Malam itu Murtiwati tidak menyalakan televisi, tidak makan dengan benar, hanya duduk di bengkel dengan ketujuh buku log terbuka di meja dan komputer menyala. Ia mencari Hartono Jaya. Ia mencari gudang di jalur truk. Ia mencari nama Hartono di setiap tahun, setiap bulan, jarinya bergerak dengan disiplin yang sama yang ia pakai untuk membaca pin, tapi kali ini tangannya sedikit gemetar.
Ia menemukannya di buku log tahun dua ribu dua puluh empat. Januari. Hartono Jaya, gudang grosir, jalur truk barat. Pekerjaan: pasang sistem kunci induk untuk pintu samping, gudang utama, dan kantor; pasang silinder baru enam pin; serahkan tiga anak kunci dan satu kunci induk ke pemilik. Berita acara serah-terima ditandatangani Hartono. Foto: nomor seri terlampir.
Murtiwati menatap baris itu lama sekali sampai huruf-hurufnya kabur.
Dua tempat. Cahaya Mas, ia servis brankasnya. Hartono Jaya, ia pasang sistem kuncinya. Dua tempat yang dibobol tanpa bekas paksa adalah dua tempat yang pernah disentuh tangannya. Kalau ini diletakkan di depan Iptu Raharja sebagai sebuah daftar — dan cepat atau lambat akan diletakkan, oleh dirinya sendiri, karena ia tak bisa menyembunyikan — maka daftar itu hanya punya satu nama yang menghubungkan keduanya. Namanya.
Ia bangkit, berjalan tiga langkah ke depan dan tiga langkah ke belakang di bengkel sempitnya, lalu berhenti. Panik tidak menyelesaikan apa pun. Panik membuat orang kehilangan kunci. Ia harus berpikir seperti ia berpikir di depan sebuah pintu: tenang, urut, dari luar ke dalam.
Fakta pertama: dua tempat yang dibobol pernah ia layani. Fakta kedua: pelaku memakai teknik impresi, teknik yang ia kuasai. Fakta ketiga: pelaku tidak melawan sistem keamanan, ia menari dengannya, seolah punya peta. Dari tiga fakta itu, satu kesimpulan menyembul dengan dingin: seseorang tidak memilih tempat-tempat ini secara acak. Seseorang memilihnya justru karena pernah kusentuh.
Pertanyaannya bukan lagi 'siapa yang membobol'. Pertanyaannya adalah 'siapa yang tahu tempat mana saja yang pernah aku layani' — karena itu pengetahuan yang hanya ada di satu tempat: buku lognya.
Di bawah pikiran itu mengalir pikiran lain yang lebih membuatnya mual. Kalau seseorang memilih korban dari daftar pekerjaannya, maka tujuannya mungkin bukan barang yang dicuri. Tujuannya adalah daftar itu sendiri. Adalah dirinya.
Keesokan paginya Murtiwati pergi ke gudang Hartono Jaya, bukan sebagai saksi ahli polisi, tapi sebagai dirinya sendiri. Ia ingin bicara dengan Pak Hartono. Pelaku mungkin meninggalkan jejak di kunci, tapi korban selalu meninggalkan jejak di wajah, dan Murtiwati ingin membaca wajah itu.
Pak Hartono menerimanya di kantor gudang yang sumpek. Ia sudah lebih tenang dari kemarin, dan itu sendiri sudah aneh. Orang yang gudangnya baru saja dibobol semestinya masih gelisah hari kedua.
"Bu Murti, ya, yang ahli kunci itu," katanya, menawarkan kursi. "Ada apa? Polisi sudah selesai, katanya."
"Saya cuma mau memastikan beberapa hal untuk catatan saya sendiri, Pak," kata Murtiwati. Itu setengah benar. "Bapak ingat, dua tahun lalu saya yang pasang sistem kunci di sini. Tiga anak kunci, satu kunci induk. Boleh saya tahu, ketiga anak kunci itu sekarang di mana?"
Pak Hartono menggaruk lehernya. "Satu di saya, satu di mandor, satu di... eh, anak saya, kadang dia yang buka pagi."
"Dan kunci induknya?"
Jeda. Pak Hartono memandang ke luar jendela sebentar terlalu lama. "Itu... saya simpan."
"Di mana, Pak?"
"Ya di rumah. Di laci."
Murtiwati mengangguk pelan, tapi ia memperhatikan bahwa Pak Hartono tidak menatapnya saat menjawab. Lalu ia melemparkan satu kalimat, bukan tuduhan, hanya umpan, cara yang ia pelajari dari menalar akses. "Yang hilang stok rokok dan minyak, ya, Pak. Bukan brankas uang."
"Brankas uang aman." Pak Hartono menjawab terlalu cepat, dan ada nada lega yang tak ia sembunyikan dengan baik. "Untung. Yang penting uang aman."
"Tapi stok rokok itu nilainya tidak kecil."
"Ada asuransinya," kata Pak Hartono, dan untuk sepersekian detik sudut bibirnya nyaris terangkat sebelum ia menahannya. "Untungnya saya baru perpanjang asuransi stok bulan lalu. Pas sekali."
Di bengkel, dalam kepala Murtiwati, sebuah pin terangkat ke ketinggian yang pas dan sebuah silinder berputar. Pas sekali. Asuransi diperpanjang sebulan sebelum pembobolan. Stok yang hilang persis yang diasuransikan. Brankas uang, yang tidak diasuransikan terhadap pencurian dengan cara yang sama, justru aman. Murtiwati tidak punya bukti, dan ia berhati-hati tidak menyimpulkan apa yang tak bisa ia baca. Tapi ia tahu satu hal sekarang yang kemarin belum ia tahu: tidak semua korban dalam kasus ini benar-benar korban. Pak Hartono tampak seperti orang yang barangnya dicuri, tapi ia tidak berduka seperti orang yang barangnya dicuri. Ia berduka seperti orang yang sedang menunggu klaim cair.
Ini mengubah segalanya. Kalau Cahaya Mas korban sungguhan dan Hartono Jaya bukan, maka pelaku tidak sekadar mencuri. Pelaku menawarkan jasa. Pada orang yang ingin barangnya hilang, ia menghilangkannya tanpa bekas paksa supaya klaim asuransi mulus. Pada orang yang tidak ingin, ia tetap mencuri. Dan di setiap tempat, ia memilih lokasi yang pernah Murtiwati layani, sehingga benang yang menghubungkan semuanya selalu kembali ke satu nama.
Murtiwati pamit dengan sopan, mengucapkan terima kasih, dan keluar ke jalur truk yang panas. Ia berdiri sebentar di samping motornya, memandang bangunan seng besar itu. Ada pola. Bukan rentetan acak, bukan kebetulan, bukan kesialan beruntun. Ada tangan yang menyusun ini, satu tangan, yang tahu daftar pekerjaannya, yang menguasai tekniknya, yang memilih korban yang reputasinya bisa diragukan dan korban yang reputasinya bersih dengan sama cermatnya. Dan tangan itu sedang menulis sebuah cerita di mana Murtiwati Antyani adalah tokoh utamanya — bukan sebagai pembaca kunci, tapi sebagai orang yang punya kunci.
Ia menyalakan motor. Ia harus menemukan dari mana duplikat itu berasal. Karena kunci yang ahli seperti yang ia lihat di silinder gudang tidak lahir dari udara. Kunci seahli itu butuh sumber. Dan kalau ia bisa menemukan sumbernya, ia bisa menemukan tangan yang menyusun semuanya — sebelum tangan itu menyelesaikan ceritanya.