Kantor notaris Wibisana menempati lantai dua sebuah ruko bercat krem di dekat alun-alun, tempat orang-orang menitipkan akta tanah, sertifikat rumah, surat warisan — kertas-kertas yang nilainya melampaui emas karena tak bisa dicetak ulang. Saat Murtiwati dipanggil ke sana, ia tahu kasus ini berbeda bahkan sebelum ia naik tangga. Iptu Raharja menunggunya di atas dengan dua orang lain: seorang penyidik senior yang tak ia kenal, dan resepsionis notaris yang matanya merah.
Lemari besi di ruang arsip terbuka, dan beberapa map akta hilang — bukan semua, hanya beberapa, dipilih. Pintu lemari utuh. Pintu kantor utuh. Alarm, sekali lagi, dimatikan dan dinyalakan dengan kode yang benar. Murtiwati membaca silinder pintu, membaca mekanisme lemari, dan menemukan jejak yang sudah ia duga: goresan impresi yang teratur, halus, sabar. Tangan yang sama. Tapi kali ini ada sesuatu yang tak pernah ada di TKP sebelumnya. Kali ini ada saksi.
"Ceritakan lagi pada Bu Murti apa yang Mbak lihat kemarin," kata Iptu Raharja pada resepsionis.
Perempuan muda itu menelan ludah. "Sehari sebelum ini... ada tukang kunci datang. Perempuan. Dia bilang dari kantor mau cek sistem kunci, katanya ada keluhan dari Pak Notaris. Saya pikir benar, soalnya dia bawa tas alat, dia tahu istilah-istilah, dia bicara soal silinder, soal kunci induk. Dia... dia rapi. Sopan. Dia bahkan mencatat di buku kecil, memotret pintunya pakai kertas tanggal di sebelahnya. Saya pikir, wah, profesional sekali."
Murtiwati merasa lantai ruko itu bergeser di bawah kakinya.
"Mencatat," ia mengulang. "Memotret. Dengan kertas tanggal."
"Iya, Bu." Resepsionis menatapnya, lalu matanya melebar pelan, dan Murtiwati melihat pengenalan merayap ke wajahnya. "Persis seperti... Bu, maaf, tapi perempuan itu. Tingginya seperti Ibu. Rambutnya diikat seperti Ibu. Cara dia bicara soal kunci... Bu, apa Ibu yakin Ibu tidak ke sini kemarin?"
Ruangan itu sunyi. Penyidik senior yang tadi diam mengangkat kepalanya dan menatap Murtiwati dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari Iptu Raharja — tanpa kesopanan yang dijaga, hanya perhitungan dingin.
"Saya tidak pernah ke kantor ini seumur hidup saya," kata Murtiwati, dan ia mendengar suaranya sendiri terdengar terlalu rata, terlalu terlatih, terlalu seperti orang yang sedang membela diri. "Saya tidak pernah dititipi pekerjaan oleh notaris Wibisana. Cek catatan saya. Tidak ada namanya di log saya. Tidak ada."
"Justru itu, Bu," kata penyidik senior, suaranya halus seperti minyak. "Yang membobol tempat-tempat lain, katanya, selalu tempat yang pernah Ibu layani. Tempat ini tidak. Tapi di tempat ini, sehari sebelumnya, ada perempuan yang mencatat dan memotret persis seperti Ibu, yang mengaku ahli kunci, yang tahu istilah-istilah yang cuma Ibu dan satu dua orang di kota ini paham." Ia memiringkan kepala. "Bukankah itu menarik?"
Murtiwati mengerti, dengan kejernihan yang menyakitkan, apa yang baru saja terjadi. Selama ini benang yang menghubungkan kasus-kasus adalah daftar pekerjaannya — tempat-tempat yang pernah ia sentuh. Itu bisa dijelaskan: seseorang punya aksesnya, memilih korbannya. Tapi sekarang benang itu naik satu tingkat yang jauh lebih jahat. Sekarang bukan hanya tempat-tempatnya yang dipakai. Sosoknya yang dipakai. Seseorang berpura-pura menjadi dirinya, dengan tinggi yang sama, rambut yang sama, kebiasaan mencatat dan memotret yang sama — sebuah pertunjukan yang dirancang khusus untuk satu penonton: kota kecil yang mengenal Murtiwati sebagai perempuan ahli kunci yang selalu mencatat.
Pergeseran itu mematikan. Sebelumnya, pertanyaannya adalah 'siapa yang punya kunci'. Murtiwati bisa menjawab itu sebagai ahli, dari luar, sebagai pembaca. Sekarang pertanyaannya menjadi 'siapa yang berpura-pura jadi Murtiwati' — dan jawaban yang paling sederhana, yang paling masuk akal bagi penyidik yang lebih percaya benda daripada cerita, adalah: Murtiwati sendiri. Karena untuk berpura-pura menjadi seseorang sesempurna itu, kau harus mengenalnya. Dan siapa yang lebih mengenal Murtiwati daripada Murtiwati?
"Saya tidak menyamar jadi diri saya sendiri," kata Murtiwati, dan kalimat itu terdengar konyol bahkan di telinganya sendiri, dan ia tahu kekonyolan itu justru senjata yang dipakai melawannya.
Iptu Raharja, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara, dan nadanya berubah. Bukan lagi 'tolong jelaskan pada kami sebagai ahli'. Sekarang: "Bu Murti, saya perlu Ibu datang ke kantor besok. Bukan sebagai saksi ahli. Untuk dimintai keterangan. Resmi."
Kata-kata itu menutup sebuah pintu di dalam dada Murtiwati. Selama tiga kasus ia adalah orang yang dipanggil untuk membaca, orang yang dipercaya menerjemahkan akses bagi mereka yang tak mengerti. Hari ini ia berhenti menjadi pembaca dan mulai menjadi yang dibaca. Garis itu, sekali dilewati, jarang bisa diseberangi kembali.
"Saya akan datang," katanya, karena menolak akan terlihat seperti bersembunyi, dan bersembunyi adalah pengakuan. Itu jebakan yang elegan: setiap gerakan untuk membela diri terlihat seperti gerakan untuk menyembunyikan. Diam berarti menyembunyikan. Bicara berarti menyodorkan pengetahuan yang memberatkan. Datang berarti tunduk. Tidak datang berarti melarikan diri.
Ia turun tangga ruko itu sendirian, melewati resepsionis yang menatapnya dengan campuran takut dan curiga, keluar ke alun-alun yang penuh orang. Dan untuk pertama kali sejak skandal bank bertahun-tahun lalu, Murtiwati merasakan tatapan sebuah kota mulai berubah. Belum tuduhan terbuka. Baru bisikan. Tapi ia tahu betul betapa cepat bisikan di kota kecil mengeras menjadi kebenaran, betapa ringan sebuah kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun bisa dipindahkan dengan satu deskripsi: 'tukang kunci perempuan, tinggi segini, suka mencatat.'
Seseorang sedang merampoknya. Bukan emas, bukan akta. Sesuatu yang lebih berharga dan tak bisa diasuransikan: namanya. Dan Murtiwati, yang seluruh hidupnya adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah kunci meninggalkan jejak kepercayaan, mulai memahami bahwa ia sedang dijadikan satu-satunya jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan yang belum bahkan diajukan secara terbuka — dan bahwa untuk membersihkan namanya, ia harus menemukan tangan yang meminjamnya sebelum tangan itu mengembalikannya dalam keadaan ternoda darah.