Pak Daliman menggelar rapat darurat keesokan harinya, dan kata darurat itu, seperti banyak kata di Rawa Belong, tidak boleh dipercaya secara harfiah.
Rapat dimulai pukul sepuluh, molor dari rencana pukul sembilan, karena Pak Daliman harus menyelesaikan urusan mendesak terlebih dahulu: mengganti air akuarium cupangnya, yang menurutnya tidak bisa ditunda karena ikan tidak mengerti konsep rapat. Ketika ia akhirnya masuk ruangan dengan tangan masih basah, ia membuka rapat dengan kalimat yang seharusnya menjadi pertanda buruk bagi siapa pun yang berharap ada hasil.
"Bapak-Ibu sekalian," katanya, sambil duduk dan menyandarkan punggung dalam-dalam ke kursi, "kita berkumpul di sini hari ini untuk membahas situasi yang, eh, situasi yang perlu dibahas. Saya rasa kita semua sudah tahu situasinya. Maka, mari kita bahas."
Lalu hening. Pak Daliman memandang ke seluruh ruangan dengan ekspektasi sabar, seperti seseorang yang melempar bola ke dinding dan menunggu dinding melemparkannya kembali. Tapi dindingnya, dalam hal ini seisi cabang, juga sedang menunggu bola dari arah lain. Inilah inti dari segala rapat di Rawa Belong: tidak ada yang mau jadi orang pertama yang mengusulkan sesuatu, karena orang yang mengusulkan, dalam hukum tak tertulis kantor ini, otomatis menjadi orang yang harus mengerjakannya.
Wisnu, dari kursi dekat pintunya, menyaksikan tarian penghindaran ini dengan apresiasi seorang ahli yang menonton ahli lain. Ia tahu setiap langkahnya.
Bu Sari membuka dengan keluhan, karena keluhan terasa seperti partisipasi tanpa menjadi komitmen. "Yang jelas ini salah pusat. Mereka tidak pernah membantu kita. Komputer minta diganti, tidak diganti. Atap bocor, tidak diperbaiki. Sekarang malah menyalahkan kita tidak produktif. Bagaimana mau produktif kalau alatnya dari zaman batu."
"Betul, Bu," sambut Yanto, yang selalu setuju dengan keluhan apa pun karena itu memberinya bahan untuk diceritakan kembali nanti. "Lagian katanya, ya, saya dengar dari satpam yang dengar dari sopir, konsultan itu dikirim ke sini karena dia bermasalah di kantor pusat. Jadi sebenarnya dia juga buangan."
Wisnu menahan diri untuk tidak bereaksi, meski Yanto, tanpa sadar, baru saja mengulang kesimpulannya sendiri.
Hesti, dari penagihan, mencoba pendekatan praktis, tapi membungkusnya dengan hati-hati supaya tidak terdengar seperti sukarela. "Mungkin, ya, mungkin saja, kita bisa coba menghubungi klien-klien lama. Tapi saya tidak bisa, karena saya pegang penagihan, bukan penjualan. Itu kerjaannya Bu Sari."
"Saya pegang penjualan untuk wilayah selatan," balas Bu Sari secepat kilat. "Klien lama itu wilayah barat. Wilayah barat tidak ada orangnya sejak Pak Hartono pensiun."
"Berarti tidak ada yang pegang?" tanya Pak Daliman, dengan nada penemuan, seolah baru menyadari ada lubang di kapal yang sudah belasan tahun bocor.
"Tidak ada, Pak," jawab beberapa suara serempak, dengan kelegaan yang aneh, karena ketiadaan penanggung jawab berarti ketiadaan beban bagi siapa pun yang hadir.
Di sinilah, Wisnu tahu, rapat itu mencapai bentuk sempurnanya: sebuah lingkaran di mana setiap masalah, begitu disebut, langsung dioper ke meja kosong, ke orang yang sudah pensiun, ke wilayah yang tidak ada penghuninya, ke pusat yang jauh, ke siapa pun dan apa pun selain orang-orang yang sedang duduk di ruangan ini. Tanggung jawab di Rawa Belong adalah kentang panas yang sudah belasan tahun dilempar-lempar tanpa pernah jatuh, karena tidak ada yang berani memegangnya cukup lama.
Lalu masuklah Bevan, yang tidak diundang tapi merasa berhak hadir, membawa laptop dan ekspresi penuh harapan yang menyakitkan untuk dilihat. Ia berdiri di pojok, mendengarkan, dan wajahnya perlahan berubah dari antusias menjadi bingung menjadi sesuatu yang menyerupai keputusasaan yang ditahan.
"Permisi," sela Bevan akhirnya, tidak tahan. "Boleh saya usul kita mulai dari menentukan satu langkah konkret? Apa saja. Satu action item."
Ruangan menatapnya dengan tatapan yang sama seperti ketika ia menyebut kata akuntabilitas.
"Anak muda," kata Pak Daliman, lembut, hampir seperti ayah yang menjelaskan kenyataan pahit pada anaknya, "di sini kita tidak terburu-buru. Keputusan yang baik itu butuh waktu. Butuh dimatangkan. Kalau kita putuskan sekarang, nanti salah, repot lagi. Lebih baik kita evaluasi dulu."
Evaluasi dulu. Wisnu hampir tersenyum mendengar kalimat saktinya sendiri keluar dari mulut Pak Daliman, terpantul kembali kepadanya seperti gema. Ia menyadari, dengan kejernihan yang tidak nyaman, bahwa seluruh cabang ini adalah cermin dari dirinya: kumpulan orang yang menyempurnakan seni menghindar sampai menghindar menjadi satu-satunya hal yang mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh.
Rapat itu bubar pukul dua belas tanpa satu keputusan pun, kecuali keputusan untuk makan siang. Bevan keluar terakhir, bahunya turun, laptopnya tertutup tanpa pernah dibuka. Wisnu mengikutinya keluar, dan di tangga, untuk alasan yang ia sendiri tidak mengerti, ia berhenti.
"Mereka tidak bodoh, kau tahu," kata Wisnu pelan. "Orang-orang itu. Mereka cuma sudah lama belajar bahwa setiap kali mereka berusaha, hasilnya dirampas pusat atau diabaikan. Jadi mereka berhenti berusaha. Itu bukan kemalasan. Itu luka yang sudah jadi kebiasaan."
Bevan menatapnya, terkejut bahwa kalimat semacam itu keluar dari pria yang ia kira hanya pemalas senior. "Lalu menurut Bapak, kita harus bagaimana?"
Wisnu menatap ke bawah, ke lobi tempat mesin absen menunggu jempol-jempol palsu, dan untuk sesaat ia merasakan beban dari sesuatu yang sangat ia takuti: gagasan. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya, samar dan licik dan sangat tidak bermoral, dan ia membencinya karena ia tahu hanya dirinya yang bisa menjalankannya. Tapi yang ia ucapkan hanyalah, "Saya rasa kita perlu mengevaluasi dulu."
Lalu ia menuruni tangga, meninggalkan Bevan sendirian dengan laptopnya yang tertutup dan harapannya yang mulai retak, sambil di dalam kepalanya sendiri, untuk pertama kali dalam sepuluh tahun, Wisnu Aryasatya benar-benar mulai berpikir tentang bagaimana cara bekerja.