Gudang grosir Hartono Jaya berdiri di pinggir kota, di jalur truk yang berdebu, sebuah bangunan seng besar yang menyimpan berkardus-kardus barang kelontong, sabun, minyak goreng, rokok. Saat Murtiwati tiba pagi itu — dipanggil lagi oleh telepon Iptu Raharja jam enam — pintu rolling door besar di muka gudang sudah terbuka, dan di lantai semen tergeletak kardus-kardus kosong seperti kulit yang dilepas. Stok rokok dan beberapa peti minyak hilang. Tapi sekali lagi, dan ini yang membuat Murtiwati berdiri lebih lama di ambang sebelum masuk: rolling door tidak rusak. Gemboknya tidak dipotong. Pintu samping untuk orang masuk juga utuh.
"Sama seperti toko emas?" tanya Iptu Raharja, sudah menunggunya dengan pulpen di tangan.
"Saya belum tahu," jawab Murtiwati. "Saya tidak pernah tahu sampai saya membaca."
Ia mulai dari gembok rolling door. Gembok besar, kuningan, jenis yang biasa dipasang di gudang. Ia angkat, putar, periksa lubangnya dengan senter sudut rendah. Bersih. Pin-pin di dalam tidak tergores paksa. Lalu pintu samping — silinder pin tumbler, lebih rumit, enam pin. Di sini ia berhenti lebih lama.
Di mulut silinder, di bawah cahaya rendah, ia melihat sesuatu yang berbeda dari Cahaya Mas. Bukan goresan paksa. Bukan luka congkel. Tapi serangkaian goresan halus, teratur, sejajar — bekas gesekan dari kunci yang dimasukkan dan dikeluarkan berkali-kali, lebih banyak dari yang wajar untuk sebuah kunci yang dipakai sehari-hari. Dan goresan-goresan itu punya pola yang ia kenal: bekas kunci yang dicetak dari impresi, bukan kunci yang dipotong dari cetakan asli pabrik.
Murtiwati merasa kulit tengkuknya menegang.
"Iptu," katanya, suaranya lebih pelan dari biasa. "Ini bukan kunci asli yang dipakai. Ini duplikat. Tapi bukan duplikat sembarangan." Ia mengeluarkan loupe, kaca pembesar tukang, dan menempelkannya ke matanya, menyorot lubang silinder. "Kalau Anda membuat duplikat dengan cara umum — meniru kunci asli di mesin — hasilnya halus, tidak meninggalkan jejak khusus. Tapi ada cara lain, lebih sulit, namanya impresi. Anda memasukkan kunci kosong, memutarnya supaya pin meninggalkan titik tekanan di permukaannya, lalu Anda mengikir di titik-titik itu, masukkan lagi, putar lagi, kikir lagi. Berkali-kali, sampai kunci kosong itu pelan-pelan menjadi kunci yang pas."
"Dan itu meninggalkan jejak ini?"
"Jejak ini." Ia menurunkan loupe. "Goresan teratur dari puluhan kali percobaan. Orang yang membuat kunci ini tidak punya kunci asli untuk ditiru. Dia membaca pin-pin dari dalam, satu per satu, dengan tangan yang sangat sabar dan sangat ahli. Ini bukan pekerjaan maling biasa. Ini pekerjaan..." Ia menelan kalimatnya.
"Pekerjaan apa, Bu?"
Murtiwati tak menjawab langsung. Karena jawaban yang jujur adalah: ini pekerjaan orang yang dilatih seperti dirinya. Impresi adalah teknik yang ia kuasai, yang ia ajarkan dengan hati-hati hanya pada orang yang ia percaya, yang ia anggap sebagai garis pemisah antara ahli kunci sejati dan tukang sekadar potong duplikat. Melihat jejak itu di silinder gudang yang dibobol terasa seperti melihat tulisan tangannya sendiri di tempat yang tak pernah ia datangi.
"Pekerjaan orang yang sangat tahu apa yang dia lakukan," katanya akhirnya, memilih kata yang aman.
Ia memotret silinder itu, kertas tanggal di sebelahnya, lalu memeriksa sistem alarm. Gudang ini punya alarm sederhana, sensor magnet di pintu yang akan berbunyi kalau pintu terbuka tanpa dimatikan dulu di panel. Murtiwati memeriksa panel. Tidak dirusak. Dimatikan dengan kode yang benar, lalu dinyalakan lagi dengan kode yang benar setelahnya. Seperti Cahaya Mas, yang masuk tidak menyerang sistem. Ia menari dengan sistem itu, seolah sistem itu mengenalnya.
"Kombinasinya sama dengan toko emas," gumam Murtiwati. "Bukan kombinasi angkanya. Polanya. Yang masuk ke dua tempat ini sama-sama tahu cara masuk tanpa melukai apa pun. Pintu, alarm, kunci. Dia tidak melawan keamanan. Dia memilikinya."
Pak Hartono, pemilik gudang, lelaki gemuk berkeringat, sibuk menelepon entah siapa di sudut, suaranya tinggi dan panik soal asuransi. Murtiwati memperhatikannya sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya.
Saat ia hampir selesai, Iptu Raharja mendekat dan bertanya dengan nada yang dijaga sangat sopan, terlalu sopan. "Bu Murti, ini mungkin tidak ada artinya. Tapi gudang ini — apakah Ibu juga pernah... menanganinya?"
Pertanyaan itu seperti tangan dingin di punggung. Murtiwati menatapnya. "Saya tidak tahu. Saya harus cek log saya."
"Tolong dicek," kata Iptu Raharja, dan ia tersenyum, senyum yang ramah dan tidak berbahaya, senyum seorang perwira yang sedang melakukan tugasnya. "Karena di kasus toko emas, Ibu pernah menyervis brankasnya. Dan sekarang saya berdiri di gudang yang dibobol dengan cara yang sama, ditemani satu-satunya orang di kota ini yang bisa membaca kunci seperti membaca koran. Ibu pasti mengerti, sebagai mantan orang bank, kenapa saya harus mencatat hal-hal seperti ini."
Murtiwati mengerti. Itulah masalahnya. Ia mengerti terlalu baik, karena selama bertahun-tahun ia melatih dirinya berpikir persis seperti penyidik di depannya: kalau tak ada bekas paksa, cari siapa yang punya akses. Dan kini logika yang sama, logika yang ia banggakan, sedang berputar pelan dan mengarahkan jarinya ke arahnya sendiri.
"Saya akan cek," katanya. "Dan kalau ternyata saya pernah ke sini, saya akan datang ke Bapak lagi dan menyerahkan catatannya. Sama seperti kemarin."
"Saya hargai itu," kata Iptu Raharja.
Murtiwati pulang dengan dada yang terasa sempit. Di Cahaya Mas, ia merasa lega menemukan catatannya. Hari ini, untuk pertama kali, ia merasa takut menemukan catatannya. Ia mengendarai motornya pelan menyusuri jalur truk berdebu, dan satu pikiran berputar tanpa henti seperti cakram brankas yang tak diacak ulang: dua tempat, dua kali tanpa bekas paksa, dua kali aku yang dipanggil membaca. Dan kalau gudang ini pun pernah kusentuh, maka ini bukan kebetulan lagi. Kebetulan tidak punya pola. Ini punya pola. Dan pola selalu punya pembuat. Ia belum tahu siapa. Tapi untuk pertama kali ia mulai curiga bahwa pembuat pola itu mengenalnya jauh lebih baik daripada ia mengenal pembuat pola itu.