. Dan beberapa kali, ahli kunci itu adalah Murtiwati.
Ia menarik napas dan mulai menghubungkan, urut, dingin. Ia memeriksa lognya lagi, kali ini bukan mencari nama korban, tapi mencari nama vendor. Dan di sana, terselip di antara pekerjaan-pekerjaan, ia menemukannya berulang kali: pekerjaan kunci induk yang ia kerjakan atas permintaan vendor itu, untuk gedung-gedung yang dipasangi sistem keamanan oleh mereka. Termasuk — jantungnya berhenti sesaat — Hartono Jaya. Dan kalau ia menelusuri lebih jauh, ia yakin akan menemukan bahwa vendor itu juga yang memasang sistem di gedung notaris, hanya saja bagian kuncinya dikerjakan orang lain atau oleh internal mereka.
Murtiwati mengambil kertas dan menggambar, seperti ia menggambar hierarki kunci induk: kotak-kotak dan garis. Di puncak, vendor. Di bawahnya, gedung-gedung yang mereka pasangi. Di sebagian gedung itu, garis turun ke namanya — pekerjaan kunci induk yang ia rakit. Dan inilah yang membuat tangannya dingin: setiap kali ia merakit kunci induk untuk vendor itu, prosedur mereka mengharuskan ia menyerahkan satu salinan kunci induk dan satu lembar spesifikasi pin ke kantor vendor 'untuk arsip dan keperluan perawatan'. Itu standar industri. Itu masuk akal. Itu yang selalu ia lakukan, dengan berita acara, dengan tanda tangan, dengan catatan rapi di lognya.
Vendor itu menyimpan salinan setiap kunci induk yang pernah ia rakit untuk mereka.
Di satu tempat, di satu lemari arsip, tersimpan kunci-kunci yang membuka puluhan gedung di kota ini — kunci-kunci yang dibuat oleh tangan Murtiwati, diserahkan oleh Murtiwati, dicatat oleh Murtiwati sebagai bukti kerapiannya. Seseorang dengan akses ke arsip itu tidak perlu membobol satu gedung pun. Ia tinggal mengambil kunci induk dari laci, atau lebih licik lagi, duduk tenang dengan silinder cadangan di arsip itu dan membaca seluruh hierarki lewat impresi, berjam-jam, tanpa diganggu. Dan setiap pintu yang ia buka dengan kunci itu akan menunjuk balik ke pembuat kunci. Ke Murtiwati.
Untuk pertama kali konspirasi ini punya tulang punggung yang bisa ia raba. Bukan satu pencuri yang membobol tempat demi tempat. Sebuah penguasaan jaringan akses sebuah kota — sebuah simpul tunggal tempat semua kunci induk berkumpul, dan seseorang yang berdiri di simpul itu, memegang segala pintu, dengan nama Murtiwati tercetak di tiap kunci sebagai pembuat.
Murtiwati menatap gambar hierarki yang ia buat sampai garis-garisnya seperti jeruji. Ia tahu apa langkah berikutnya, dan ia tahu langkah itu adalah pintu yang selama ini ia bersumpah tak akan ia buka. Ia harus masuk ke arsip vendor itu. Ia harus melihat sendiri lemari kunci induk itu, memastikan kunci-kunci itu ada atau hilang atau disalin. Tapi ia tak punya izin. Ia tak punya berita acara. Kalau ia masuk ke sana tanpa hak, ia menjadi persis apa yang dituduhkan padanya: seseorang yang membuka pintu yang bukan haknya. Setiap langkah untuk membuktikan ia tak bersalah adalah langkah yang membuatnya tampak lebih bersalah.
Ia duduk lama, gambar hierarki di depannya, teh dingin di sampingnya, dan untuk pertama kali ia mengerti bentuk lengkap dari jebakan yang mengurungnya. Penjebaknya tidak hanya meminjam namanya. Penjebaknya menempatkannya di posisi di mana satu-satunya cara keluar adalah dengan melanggar prinsip yang menjadi seluruh alasan ia bisa dipercaya. Untuk membuktikan ia tidak membuka pintu yang bukan haknya, ia harus membuka pintu yang bukan haknya. Dan tangan yang menyusun ini, ia kini yakin, sedang menunggu di seberang pintu itu — bukan untuk menghentikannya, tapi untuk menyaksikannya melangkah masuk.