Bengkel kunci Murtiwati menempel di sisi gang sempit di belakang Pasar Lawas, selebar dua pintu, sedalam tiga langkah. Di dinding tergantung ratusan kunci kosong dari kuningan dan nikel, berderet menurut jenis dan ukuran seperti not balok. Di sudut berdiri mesin duplikat tua yang ia rawat seperti hewan peliharaan, dan di rak belakang, rapi berlabel, tersimpan silinder-silinder cadangan, set pin, dan kotak-kotak kombinasi. Tapi yang paling ia jaga bukan benda logam apa pun. Yang paling ia jaga ada di laci besi terkunci di bawah meja kerja: buku log.
Bukan satu buku. Tujuh. Tujuh tahun sejak ia membuka bengkel ini, satu buku tebal setiap tahun, setiap halaman berisi tanggal, nama pelanggan, alamat, jenis pekerjaan, dan nomor seri pekerjaan yang menunjuk ke folder foto di komputernya. Setiap pekerjaan. Setiap silinder yang ia pasang, setiap kunci yang ia duplikat, setiap kombinasi yang ia setel ulang. Murtiwati membuka buku itu seperti orang lain membuka kitab suci: dengan keyakinan bahwa di dalamnya tersimpan kebenaran yang tak bisa dibantah.
Malam setelah dari Cahaya Mas, ia tak bisa tidur. Bukan karena takut. Karena ada yang menggelitik di belakang kepalanya, sebuah benang yang belum sempat ia tarik. Brankas kombinasi cakram itu. Ia merasa pernah memegangnya.
Ia turun ke bengkel, menyalakan lampu, membuka laci besi, dan mulai membalik buku log tahun dua ribu dua puluh empat. Jarinya bergerak menyusuri tanggal, nama, alamat. Ia tidak terburu-buru. Orang yang terburu-buru membuat kesalahan, dan orang yang membuat kesalahan kehilangan kunci. Lalu jarinya berhenti.
Maret, dua tahun lalu. Cahaya Mas, Jalan Pasar Lawas. Pemilik: Liong Tjahjadi. Pekerjaan: servis mekanisme brankas kombinasi cakram, ganti pegas penahan, lumasi roda kombinasi. Di kolom catatan, tulisan tangannya sendiri yang rapi: kombinasi TIDAK diubah atas permintaan pemilik; pemilik diberi tahu disarankan ubah berkala. Dan di pojok, nomor seri foto.
Murtiwati menyalakan komputer, membuka folder itu. Foto-foto muncul: cakram brankas Cahaya Mas dua tahun lalu, dari empat sudut, dengan kertas tanggal di sebelahnya. Brankas yang sama. Mekanisme yang sama yang ia rasakan berputar halus kemarin pagi.
Ia duduk diam beberapa saat. Lalu, alih-alih cemas, ia merasakan sesuatu yang lebih aneh: lega. Karena bagi Murtiwati, fakta bahwa ia pernah menyentuh brankas itu bukan ancaman. Itu bukti kepolosan. Ia mencatat. Ia memotret. Ia tidak mengubah kombinasi. Semua tertulis, bertanggal, tak bisa dipalsukan. Kalau seseorang nanti bertanya, 'Bu Murti, apakah Anda tahu kombinasi brankas yang dibobol?', ia bisa menjawab dengan dada terbuka: 'Tidak. Saya bahkan menolak mengubahnya. Lihat catatan saya.'
Keesokan paginya ia datang ke kantor polisi tanpa diminta. Iptu Raharja menerimanya di ruang sempit berbau kopi instan.
"Saya menemukan sesuatu yang harus Bapak tahu," kata Murtiwati, meletakkan fotokopi halaman log dan cetakan foto di meja. "Brankas Cahaya Mas itu pernah saya servis, Maret dua tahun lalu. Ini catatannya. Saya pikir lebih baik Bapak tahu dari saya langsung daripada menemukannya sendiri dan bertanya-tanya kenapa saya diam."
Iptu Raharja mengambil kertas itu, membacanya pelan. "Ibu menyerahkan ini... sukarela."
"Tentu. Saya tidak menyentuh kombinasinya. Tertulis di situ, pemilik menolak mengubah. Saya bahkan menyarankan dia mengganti. Kalau saya orang yang mau menyembunyikan, saya tidak akan memberi Bapak sehelai pun kertas ini."
Perwira itu mengangguk pelan, dan untuk sesaat Murtiwati pikir ia melihat persetujuan di matanya. Tapi Iptu Raharja menulis sesuatu di buku catatannya, dan Murtiwati tak bisa membaca apa. Yang ia tak tahu, yang baru akan ia pahami berbulan-bulan kemudian, adalah bahwa di mata seorang penyidik yang lebih percaya benda daripada cerita, kalimat 'saya pernah menyervis brankas yang dibobol, dan saya punya semua catatannya' tidak terdengar seperti pembelaan. Itu terdengar seperti seseorang yang punya pengetahuan, akses, dan kebiasaan mendokumentasikan dengan presisi yang nyaris terlalu sempurna.
"Boleh saya tanya sesuatu yang pribadi, Bu?" kata Iptu Raharja saat Murtiwati hendak pamit. "Ibu ini... bukan tukang kunci biasa. Cara Ibu bicara, cara Ibu mencatat. Dari mana Ibu belajar disiplin seperti ini?"
Murtiwati berhenti di ambang pintu. Pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang ia simpan rapat-rapat. Ia bisa berbohong. Tapi ia tak pernah pandai berbohong, dan kota ini cukup kecil sehingga kebenaran selalu pulang.
"Dulu saya petugas khazanah di bank," katanya akhirnya, suaranya datar. "Kotak deposit, brankas, daftar akses. Hidup saya berputar pada protokol dua kunci dan tanda tangan serah-terima. Di sana saya belajar satu hal: sebuah pintu tidak pernah benar-benar terkunci. Yang terkunci itu kepercayaan. Dan kepercayaan bisa dipinjam, bisa dititip, bisa disalahgunakan." Ia menatap perwira itu. "Saya berhenti karena saya pernah melihat apa yang terjadi kalau seseorang membuka pintu yang seharusnya tidak ia buka. Sejak itu saya tidak pernah lagi membuka satu pintu pun yang bukan hak saya. Itu saja."
Ia tidak menambahkan bahwa pintu yang ia maksud pernah ia buka dengan tangannya sendiri. Bahwa di bank itu, sekali, demi membantu seorang nasabah yang memelas, ia menggandakan satu kunci di luar prosedur. Bahwa dari celah selebar satu kunci itu, sebuah brankas dibobol, dan seseorang kehilangan segala yang ia simpan seumur hidup. Ia tidak menambahkan bahwa seluruh kekakuannya soal aturan, seluruh buku log dan foto bertanggal itu, adalah penebusan atas satu pelanggaran yang tak pernah ia maafkan pada dirinya sendiri.
Ia hanya berkata, "Selamat pagi, Iptu," dan keluar ke jalan yang silau.
Iptu Raharja menatap fotokopi log di mejanya lama setelah pintu tertutup. Lalu ia menarik map kasus Cahaya Mas, membukanya, dan di halaman pertama ia menambahkan satu baris kecil dengan pulpen yang ujungnya digigit: 'Saksi ahli M. Antyani — pernah akses brankas TKP. Catat.' Ia tidak tahu mengapa ia menulisnya. Hanya kebiasaan orang yang dilatih mencurigai kebersihan yang terlalu rapi. Tapi sebuah benang telah ditarik, dan benang, sekali ditarik, jarang bisa dikembalikan ke tempatnya.