Ia datang pada hari Senin, dan kesalahan pertamanya adalah datang pukul tujuh pagi.
Di Rawa Belong, pukul tujuh pagi adalah jam yang hanya dihuni satpam, Bu Tum yang sedang menyalakan kompor, dan mesin absen yang menunggu jempol-jempol palsu. Maka ketika seorang pria muda berkemeja biru tanpa kerut, dengan koper kabin beroda dan tas laptop yang dipeluk seperti bayi, berdiri di lobi pukul 06.58 dan bertanya kepada satpam di mana ia bisa menemukan "ruang transformasi", Pak satpam hanya menatapnya dengan kosong yang sopan dan menjawab bahwa di gedung ini tidak ada ruangan dengan nama itu, yang ada cuma gudang, pantry, dan satu ruang rapat yang remote AC-nya hilang sejak tahun lalu.
Namanya Bevan Arkananta. Dua puluh tujuh tahun. Konsultan dari unit yang di kartu namanya tertulis "Transformasi Kinerja & Optimalisasi Cabang", sebuah jabatan yang panjangnya hampir menyamai tinggi badannya. Ketika seisi kantor mulai berdatangan satu per satu — dengan jempol pinjaman dan kantuk warisan — mereka menemukan Bevan sudah memasang proyektor portabel di ruang rapat, menempelkan tiga kertas plano di dinding, dan menyeduh kopi sendiri dari mesin espreso kecil yang ia bawa dalam koper, karena ia sudah mencicipi kopi dispenser kantor dan diam-diam memutuskan itu bukan kopi.
Wisnu mengamatinya dari pintu, dengan secangkir kopi tubruk Bu Tum di tangan, dan langsung tahu satu hal: anak ini berbahaya bukan karena ia pintar, melainkan karena ia percaya. Bevan percaya pada sesuatu. Itu jauh lebih merepotkan daripada kepintaran.
Rapat pengenalan digelar pukul sembilan, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Rawa Belong, semua orang hadir tepat waktu, bukan karena disiplin melainkan karena penasaran menonton bencana. Bevan berdiri di depan, menyalakan dashboard di layar, dan kantor itu menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka lihat: data mereka sendiri, divisualisasikan dengan jujur dan kejam.
Grafik batang berwarna merah membentang seperti deretan luka. Skor kepuasan pelanggan: tidak ada datanya, karena survei tidak pernah disebar. Jumlah klien aktif: dua belas, dan tiga di antaranya sudah tidak membayar selama dua tahun. Rasio pertumbuhan: garis lurus mendatar yang oleh Bevan disebut, dengan ekspresi prihatin yang nyaris tulus, "flat", lalu cepat-cepat ia koreksi menjadi "stabil", lalu menyerah dan menyebutnya apa adanya, "mati."
"Saya tidak datang untuk menghukum," kata Bevan, dan Wisnu mencatat dalam hati bahwa kalimat itu adalah kalimat yang selalu diucapkan tepat sebelum hukuman. "Saya datang untuk transformasi. Kita akan menerapkan kerangka OKR. Objective, Key Result. Setiap orang akan punya target terukur. Kita akan membangun budaya akuntabilitas."
"Akun apa?" tanya Yanto.
"Akuntabilitas. Tanggung jawab yang bisa diukur."
"Oh," kata Yanto, lalu berbisik ke Hesti, "kirain mau bikin akun baru."
Bevan tidak menyerah. Ia menjelaskan jargon demi jargon — sinergi, low-hanging fruit, alignment, growth mindset — masing-masing seperti dilemparkan ke kolam yang airnya sudah lama tidak diaduk, tenggelam tanpa riak. Pak Daliman mengangguk-angguk dengan khidmat dari kursi paling depan, sebuah anggukan yang Wisnu kenali sebagai anggukan total tidak mengerti tapi sangat ingin terlihat mengerti. Bu Sari mencatat sesuatu di buku, yang ketika Wisnu intip ternyata daftar belanja. Reza tidur dengan mata terbuka, sebuah teknik yang sudah ia sempurnakan.
Lalu Bevan sampai pada bagian yang ia simpan terakhir, dan suaranya sedikit berubah. Lebih pelan. Lebih tegang. Untuk sekejap, di balik kemeja licin dan jargon itu, Wisnu melihat sesuatu yang tidak ia duga: anak ini juga takut.
"Pusat memberi target," kata Bevan. "Cabang ini harus mencapai dua ratus persen dari target kuartal dalam tiga bulan ke depan. Dua kali lipat. Kalau tidak tercapai, evaluasi konsolidasi dijalankan, dan cabang ini akan dilebur."
Kata dilebur jatuh di ruangan itu seperti gelas pecah. Dan untuk pertama kalinya, penyangkalan ajaib Rawa Belong tidak langsung menariknya kembali, karena kali ini ancaman itu tidak datang lewat email nyasar yang bisa dianggap salah ketik. Kali ini ancaman itu berdiri di depan ruangan dengan kemeja biru dan menyebut angkanya dengan suara keras.
"Dua ratus persen," ulang Bu Sari, datar. "Anak muda, kami tidak pernah mencapai seratus persen. Pernah. Sekali pun."
"Justru itu kenapa lonjakannya harus signifikan," jawab Bevan, dan ada kilatan keyakinan murni di matanya yang membuat Wisnu hampir, hampir, merasa kasihan. "Saya tahu ini terdengar mustahil. Tapi saya percaya cabang ini punya potensi tersembunyi."
Seisi ruangan menatapnya. Potensi tersembunyi. Di sebuah kantor di mana keahlian utama setiap orang adalah menyembunyikan ketiadaan potensi.
Setelah rapat bubar, Wisnu sengaja berlama-lama merapikan kursi, menunggu sampai ruangan kosong dan hanya tinggal Bevan yang sibuk menggulung kertas plano. Ia mendekat, pura-pura mengambil cangkir yang tertinggal.
"Proyek pertama?" tanya Wisnu, santai, seolah basa-basi.
Bevan terdiam sejenak, dan jawaban yang keluar lebih jujur dari yang ia rencanakan. "Yang pertama saya pimpin sendiri."
"Dikirim ke cabang terjauh, ditugasi target yang katamu sendiri mustahil." Wisnu mengangkat cangkir. "Pusat juga punya cara membuang orang, ternyata. Cuma kemasannya lebih bagus."
Untuk sepersekian detik, topeng konsultan itu retak, dan Wisnu melihat seorang anak muda yang tahu betul bahwa ia sedang diuji dengan tugas yang dirancang untuk gagal — dan yang memutuskan, dengan keras kepala yang nyaris menyentuh hati, untuk tetap mencoba berhasil. Lalu topeng itu kembali terpasang. "Saya tidak menganggap target ini mustahil, Pak Wisnu. Saya menganggapnya menantang."
"Tentu," kata Wisnu, dan ia pergi, sambil diam-diam membuang teori awalnya. Bevan bukan sekadar badut jargon yang dikirim untuk diejek. Ia anak buangan, seperti mereka semua, hanya saja ia belum tahu. Dan itu, Wisnu sadari sambil menuruni tangga dengan kecepatan aman, membuat segalanya jauh lebih rumit. Jauh lebih mudah membenci seseorang yang tidak punya alasan untuk dikasihani.