Kunci tidak berbohong, tapi kunci punya silsilah. Setiap kunci lahir dari sesuatu: dari cetakan asli pabrik, dari kunci lain yang ditiru, atau — yang paling sulit — dari pin-pin di dalam silinder yang dibaca lewat impresi. Murtiwati menghabiskan hari berikutnya menelusuri silsilah itu, dimulai dari tempat yang paling ia takuti: bengkelnya sendiri.
Kalau pelaku membuat duplikat sepresisi yang ia lihat di Hartono Jaya, ia butuh salah satu dari dua hal. Pertama, akses ke kunci asli, yang berarti ia mencurinya sebentar, mencetak, lalu mengembalikan. Kedua, akses ke kunci induk yang dari situ ia bisa membaca seluruh hierarki sistem. Dan kunci induk untuk Hartono Jaya pernah dirakit oleh Murtiwati, di bengkel ini, dengan tangannya sendiri.
Ia memeriksa stok kunci kosongnya satu per satu, mencocokkan dengan catatan persediaan. Ia menghitung silinder cadangan di rak. Ia membuka mesin duplikat dan memeriksa apakah ada yang janggal — kunci kosong yang tertinggal, serbuk logam dari pemotongan yang tak ia lakukan. Bengkel ini sempit; tak banyak tempat untuk hal-hal hilang tanpa ketahuan. Tapi justru karena sempit, satu benda yang berpindah pun terasa seperti perabot yang digeser di rumah yang ia hafal dalam gelap.
Tak ada yang hilang. Itu yang membuatnya gelisah. Stoknya utuh, lognya utuh, mesinnya bersih. Kalau pelaku mencuri sesuatu dari sini, ia akan menemukannya dan setidaknya tahu bagaimana. Tapi tidak ada yang dicuri. Maka pelaku tidak perlu masuk ke bengkel. Ia sudah punya apa yang dibutuhkannya dari tempat lain. Pertanyaannya: dari mana?
Murtiwati duduk, menyeduh teh yang dingin sebelum sempat diminum, dan berpikir urut. Untuk membaca kunci induk dengan impresi, pelaku butuh akses fisik ke salah satu silinder dalam sistem itu, cukup lama, cukup tenang. Di mana seseorang bisa duduk berjam-jam dengan sebuah silinder tanpa diganggu? Bukan di tempat korban. Di tempat di mana silinder itu disimpan sebagai cadangan, sebagai arsip. Dan satu-satunya tempat seperti itu, selain bengkelnya, adalah—
Ia menghentikan pikirannya. Ia belum punya cukup. Ia butuh suara dari luar, dari orang yang mendengar kabar di kalangan yang tak ia datangi.
Ia menelepon Sukiman, tukang kunci tua di sisi lain kota, lelaki yang sudah memegang kikir sejak Murtiwati belum lahir, yang menganggapnya separuh murid separuh saingan, dan yang tahu setiap kabar di komunitas tukang kunci kota dagang ini. Mereka bertemu di warung kopi dekat lapak Sukiman, di bawah kipas angin yang berputar malas.
"Tumben kamu mau ketemu orang," kata Sukiman, menyeruput kopinya. "Biasanya kamu sembunyi di kandang kuncimu itu."
"Saya butuh telinga Pak Kiman," kata Murtiwati. "Ada orang baru di kota? Yang main kunci. Bukan tukang potong duplikat di pasar. Yang serius."
Sukiman mengunyah pikirannya sebentar. "Ada. Beberapa bulan ini. Anak muda, atau setengah muda, susah ditebak umurnya. Sopan. Datang ke beberapa lapak, tanya-tanya. Bukan tanya harga. Tanya teknik."
Murtiwati menahan napas. "Teknik apa?"
"Impresi." Sukiman menatapnya. "Dan bukan impresi kunci biasa. Dia tanya soal membaca kunci induk dari sub-master. Soal merakit hierarki master key. Hal-hal yang..." Ia mengetuk meja. "Hal-hal yang cuma dua tiga orang di kota ini paham. Saya salah satunya. Dan kamu."
"Apa dia datang ke Pak Kiman?"
"Datang. Saya usir. Saya tidak suka orang tanya kunci induk dengan mata seperti dia." Sukiman menyipit. "Tapi ada satu yang bikin saya ingat dia sampai sekarang. Waktu saya tanya dia belajar dari siapa, dia bilang..." Sukiman berhenti, dan menatap Murtiwati dengan tatapan yang tiba-tiba berubah. "Dia bilang dia belajar dari yang terbaik di kota ini. Dia sebut nama. Dia sebut nama kamu, Murti. Dia bilang Bu Murtiwati Antyani gurunya."
Kipas angin berputar malas di atas mereka. Murtiwati merasa seluruh warung itu menjauh sedikit.
"Saya tidak pernah punya murid," katanya pelan. "Saya tidak pernah mengajari siapa pun teknik itu. Saya tidak percaya pada siapa pun cukup untuk mengajarinya."
"Saya tahu," kata Sukiman. "Makanya saya ingat. Karena saya pikir, bohong betul anak ini. Murti tidak mengajar siapa-siapa. Tapi dia menyebutmu seperti dia kenal kamu. Seperti dia tahu cara kerjamu. Cara kamu mencatat, cara kamu memotret. Dia bahkan bilang — ini yang aneh — dia bilang dia mengagumi betapa rapinya kamu menyimpan catatan."
Murtiwati meletakkan cangkirnya supaya tangannya berhenti berbicara untuknya. Betapa rapinya kamu menyimpan catatan. Seseorang di luar sana mempelajari bukan hanya tekniknya, tapi caranya. Disiplinnya. Buku lognya. Reputasinya. Seseorang memakai namanya sebagai sampul, menyebutnya guru, mengagumi kerapian yang justru menjadi tulang punggung kepercayaan kota ini padanya.
Untuk pertama kali, sosok itu punya bentuk, meski masih bayangan. Bukan perampok kasar yang membongkar tembok. Seseorang yang sabar, terampil, dan dingin, yang mempelajari cara Murtiwati membuka dunia dan memutuskan bahwa cara terbaik untuk mencuri di kota ini bukan dengan menjadi pencuri, melainkan dengan menjadi Murtiwati. Atau lebih buruk: dengan membuat seluruh kota percaya bahwa Murtiwati-lah pencurinya.
"Pak Kiman," katanya, suaranya hampir tak terdengar di bawah kipas, "kalau orang itu datang lagi, jangan usir. Telepon saya."
Sukiman menatapnya lama. Lelaki tua itu pernah hidup cukup panjang untuk mengenali ketakutan yang dijaga ketat oleh orang yang tak terbiasa takut. "Kamu kenapa, Murti? Ini bukan cuma soal orang aneh tanya-tanya teknik."
"Belum," kata Murtiwati, berdiri. "Tapi akan jadi soal yang lebih besar. Dan saya rasa, Pak Kiman, saya sudah terlambat untuk mencegahnya. Sekarang saya cuma bisa mencoba membacanya sebelum dia menutup pintunya."
Ia meninggalkan warung itu dengan satu kepastian baru di dadanya, dingin dan berat seperti gembok kuningan. Ada seseorang. Bukan kebetulan, bukan rentetan, bukan kesialan. Seseorang yang pintar, yang mengenalnya tanpa pernah ia temui, yang meminjam namanya untuk membuka pintu-pintu kota — dan setiap pintu yang ia buka akan meninggalkan satu jejak yang sama, satu nama yang sama, satu perempuan ahli kunci yang seluruh hidupnya dibangun untuk tidak pernah membuka pintu yang bukan haknya.